
David menjadi pusat perhatian. Kemunculannya di lampu merah benar-benar menyita perhatian banyak pasang mata, dia yang begitu cantik dan anggun membuat banyak pasang mata tertuju padanya. Bukannya merasa bangga, dia justru merasa tidak nyaman dengan hal tersebut.
Sementara itu. Luna tampak menikmati pemandangan tersebut dari dalam mobil sambil memakan ice cream kacang merah kesukaannya. Beberapa kali dia terkekeh melihat pemandangan di sana, rasanya dia geli sendiri.
Jordan yang sedari tadi menemani Luna hanya bisa menghela napas dan menggelengkan kepala melihat tingkah istrinya. Tapi dia juga menikmatinya, akhirnya kakaknya yang super menyebalkan itu mendapatkan karma juga.
"Ge, bukankah David Gege sangat cantik? Lihat saja itu, dia benar-benar menjadi pusat perhatian sekaligus Artis Dadakan." Ucap Luna sambil terus memakan ice cream nya.
"Nasibnya benar-benar sial. Melihatnya menjadi incaran banyak pria membuatku prihatin juga, namun oke juga untuk dinikmati. Lagipula kapan lagi bisa melihat moments langkah seperti ini." Sahut Jordan menimpali.
Lagi-lagi Luna terkekeh. Itu tadi benar-benar permintaan janin di dalam perutnya, bukan permintaannya. Tapi seru juga, ternyata jadi wanita hamil banyak plusnya. Dan Luna menikmati kehamilannya.
"Ge, ayo pulang. Aku lapar dan ingin memakan masakanmu," ucap Luna dan dibalas anggukan oleh Jordan. Sudah cukup menyaksikan pemandangan menyenangkan itu.
xxx
Boy sedang merencanakan untuk membalas dendam pada Jordan. Namun semua usaha dan rencananya selalu gagal, dia tidak tahu lagi harus dengan cara apa membalas dendam pada itu.
Saat ini Boy sedang berada di penjara untuk menemui ayahnya. Jangankan untuk balas dendam, cara untuk membebaskan ayahnya dari penjara pun dia belum memilikinya. Semua pengacara yang dia sewa selalu gagal dipersidangan dan mereka kalah, hal tersebut lama-lama membuat Boy frustasi.
"Pa, uang yang aku miliki semakin hari semakin menipis. Membayar pengacara untuk membebaskan mu tentu saja tidak murah, tapi mereka semua bodoh dan tidak becus. Untuk sementara aku akan menghentikan menyewa pengacara, setidaknya sampai keadaan ekonomi ku kembali stabil." Ucap Boy dan membuat Jimmy terkejut.
"Jadi maksudmu kau ingin agar Papa tinggal lebih lama di tempat terkutuk ini? Boy, apa kau benar-benar akan membiarkan Papa terkurung di sini dalam waktu yang lama?"
Boy menghela nafas. "Mau bagaimana lagi, Pa? Boy, sudah tidak memiliki uang lagi untuk menyewa pengacara, belum lagi aku masih harus melunasi hutang-hutang ada Bank yang kau tinggalkan, jadi aku harap kau mengerti dengan posisiku saat ini."
__ADS_1
Jimmy menggeleng. "Papa, tidak mau tahu, bagaimanapun caranya kau harus segera membebaskan bapak dari sini. Tempat ini terlalu pengap dan bau, Papa sudah tidak tahan berada di sini terlalu lama." Ucapnya.
Boy menutup matanya dan menghela nafas berat. Berbicara dengan ayahnya memang harus ekstra sabar. Dia begitu keras kepala dan tidak pernah mau mendengar pendapat orang lain. Mungkin ada baiknya jika sementara ia tidak menemui ayahnya terlebih dulu, lebih baik fokus pada balas dendamnya terhadap Jordan.
"Akan aku usahakan, tapi aku tidak bisa janji. Apa baik-baik disini, aku pergi dulu." boy bangkit dari kursinya dan pergi begitu saja.
Bahkan dia tidak menghiraukan ocehan-ocehan yang keluar dari bibir ayahnya, pria paruh baya itu ternyata adalah pilihan yang salah. Dan Boy tidak berencana menemuinya lagi dalam waktu dekat ini.
xxx
Jordan mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang. Disampingnya tampak Luna yang sedang sibuk dengan ponselnya. Dia sedang bertukar pesan dengan kakak iparnya yang pastinya adalah Vivian.
Melihat keseriusan Luna membuat alis Jordan terangkat. Dia penasaran dengan siapa istrinya itu bertukar pesan, karena Jordan tidak tau jika Luna sedang bertukar pesan dengan kakak iparnya.
"Serius sekali, menangnya dengan siapa kau bertukar pesan?" tanya Jordan tidak bisa menahan rasa ingin tahunya.
"Baiklah, apapun asalkan itu bisa membuatmu senang." Tukas Jordan menimpali, membuat senyum dibibir Luna mengembang seketika.
Dari arah kanan. Tiba-tiba sebuah truk melaju tak terkendali dengan kecepatan tinggi. Sang sopir berkali-kali menginjak rem untuk menstabilkan laju kendaraannya, tapi tidak bisa.
Rem truk yang dia kemudikan benar-benar tidak berfungsi sama sekali. Membuat kecelakaan lalulintas pun tidak bisa terhindarkan lagi. Beberapa kendaraan menjadi korban, dan truk itu belum bisa dikendalikan.
Luna menoleh dan tanpa sengaja melihat sebuah truk melaju kearah mereka. Pupil matanya membulat sempurna. "Omo!! GE, AWAS!!" tiba-tiba Luna berteriak dan mengejutkan Jordan. Truk itu melaju kearah mobil mereka. Tidak ada kesempatan lagi untuk menghindar. Demi menghindari hal-hal yang tidak dinginkan. Dengan segera Jordan memeluk Luna dengan erat untuk melindunginya.
Kecelakaan pun tidak bisa terhindarkan lagi. Luna dan Jordan menjadi salah satu dari korban truk rem blong tersebut. Mobil Jordan terbalik sebanyak tiga kali, sebelum akhirnya menabrak pohon besar ditepi jalan.
__ADS_1
Orang-orang pun berhamburan menghampiri mobil-mobil para korban, termasuk mobil yang ditumpangi oleh Luna dan Jordan. Jordan masih setengah sadar, namun tidak dengan Luna. Dengan sisa kesadaran yang dimiliki, Jordan mencoba membangunkan Luna yang tak sadarkan diri dalam dekapannya.
"Luna, bangun. Sayang, cepat buka matamu dan katakan padaku kau baik-baik saja. Luna, bangun, jangan membuatku takut," sebisa mungkin Jordan mencoba membangunkan Luna, namun tidak ada tanggap.
Jordan bertanya-tanya kenapa Luna tidak sadarkan diri, sementara dia tidak memiliki luka sama sekali. Sampai akhirnya dia melihat cairan merah segar yang merembes dari dress yang dia pakai. Pupil mata Jordan seketika membulat sempurna.
"Darah?!"
xxx
Kabar tentang Luna dan Jordan yang mengalami kecelakaan lalu lintas telah sampai ke telinga Luis dan Jesslyn. Mereka berdua pun bergegas ke rumah sakit tempat mereka di rawat. Dari kejauhan pasangan suami-istri itu melihat Jordan yang duduk di depan ruang operasi. Dia tidak terlihat baik-baik saja. Perban tampak membebat keningnya dan perban lain pada tulang pipi kanannya.
Jesslyn dan Luis saling bertukar pandang. Perasaan mereka mulai tidak tenang melihat kesedihan yang tersirat dari raut wajah menantunya tersebut.
"Jordan, bagaimana keadaan Luna?" tanya Jesslyn tanpa basa-basi.
Sontak Jordan mengangkat kepalanya dan mendapati kedua mertuanya berdiri dihadapannya dengan pandangan cemas. "Ma, Pa, kalian sudah datang." Ucapnya dengan lirih.
"Bagaimana dengan, Luna?" tanya Jesslyn sekali lagi.
"Luna, selamat. Tapi tidak dengan janin di dalam perutnya, dia... mengalami keguguran." jawabnya lirih.
"Apa... Keguguran?"
xxx
__ADS_1
Bersambung