Istri Kedua CEO Lumpuh

Istri Kedua CEO Lumpuh
Bercocok Tanam


__ADS_3

Jesslyn meletakkan gelasnya. Baru minum sedikit saja kepalanya sudah mulai pusing. Wanita itu kemudian bangkit dari duduknya lalu pindah kepangkuan pria yang baru saja resmi menjadi suaminya.


Kedua tangan Jesslyn memeluk leher Luis dan mengunci matanya. "Aku sudah sembuh dan tamuku pergi semalam. Apakah malam ini kita akan berselancar menikmati surga?"


"Apa kau sudah siap?"


Jesslyn mengangguk. "Untuk apa ditunda lagi? Aku sudah siap, bukankah sekarang kita adalah suami-istri yang sah. Oya, Lu. Ngomong-ngomong apakah senjata tempurmu sepanjang dan sebesar mentimun?"


Luis memicingkan matanya. "Kenapa pertanyaanmu aneh begini? Apa ini karena ucapan Tao tempo hari?" Jesslyn mengangguk.


"Jujur saja, jika memang sebesar dan sepanjang itu aku jadi ngeri sendiri. Dan aku sangat berharap senjata tempurmu berukuran normal."


Luis mendengus. Sepertinya dia perlu memberikan pelajaran pada panda China itu, bagaimana bisa dia mengatakan yang tidak-tidak pada Jesslyn. Dan Luis akan mengurusnya nanti.


"Kau tenang saja, senjata tempurku berukuran normal. Jadi kau tidak perlu khawatir." Ucap Luis meyakinkan.


Jesslyn mengusap lega dadanya. "Huft, syukurlah kalau begitu. Aku bisa tenang sekarang." Ucapnya.


Bagaimana Jesslyn tidak merasa ngeri. Dulu waktu masih kuliah, salah satu temannya pernah bercerita tentang kakaknya yang pingsan dimalam pertamanya karena senjata tempur milik suaminya yang tidak muat di lubang buayanya karena terlalu besar. Apalagi ukuran mentimun Korea sangat besar dan panjang.


Dan sejak saat itu Jesslyn menjadi geli sendiri saat melihat mentimun, karena temannya itu mengatakan jika senjata kakak iparnya panjang dan besar seperti mentimun. Dari situlah Jesslyn anti dengan yang namanya mentimun.


"Aku penasaran sebesar apa senjata tempurmu, aku akan melihatnya terlebih dulu." Dia bangkit dari pangkuan Luis lalu melepas cel*na yang dipakai oleh prianya tersebut. Jesslyn tersenyum lebar setelah melihat ukurannya.


"Bagaimana? Masih belum yakin?"


"Huft, untung saja. Meskipun normal, tapi ini luar biasa, berurat dan kencang. Bagaimana kalau kita coba senjata tempurmu sekarang juga, saat dalam keadaan sadar, berapa lama kau mampu bertahan,"


Luis menaikkan alisnya. "Heh, kau menantangku? Jangan menyesal jika besok pagi kau sampai tidak bisa jalan, Nyonya Qin!!" Tanpa banyak basa-basi, Luis langsung menyerang Jesslyn dengan mel*mat bibirnya. Posisi mereka tidak lagi duduk tapi berbaring.


Luis terus mel*mat dan memagut bibir Jesslyn. Sebelah tangannya menangkup sisi wajah Jesslyn, sedangkan tangan satu lagi mer*ba setiap inci tub*h Jesslyn yang terbuka. Entah sejak kapan Luis sudah menanggalkan semua benang yang melekat di tubuh porselennya.


Kedua tangan Jesslyn memeluk leher Luis, matanya tertutup rapat. Dia begitu menikmati apa yang Luis lakukan. Rasanya begitu luar biasa, apalagi ketika jari itu menemukan titik sensitifnya yang sudah basah sejak pertama kali Luis mencumbunya.

__ADS_1


"Aaahhh..." Des*han dan erangan berkali-kali keluar dari sela-sela bibir Jesslyn ketika Luis menc*mbunya.


Bibir Luis turun menuju leher jenjangnya yang putih mulus bak porselen. Kecupan demi kecupan terus menghujani tub*h terbuka wanita itu. Bahkan beberapa tanda kepemilikan tampak dibeberapa tempat seperti dada dan perut.


"Aku sudah tidak bisa menahannya lagi, jangan kelamaan." Ucap Jesslyn di tengah des*hannya.


Luis menyeringai. "Kenapa kau sangat tidak sabaran, Sayang. Baiklah, ayo kita lakukan." Luis kembali mel*mat dan memagut bibir Jesslyn seperti tadi. Mengecupnya, menghisapnya selama beberapa detik.


Kemudian Luis melepaskan satu persatu ka!n yang melekat di tubuhnya, wajah Jesslyn langsung merona seperti tomat matang. Pria itu tanpa sehelai ben*ng pun, dan dia sangat berterimakasih pada Tuhan karena senjata tempur milik Luis tidaklah sebesar mentimun seperti yang Tao katakan.


Ukurannya normal dan sangat pas di Miss-nya yang masih sempit. Wajar karena baru satu kali kemasukkan senjata tempur itu.


"Kenapa, Sayang. Kau sangat memerah, apa kau benar-benar sudah tidak bisa menahannya, hm?" Jesslyn mengangguk."Kita mulai."


Luis memposisikan dirinya di depan Jesslyn setelah membuka lebar-lebar kedua kak!nya. Senjata tempur milik Luis yang sudah berdiri sempurna mendorong masuk ke dalam diri Jesslyn yang lain dan siap untuk menggoyang wanita itu sampai pagi.


"Aaahhhh..." Jesslyn mengeram.


-


Pagi yang cerah, hari yang baru dan perjalanan hidup yang baru. Hidup Jesslyn dan Luis yang sesungguhnya baru saja dimulai setelah mereka mengikat janji suci sehidup-semati dihadapan Tuhan.


Jesslyn membuka matanya yang masih terasa berat. Pertempurannya dengan Luis semalam benar-benar menguras hampir seluruh tenaganya, bagaimana tidak, mereka bercinta hampir semalaman penuh.


Ternyata Luis memiliki tenaga yang kuat seperti kuda. Dia tidak tampak lelah meskipun beberapa kali mengalami pelepasan. "Uuhh," Jesslyn meringis karena nyeri di paha dalamnya.


Dengan langkah tertatih, Jesslyn berjalan ke kamar mandi. Sekujur tubuhnya terasa lengket oleh keringat akibat pertempurannya dengan Luis semalam.


Setelah mandi dan berganti pakaian, Jesslyn pergi ke dapur untuk menyiapkan sarapan, sementara Luis masih tertidur pulas.


"Omo!! Nyonya Bos, ada apa dengan caramu jalan? Kenapa aneh begitu?" Tao memicingkan matanya melihat cara jalan Jesslyn yang sedikit aneh. Lalu senyum aneh terukir di bibirnya.


"Kenapa kau senyum-senyum seperti orang gila?" Jesslyn menatap Tao dengan sinis.

__ADS_1


"Hehehe, pasti kalian semalam bertempur hebat dengan Bos ya?!" Tebak Tao 100% benar.


"Ck, memangnya apa urusanmu?! Dasar kepo, minggir aku mau lewat. Dan kau... Jangan harap bisa ikut sarapan, aku tidak rela jika kau sampai ikut memakan masakanku!!"


"Ya, Nyonya Bos, jangan begitu dong."


"Masa bodoh!!" Jesslyn menjulurkan lidahnya.


Jesslyn menyenggol bahu Tao dan pergi begitu saja. Siapa suruh dia suka sekali mengganggunya. Dan Jesslyn tentu akan memberikan hukuman pada pria berjulukan panda itu.


.


.


Setelah berkutat hampir satu jam, sedikitnya 6 menu berbeda tertata rapi diatas meja. Yang perlu dia lakukan sekarang adalah memanggil semua orang untuk sarapan kecuali Tao. Jesslyn benar-benar tidak rela jika Tao ikut menikmati masakannya, dia kesal setengah mati padanya.


"Dimana, Tao? Kenapa dia tidak ikut sarapan sama kita?" Tanya Tuan Eric.


"Aku melarangnya. Dia terus saja menggangguku dan itu membuatku kesal. Biarkan saja dia beli makanan diluar!!"


Tuan Eric menghela napas berat. Beginilah Jesslyn ketika sedang kesal. Pasti dia akan dendam pada orang yang membuatnya kesal itu.


Dia jadi teringat saat Jesslyn masih kuliah dulu. Putrinya itu pernah tidak mau bicara dengannya selama 3 hari 3 malam hanya karena Tuan Eric tidak mengijinkannya untuk mengambil kerja sampingan.


Nathan memicingkan matanya melihat cara jalan Jesslyn yang sedikit aneh. "Mi, kenapa jalanmu aneh begitu? Kau baik-baik saja bukan?"


"Hahaha... Mami baik-baik saja, Sayang. Hanya saja semalam Mami jatuh di kamar mandi karena terpeleset sabun, tapi sungguh Mami tidak apa-apa." Ujar Jesslyn, dia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


Sementara itu. Luis mati-matian menahan diri agar tidak tertawa. Jesslyn sungguh seorang pembohong yang hebat, tapi tidak baik juga jika dia mengatakan yang sebenarnya pada putra mereka. Karena Nathan masih terlalu kecil untuk mengetahui apapun tentang orang dewasa.


-


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2