Istri Kedua CEO Lumpuh

Istri Kedua CEO Lumpuh
Kehamilan Luna


__ADS_3

Akhir-akhir ini Luna sering mual di pagi hari, dan hal itu membuatnya merasa tidak nyaman sama sekali. Luna tidak tahu apa yang terjadi pada dirinya, karena tidak biasanya dia seperti ini. Bukan hanya mual, tapi dia juga tidak bisa mencium aroma menyengat seperti parfum dan aroma bumbu yang sedang dimasak. Lagi-lagi hal tersebut sangat menyiksanya.


Dan hal tersebut juga terjadi lagi ini. Luna bangun lebih awal karena rasa mual yang tidak tertahankan.


"Hoek, Hoek, Hoek." di dalam kamar mandi, Luna terus memuntahkan apa yang ada di perutnya. Namun yang keluar hanya air, karena sejak semalam perutnya tidak terisi apapun. Perutnya tidak menerima makanan apapun.


Mendengar suara Luna, buru-buru Jordan bangkit dari berbaringnya dan menyusulnya ke kamar mandi. Dia benar-benar cemas dengan keadaan istrinya. Setibanya di kamar mandi, Jordan mengetuk pintu kamar mandi berkali-kali sambil memanggil nama Luna


"Luna, kau kenapa? Sayang, cepat buka pintunya Jangan membuatku cemas." Pinta Jordan.


Satu menit kemudian pintu terbuka, Luna keluar dari dalam sana dengan wajah yang sedikit memucat. Jordan pun semakin cemas dibuatnya. Dia benar-benar takut jika Luna kenapa-kenapa. "Ge, tidak perlu panik, aku baik-baik saja." ucap Luna meyakinkan.


"Baik-baik saja bagaimana, wajahmu sangat pucat, Luna. Apa kau sakit?" tanya Jordan memastikan.


Luna menggeleng, meyakinkan pada pria itu jika dia memang baik-baik saja. "Tidak, aku tidak apa-apa. Sungguh, aku baik-baik saja." ucapnya meyakinkan.


"Tapi tetap saja aku tidak bisa merasa tenang, kita ke rumah sakit saja dan periksakan kondisimu. Aku tidak mau mendengar kata penolakan, kali ini kau harus menurut padaku!!" ucap Jordan dengan tegas. Dia tidak mau dibantah lagi.


Luna menghela nafas panjang. Dia menganggukkan kepala dan menyetujui ajakan Jordan. Luna sangat malas untuk berdebat. Itulah kenapa dia memilih mengalah dan setuju untuk pergi ke rumah sakit bersama Jordan.


"Baiklah."


xxx


"Bagaimana dokter? Sebenarnya apa yang terjadi pada istri saya? Dia baik-baik saja bukan?" tanya Jordan memastikan. Kecemasan terlihat jelas dari raut mukanya.


Dokter wanita itu mengangguk. "Anda tidak perlu cemas, Tuan. Istri Anda baik-baik saja, itu adalah tanda-tanda awal kehamilan. Ya, saat ini istri Anda sedang hamil muda, dan usia kandungannya baru memasuki Minggu ke tiga." Jelas dokter tersebut.


Keterkejutan terlihat jelas di raut wajah Luna maupun Jordan telah mendengar apa yang dikatakan oleh dokter tersebut. Hamil, itu artinya mereka berdua akan segara memiliki anak, dan mereka akan menjadi orang tua. Mendengar hal tersebut membuat Luna dan Jordan merasa sangat bahagia, saking bahagianya sampai-sampai Luna menitihkan air mata. Air matanya jatuh sendiri tanpa mampu dia cegah.


Lalu pandangan Luna bergulir pada Jordan. "Ge, apa kau mendengarnya? Aku hamil, sebentar lagi kita akan memiliki bayi, dan kita menjadi orang tua. Ge, ini adalah kabar yang sangat-sangat menggembirakan." ucap Luna dengan suara parau, menahan tangis. Kebahagiaan terlihat jelas dari sepasang netra Hazel-nya.


Jordan mengangguk. Perasaannya bercampur aduk, dan Jordan tidak bisa menggambarkan kebahagiaan yang dia rasakan sekarang. Karena terlalu bahagia, sampai-sampai dadanya seperti mau meledak rasanya.


"Ya, aku mendengarnya, Sayang. Ini adalah kabar yang sangat bahagia. Kita temui orang tuamu dan memberitahu mereka tentang kabar bahagia ini." Ucapnya dan dibalas anggukan oleh Luna.


Luna benar-benar sudah tidak sabar untuk segera memberitahu kedua orang tuanya tentang kehamilannya. Dia ingin tahu bagaimana reaksi mereka berdua, karena sebentar lagi akan hadir cucu baru di keluarga besar mereka.


"Ya, aku sudah tidak sabar ingin segera memberitahu mereka mengenai kabar gembira ini. Pasti mereka akan sangat bahagia mendengar tentang kehamilanku ini." Ucap Luna menimpali.


Setelah berpamitan. Pasangan muda itu lalu melenggang pergi meninggalkan ruangan dokter. Mereka menuju kediaman Qin untuk membagikan kabar gembira tersebut pada Jesslyn dan Luis.


xxx


"Apa, Luna hamil?" kaget Luis setelah mendengar kabar yang disampaikan oleh menantu bungsunya tersebut.


Jordan mengangguk. "Ya, Pa. Dan sekarang usia kandungan Luna baru memasuki minggu ketiga," jawab Jordan.


Jesslyn memeluk Luna dan berkali-kali mengucapkan selamat padanya. Dia sampai menangis saling bahagianya. Akhirnya impiannya untuk memiliki cucu dari Luna akhirnya menjadi kenyataan.


"Sayang, selamat untukmu. Mami, benar-benar bahagia mendengar tentang kehamilan mu ini. Mulai sekarang kau tidak boleh melakukan pekerjaan apapun, kau harus menjaga cucu kami dengan baik." Ucap Jesslyn sambil membelai pipi Luna.


Luna mengangguk. "Tentu saja, Mi. Aku dan Jordan pasti akan menjaganya sebaik mungkin."

__ADS_1


xxx


Kabar gembira itu telah sampai ke telinga Martin dan yang lain. Mereka turut bahagia mendengar kabar tentang kehamilan Luna. Bahkan Martin dan Key sampai bertaruh tentang jenis kelamin janin yang ada di kandungan Luna. Tidak tanggung-tanggung, yang mereka taruhkan adalah mobil kesayangan masing-masing.


"Luna, selamat untukmu. Kami bahagia mendengarnya. Artinya aku,Karin dan Sunny akan segara menjadi, Bibi. Kkyyyaa, ini benar-benar sangat menggembirakan." Tutur Tiffany dengan hebohnya.


Luna terkekeh geli melihat tingkah sahabatnya tersebut. Lalu pandangan Luna bergulir pada perutnya yang masih rata. Padahal anaknya belum lahir, tapi dia sudah mendapatkan banyak cinta dari orang-orang terdekatnya, dan hal tersebut membuat Luna sangat terharu.


"Pokoknya bayi itu laki-laki,"


"Tidak bisa bayi itu harus perempuan!!"


"Enak saja, aku bilang laki-laki ya laki-laki. Mana ada perempuan."


"No No No, instingku sangat kuat baik itu adalah perempuan, apalagi tebakanku tidak pernah meleset. Satu lagi,lihat saja Luna yang semakin cantik. membuktikan jika bayi dalam kandungannya adalah perempuan!!"


Perdebatan sengit antara Martin dan Key mengalihkan perhatian semua orang yang sedang berkumpul di ruangan VIP restoran bintang lima tersebut. Martin dan Key sedang berseteru sengit memperebutkan jenis kelamin janin yang masih berada di dalam kandungan Luna. Key meyakini jika bayi itu laki-laki, sementara Martin meyakini jika bayi itu perempuan. Mereka sama-sama tidak ada yang mau mengalah, dan teguh pada keyakinan masing-masing.


Tingkah mereka berdua yang seperti bocah, membuat semua orang yang berada di ruangan itu menjadi geli sendiri. bisa-bisanya mereka bertengkar dan memperebutkan jenis kelamin anak Luna dan Jordan yang masih berusia 3 Minggu tersebut.


Karin yang merasa terganggu pun segara menghentikan perdebatan konyol mereka berdua."Sudah cukup kalian berdua!! Kalian berdua ini apa-apaan sih? Benar-benar seperti bocah, berhenti melakukan hal konyol dan memalukan. Ingat umur, kalian sudah dewasa bukan lagi anak TK!!"


Habis sudah kesabaran Karin karena tingkah mereka berdua, Martin terutama. Karin benar-benar tidak habis pikir kenapa dirinya bisa sampai jatuh cinta pada orang menyebalkan seperti Martin. Padahal yang jauh lebih tampan dan lebih baik darinya masih banyak, benar kata pepatah Jika cinta itu buta. Dan karin adalah buktinya.


"Hanny Bunny Sweety, kenapa kau malah mengomeli ku juga? Jelas-jelas dia yang mau mulai duluan, aku tidak bersalah, jadi marahi dia saja jangan aku juga." Rengek Martin sambil memeluk lengan Karin.


Karin menyentak tangan Martin dengan kasar dan menatapnya tajam. "Diam!! Memangnya siapa yang memintamu untuk bicara, berhenti bersikap konyol dan menggelikan, Martin. Ingat, kau itu seorang dosen. Tidak seharusnya seorang Dosen bertingkah menggelikan sepertimu!! Aku benar-benar malu dengan sikapmu yang seperti bocah ini!!" alhasil, Martin diomeli habis-habisan oleh Karin.


Martin tidak berani menjawab lagi, apalagi membantah ucapan Karin. Menurutnya, kekasihnya itu sangat mengerikan jika sedang marah. Dan Martin tidak ingin terkena masalah dengan menimpali setiap kalimat yang keluar dari bibir Karin.


"Benar, jangan rusak momen bahagia ini. Dan kalian berdua, aku harap ini terakhir kalinya kalian melakukan tindakan konyol dan menggelikan seperti ini, atau Aku tidak akan segan-segan untuk mengajar kalian berdua." Ujar Tiffany.


Tiffany turut buka suara. Dia memberikan peringatan keras pada Martin dan Key, tiffany tidak akan segan untuk menghajar mereka berdua jika sampai berani membuat keributan lagi.


Luna terkekeh geli melihat ekspresi Martin dan Key yang mirip dengan anak kucing yang baru saja ketahuan mencuri ikan majikannya. Benar-benar lucu dan menggelikan.


"Ge, aku lelah. Ayo kita pulang." ucap Luna dan dibalas anggukan oleh Jordan.


"Kalian lanjutkan saja, pesan lagi apapun yang kalian inginkan, biar aku yang membayarnya." Ucap Jordan sebelum sosoknya menghilang di balik pintu bersama Luna.


Jordan harus menjaga Luna dengan sangat baik, terutama janin di dalam perutnya. Dia tidak akan membiarkan sesuatu yang buruk sampai terjadi pada mereka berdua. Keselamatan Luna dan calon anak mereka sudah menjadi tanggungjawab nya.


xxx


"Pa, apa yang terjadi? Bagaimana bisa papa dan Paman Bryan malah terkurung disini!" tanya Boy, dia mengunjungi Ayahnya di penjara.


Hampir satu bulan Jimmy dan Bryan terkurung dibalik jeruji besi akibat perbuatan mereka sendiri. Tetapi Boy baru mengetahuinya setelah pengacara keluarganya memberitahunya. Dia benar-benar tidak tahu dengan apa yang menimpa ayahnya.


Boy pikir ayahnya sedang pergi ke luar negeri untuk melakukan perjalanan bisnis, tetapi siapa yang menduga Jika dia malah terkurung di dalam penjara.


"Boy, bagaimana kau bisa tahu Papa ada disini?" tanya Jimmy dengan terkejut.


"Tidak penting bagaimana aku bisa tahu Papa ada disini. Yang terpenting adalah, beritahu aku siapa yang sudah melakukan ini pada, Papa."

__ADS_1


"Bajingan kecil itu. Jordan Tang, dialah yang melakukan ini pada, Papa. Papa, Paman Bryan dan Laura dilaporkan ke polisi. Kami akhirnya ditangkap dan dijebloskan ke dalam penjara. Boy,kau harus melakukan sesuatu. Papa, sudah tidak tahan disini, tempat ini begitu sesak, dan Papa ingin keluar secepatnya." Ujar Jimmy.


Kedua tangan Boy terkepal kuat. Apa tidak bosan orang itu mencari masalah dengan keluarganya? Dirinya dibuat babak belur, lalu ayahnya dikirim ke penjara. Benar-benar perlu diberi pelajaran.


"Papa, tenang saja. Aku pasti akan membalas pembuatan bajingan itu dan mengeluarkan Papa dari sini, tunggu saja bagaimana aku akan menghancurkannya!!" ujar Boy berapi-api.


Boy akan menuntut balas pada Jordan. Dia harus membayar mahal semua perbuatannya pada keluarganya. Dan sebagai seorang anak, Boy tidak mungkin diam saja melihat ayahnya dipenjara, meskipun dia tahu jika ayahnya memang bersalah.


xxx


Luna merebahkan tubuhnya yang terasa lelah pada sofa di kamarnya. Dia dan Jordan baru saja tiba di rumah. Luna merasa pusing dan mual, bukan karena sakit, melainkan karena bawaan janin di dalam perutnya.


Senyum lembut tersungging disudut bibirnya. Diusapnya perut rata itu dengan penuh kasih sayang. "Hai, Nak. Baik-baik ya di dalam sana. Tumbuh dengan sehat, Mama dan Papa akan menunggumu dengan sabar." Ucap Luna dengan senyum yang sama.


Sembilan bulan, Luna tidak sabar jika harus menunggu selama itu. Apalagi 9 bulan bukanlah waktu yang singkat untuknya bertemu dengan calon buah hatinya. Tetapi Luna akan sabar menunggu sampai waktu pertemuan itu tiba.


Derap suara kaki seseorang yang datang sedikit menyita perhatiannya. Sudut bibir Luna tertarik keatas melihat siapa yang datang, dia segera berdiri dan memeluk orang itu yang pastinya adalah Jordan. Kebahagiaan terlihat jelas dari sepasang mutiara Hazel-nya.


"Ge, aku tidak jika tidak lama lagi kita akan menjadi orang tua. Rasanya seperti mimpi," ucap Luna sambil mengeratkan pelukannya.


Jordan mengangguk. "Aku juga tidak menyangka, kan aku belum bisa percaya jika Sebentar lagi kita akan menjadi orang tua. Namun ini adalah anugerah dari Tuhan, dan kebahagiaan terbesar yang pernah aku dapatkan. Luna, terimakasih." Bisiknya sambil mengeratkan pelukannya pada Luna.


Setetes kristal bening mengalir dari pelupuk mata Luna, yang kemudian membasahi wajah cantiknya. Ini adalah air mata kebahagiaan, bukan kesedihan.


Jordan melepaskan pelukannya. Matanya terkunci pada mata Hazel milik Luna, Jordan memiringkan kepalanya menuju bibir ranum Luna lalu melumattnya. Namun ciuman tersebut tidak berlangsung lama.


"Aku mandi dulu, kau ingin mandi juga? Akan aku siapkan air hangat untukmu." Ucap Jordan sesaat setelah melepaskan tautan bibirnya.


Luna mengangguk. "Kebetulan aku ingin kau menggosok punggungku."


"Kalau begitu tunggu sebentar, aku siapkan dulu airnya." Ucap Jordan dan dibalas anggukan oleh Luna.


.


Jordan menggosok punggung Luna dengan lembut. Ajak mereka berdua menikah dan menjadi suami istri, ini pertama kalinya Jordan dan Luna mandi bersama. Jordan menyiapkan air hangat untuk Luna, lalu menuntun wanita itu untuk masuk ke dalam bathtub.


"Apa airnya kepanasan?" tanya Jordan memastikan.


Luna menggeleng. "Tidak, hangatnya pas. Ge, cepat bantu menggosok punggungku." Pinta Luna, Jordan mengangguk. Kemudian dia berpindah kebelakang Luna dan mulai menggosok punggungnya dengan lembut.


Wanita itu memiliki kulit yang sangat halus, putih dan mulus. Tidak ada noda sedikit pun, bahkan bekas luka pun tidak ada. "Ge, kira-kira anak ini laki-laki atau perempuan?" tanya Luna.


Jordan menggeleng. "Aku sendiri tidak tahu. Bagiku, laki-laki ataupun perempuan sama saja, yang penting Ibu dan bayinya sama-sama sehat dan lahir dengan selamat." Ucapnya. Luna tersenyum lebar.


Dia menoleh dan menatap Jordan yang juga menatap padanya. "Ya, aku juga berharap demikian. Malahan aku berharap anak ini kembar, satu laki-laki dan satu perempuan. Dengan begitu maka kebahagiaan kita sempurna." Ucapnya.


"Sepertinya kau sangat mendambakan anak kembar?"


Luna menggeleng. "Tidak juga, tapi jika memang diberi kembar bukankah itu lebih baik. Karena sekali lahir langsung diberikan dua sekaligus oleh Tuhan, bukankah itu lebih bagus?" ucapnya tersenyum.


Jordan mengangguk. Diusapnya kepala Luna dengan lembut. Jordan tidak menginginkan yang muluk-muluk untuk calon anaknya nanti. Dia hanya ingin dia lahir sehat dan selamat, dalam keadaan utuh dan tidak kurang satu pun. Tentang kelamin, kembar atau tidak, itu sama sekali tidak penting baginya.


xxx

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2