Istri Kedua CEO Lumpuh

Istri Kedua CEO Lumpuh
Boneka Rongs*kan


__ADS_3

Melihat ketidaknyamanan Jesslyn akan kehadiran Roona membuat Luis memutuskan untuk mengirim adik angkatnya itu kembali ke luar negeri. Luis tidak ingin membuat istri kontraknya itu merasa tidak nyaman dengan kehadiran Roona. Apalagi dengan tingkah dan sikap gadis itu yang suka semena-mena.


"Kak, kau memanggilku." Roona menghampiri Luis di ruang kerjanya.


"Aku sudah mengurus tiket pesawat dan paspor-mu. Kembalilah ke LA malam ini juga, lanjutkan pendidikanmu dan jangan sembarangan pulang pergi sebelum kuliahmu selesai!!" Ucap Luis sambil memberikan paspor dan tiket pesawat pada Roona.


Alih-alih menerimanya. Roona malah melemparnya ke atas meja. "Aku tidak mau!! Kenapa Kakak malah mengusirku?! Apa Kakak tidak peduli lagi padaku, apa karena jal*ng itu?!"


PLAKKK...


Luis men*mpar Roona dengan keras. "Jangan menyebut dia dengan kalimat kotor seperti itu!!" Bentak Luis. Luis tidak terima saat Roona menyebut Jesslyn dengan sebutan jal*ng.


"KAKAK!!" bentak Roona.


"Aku tidak akan segan-segan mengusirmu dari rumah ini dan menghapusmu dari keluarga Qin, jika kau berani menyebut Jesslyn dengan sebutan tak pantas lagi!! Sebaiknya sadar diri, kau bukanlah siapa-siapa di rumah ini!!" Luis beranjak dari hadapan Roona dan pergi begitu saja.


Tak lama setelah Luis pergi. Jesslyn datang menghampiri Roona, tatapan marah penuh kebencian Roona berikan pada gadis itu. Sementara Jesslyn menatapnya dengan pandangan meremehkan.


Jesslyn menahan tangan Roona ketika gadis itu melewatinya. "Sebaiknya jaga sikap dan perilakumu, Nona Muda. Luis ada di pihakku, jadi kau jangan jangan macam-macam jika masih ingin bertahan lebih lama lagi di rumah ini!!" Ucap Jesslyn memperingatkan.


"Kau!! Memang siapa kau, berani sekali kau mengancamku?!"


"Kau tanya siapa aku?! Sepertinya aku belum memperkenalkan diriku dengan resmi padamu. Aku adalah Jesslyn Qin, istri muda dari Luis Qin, Nyonya besar di rumah ini."


"Luis memberikan kekuasaan penuh padaku, jadi sebaiknya kau jangan macam-macam apalagi berusaha mencari masalah denganku, atau kau akan merasakan akibatnya!!" Jesslyn menepuk pipi Roona sambil tersenyum sinis dan pergi begitu saja.


Roona mengepalkan tangannya. Amarah terlihat jelas pada sepasang netra hitamnya. Dia menatap kepergian Jesslyn dengan penuh kebencian. Roona tidak terima karena Luis memberikan posisi penting pada Jesslyn, karena seharunya posisi itu untuk dirinya.


Kenapa harus ada yang lain lagi disisi Luis, kenapa harus orang lain yang menjadi kesayangannya, kenapa bukan dirinya yang Luis cintai, kenapa?! Padahal Roona sudah mencintainya sejak lama, tapi sekalipun Luis tidak pernah melihat dirinya, keberadaannya.


"Tidak bisa, aku tidak boleh membiarkan wanita j*lang itu terus berkuasa di rumah ini. Dia harus menghilang dari hadapan kakak untuk selamanya. Karena hanya akulah satu-satunya orang yang layak untuknya, berdiri disisinya!!"


-

__ADS_1


-


Jesslyn melihat Luis yang sedang diam termenung di balkon kamarnya. Tampak sebatang rokok diapit kedua jarinya, asap putih keluar dari sela-sela mulutnya yang kemudian membumbung tinggi dan hilang tersapu angin malam.


Derap langkah kaki seseorang yang datang membuat perhatian Luis sedikit teralihkan. Laki-laki itu menoleh dan mendapati Jesslyn menghampirinya. "Kau terlihat sangat kacau, Tuan Qin." Ucap Jesslyn, dia berdiri disamping Luis. "Apa ada yang kau pikirkan?" Tanya gadis itu.


"Aku hanya merasa tidak nyaman dengan keberadaan Roona disini," jawab Luis.


Jesslyn menautkan alisnya dan menatap Luis penasaran. "Kenapa? Bukankah dia itu adikmu, ya meskipun tidak ada darah yang sama mengalir di tubuh kalian berdua. Tapi bagaimana pun juga dia adalah keluargamu, seharusnya kau bahagia dengan kehadirannya." Tutur Jesslyn.


Luis menggeleng. "Justru aku tidak nyaman dengan kehadirannya. Lagipula hubungan kami tidaklah sedekat itu. Aku tidak pernah menerima kehadiran Roona dalam keluarga ini, tapi itu adalah keinginan mama, jadi aku tidak bisa menghalanginya." Ujar Luis.


Puas... Jesslyn sangat puas setelah mendengar apa yang Luis katakan. Itu artinya Roona tak ada nilainya sama sekali dimata apalagi hati Luis, dan itu menjadi kebahagiaan tersendiri bagi Jesslyn.


Mengabaikan Luis yang masih bergeming dari tempatnya, Jesslyn melenggang masuk. Ia lalu mengganti dress rumahan dengan pakaian yang biasa ia pakai ketika bepergian.


Tubuh rampingnya terbalut dress brokat putih gading berlengan, rambut panjangnya di biarkan tergerai indah dan flat shoes cantik berhiaskan tiara dan tak ketinggalan tas kecil yang menyampir di bahu kanannya.


"Kau mau pergi?" Tegur Luis dari arah belakang.


"Kalau begitu aku akan mengantarkanmu,"


Jesslyn tak memberikan jawaban apa-apa. Dia hanya menganggukkan kepala, menyetujui Luis yang hendak mengantarkannya. Dan kebetulan sekali, Jesslyn memang sedang malas pergi sendirian.


.


.


Roona bangkit dari duduknya saat melihat kedatangan Luis, namun senyum di bibirnya memudar mana kala sosok Jesslyn berjalan mengekor dibelakangnya. Mengabaikan gadis itu, Roona segera menghampiri Luis dan memeluk lengannya. Seolah-olah pertengkaran tadi tidak pernah terjadi.


"Kakak, aku membuat puding greentea kesukaanmu. Bagaimana kalau kau mencicipinya sedikit?" Tawar Roona.


"Aku tidak suka puding, jadi kau makan sendiri saja," jawab Luis seraya menepis tangan Roona dari lengannya.

__ADS_1


Melihat Roona yang terus menempel pada Luis membuat perasaan Jesslyn menjadi tidak karuan, rasanya ada ketidak relaan saat gadis itu memeluk mesra lengan kiri suami kontraknya tersebut. Namun Jesslyn melihat ketidak nyamanan Luis karena sikap gadis itu.


Jesslyn pun segera mengambil inisiatif. Dia mendorong Roona hingga gadis itu terhuyung kesamping. Jesslyn berganti memeluk Luis, senyum tercetak di bibirnya ketika Luis menatapnya.


"Kita bisa kemalaman jika tidak pergi sekarang," ucap Jesslyn seolah-olah mengerti apa yang Luis pikirkan.


"Paman, Bibi, kalian berdua mau pergi?" Si kembar muncul dengan tiba-tiba.


"Ya, aku mau menemani Bibi kalian ke pusat perbelanjaan." Jawabnya.


"Kakak, aku juga ikut." Seru Roona, gadis itu melirik sinis Jesslyn hanya memutar matanya jengah. Dalam hatinya dia berkata. "Ck, kenapa b*nalu ini harus ikut segala sih!!"


Tau Luis yang akan mengemudikan mobilnya. Buru-buru Roona membuka pintu depan dan duduk manis di samping kemudi. Namun dugaannya salah, bukan Luis melainkan Hanya. Karena Luis justru duduk di jok belakang bersama Jesslyn.


"Yakkk,,,,!!! Setan cadel, anak ayam, apa yang kau lakukan di sini? Itu tempat untuk kakak, jadi turunlah." teriak Roona sambil mendorong lengan Marcell.


"Tidak mau!! Aku maunya duduk disini, lagi pula Paman sendiri tidak keberatan aku mengemudikan mobilnya. Jadi kau tidak memiliki alasan untuk memintaku keluar." ujarnya menegaskan.


"Kalau begitu aku akan bertukar tempat dengan boneka rongs*kan itu," ucap Roona seraya menunjuk Jesslyn menggunakan dagunya.


"Terlambat, karena mobil sudah berjalan."


"YAKKK....!!!"


Jesslyn dan Luis sama-sama menghela nafas seraya menggelengkan kepalanya melihat tingkah mereka berdua. Malas mendengar perdebatan Roona dan Marcell yang membuat sakit telinga. Luis mengeluarkan handset dari dalam saku celananya.


Luis memasang satu pada telinganya dan satu lagi pada telinga Jesslyn. Memaksa gadis itu untuk menoleh padanya, Jesslyn tersenyum tipis begitu pula sebaliknya.


Gadis itu tidak mendengar suara apa pun sampai Luis mengangkat ujung handsetnya yang tidak tersambung pada apa pun. Jesslyn mendengus berat sambil menggelengkan kepala.


"Ck, ada-ada saja,"


-

__ADS_1


-


Bersambung.


__ADS_2