
"Karin, Tiffany."
Luna berteriak saat melihat keberadaan kedua sahabatnya. Segera Ia menghampiri mereka berdua dan memeluknya. Sementara Jordan langsung bergabung bersama Key dan si berisik Martin.
"Hanya kalian berdua, di mana yang lain?" tanya
"Rusa, aku kangen," Seru Martin yang langsung memeluk Jordan dengan manja. Merasa tak nyaman, segera Ia dorong tubuh sahabatnya tersebut.
"Lepaskan bodoh." Desisnya tajam.
Martin merenggut karena penolakan Jordan. Jordan hanya memutar matanya jengah sedangkan Key tersenyum palsu seperti biasa. Sepertinya rencana Jordan mengajak Luna bertemu kedua sahabatnya adalah keputusan yang salah.
"Bagaimana dua malam kalian sebagai pengantin baru?" Key mulai membuka suara setelah beberapa saat diam.
"Iya, Rusa. Ceritakan padaku dan si muka mayat ini. Bagaimana dua malammu ini terutama malam pertamamu dan Luna, aku jadi ingin tau." Martin menyahut antusias.
Pletaakk .. !!
Pletaakk .. !!
"Sakitt!" Martin menjerit histeris sambil mengusap kepalanya yang baru saja kena jitak seseorang yang berada di belakangnya "Jelek, kenapa kau menjitak kepalaku juga?" Key meringis sambil mengusap kepalanya.
"Itu adalah hadiah kecil untuk kalian berdua," Luna menjawab dengan santai dan segera menempati tempat di samping Jordan
"Kerja bagus, Sayang. Jika kau membutuhkan bantuan untuk memanggang hidup-hidup mereka berdua. Aku akan dengan senang hati membantumu. Terutama memanggang di berisik ini," Sahut Jordan dengan smrik mengerikannya.
Karin dan Tiffany hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah mereka. Mereka adalah pasangan yang kompak, termasuk dalam rencana pembunuhan. Sedangkan Key sebagai targetnya malah tersenyum geli, tapi tidak dengan Martin, dia tampak merengut kesal.
Setelah perbincangan singkat itu. Mereka berenam memutuskan untuk ngobrol sebentar di cafe. Matahari sangat terik, bukan pilihan yang tepat untuk berjalan-jalan di luar. Perbincangan mereka di warnai candaan-candaan ringan. Martin dan Key sudah tidak berani lagi mengungkit tentang malam pertama Jordan dan Luna karena mereka tidak ingin di kuliti hidup-hidup oleh tuan muda Tang tersebut.
Waktu tak terasa berjalan begitu cepat. Sudah lebih dari 5 jam mereka habiskan untuk mengobrol dan bercanda. Tiffany sudah pulang sejak satu jam yang lalu setelah dia mendapatkan telfon dari Ibunya dengan diantarkan oleh Key. Hanya tinggal dua pasangan yang tersisa. Akhirnya Jordan mengajak Martin dan Karin ke rumahnya.
Jordan dan Martin berbincang di mini bar yang bersebelahan dengan dapur. Sedangkan Luna dan Karin sedang makan malam sederhana untuk mereka berempat.
"Rusa, aku dengar perusahaan semakin kacau. Beberapa Investor menarik sahamnya dari Tang group."
Martin mengambil wine yang baru saja Jordan tuang kedalam gelasnya.
"Aku tau itu. Karena aku sendirilah dalang di balik kekacauan itu,"
Pupil mata Martin sontak membulat sempurna telah mendengar apa yang Jordan katakan. "Haa.. Benarkah? Bagaimana kau bisa melakukannya?" dia menatap sahabatnya itu dengan bingung. Sahabatnya itu benar-benar tidak bisa di tebak.
"Kau meragukan ku? Aku yakin kau mengenalku dengan baik," ucap Jordan. "Dan aku selalu mendapatkan apa yang di inginkan. Kau melupakan hal itu, Martin."
"Lalu kapan kau akan menunjukkan batang hidungmu dan mengumumkan pada semua orang jika kau adalah ketua klan yang baru?" ucap Martin. Dia menyesap wine nya sambil menatap Jordan penasaran
"Tunggu saja. Aku masih ingin menikmati hari-hariku dengan Luna. Kami adalah pengantin baru, jadi aku tidak ingin terburu-buru. Biarkan saja Jimmy dan antek-anteknya menikmati hari-hari indahnya sebelum aku datang sebagai mimpi buruk untuk mereka." Ujar Jordan dan kembali meneguk wine nya.
"Kau memang penuh kejutan, Rusa. Kau susah di tebak, tidak salah kau memiliki darah Tang. Luna, kau sungguh sangat beruntung memiliki suami seperti si manusia kutub ini," pandangannya bergulir pada Luna.
Luna berbalik badan setelah mendengar apa yang Martin katakan. "Tentu saja, karena suamiku itu istimewa," Luna mengedipkan sebelah matanya pada Jordan.
Jordan menyeringai, Ia bangkit dari duduknya lalu menghampiri Luna. Meletakkan dagunya di bahu kiri sang istri sambil berbisik. "Malam ini kau akan mendapatkan hadiahmu, sayang," Mata Luna terbelalak dan wajahnya memerah seketika. Jordan menyeringai puas, Ia paling suka saat melihat wajah Luna memerah.
"Dasar messum."
xxx
Luna merasa harinya berjalan lebih lama dari biasanya. Hari ini Jordan sedang pergi untuk mengurus sesuatu. Dia tidak bertanya lebih lanjut bahkan Ia tidak ingin tau. Karena Luna yakin itu ada hubungannya dengan Tang Group, dan rencana besar suaminya untuk memberi pelajaran berharga pada sang paman 'Jimmy Tang'
Drettt ,,, drettt ,,, drettt ,,,
Dengan enggan Luna mengambil ponselnya yang Ia letakkan di sampingnya berbaring. Tertera nama 'Tiffany' di layar ponselnya.
__ADS_1
"Luna," segera Luna jauhkan ponsel itu dari telinganya karena teriakan Tiffany.
"Sialan kau, Tiffy? Apa kau ingin membuatku tuli eo?" dia menggerutu sambil mengusap telinga kanannya yang nyaris saja tuli karena ulah sahabatnya.
"Maaf, Sayangku. Aku hanya terlalu bersemangat, hari ini hari Sabtu. Ada sale besar-besaran di The Green Mall,"
Luna menghela nafas. Ia tidak habis pikir dengan sahabatnya yang satu ini. Ia selalu bersemangat jika sudah menyangkut soal belanja, ya Luna akui jika Tiffany adalah Ratu fashion dan dia bisa lupa diri ketika berbelanja pakaian, tas sampai sepatu brand ternama dengan harga miring karena sale.
"Aku tidak berminat, Tiffy. Kau bisa mengajak Devan untuk menemanimu pergi!"
"Tidak asik, ayolah Luna. Kan sudah lama kita tidak bersenang-senang bersama, ada Karin juga. Dan ya, Martin Songsaenim juga ada bersama kami saat ini. Aku yakin jika suami tampanmu itu tidak akan melarang mu untuk pergi."
Luna memutar matanya jengah "Suamiku sedang tidak ada di rumah!" Luna menjawab dengan sedikit ogah.
"Itu artinya kau tidak memiliki alasan untuk menolak, Ku. baby." Tiffy tetap saja tidak menyerah untuk membujuk Luna agar ikut bersamanya.
"Aku tidak bisa pergi tanpa ijin darinya, Tiffy. Bagaimana pun dia suamiki dan aku----?" Luna menggantung kalimatnya saat bukan lagi suara Tiffany yang Ia dengar, tapi suara baritone yang kelewat datar. Luna sangat mengenali suara itu.
"Kau datang saja. Martin, menghubungiku dan meminta ijin agar aku mengijinkan mu pergi bersama Karin dan Tiffany. Minta sopir untuk mengantarmu. Aku masih harus pergi mengurus sesuatu!"
Luna termangu, ini suara Jordan bagaimana bisa ada suaminya itu di sana? Di saat Luna bergulat dengan pikirannya, bukan lagi suara Jordan yang terdengar setelahnya melainkan suara Martin.
Ia baru sadar jika suara Jordan yang terdengar itu dari sambungan telfon Martin yang di dekatkan pada ponsel Tiffany yang masih tersambung panggilan dengannya. Kini semua menjadi lebih masuk akal. Lagipula Jordan memiliki urusan yang jauh lebih penting di bandingkan harus berkumpul di mall.
"Kau sudah mendengarnya jelek. Suamimu memberi ijin, cepat datang aku sudah terlalu bosan mendengar Kelinci jelek peliharaan ku ini merengek agar kau mau belanja bersamanya dan Karin. Jadi cepat datang!"
"Yakk, kembalikan ponselku. Dan hey? Apa maksudmu mengatakan pada Luna jika aku ini adalah Kelinci peliharaanmu? Memangnya sejak kapan aku yang cantik ini menjadi kelinci?!"
"Hehehe, jangan diambil hati. Aku hanya bercanda, jangan marah. Ayolah, nanti cantiknya hilang loh!" bujuk Key pada Tiffany
Tapi Tiffany tidak mau mendengarkannya. Dia sudah terlanjur kesal pada Key. "Bodoh amat, aku tidak peduli. Aku heran, kenapa Tang Songsaenim bisa memiliki geng aneh seperti kalian semua."
Luna segera memutuskan sambungan telfonnya, Ia bergidik sendiri mendengar perdebatan antara Tiffany dan Key. Meletakkan ponselnya dan bersiap. Ia malas mendengar ocehan Tiffany jika Ia telat apalagi sampai tidak datang.
xxx
Jordan tidak hanya datang seorang diri. Ada Theo bersamanya, sama seperti Jordan. Theo pun memutuskan untuk mengundurkan diri dari Seoul University, dan kini bekerja pada Jordan sebagai tangan kanannya. "Hm, memangnya ada keperluan apa sehingga anda meminta bertemu, Tuan Tang?"
"Tentu saja karena memiliki urusan penting dengan Anda Mr.James," jawab Jordan angkuh. Wajahnya dingin tanpa ekspresi, dengan tatapan dingin dan tajam membuat pria bernama lengkap James Williams itu pun merasa terintimidasi.
"Hahaha, tentu saja, Tuan Tang," James Williams mengambil satu batang rokok mahalnya kemudian menyulutnya lalu menghisapnya dalam-dalam. Asap putih yang di keluarkan dari mulutnya membumbung di udara. "Tidak bisanya Anda meminta bertemu saya secara tiba-tiba, Tuan David Tang,"
"Aku bukan, David Tang. Tapi aku, Jordan Tang, adik dari David Tang!"
James Williams menghentikan kegiatan menghisap rokoknya setelah mendengar ucapan Jordan. Oh, sepertinya pria asing itu telah salah mengenali orang. Ia mengira Jordan adalah David.
"Ah, benarkah? Saya pikir Anda baru saja memotong dan merubah gaya rambut. Hahaha!" James Williams tertawa garing, Ia merasa sangat malu. "Ya, kalian sangat mirip jadi sulit untuk membedakan. Kalian memiliki warna mata dan warna rambut yang sama. Yang membedakan adalah sifat kalian berdua. Jika Tuan David sangat hangat, ramah dan murah senyum. Maka Anda kebalikannya Tuan Jordan. Anda lebih cenderung lebih dingin dan----?"
"Aku datang kemari bukan untuk mendengar ceramah Anda, Mr.James!" kata Jordan memotong ucapan James Williams.
"Oh sorry, kalau begitu langsung saja Tuan Jordan . Katakan tujuan Anda menemui saya,"
"Apa keterlibatan mu dengan, Jimmy Tang?" Jordan bertanya langsung pada intinya. Ia tidak begitu suka dengan berbasa-basi. Meskipun sekilas, tampak keterkejutan di raut wajah James Williams .
"Apa maksud anda, Tuan Jordan?" James pura-pura tidak tau arah pembicaraan Jordan meskipun pada kenyataannya Ia paham apa yang Jordan katakan.
"Penggelapan dana perusahaan yang jumlahnya hampir mencapai 1 triliun dolar. Kau sungguh tidak mengetahuinya?" Jordan menarik sudut bibirnya dan menatap James Williams dengan tatapan meremehkan.
"Hahaha, Tuan Jordan. Perbincangan ini terlalu berat dan terkesan terburu-buru, bagaimana jika anda bersenang-senang dulu. Saya sudah menyiapkan hadiah untuk anda!" James memberi kode pada seorang pria berwajah sangar berkaca mata hitam yang berdiri di belakangnya.
Dari dalam kamar yang berada tepat di belakang sofa yang Jordan duduki. Muncul seorang wanita berwajah latin dengan tubuh sintal, dadanya tampak besar dan berisi. Wanita itu memakai dress yang super mini dan ketat yang menunjukkan lekuk tubuhnya. Tanpa ijin dari bungsu Tang, wanita itu duduk di sampingnya dengan pose menggoda.
"Aku tidak akan segan-segan memotong tanganmu jika kau masih lancang menyentuhku!" wanita itu bergidik ngeri mendengar ancaman kejam Jordan. Sorot matanya yang tajam dan tidak bersahabat membuat bulu kuduk wanita itu berdiri. Segera Ia pergi sebelum kehilangan tangannya atau bahkan nyawanya "Aku sama sekali tidak tertarik dengan hadiah menjijikkan mu itu!"
__ADS_1
"Oh atau dia kurang menarik, jika begitu saya akan?"
"Cukup. Aku sudah beristri, dan tidak tertarik dengan wanita murahanmu itu." kata Jordan menegaskan.
"Sorry , Tuan Jordan . Saya tidak tau jika Anda tidak tertarik dengan barang mewah yang sudah saya siapkan khusus untuk anda. Karena biasanya, Tuan David tidak pernah menolak dengan hadiah saya. Dua wanita yang Anda tolak adalah favoritnya."
"Sayang aku bukan, dia," katanya. "Berhenti menguji kesabaranku. Aku muak terlalu lama berbasa-basi dan bersikap ramah padamu. Sebaiknya mari buat hal ini lebih mudah, Mr.James"
"Baiklah Tuan Jordan . kita lanjutkan perbincangan kita tadi,"
"Beri informasi yang aku butuhkan maka hidupmu akan tetap aman dan bisnis ilegal yang kau miliki tidak akan terendus pihak yang berwajib. Dan bukankah bisnismu sedang kacau, pelanggan banyak yang hilang dan omset mu menurun dengan sangat drastis. Katakan jika saya salah!" Jordan menatap James William dengan smrik kemenangan. Wajah pria itu tampak pucat dan keringat dingin mengalir dari pelipisnya.
"Hahaha sepertinya anda mendapatkan informasi yang salah, Tuan Jordan. Sungguh itu tidaklah benar,"
"Oya?" ucapnya meremehkan "Theo," tanpa Jordan berkata lebih lanjut, Theo segera memberikan apa yang dia butuhkan. Kemudian Jordan menyerahkan dokumen itu James Williams.
"Apa ini?"
"Di dalam dokumen ini terdapat keuntungan bisnismu yang terus turun, dan ada dana mencurigakan yang tidak bisa di katakan sedikit jumlahnya mengalir ke dalam rekening pribadimu. Dan di sana tertera nama Jimmy Tang sebagai pengirimnya, apa kau masih ingin menyangkalnya?"
Gyutttt ... !!!
James Williams mengepalkan kedua tangannya. Ia sudah muak menghadapi pria dingin dan angkuh ini.
Prakk..
Meja kaca di hadapan Jordan hancur menjadi serpihan-serpihan kecil setelah di hantam kaki kanan James William yang berbalut sepatu hitam mengkilat, beberapa serpihannya melayang hingga menggores wajah tampan Jordan.
"Jaga ucapanmu, Bocah sialan. Memangnya kau pikir kau siapa? Kau pikir aku takut dengan gertakan mu itu? Aku sudah muak dengan mulut berbisa mu dan sikap angkuhmu itu. Kau pikir bocah ingusan sepertimu bisa mengalahkan ku?" James Williams sudah kehilangan kesabarannya yang sejak tadi di uji habis-habisan oleh Jordan.
"Kau?"
"Hentikan, si bodoh ini biar aku yang mengurusnya," Jordan bangkit dari duduknya sambil menyeka darah yang terus menetes dari luka di pipi kanannya "Kau meragukan orang yang salah, Mr.James. Sayangnya aku bukan bocah ingusan yang mudah kau remehkan. Jordan Tang, bukanlah David Tang yang mudah untuk kau kelabui!" Jordan berbicara dengan tenang namun tetap mempertahankan wajah stoic nya.
Jordan melempar satu dokumen keatas sofa samping James Williams berdiri. "Apa lagi ini?"
"Itu adalah beberapa bukti kejahatanmu yang lainnya, kau melakukan penggelapan uang dan melakukan penipuan pada beberapa perusahaan. Ini adalah bukti-bukti pencucian uang yang selama ini kau lakukan, dalam dokumen ini juga menyimpan bukti penghindaran pajak pada beberapa klub malammu serta James corp selama hampir bertahun-tahun. Hm, akan jadi sangat menarik jika aku serahkan dokumen ini pada pihak yang berwajib," smrik Jordan semakin lebar. Ia puas melihat James William tak lagi dapat berkutik.
"Kau... kau pasti sudah memalsukannya, ini penipuan!" teriak James tidak terima.
"Wow, kau sangat sensitif, Mr. Percayalah jika semua data ini asli. Oh ya, aku masih memiliki beberapa kejutan penting untukmu. Salah satunya adalah video dan foto-fotomu yang sedang berpesta sabbu dan sexx bebas di London. Kau melakukan banyak tindakan kriminal dan yang ku tunjukkan ini hanya sebagian kecil saja? Sekarang pilihlah, bukti mana yang harus aku serahkan lebih dulu? Aa, atau tentang keterlibatan mu dalam penjualan mobil ilegal di Milan?"
James Williams semakin memucat. Jordan memaparkan hampir setengah dari semua kejahatannya. Dan sepertinya Ia salah telah melibatkan diri dalam rencana besar Jimmy dan Bryan untuk merebut Tang group. Akibatnya Ia harus berurusan dengan bocah kematian seperti Jordan, pemuda Iblis dalam wujud malaikat.
Dia tidak pernah menyangka jika itu justru akan menjadi boomerang buatnya. Jordan Tang memang tidak bisa di remehkan. Ia lebih berbahaya dari seekor ular yang berbisa.
"Putuskan sekarang,"
Sudah tidak ada jalan lagi. James Williams tidak lagi memiliki pilihan selain menuruti keinginan picik Jordan.
"Baiklah, aku akan memberikan informasi yang kau inginkan, Tuan Jordan!"
Jordan menyeringai lebar. "Pilihan yang bijak, Mr.James. Oya, ada satu hal lagi. Jangan pernah bermain api jika kau tidak ingin terbakar. Inilah harga mahal yang harus anda bayar jika bekerja sama dengan bajingan itu dan komplotannya. Selamat siang, saya permisi dan sampai jumpa lagi," Jordan meninggalkan apartemen James Williams dengan smrik penuh kemenangan.
"Kita pulang ke rumah dulu. Aku tidak ingin menemui Luna dalam keadaan berantakan seperti ini,"
"Baik Tuan,"
xxx
.
.
__ADS_1
T.B.C