
"Kenapa kamu di sini?" tanya Angela mulai menurun nada suara biar tak tampak galak.
"Aku memang tinggal di sini." jawab Kevin membuat Angela mundur selangkah saking syok dapat jawaban tak diharapkan.
"Kau dan Gina ada hubungan apa?"
"Kami akan segera menikah. Ya sekedar nikah kecilan sesuai kemampuan kami. Yang penting resmi tak merampok laki orang. Ya kan Pak Kevin?" kata Gina dengan gaya genit.
Kevin cepat-cepat iya kan sebelum gadis itu berubah pikiran. Kehadiran Angela membawa berkah buat Kevin Karena tanpa ragu Gina telah menyetujui pernikahan mereka. Kevin tak mau tahu kalau pernikahan itu karena Gina ingin menyakiti hati Lucia dan Angela ataupun memang tulus ingin bersamanya. Yang penting sekarang adalah mengikat Gina di dalam ikatan pernikahan agak kelak tidak lari kemana-mana.
"Kau gila Kevin.. Lucia sudah menunggu kamu bertahun-tahun tetapi kamu malah meninggalkannya untuk menikahi wanita tak tahu malu ini. Hubungan kamu dan Lucia menjadi berantakan gara-gara wanita ini. Kamu harus sadar kalau Lucia adalah pilihan paling tepat untukmu. Lucia sangat pintar dan bisa membantumu di perusahaan memajukan produksi perhiasan. Sedang gadis ini bisa apa?" Angela menghujam tatapan tajam ke arah Gina.
Angela mungkin belum tahu kalau Lucia akan segera tamat karirnya sebagai perancang di perusahaan Kevin. Tapi Gina tak mau ikut campur kebijakan Kevin terhadap Lucia. Gina hanya tahu Kevin pasti akan menghukum Lucia karena telah membahayakan perusahaan. Apapun hukumannya bukan urusan Gina.
"Tante...aku anggap Lucia itu sebagai saudara. Aku baik padanya karena sudah kuanggap adik sendiri. Beda dengan Gina. Aku mencintai Gina sejak awal jumpa. Aku dan Gina memang akan segera menikah karena orang tua Gina akan berangkat ke luar negeri. Yang penting ada ikatan resmi dulu. Aku minta maaf bila telah membuat Lucia salah artikan kebaikanku selama ini."
Angela mati kutu mendapat jawaban tegas dari Kevin. Sudah jelas Kevin menolak Lucia sebagai pendamping hidup dan memilih Gina sebagai wanita masa depan.
Selembar wajah Angela berubah putih menahan emosi dan rasa malu. Angela rencana mau gertak Gina bawa preman biar gadis itu takut lalu mundur dekati Kevin. Siapa sangka skenarionya berubah sangat cepat membuat Angela jatuh di bawah angin.
"Kuharap kau pikir lagi nak Kevin. Kamu dan Lucia adalah pasangan yang sangat serasi. Setiap orang akan bilang gitu bika lihat kalian jalan berduaan tapi mengapa kau memilih gadis jahat ini."
"Ayok masuk dulu Tante! Tak enak bicara di luar begini. Nanti orang mengira ada apa." Kevin menjadi tuan rumah baik undang Angela masuk.
Angela mendengus angkuh merasa rumah Gina bukan level dia. Baginya rumah ini tak ubah kandang sapi bukan untuk manusia. Dia istri orang tajir mana level injak kaki di rumah musuhnya.
"Apa ini rumah untuk orang? Ini kandang binatang!"
"Sudah tahu kandang binatang untuk apa kamu datang ke sini? Apa kamu tidak takut kalau binatangnya akan menghabiskan kamu karena yang tinggal di sini adalah binatang buas. Dan satu lagi jangan lupa dari mana anda berasal? Hidup dari bedeng ke bedeng. Jangan jadi kacang lupa akan kulitnya! Sekarang enyah dari kandang ini sebelum binatangnya ngamuk gigit orang." Gina sudah tak sabar karena dihina oleh Angela sampai berkali-kali. Gina sudah berusaha sabar menghadapi wanita yang dianggap lebih tua. Namun Angela tidak sadar telah berbuat kasar memancing emosi tuan rumah.
Kevin tidak menyalakan Gina kalau terpancing amarahnya karena Angela memang sudah keterlaluan. Mana boleh dia menghina rumah Gina sebagai kandang binatang. Kevin makin ilfil kepada keluarga Mahabarata yang memang telah tercoreng wajahnya.
"Tante... pulanglah dulu untuk menenangkan pikiran! Tak baik datang ke rumah orang dan mengatakan yang bukan bukan. Aku sendiri yang mau datang ke rumah ini karena di sini menjanjikan kehangatan dan kenyamanan. Yang perlu tante ketahui adalah uang bukanlah segala-galanya untuk mencapai kebahagiaan. Sekarang tante memiliki banyak uang apakah tante merasa bahagia dan puas? Aku tak mau terjebak dalam kehidupan yang tidak nyata itu lagi. Pulanglah dulu biar kita semua saling menenangkan pikiran!" Ucap Kevin agar Angela mau meninggalkan rumah Gina sebelum gadis itu makin menyalap.
Kalau tak ada Kevin mungkin Angela akan perintah para preman untuk hajar Gina dan merusak rumah wanita muda ini. Angela harus menelan rasa kecewa mendalam karena Kevin melindungi gadis itu.
Gani melihat kejadian tanpa komentar. Gani yakin Gina lebih mampu selesaikan masalah ini ketimbang dia. Mental Gina mana bisa digertak walaupun Angela bawa sekompi preman. Jaringan preman Gina lebih luas lagi walau tak aktif di dalamnya.
"Datanglah ke rumah nak Kevin! Tante siap nikahkan kamu dan Lucia bila kau butuh wanita. Tante harap kamu tidak terperdaya oleh sikap manis orang berniat jahat." kata Angela tak berani keras lagi. Namun tatapan sinis tetap diarahkan kepada Gina.
Gina tertawa geli dibilang memiliki sikap manis di balik sifat jahatnya. Sejak kapan seorang monster bersikap manis pada orang. Gina tak pernah merasa manis.
__ADS_1
"Nyonya...artinya aku ini punya bakat bikin orang diabetes dong! Kalau gitu kusarankan jauhi aku agar jangan kena penyakit diabetes. Penyakit itu tidak pilih orang loh!" Gina berkata dengan manis bikin emosi Angela naik ke ubun-ubun.
Di belakang Gani tertawa terbahak-bahak ejek kebodohan Angela cari pasal dengan monster kampung. Dua karung beras yang dibawa Angela bukanlah lawan tangguh buat Gina. Masih harus dipertemukan dulu baru bisa tahu siapa lebih kuat.
Kevin menarik tangan Gina mundur sebelum keadaan makin buruk. Kevin takut Gina gampar Angela yang memang sudah kelewatan hina orang tak pandang statusnya dulu siapa. Kevin sudah lihat cara Gina lawan penjahat berakhir kekalahan di pihak penyerang.
"Pulanglah Bu! Nanti aku kan jumpa Lucia. Sekarang kami harus ke kantor. Sudah waktunya jam kerja." bujuk Kevin selembut mungkin agar Angela tak bersikeras buat perkara di sini.
Angela melemah sehubung Kevin janji akan temui Lucia. Masih ada secercah harapan buat Lucia merebut hati Kevin. Selama Kevin tak menolak jumpa Lucia tetap saja ada jalan rebut Kevin. Kevin dan Gina hanya ada rencana menikah belum menikah. Segala hal bisa terjadi sebelum janur kuning melengkung.
Melengkung saja bisa berantakan apalagi ini baru rencana. Angela tidak akan sia-siakan kesempatan buat Lucia untuk jumpai Kevin walau cuma di kantor. Lucia harus tebalkan muka mencuri hati Kevin.
"Baiklah! Tante akan pulang karena kamu nak Kevin. Tante masih hargai kamu. Lucia akan ke kantor jumpai kamu. Kalian bicaralah dari hati ke hati."
Kevin mengangguk setuju bicara dengan Lucia. Kevin akan lebih tegas lagi katakan pada Lucia kalau dia hanya ingin Gina. Tak ada wanita lain boleh isi lubuk hati Kevin.
Gina angkat tangan tak open Angela dan Kevin saling bicara. Gadis ini melenggang santai masuk kamar untuk bersiap meluncur ke kantor opanya. Gina berencana singgah di kantor Kevin sebentar sebelum berangkat ke kantornya. Namun kehadiran Angela menghapus rencana itu. Biarlah Kevin yang urus Lucia. Dia tak usah ikut campur lagi.
Sewaktu Gina keluar dari kamar ruang tamu telah kembali tenang. Pintu rumah juga sudah tertutup rapat tanda tak ada tamu. Gina bukannya tak gundah telah janji pada Kevin untuk menikah. Padahal itu hanya kata-kata untuk sakiti hati Angela.
Gina memandangi pintu kamarnya yang tertutup rapat. Kevin masih di dalam ntah sedang ngapain. Gina harus bicara dengan laki itu sebelum berangkat pergi kerja.
Dengan sedikit ragu Gina mengetuk pintu kamar Kevin. Ketukan perlahan namun jelas terdengar di kuping orang normal.
"Ya...masuklah!"
"Minta diperkosa?" olok Gina membuat Kevin tertawa di dalam. Gina ini ada bakat jadi pelawak alami walaupun kadang kaku kayak batang kayu.
Kevin membuka pintu lantas bersandar di kusen pintu bergaya seperti laki ****** menanti pelanggan.
"Cisss... murahan! Aku mau bicara."
"Bicaralah sayang! Aku pasrah padamu." Kevin makin lebay bikin Gina nyaris muntah.
"Keluar dulu! Mau kuseret?"
"Sadis amat nih bini! Aku tetap di atas lho walau kamu yang kuat."
Gina angkat tangan mau pukul kepala Kevin yang berangan mesum. Kena angin apa laki ini bertingkah aneh seperti banci tak laku. Mungkin sering bersama Gani tertukar penyakit Gani.
Gani mulai sembuh ganti Kevin pula bergaya banci kalengan. Gina minta ampun pada Tuhan bila muncul satu lagi makhluk ampibi macam Gani.
__ADS_1
Kevin melangkah keluar dari kamar tetap bersandar pada dinding menatap Gina dengan tatapan sayu. Gina bukannya tersentuh malah merasa jijik dengan tingkah Kevin.
"Tangan aku ini sudah lama tidak digerakkan. Mungkin pagi ini bisa digunakan untuk latihan apa masih ampuh hajar orang lebay." Gina mengepal tangan lalu gerakan seperti orang siap berantem.
Kevin belum mau wajahnya yang ganteng memar kena tinju tangan mungil beracun itu. Kevin kontan berdiri tegak gagah perkasa.
"Bicara apa?"
"Aku tak jadi ke kantor bapak pagi ini. Aku langsung ke kantor opa. Bicara dengan Lucia soal gambar kuharap lebih manusiawi. Tak usah rusak reputasi dia di kalangan pegawai lain. Cukup bapak tahu dia itu plagiat. Jangan bawa namaku dalam hal ini!"
"Terimakasih sudah ingatkan aku Gin! Aku punya batasan. Aku akan bijak tangani Lucia. Aku juga akan pergi ke hotel temui ayah dan ibu. Aku serius mau wujudkan harapan aku memilikimu."
Kalimat Kevin yang terakhir cukup mengguncang batin Gina. Kevin tampaknya serius ingin menikah dengannya. Laki itu tidak main-main dalam hal ini.
"Pak...menikah itu bukan untuk mainan. Pikir matang-matang dulu baru melangkah. Aku ini bukan orang mudah maafkan orang berselingkuh. Aku takkan maafkan orang selingkuh. Aku bisa membunuh bila diselingkuhi. Sudah terbayang bapak gimana kejamnya aku soal ini?"
"Aku tetap maju. Aku juga korban selingkuhan jadi tahu gimana sakitnya diselingkuhi. Aku janji beri kamu waktu untuk mengenalku. Kita menikah dan aku janji takkan tuntut hak aku sebagai suami sampai kau yakin padaku. Aku akan menunggumu menyerah padaku secara suka rela." kata Kevin sungguh-sungguh. Gina menatap bola mata Kevin mencari kesungguhan dari manik mata laki itu.
Kevin tak gentar harus saling adu mata dengan Gina. Kevin yakin karena memang dia tulus kepada Gina. Dia takkan lepaskan Gina kecuali gadis ini bosan padanya.
Gina tak bisa berkata-kata karena Kevin tak surut dari niat awal yakni mengajaknya menikah. Kevin tak ragu padanya malahan Gina yang ragu pada diri sendiri apa bisa menjadi isteri yang baik buat Kevin. Gina akui bawaannya kasar tak mau dikekang. Ini akan jadi batu sandung dalam satu pernikahan bila ada yang keras kepala.
"Aku bukan putri malu yang pandai bergaya manja. Jalan hidupku lurus tidak berbelok-belok. Bapak harus ingat itu!"
"Kau tahu kenapa aku tak mau berobat lagi? Aku tak butuh wanita lain. Cukup bisa sentuh kamu itu sudah cukup."
Gina terima ulasan Kevin tentang penyakitnya. Mereka sudah cukup lama tak bahas penyakit Kevin. Kevin tampak sudah normal walaupun belum test apa sudah bisa bersentuhan dengan wanita lain selain dirinya.
"Terserah asal jangan kesal punya bini monster Rambo. Aku mau ke kantor. Teleponi aku bila ada keperluan."
"Kita pergi barengan. Aku antar kamu ya! Masa komisaris perusahaan besar ke kantor pakai motor butut."
"Motor butut hasil bekerja keras aku. Cepat dikit aku harus cepat kekantor."
"Siap nyonya Kevin..." Kevin berlari masuk kamar ambil tas kerja. Hati Kevin sedang bahagia bayangkan sebentar lagi bakal ada yang menyandang gelar nyonya Kevin walaupun mereka atk bisa bermesraan layak pengantin baru lain. Kevin tidak mau memaksa kita harus langsung menerimanya karena tahu gadis itu memiliki trauma berat dalam soal pernikahan.
Kevin akan perlahan mengiringi Gina menerima pernikahan mereka seutuhnya. Kalau sudah memiliki Gina maka Kevin tidak perlu memikirkan wanita lain untuk memberinya keturunan. Cuma Kevin harus bersabar menunggu Gina bersedia menerimanya dengan ikhlas.
Gani yang menyaksikan hubungan Gina dan Kevin ikut bahagia. Gina berhak mendapatkan kebahagiaan dari seorang lelaki baik. Gani tak sangsi kalau Kevin itu laki baik. Cocok untuk Gina.
Gani berangkat ke kantor tetap setia dengan motor lumayan bagus bila dibanding motor tua Gina. Sebenarnya Gani berhak dapatkan fasilitas mobil karena posisinya sudah lumayan bagus tapi berhubung laki kemayu ini tak bisa bawa mobil maka harus lupakan wibawa seorang manager. Manager kere yang humble ke kantor pakai motor.
__ADS_1
Kevin mengantar Gina ke kantor opanya barulah bergerak ke hotel untuk menemui orang tua Gina. Sepanjang jalan Kevin berdoa semoga om Sabri mau menerima dia sebagai mantu. Kevin tahu kalau kuncinya ada pada om Sabri. Bila om Sabri tak izinkan Gina pasti akan patuh pada sang ayah. Gina pasti tak ragu menolak bila om Sabri menolak.
Jay merasakan kalau pagi ini Kevin agak tegang seakan menyimpan sesuatu tak terungkap dalam hati. Kalau bisa Jay ingin bantu Kevin keluar dari masalah. Kevin adalah bos baik tidak sombong kendatipun punya uang dan kekuasaan. Kevin tetap rendah hati bikin pegawai sayang padanya termasuk Jay.