Istri Kedua CEO Lumpuh

Istri Kedua CEO Lumpuh
Pertemuan Jesslyn Dan Yuna


__ADS_3

30 menit kemudian mereka tiba di pusat perbelanjaan. Jesslyn langsung mengambil troli yang akan meringankan pekerjaannya selama berkeliling mencari barang-barang yang ia butuhkan.


Suasana di sana di sana menunjukkan tidak ada perbedaan antara hari-hari biasa dengan akhir pekan. Suasananya tetap saja ramai , terlihat aktifitas penduduk yang bertebaran di pusat kota. Setelah mendapatkan barang yang dia butuhkan, seperti pemb*lut dan peralatan mandi. Tempat pertama yang dia singgahi adalah rak buah-buahan dan sayuran segar.


Gadis itu terlihat memasukkan beberapa jenis buah seperti, apel, jeruk, pisang, anggur dan stroberi. Tak lupa sayuran segar seperti selada, wortel, sawi putih, kentang dan masih banyak lagi.


Marcell ikut mengambil peran dengan mengambilkan beberapa barang yang sudah ada di dalam catatan Jesslyn demi meringankan pekerjaan gadis itu. Lalu gadis itu mendorong trolinya yang menyediakan daging segar, kornet , telur dan lain-lain.


Jesslyn mengambil sedikitnya 10 kotak berisi daging segar dan potongan salmon lalu memasukkan kedalam trolinya. Lalu berpindah pada kornet yang ada di rak paling atas, Jesslyn harus berusaha dengan susah payah karena tangannya tidak sampai.


"Jika sulit, seharusnya kau meminta bantuan!" Sontak ia menoleh kebelakang dan sedikit mendongak, matanya langsung terkunci pada manik dingin milik Luis yang berdiri tepat di belakangnya tanpa jarak.


Punggungnya menyatu sempurna dengan dada bidang Luis, sekujur tubuh Jesslyn seperti kehilangan sel-selnya hingga kedua kakinya bertransformasi menjadi jelly. Buru-buru Luis menahan perut Jesslyn yang hampir saja jatuh.


Tangan Jesslyn berpegangan pada pergelangan tangan Luis. "Berapa bulan kau menjadi istriku, tapi sekalipun kenapa kau tidak pernah meminta bantuan ku jika kesulitan?!" Alhasil selain Omelan dari Luis, satu jitakan juga mendarat mulus pada kening Jesslyn.


Gadis itu meringis ngilu sambil mengusap kepalanya yang baru saja dijitak oleh Luis. Jesslyn mempoutkan bibirnya. "Hentikan kebiasaan burukmu yang suka menjitakku sembarangan. Kau pikir kepalaku ini apa?!" Protes Jesslyn, dia tidak terima kepalanya dijitak oleh Luis.


Luis mendengus berat. "Dasar kau ini!!" Bukannya menjitak, kali ini dia menyentil kening Jesslyn.


"Aw, Luis, sakit!!" Jerit gadis itu sambil mengusap kepalanya yang baru saja disentil oleh suaminya.


"Sudah, jangan ngoceh terus. Ayo, apa lagi yang ingin kau beli," Luis merangkul bahu Jesslyn, keduanya lanjut berkeliling untuk menemukan barang-barang lainnya seperti cemilan dan makanan instan.


"Apa-apaan ini? Kak, kenapa kau malah memeluknya?" Roona tiba-tiba datang sambil marah-marah.


Gadis itu mendorong Jesslyn dan menjauhkannya dari Luis. "Dan kau juga, dasar boneka rongsokan, di mana urat malumu? Kakak adalah milikku, jadi berhentilah menggodanya."


Jesslyn mendorong kepala Roona dengan telunjuknya. "Gadis kecil, sebaiknya kau berkaca ya. Kau pikir kau ini siapa, kenapa sebagai seorang adik kau. Itu tidak tau malu, dia itu kakakmu dan dia sudah menikah, tapi kenapa kau terus saja mengatakan jika dia adalah milikmu?!" Ujar Jesslyn menegaskan.


"Kau~" Roona tak melanjutkan ucapannya. Dia memperhatikan sekeliling, orang-orang tengah menatapnya dengan berbagai tatapan.


"Bersikaplah sewajarnya. Jangan terlalu memaksakan diri. Sadari posisimu, jaga harga dirimu jangan sampai kau menjadi pelakor yang menghancurkan pernikahan kakakmu sendiri!!"


Roona semakin kehilangan kata-kata. Marcell mengacungkan jempolnya pada Jesslyn, dia sangat menyukai gaya Jesslyn ketika memojokkan Roona, sedangkan Luis hanya menjadi penonton saja. Tapi dalam hatinya dia merasa bangga dengan sikap tegas Jesslyn.

__ADS_1


"Sebaiknya kau pulang saja, biar Henry yang menemanimu. Jess, ayo." Luis merangkul punggung Jesslyn dan membawa gadis itu pergi dari sana.


Jesslyn menoleh kebelakang dan menatap Roona dari ekor matanya. Tampak sebuah seringai tercetak di sudut bibirnya, dia terlihat puas melihat wajah kesal Roona. Roona pikir dia siapa mau bersaing dengannya. Karena Jesslyn tidak mungkin membiarkan gadis itu menang darinya.


.


.


Setelah selesai berbelanja. Mereka berdua memutuskan untuk singgah sejenak di cafe, tiba-tiba Jesslyn merasa lapar dan Luis setuju untuk menemaninya makan. Keduanya berada di cafe yang letaknya bersebelahan dengan pusat perbelanjaan tempat mereka berbelanja tadi.


Sedikitnya ada tiga menu berbeda yang Jesslyn pesan. Dia hanya memesan porsi kecil karena Luis mengatakan jika dia tidak lapar, Luis hanya memesan kopi saja.


"Kenapa?" Luis mengangkat wajahnya melihat Jesslyn yang tiba-tiba seperti cacing kepanasan.


"Kebelet pipis, aku ke toilet dulu." Ucapnya dan pergi begitu saja. Luis mendengus, ada saja tingkahnya yang membuat orang lain geleng kepala.


Brugg...


Karena terlalu terburu-buru. Sampai-sampai Jesslyn tidak sengaja bertabrakan dengan seorang wanita paruh baya yang baru saja keluar dari toilet. "Bibi, maaf. Saya sungguh tidak sengaja." Jesslyn pun segera membungkuk meminta maaf.


Tanpa sengaja mata Hazel wanita itu melihat sesuatu yang langsung menarik semua atensinya. "Nak, maaf. Apa yang ada di pundak kirimu itu adalah sebuah tanda lahir?" Wanita itu menunjuk tanda lahir di pundak kiri Jesslyn.


Jesslyn menyentuh tanda lahir itu lalu mengangguk membenarkan. "Benar sekali, Bibi. Ini adalah tanda lahir," jawabnya membenarkan.


Bukan hanya tanda lahir itu saja, tapi juga liontin yang menggantung dilehernya. Wanita itu kemudian mendekati Jesslyn. "Bibi, apa yang kau lakukan?!" Jesslyn menahan tangan wanita itu yang hendak menyentuh liontinnya.


"Liontin ini, sejak kapan kau memakainya?" Tanya wanita itu memastikan.


"Sejak aku bayi, memangnya kenapa?"


"Tidak apa-apa. Satu pertanyaan terakhir dari Bibi, apakah ayahmu bernama, Eric?" Tanya wanita itu yang tak lain dan tak bukan adalah Yoona.


Jesslyn pun semakin dibuat bingung. Siapa wanita ini, kenapa dia begitu aneh. Ingin mengetahui tanda lahirnya, liontin yang dia pakai, bahkan dia juga tau nama ayahnya. Apakah wanita ini adalah kenalan lama ayahnya? Begitulah yang Jesslyn pikirkan.


"Sebenarnya Bibi ini siapa, Anda sangat aneh. Pertama bertanya apakah ini tanda lahir atau bukan, lalu ingin tau sejak kapan aku memakai liontin ini, dan terakhir Anda juga mengetahui nama ayahku. Sebenarnya Bibi ini siapa?!" Tanya Jesslyn meminta penjelasan.

__ADS_1


"Nak, sebenarnya Bibi ini adalah~"


"Kenapa lama sekali?!" Tegur seseorang dari arah belakang.


Yuna tidak melanjutkan kalimatnya karena teguran seseorang. Mata Yuna membelalak mendengar suara yang sangat familiar itu. Sontak dia menoleh dan betapa terkejutnya Yuna melihat siapa yang berjalan menghampirinya.


"Luis, kenapa kau menyusul kemari?" Jesslyn meninggalkan Yuna dan menghampiri Luis. Jesslyn memeluk lengan laki-laki itu dengan mesra. "Apa kau cemas dan khawatir, takut jika istrimu yang cantik ini sampai nyasar di toilet cafe?! Aku bukan bocah lagi, Tuan Qin,"


Luis mendengus, dia mengacak rambut panjang Jesslyn dengan gemas. "Kau sudah selesai kan, ayo kembali. Makanannya sudah hampir dingin."


"Belum, aku baru mau masuk. Tadi agak antri," jawab Jesslyn asal.


"Ya sudah, cepat masuk sana, kau bisa ngompol. Aku tunggu dimeja," ucap Luis yang kemudian dibalas anggukan oleh Jesslyn.


Tanpa mengatakan sepatah kata pun, Luis pergi begitu saja. Bahkan dia mengganggap keberadaan ibu tirinya seperti gumpalan debu, tak berguna. Dan sementara itu, ketakutan dan kepanikan terlihat jelas di raut muka Yuna.


Jesslyn adalah istri Luis. Bagaimana jika putra tirinya itu sampai mengetahui siapa Jesslyn yang sebenarnya. Meskipun tanpa tes DNA, tapi Yuna sangat yakin jika Jesslyn adalah bayi yang dulu pernah dia telantarkan satu bulan setelah dilahirkan.


Hidup Jesslyn akan berada dalam bahaya jika Luis sampai tau bila gadis yang dia nikahi adalah orang yang ia cari selama ini.


-


-


Bersambung.


-Spoiler Bab Selanjutnya-


"Wanita itu sangat aneh, dia bertanya tentang tanda lahirku, liontin yang aku pakai, sampai nama ayahku pun dia tau. Aku juga sangat penasaran siapa wanita itu,"


"Tuan, sebenarnya orang yang Anda cari sangatlah dekat. Putri ibu tiri Anda adalah, Nyonya!!"


-


-

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2