
Melihat gadis incarannya lebih menyukai pria lain membuat Gio sangat kesal dan marah. Apalagi gadis itu memberikan perhatian lebih padanya. Padahal pemuda itu tak ada bagus-bagusnya sama sekali, dia cupu dan seorang kutu buku. Lalu apa yang spesial sampai-sampai Vivian begitu membelanya.
"AAARRRKKHHH!!! Sial!!"
Gio memukul tembok disampingnya dengan keras. Wajah tampannya tak menunjukkan kesakitan sedikit pun meskipun yang dia pukul adalah benda mati yang keras. Dengan perasaan dongkol, Gio melenggang pergi dan kembali ke kelasnya.
Sementara itu... Suasana hening lagi-lagi menyelimuti kebersamaan Nathan dan Vivian. Setelah mengobati lukanya dan mengganti perban di pelipis Nathan, kini mereka hanya duduk dalam diam. Menikmati semilir angin musim semi yang sejuk.
Baik Vivian maupun Nathan tak ada yang berniat untuk kembali ke kelas. Melewatkan satu pelajaran tidak ada salahnya, toh materi yang akan disampikan di jam pertama bukanlah materi yang mereka sukai.
"Nathan, soal tantangan mu pada Gio tadi. Apa malam ini kau benar-benar akan pergi menemuinya?" Tanya Vivian dan mengakhiri keheningan diantara mereka berdua.
Nathan menoleh, matanya langsung bersirobok dengan sepasang mutiara jernih milik Vivian. "Kenapa? Apa kau tidak setuju aku pergi memberi pelajaran pada bajingan itu?"
Vivian menggeleng. "Bukan begitu maksudku, aku hanya cemas dia akan melakukan sesuatu padamu, apalagi dia memiliki antek-antek yang selalu siap membantunya."
"Aku tidak takut!!" Nathan menyela cepat. Tatapannya berubah dingin dan datar. "Dia yang mulai duluan, bajingan itu yang terus saja mencari masalah denganku!! Dan aku tidak bisa diam saja membiarkan harga diriku diinjak-injak oleh sampah sepertinya!!" Lanjut Nathan menegaskan.
Vivian menghela napas panjang. "Lalu dimana kalian akan bertemu nanti malam?! Aku ikut denganmu!!"
Nathan memicingkan matanya. "Untuk apa kau ikut?! Masalah ini tidak ada hubungannya denganmu, lagipula tidak baik bagi seorang gadis malam-malam kelayapan." Tegas Nathan.
"Pokoknya aku ikut!!" Dan Vivian tetap bersikeras. "Dan kau.. tidak bisa melarang ku!!"
Nathan mendengus frustasi. Kenapa gadis ini begitu keras kepala, sudah dilarang malah semakin memaksa. Sepertinya Nathan tidak memiliki pilihan lain selain membiarkannya untuk ikut.
"Terserah!!" Nathan bangkit dari duduknya dan pergi begitu saja.
"Nathan, kau mau kemana?! Yakk!! Tunggu aku!!"
-
__ADS_1
Marissa menyapukan pandangannya kesegala penjuru arah. Sudah mencari hampir 10 menit, tapi batang hidung Arya cs masih belum juga kelihatan. Ditempat mereka biasa nongkrong juga tidak ada, Marissa benar-benar tidak tau kemana perginya trio pembuat onar tersebut.
Kemudian dia teringat satu tempat dan Marissa berani bersumpah jika mereka ada di sana.
Dan benar saja, ketiganya sedang duduk di sebuah rumah pohon yang terletak belakang kampus sisi Utara. Tempat favoritnya dan mereka bertiga ketika malas mengikuti kelas dari dosen yang tidak mereka sukai, bolos.
"Kalian bertiga, cepat turun!! Ada hal penting yang ingin aku sampaikan pada kalian!!" Teriak Marissa. Ketiganya lalu saling bertukar pandang, lalu menatap gadis itu bersamaan.
"Hal penting apa memangnya?" Tanya Arya.
"Mengenai Nathan, apa kalian tau jika sebenarnya si cupu itu adalah dia. Selama ini dia menyamar jadi pemuda cupu dan membohongi kita semua!!" Serunya.
"Memangnya kenapa? Apa ada yang salah?! Mungkin saja Nathan Hyung memiliki alasan khusus kenapa dia sampai berdandan cupu begitu!!" Sahut Dio menimpali.
"Kalian tidak marah apalagi kecewa padanya?" Marissa menatap mereka tak percaya.
"Untuk apa marah dan kecewa, karena sejak awal kami juga sudah tau kalau Thantan adalah Nathan. Kau mengganggu saja, sana pergi, apa kau ingin naik dan kita tunggangi bergantian?! Kebetulan kita bertiga sedang membutuhkan lubang buaya untuk menampung semua hasrat kenikmatan!!" Ujar Sean.
Saat ini mereka bertiga sedang menyaksikan sebuah video laknat di ponsel milik Arya yang dia download semalam.
"Dasar kalian sinting, tidak waras!!" Marissa pergi begitu saja.
Tingkat kemes*man mereka memang sudah tidak bisa diragukan lagi. Mereka suka melihat video-video laknat dan sejenisnya.
-
Vivian dan Nathan kembali ke kelas setelah pelajaran di jam pertama usai. Kelas sudah lumayan kosong, hanya tersisa beberapa orang saja.
Nathan yang merasa risih dengan tatapan mereka ingin mengambil tindakan, tapi dihentikan oleh Vivian. Gadis itu menggeleng, dia tidak ingin jika Nathan sampai terlibat masalah dengan mereka.
"Tidak perlu diladeni, biarkan saja. Nanti juga capek sendiri mencari masalah denganmu, ayo duduk.
__ADS_1
"Nathan!!"
Perhatian semua orang di dalam kelas teralihkan oleh seruan seseorang yang baru saja memasuki ruangan. Mata Nathan memicing melihat Marissa menghampirinya dan memanggilnya dengan nama asli, apakah dia sudah mengetahuinya?! Pikir Nathan.
Marissa langsung memeluk Nathan, membuat semua orang di dalam ruangan itu terkejut termasuk Vivian.
"Maafkan aku, selama beberapa hari ini sikapku padamu sangat kasar. Seandainya saja aku tau ini dirimu, aku pasti akan bersikap baik. Tapi salahmu juga, kenapa kau harus berubah menjadi cupu begini. Sekali lagi aku minta maaf."
Nathan mendorong Marissa dan melepaskan pelukan itu dengan paksa. "Jika kata maaf saja bisa menyelesaikan semua masalah, pasti semua penjara di seluruh dunia ini tidak akan penuh!! Sebaiknya simpan saja kata maafmu itu, karena aku tidak membutuhkannya!!" Ujar Nathan dingin dan menusuk.
"Nathan," Marissa menatap pemuda itu dengan mata berkaca-kaca. "Kenapa kau tega sekali berbicara dengan nada setajam itu padaku? Kita berteman dari kecil, kita dulu selalu bersama, kau baik padaku dan aku peduli padamu, tapi kenapa sikapmu sekarang padaku seperti ini?! Kau membuatku kecewa,"
"Jangan berlebihan apalagi salah mengartikan sikap baikku padamu!! Kau baik, aku juga bersikap sebaliknya, karena aku masih tau diri, dan tidak mungkin air susu aku balas dengan air tuba!!"
"Nathan, kau~"
Nathan menutup matanya dan menghela napas berat. "Pergilah, sebaiknya jangan muncul lagi di depanku. Lama-lama kau membuatku muak!!" Kelopak mata yang sebelumnya tertutup rapat itu kembali terbuka, tatapan Nathan semakin dingin dan tajam.
"Nathan, kau jahat!!" Marissa menyeka air matanya dan pergi begitu saja.
Semua orang di dalam ruangan itu dibuat bungkam oleh obrolan Nathan dan Marissa. Semakin banyak pertanyaan dibenak mereka akan siapa Nathan yang sebenarnya?!
Dan kenapa sikap Marissa seolah-olah menunjukkan jika Thantan yang ada dihadapan mereka ini bukanlah dirinya yang sebenarnya, lalu kenapa Marissa memanggilnya dengan nama Nathan?! Mungkinkah itu adalah nama aslinya? Semakin banyak misteri tentang pemuda berkacamata tersebut.
"Kau membuatnya menangis," ucap Vivian selepas kepergian Marissa.
"Aku tidak peduli!! Biarkan saja, dan itu bukan urusanku!!" Nathan menyambar tasnya dan pergi begitu saja.
Hari ini moodnya benar-benar buruk. Menjadi orang yang berbeda ternyata tidaklah mudah, semua orang memandangnya dengan sebelah mata dan itu sangat menyebalkan.
Dan hari ini adalah hari terakhir mereka merendahkan apalagi meremehkan dirinya. Nathan tidak mau lagi menjadi orang lain dan selalu direndahkan seperti sampah.
__ADS_1
-
Bersambung.