
Jesslyn sedang menonton televisi sambil menikmati cemilan ketika Luis keluar dari kamar mandi. Berbeda dengan di kediaman mewah pria itu. Kamar mandi dan kamar tidur di rumah Jesslyn terpisah karena ukuran rumahnya yang sederhana.
Laki-laki itu hanya memakai celana panjang dan bert*lanjang dada. Mata Jesslyn membulat, buru-buru dia membuang muka kearah lain, kemana saja asal jangan tubuh terbuka Luis.
Hampir saja Jesslyn mimisan melihat perut sixpack Luis yang terbuka. Roti sobeknya begitu sempurna. Sungguh sebuah keberuntungan yang hakiki.
Di satu, Jesslyn tidak ingin menyia-nyiakan nikmat yang Tuhan berikan, karena melihat pemandangan semacam itu adalah hal yang langkah, tapi disisi lain dia tidak ingin terlihat mesum karena mengagumi pria yang sedang tel*njang dada di depannya.
"Apa yang kau lakukan? Kenapa kau hanya berdiri saja di sana, cepat pakai bajumu, apa kau ingin masuk angin?!" Tegur Jesslyn tanpa melihat lawan bicaranya.
Luis menyeringai. "Kenapa buru-buru, bukankah kau menikmatinya juga. Dan lihat saja wajahmu yang sudah seperti kepiting rebus itu!!" Jesslyn memegang kedua pipinya lalu menatap Luis.
"Ja..Jangan sembarangan, mana ada. Pipiku memerah karena udara malam ini cukup panas. Sudahlah, aku ke kamar dulu. Kau tidur di kamar, papa!!" Ucapnya.
Jesslyn buru-buru kabur ke dalam kamarnya. Dia tidak ingin semakin terlihat konyol, bisa-bisa Luis terus-terusan meledeknya dan itu sangat menyebalkan.
Sedangkan Luis terkekeh sambil menggelengkan kepala, dia geli sendiri melihat wajah Jesslyn yang memerah seperti kepiting rebus.
Luis keluar dari kamar ayah Jesslyn dan mendapati pintu kamar gadis itu terbuka. Saat melihat ke dalam, sang empunya tidak ada di sana. Kemudian Luis pergi ke dapur saat dia mencium aroma kopi yang sangat harum, dan dia berani bersumpah Jesslyn ada di sana.
"Biarkan juga untukku," ucapnya dan membuat Jesslyn terlonjak kaget.
"Omo!!" Dan nyaris saja dia terkena serangan jantung karena ulah suami kontraknya itu. Jesslyn mengusap dadanya. "Ck, bisa tidak saat muncul tidak usah mengejutkan orang?! Hampir saja jantungku loncat keluar karena ulahmu!!" Protes gadis itu.
"Hn,"
"Ck, malah memakai bahasa planet lagi, dasar menyebalkan!! Kalau mau kopi, bikin saja sendiri!!" Jesslyn beranjak dari hadapan Luis dan pergi begitu saja.
Antara kesal dan gugup, semua bercampur aduk menjadi satu. Jesslyn tidak ingin terlihat konyol di depan pria bermarga Qin tersebut. Lagipula jantungnya tidak bisa dikondisikan jika sudah berhadapan dengan pria itu, jadi dia cari aman dengan menghindar.
Dan karena Jesslyn tidak mau membuatkan kopi untuknya. Akhirnya Luis pun membuatnya sendiri, toh hanya membuat kopi saja, dia juga bisa. Karena Luis bukan CEO yang payah.
__ADS_1
.
.
Malam sudah semakin larut, namun Jesslyn masih terjaga. Gadis itu begitu kesulitan untuk menutup matanya padahal ini sudah lewat tengah malam.
Duduk termenung di depan jendela kamarnya yang terbuka, menatap jutaan bintang yang berkerlap-kerlip di langit. Sangat indah bagaikan jutaan berlian yang tersebar.
Angin tiba-tiba berhembus kencang, membuat Jesslyn sedikit kedinginan. Tapi dia tetap pada posisinya dan tidak berniat untuk beranjak dari tempatnya, lalu dia teringat pada Luis, apakah pria itu sudah tidur atau belum. Penasaran, Jesslyn pun memutuskan untuk meninggalkan tempatnya dan pergi melihat pria itu.
Dan benar saja. Ternyata Luis juga masih terjaga, sama seperti dirinya, pria itu berdiri di depan jendela kamar yang terbuka. "Kau belum tidur?" Tegur Luis sambil melirik Jesslyn dari ekor matanya.
"Aku tidak bisa tidur, lalu kau sendiri kenapa tidak tidur?" Kemudian Jesslyn berdiri disamping Luis.
"Belum mengantuk, dan kebetulan langit malam ini sangat sayang untuk dilewatkan." Jawabnya.
Kemudian Jesslyn mengangkat wajahnya dan menatap langit yang sama seperti yang Luis tetap. Memang benar apa yang laki-laki ini katakan.
"Kau benar sekali, dan itu juga alasanku kenapa aku masih belum tidur. Keindahan langit terlalu sayang untuk diabaikan. Apalagi melihat bintang adalah salah satu hal yang paling aku sukai," ujar Jesslyn dengan tatapan tertuju pada langit malam.
Luis berpindah kebelakang Jesslyn lalu memeluknya dan apa yang dia lakukan membuat gadis itu terkejut. "Jangan banyak bergerak, aku tau kau sedikit kedinginan, aku hanya membantumu merasa hangat." Bisik Luis sambil mengeratkan pelukannya.
Jesslyn meletakkan kedua tangannya di dada. Lagi-lagi dia bisa merasakan debaran jantungnya yang berdetak hebat. Dia tau jika hal seperti ini terus berlanjut, bisa-bisa dia akan menderita jantung kronis.
"Apa kau sudah merasa lebih hangat?" Ucap Luis yang hanya dibalas anggukan oleh Jesslyn.
"Ya, sudah lebih baik." Jawabnya.
"Dan jika kau ingin, setiap malam aku bisa memelukmu seperti ini. Saat kau kedinginan, aku ingin kau datang padaku untuk meminta kehangatan. Karena dengan senang hati aku akan selalu memelukmu seperti ini," bisik Luis sambil mengeratkan pelukannya.
Jesslyn menggigit bibir bawahnya. Kata-kata Luis membuatnya tidak nyaman. Jika saja mereka saling jatuh cinta dan memiliki perasaan yang sama. Pasti Jesslyn akan sangat bahagia mendengarnya, tapi hubungan diantara mereka sangat berbeda.
__ADS_1
"Lu, bisakah kau melepaskanku? Aku sudah merasa lebih hangat dan tiba-tiba saja mataku sulit diajak kompromi lagi. Aku mau tidur," ucap Jesslyn. Kemudian Luis melepaskan pelukannya.
"Tidurlah, good night."
Jesslyn meninggalkan kamar ayahnya dan pergi begitu saja. Luis tersenyum, kemudian dia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya. Fokusnya kembali pada langit malam.
Gadis itu selalu terlihat menggemaskan ketika sedang gugup. Wajahnya yang memerah membuat Jesslyn terlihat seperti remaja yang sedang salah tingkah di depan pujaan hatinya.
-
-
"BRAM!! KELUAR KAU BAJINGAN!!"
Suara Frangky yang dipenuhi amarah menggema memenuhi setiap inci bangunan megah tersebut. Kris dan si kembar keluar dari kamar masing-masing begitupula dengan Bram. Bram yang kebingungan segera menghampiri Frangky.
"Bocah list, kenapa kau berteriak seperti orang gila. Apa kau pikir ini di hutan?!" Bentak Bram penuh emosi.
"Kemari kau baj!ngan!! Aku akan menghabisimu, beraninya kau membuat nyawa ibuku melayang. Apa kau sudah bosan hidup, hah!!"
Tubuh Bram terjengkang ke lantai setelah mendapatkan hantaman keras pada wajahnya. Frangky yang marah menghajar pria itu tanpa ampun. Bukannya memisahkan, si kembar malah menyoraki mereka. Sedangkan Kris langsung melaporkan kejadian itu pada Luis.
Rio dan Henry berteriak heboh, seolah mendapatkan pertunjukan gratis, keduanya bersorak layaknya di arena tinju bebas. "Ayo Paman, ayo Kakek semangat. Tunjukkan kemampuan kalian!!" Teriak Rio.
"Yeeee, semangat... Ayo jatuhkan lawan, yeee.... Kalian yang terbaik."
Kris mendengus dan menggelengkan kepala melihat tingkah mereka berdua. Meskipun banyak pasang mata yang menyaksikan, tapi tak ada satu pun yang berniat menghentikan. Semua hanya diam menyaksikan.
-
-
__ADS_1
Bersambung.