Istri Kedua CEO Lumpuh

Istri Kedua CEO Lumpuh
Apakah Dia Masih Normal


__ADS_3

Luna dan Devan tampak menikmati makanannya di kantin kampus. Jam Pertama belum usai dan masih sekitar lima belas menit lagi. Luna bersumpah tidak akan mengikuti semua kelas dosen baru dan menyebalkan itu, dia begitu galak dan sok keren yang membuat Luna merasa muak dengannya.


Devan menatap Luna dengan pandangan memicing. Dia tampak begitu tenang, meskipun tidak ikut di jam pelajaran pertama, berbanding balik dengan dirinya yang tampak gusar dan tidak tenang. Devan, takut tidak lulus di semester kali ini.


"Kenapa Kau tampak tenang sekali, bagaimana jika dosen baru itu sampai tidak meluluskan mu dan membuatmu mengulang lagi? Bukankah itu akan sangat memakan waktu, aku saja tidak tenang mengusirku keluar dari kelasnya." ujar Devan.


Memangnya Apa yang perlu dicemaskan? Kau tidak berada di posisiku, apalagi menghadapi dosen baru dan menyebalkan itu. Pasti kau akan terus-terusan mengeluh, karena sikapnya." tutur Luna.


Luna benar-benar tidak ingin bertemu apalagi bertatapan muka dengan dosen baru itu, lebih baik dia tidak mengikuti semua kelasnya dan menghindari pertemuan dengannya. Itu akan membuatnya jauh lebih baik, daripada harus menghadapi sikap arogannya yang sangat menyebalkan.


"Tapi Bukankah dia tampan, bahkan hampir semua mahasiswi yang ada di sini terus membicarakannya, termasuk para dosen wanita. Mereka semua mengatakan jika dosen baru itu sangat tampan, sampai-sampai membuat mereka mau meleleh. Tapi kenapa kau malah tidak tertarik sama sekali padanya? Kau itu aneh," ujar Devan menuturkan.

__ADS_1


Luna mengangkat bahunya dengan acung."Karena aku bukan mereka, aku masih waras dan tidak akan menjatuhkan harga diriku hanya untuk dosen menyebalkan seperti itu, itu benar-benar sangat memalukan." ujar Luna.


Devan menghela napas. Dia benar-benar tidak mengerti dengan sahabatnya itu, bisa-bisanya Luna bersikap demikian. Devan sudah melihatnya meskipun hanya sekilas saja, tetapi dosen baru itu sangat tampan serta masih muda. Jadi bagaimana mungkin Luna tidak tertarik padanya, apakah dia masih normal?!


"Luna, Devan.." Seruan keras itu mengalihkan perhatian mereka berdua. Terlihat Tiffany melambaikan tangan pada mereka. Devan segera berdiri lalu berlari menghampiri Tiffany.


"Baby Tiffy," seru Devan sambil mengulurkan kedua tangannya pada Tiffany.


Luna berbalik badan dan hendak pergi, namun langkahnya di hentikan oleh Jordan. "Berhenti di sana!!" seru Jordan lalu beranjak dari duduknya dan menghampiri Luna.


Gadis itu menoleh dan menatap Jordan yang menghampirinya dengan tatapan tak bersahabat. "Ada apa? Masih ingin cari gara-gara denganku?" Luna menatapnya dengan sebal.

__ADS_1


Alih-alih menjawab. Jordan tampak mengeluarkan sesuatu dari saku celananya yang kemudian dia berikan dia pada Luna. "Apa ini milikmu?" tanya Jordan sambil menunjukkan benda yang ada di genggamannya pada Luna.


"Dari mana kau mendapatkannya? Ya, kalung ini milikku." Jawabnya sambil mengambil kalung itu dari tangan Jordan.


"Aku tidak sengaja menemukannya tersangkut di kancing Vest yang aku pakai. Sepertinya kalung ini terlepas dari lehermu ketika kita tidak sengaja bertabrakan tadi." Ujarnya. Jordan tidak semenyebalkan sebelumnya. Bahkan cara bicaranya pun berbeda.


Luna mengangguk. "Ya, mungkin saja." Ucapnya sambil menganggukkan kepala. "Terimakasih sudah menemukan dan mengembalikan kalung ini padaku. Karena kalung ini sangat berarti bagiku." Ucapnya sambil menggenggam kalung tersebut.


"Kalau memang berharga, sebaiknya simpan baik-baik." Jordan beranjak dari hadapan Luna dan pergi begitu saja.


xxx

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2