
Hari demi hari berlalu, tidak terasa sudah satu bulan. Dan Jesslyn masih belum bisa melupakan kejadian malam itu dan melupakan fakta Menyakitkan tentang siapa ibu kandungnya.
Antara ia dan Luis seperti ada jarak. Mereka tidak lagi sedekat dulu, Luis yang menjadi lebih sering pulang malam, terkadang sampai tidur di kantor dan Jesslyn yang sering absen sarapan ataupun makan malam bersama keluarga Qin.
Dalam satu Minggu, mereka hanya bertemu beberapa kali saja. Dan itupun tidak lama, hanya beberapa menit saja. Jesslyn seperti menjaga jarak dari pria yang sejak beberapa bulan lalu menjadi suami kontraknya itu. Dia hanya tidak ingin membuat Luis merasa tidak nyaman dengan kehadirannya.
Meskipun Luis tak mempermasalahkan siapa dirinya. Tapi Jesslyn tau, jauh di dalam lubuk hati Luis yang paling dalam, ada rasa tidak nyaman karena Jesslyn adalah anak yang terlahir dari rahim wanita yang telah menghancurkan rumah tangga orang tuanya.
Dan Jesslyn telah memutuskan. Dia akan segera pergi dari hidup Luis, agar laki-laki itu bisa menjalani kembali hidupnya seperti sebelum dirinya datang dalam hidupnya.
"Sampai kapan kau akan duduk di sana, apa kau berniat membuat dirimu sendiri sakit dan mati kedinginan?!"
Suara dingin terlewat datar itu mengalihkan perhatian Jesslyn dari sang malam. Dia menoleh, seorang pria yang memakai celana jeans panjang dan kemeja denim lengan terbuka, berdiri dua meter dibelakangnya.
Kemudian Jesslyn bangkit dari duduknya."Kau sudah pulang? Apa kau sudah makan malam?" Dia menghampiri pria itu yang pastinya adalah Luis.
"Aku makan di luar dengan klien," jawabnya datar.
"Lu, ada hal penting yang ingin aku bicarakan denganmu. Dan ini mengenai kontrak pernikahan kita," Jesslyn menatap langsung ke dalam sepasang mata dingin itu.
"Kita bicara di kamar saja," Jesslyn mengangguk. Kemudian dia berjalan mengekor dibelakang Luis.
Jantung Jesslyn berdetak dua kali lebih cepat dari sebelumnya. Dia benar-benar gugup, bukan karena takut Luis akan menuntutnya karena ia ingin mengakhiri kontrak nikah mereka sebelum waktunya, seperti yang ada di surat perjanjian, tapi karena hal lain.
Dan disini mereka sekarang. Luis mematikan AC lalu menyulut satu batang rokok. Wajah tampannya tak menundukkan ekspresi apapun, Luis hanya memasang wajah stoic tanpa ekspresi.
"Sekarang katakan," pinta Luis tanpa berbasa-basi.
"Sebaiknya kontrak nikah itu kita akhiri saja hari ini. Aku tau, meskipun di depanku kau bersikap tidak peduli. Tapi sebenarnya hati kecilmu sangat tersiksa hidup satu atap dengan putri dari wanita yang paling kau benci."
__ADS_1
Jantung Luis seolah berhenti berdetak selama beberapa saat setelah mendengar apa yang baru saja Jesslyn katakan. Jadi selama ini dia sudah menyadarinya, meskipun Luis tidak ingin melampiaskan semuanya pada Jesslyn, tapi tetap saja hatinya merasa tidak nyaman.
"Aku memahami betul apa yang kau rasakan saat ini. Dan aku juga tidak akan menyalahkan sikapmu belakangan ini, kau menjadi lebih dingin dan selalu berusaha menghindariku. Aku tau kau butuh waktu, untuk itu aku akan memberimu ruang untuk kembali bernapas dengan bebas."
"Anggap saja tidak pernah terjadi sesuatu diantara kita, dan semua yang kita lalui selama ini hanyalah mimpi, yang kemudian hilang saat kau membuka mata. Dan sesuai perjanjian awal, aku~"
"Aku tidak akan menahanmu, jika ini pilihanmu dan menurutmu yang terbaik. Maka pergilah, dan sebagai mantan suamimu, aku akan selalu berdoa untuk kebahagiaanmu." Luis menyela sebelum Jesslyn menyelesaikan kalimatnya.
Laki-laki itu mengambil sesuatu dari dalam laci samping tempat tidur lalu memberikannya pada Jesslyn. Jesslyn menatap selembar kertas bersamaan dengan sebuah tiket pesawat.
Luis sudah mempersiapkannya sejak lama, dan dia tidak menduga jika akan memberikan tiket pesawat itu pada Jesslyn beberapa bulan lebih awal dari perjanjian mereka.
Iris mata Luis berkilat beberapa saat. "Kau bisa pergi kemanapun kau mau, dan tiket ini khusus untukmu. Berjanjilah untuk menjaga dirimu baik-baik."
Baru saja Jesslyn hendak membuka bibirnya, sampai Luis bangkit berdiri meninggalkannya seorang diri bersama keheningan dan kekosongan yang nyata.
"Sampai jumpa." Ucap Luis ditengah langkahnya.
Satu hal yang tak Jesslyn ketahui. Jika Luis meneteskan air mata ditengah langkahnya. Saat ini takdir sedang menertawainya.
.
.
Luis berdiri bersandar di meja makan. Lelaki itu menoleh dan mendapati Jesslyn yang turun dengan pakaian yang sama, yang ia gunakan di saat ia pertama kali datang ke rumah ini. Menjadi tawanan Luis.
Entah apa yang Jesslyn pikirkan sehingga dia memilih memakai gaun pengantin lamanya. Gaun pengantin yang seharusnya dia pakai dihari pernikahannya dengan Leo.
Wanita itu tersenyum kecil. Ia hampir saja melupakan kalau bukan senyum penuh ketulusan yang ia tunjukkan, melainkan kepalsuan.
__ADS_1
Luis sama sekali tidak bereaksi apapun. Lelaki itu tetap diam di tempatnya. Tidak mengatakan apapun dan hanya menatapnya dalam diam.
"Sebenarnya aku masih ingin melanjutkan sampai kontrak nikah kita berakhir, tapi aku rasa itu akan percuma."
"Kau akan bahagia dengan hidupmu yang baru, jangan pernah melupakan lelaki brengsek yang pernah mewarnai hari-harimu meskipun kebersamaan itu sangat singkat,"
Jesslyn mengangguk tanpa sadar. Ia masih bisa mengendalikan dirinya untuk tidak menangis. Ia mengerti perasaan apa yang ada di dalam dirinya saat ini. Ia tersenyum, memberikan senyum terakhir pada laki-laki yang menghancurkan hidupnya dan juga hatinya.
Dan juga—laki-laki yang dicintainya.
Jesslyn menarik kopernya menjauh. Ia memutar tubuhnya, memandang iris dingin Luis yang berusaha menatap lain ketika matanya saling memandang satu sama lain.
Luis menahan napasnya saat Jesslyn berlari dan memeluknya. Wanita itu memeluknya dengan erat. Ia mendengar adanya isakan kecil yang lolos dari bibirnya. Luis mengangkat tangannya, batinnya bergejolak hebat.
Jesslyn mengeratkan pelukannya saat tangan Luis membalas pelukannya. Bahu Luis juga terlihat bergetar meskipun tidak sehebat dirinya.
Gadis itu memejamkan matanya rapat-rapat sebelum melepaskan pelukannya. Jesslyn memaksakan diri untuk tersenyum. Itu adalah pelukan terakhir dan senyuman terakhirnya untuk Luis, karena mereka benar-benar berpisah.
Dan kisahnya dengan Luis bagaikan sebuah mimpi disiang hari. Singkat namun begitu membekas.
Cerita yang awalnya hanya sebuah sandiwara dan kebohongan belaka, siapa yang menduga justru menumbuhkan benih-benih cinta yang kemudian mekar dihati masing-masing. Dan akhirnya cinta itu pun kalah oleh takdir yang tak pernah berpihak pada mereka.
"Luis Qin, terimakasih untuk semuanya. Aku pergi,"
-
Bersambung.
-Spoiler buat bab selanjutnya-
__ADS_1
"Astaga, Nathan. Tidak bisakah kau berbicara lebih lembut sedikit. Kenapa ucapanmu sangat pedas seperti cabe Carolina Reaper?!!"