
"Gina...kalau kau ambil sebagian saham maka nilai saham kami menipis di perusahaan. Apa kau tega melihat papa tak punya apa-apa?"
"Tuan Subrata...anda telah cukup lama hidup dalam gelimang harta jadi kurasa ini tak seberapa bila dibanding derita seorang wanita ditendang keluar ke jalanan tanpa uang sepeserpun." Gina mengungkit kisah lama yang tak pernah terhapus dari memori Gina.
"Papa minta maaf untuk itu. Papa samasekali tak tahu kalau ibumu sedang hamil. Papa gelap mata tak melihat fakta. Tapi itu masa lalu. Sejuta kali papa minta maaf juga tak bisa kembalikan waktu itu." Subrata memelas namun sayang Gina tidak tersentuh.
"Ibuku hamil kau tendang sedang seorang perempuan pinggiran fitnah ibuku kau puja bak bidadari. Ibuku tak pernah selingkuh seperti tuduhan kalian. Itu hanya akalan setan fitnah ibuku demi mendapat posisi setelah lama hidup dalam comberan. Mungkin tuan Subrata tak lupa itu!" Gina berkata untuk Subrata namun mata melotot tajam ke arah Angela.
Angela ingin sekali membalas memaki Gina namun dia berada di posisi serba sulit. Apa yang dikatakan oleh Gina adalah satu kenyataan di mana dia telah memfitnah Bu Sarah hanya untuk mendapatkan posisi sebagai istri Subrata. Akibatnya Subrata mengusir Sarah yang sedang hamil saat itu.
"Kau mau papa gimana? Mohon maaf pada ibumu?"
"OOO itu tak perlu...tuan cuma perlu bayar hutang sesuai catatan. Aku tak minta apapun. Setelah itu jangan pernah muncul lagi dalam hidup aku dan Gani. Hiduplah damai dengan wanita yang kau puja sepanjang masa!"
Subrata menarik nafas sesak. Subrata tak tahu gara-gara dia muncul monster tanpa perasaan di dunia ini. Subrata yang membentuk watak Gina hingga tak punya belas kasihan.
"Kasih papa waktu sebulan untuk cari dana tutup hutang papa. Kau tahu saham papa tinggal 40 %. Kalau kau ambil tinggal sepuluh persen. Dimana posisi papa dengan saham segitu."
"Maaf..itu bukan hak aku untuk menentukan posisi anda. Kita bukan tawar menawar posisi melainkan bicara soal pembayaran yang jatuh tempo. Begini saja! Untuk tunjukkan niat baik anda serahkan saham anda. Begitu uang terkumpul anda bisa tebus kembali saham anda. Setelah itu kita selesai." Gina masih bersikeras tidak beri kelonggaran pada Subrata.
Angela makin gelisah takut Subrata menyerah pada anaknya itu. Tampak Subrata tak berani keras pada Gina yang jelas posisinya hanya seorang anak. Anak harusnya patuh pada orang tua. Jika perlu serahkan perusahaan opa kepada Subrata agar bisa dikelola dengan baik.
"Perusahaan pak Julio juga menuntut pembayaran jatuh tempo. Papa harus pikirkan pembayaran uang Pak Julio dulu nak! Kau adalah anak papa maka harus bantu papa pikirkan segala kesulitan saat ini."
Gina tertawa dalam hati ternyata pamannya juga telah mulai serang Subrata. Rasakan akibat semena-mena pada orang kecil. Orang kecil itu telah tumbuh jadi orang besar. Orang kecil itu sudah mampu berdiri tegak tantang dunia.
"Serahkan Mahabarata padaku biar aku yang tangani hutang pada Pak Julio. Aku yang akan bayar hutang itu. Anda tak perlu repot urus itu lagi bila aku masuk Mahabarata."
Subrata sedang menimbang tawaran Gina. Ini memang meringankan beban di pundak namun dia akan kehilangan kedudukan di Mahabarata sebagai pemimpin. Posisi itu akan diambil alih oleh Gina. Tampaknya Subrata harus menyerah mengingat kekacauan sedang dia hadapi. Subrata harus tinggalkan tahta tertinggi Mahabarata yang sudah dia duduki selama puluhan tahun. Tapi ada satu membuat Subrata tak menyesal karena yang ambil alih adalah anak kandungnya yang terlalu hebat.
Gina tak mendesak Subrata untuk langsung jawab. Gina beri waktu pada Subrata untuk pikir ulang untung rugi berikan Mahabarata pada Gina. Gina terkesan cuek pada perasaan Subrata namun dalam hati tersimpan juga rasa iba. Namun Gina menepis perasaan itu secepatnya mungkin. Dia tak boleh lemah untuk capai niat hati.
"Baiklah! Papa serahkan saham padamu tapi papa mohon biar papa tetap duduk di posisi sekarang."
"Kita selesaikan prosedur dulu. Pengacara kantor akan hubungi tuan Subrata." Gina tak panjang cerita juga tak beri jawaban pada permintaan Subrata.
Angela menjerit kecil mendengar Subrata menyerah pada Gina. Angela tidak rela perusahaan yang telah terbangun berpuluh-puluh tahun jatuh ke tangan anak saingannya. Angela tahu kalau Gina telah mendapatkan apa yang dia inginkan. Gina hanya ingin membalas dendam pada dia dan Subrata.
"Gina.. kamu jangan keterlaluan ya mentang-mentang sudah kaya! Orang yang kamu tekan ini adalah papa kamu. Kamu ini anak kurang ajar! Tak tahu diri!" teriak Angela sudah tak bisa tahan emosi lihat Gina berundak sesuka hati pada Subrata.
"Maaf ya nyonya! Apa aku pernah mengatakan kalau tuan Subrata adalah papa aku? Aku tak punya papa cuma punya seorang ayah yang mencintai kamu setulus hati. Jadi kita cuma rekanan bisnis bukan keluarga. Aku disini mewakili perusahaan menagih hutang kepada rekanan yang tak mau bayar hutang. Apa aku ada salah bila meminta hak perusahaan yang telah kalian pergunakan selama bertahun-tahun. Masih untung aku tidak menuntut kalian secara hukum. Ini penipuan terhadap rekanan bisnis. Mau pilih penjara aku juga tak keberatan. Silahkan pilih!" Gina tak kalah gertak sampai bangkit dari kursi menantang Angela yang menjadi titik noda hitam dalam hidup Bu Sarah.
Subrata merasakan bara api dalam ruangan Gina. Angela bukan lawan Gina bila adu mulut. Dari segi manapun Angela kalah telak dari Gina. Sekarang Gina berada di atas angin karena mendapat dukungan dari opa serta pak Julio. Di belakang Gina masih ada suami yang telah menyerahkan diri pada Gina. Kini Gina seperti maha ratu kuasai berbagai kerajaan bisnis. Untunglah otak Gina sangat licin mampu tangani semua tantangan perusahaan.
__ADS_1
"Sudahlah ma! Gina itu juga anakku. Kelak perusahaan juga akan jatuh ke tangan dia dan Gani." Subrata tak mau ruangan Gina makin membara. Mulut wanita bisa selebar mulut ular piton kalau sudah mangap. Segala sumpah serapah akan muncul dari mulut Angela.
Subrata takut Gina tak terima dihujat Angela. Balasan dari gadis itu akan menyakitkan hati sebab memang Angela telah berbuat curang singkirkan Sarah tanpa belas kasihan.
"Enak saja berikan perusahaan pada mereka lalu Lucia gimana? Dia itu anak kandung kamu." seru Angela berang.
"Lucia bisa apa? Hambur uang untuk mencapai mimpi kosong? Ayok kita pulang! Oya Gina...besok pengacara kamu datanglah ke kantor. Dan kamu jangan lupa jumpai Pak Julio untuk jernihkan masalah hutang perusahaan."
Gina mengangguk malas panjang lebar. Langkah Gina telah hampir capai finish. Setengah Mahabarata telah jatuh ke tangannya tinggal dia minta tolong pada Pak Julio borong saham Mahabarata. Kalau saham Mahabarata telah dia kuasai maka dengan gampang sepak Subrata dari perusahaan. Gina akan naikkan Gani sebagai CEO Mahabarata sebagai hadiah buat Sarah. Kado untuk adik mereka yang bakal lahir.
Subrata dan Angela tinggalkan ruang kerja Gina tanpa beri salam lagi. Angela gemas sekali pada Subrata yang mudah menyerah pada Gina. Harusnya Subrata gunakan hubungan darah tekan Gina agar patuh padanya. Angela selalu lupa kalau Gina tak akui punya papa bernama Subrata. Angela sudah terbiasa licik maka yang ada di otak hanya jalan ke kiri.
Gina tertawa senang telah sukses berdiri di atas kepala Subrata. Sebentar lagi Mahabarata akan ada perubahan kepemimpinan. Gina tak sabar untuk kabari Pak Julio kalau dia sukses paksa Subrata menyerah. Kehancuran Subrata makin di depan mata. Gina tak bisa sembunyikan rasa bahagia maju selangkah lagi lihat kehancuran Subrata sekeluarga.
Gina tak sabar segera hubungi pak Julio minta pendapat jalan selanjutnya. Pamannya itu tidak mendukung sepenuhnya kekejaman Gina terhadap Subrata walaupun marah pada tindakan Subrata pada adiknya. Tuhan pasti akan balas orang yang dzolim. Tak perlu kita kotori tangan balas dendam. Tuhan itu tak pernah tidur melindungi umatnya dari segala bencana.
"Halo assalamu'alaikum pak!" sapa Gina begitu terhubung dengan ponselnya Pak Julio.
"Waalaikumsalam nak...apa kabar?"
"Kabar baik...ibu sudah berangkat."
"Bapak tahu...kamu di mana sekarang? Apa tak mau temani pamanmu ini makan siang?"
"Segitu mudah dia menyerah? Kamu harus hati-hati karena Subrata itu terkenal licin dan licik. Besok minta pengacara kamu menjumpai bapak di kantor sini sebelum ke tempat Subrata. Bapak akan memberi pengarahan kepada pengacara kamu cara menangani Subrata. Soal saham serahkan saja kepada bapak."
"Terima kasih pak! Kalau kita sudah menguasai Mahabarata maka Gani yang akan naik menjadi CEO. Itu hadiah Gina buat ibu. Ibu pasti bangga kepada Gani yang telah berhasil merintis karir ke jenjang lebih tinggi. Pengorbanan ibu selama ini tidak sia-sia karena anak-anaknya berhasil menjadi orang berguna."
Pak Julio tidak bisa berkata apa-apa mengenai niat Gina menguasai seluruh saham Mahabharata. Niat Gina juga tidak buruk karena memang seharusnya Mahabarata itu menjadi milik Gani sebagai anak lelaki satu-satunya Subrata. Gina hanya mengembalikan sesuatu yang memang menjadi haknya Gani.
"Selama kamu tidak menyimpang bapak akan dukung kamu tapi bapak harap kamu tidak melukai orang secara fisik."
"Emangnya Gina ini preman suka main gebuk orang?"
"Yang bapak dengar kamu memang suka main kekerasan. Kamu ini seorang anak gadis janganlah ikut-ikutan menjadi preman pasar! Jaga reputasi bapak dan Kevin. Sebentar lagi namamu akan mencuat ke atas sebagai pemimpin baru di perusahaan opa kamu. Semua orang pasti akan cari tahu latar belakang kamu. Jadi berhentilah gunakan kekerasan!"
"Ya ampun pak! Apa bapak pernah dengar Gina lukai seseorang? Gina takkan beraksi bila tidak diusik."
"Itu kamu sering bully Gani.."
"Gani yang lapor gitu? Cari mati anak itu!"
"Nah itu apa? Bersikaplah seperti seorang nona manis sayang. Sekarang kau ini Komisaris dan istri dari seorang pengusaha kaya. Masa masih betah bersikap seperti preman pasar."
__ADS_1
Gina tidak tersinggung diceramahi oleh pak Julio. Semua kata pak Julio tak ada yang salah. Gina memang terlalu kaku sebagai seorang gadis muda. Gadis muda lain lemah gemulai bermanja pada pasangan. Menikmati masa remaja yang indah dengan cerita manis. Yang satu ini asyik benamkan diri dalam kolam batu.
"Gani itu suka asalan pak! Gina marah jika dia ikutan berpakaian wanita serta menyimpang dari kodrat. Yang lain Gina dukung kok!"
"Ok bapak percaya padamu. Abangmu itu kadang bikin bapak kesal juga tapi bapak harap tak perlu gunakan kekerasan. Kita perlahan didik dia kembali ke kodrat sebagai lelaki. Bapak tunggu kamu di cafe depan kantor bapak. Kita jumpa di sana."
"Siap pak! Dan terima kasih untuk bantuan bapak."
"Ngomong apa kamu ini? Assalamu'alaikum.."
"Waalaikumsalam.."
Gina meletakkan ponselnya di atas meja sambil menarik nafas lega. Gina sudah boleh tenang kalau Pak Julio bersedia membantunya membeli saham yang beredar di pasaran. Kalau sudah terkumpul mayoritas saham maka Gina akan segera bertindak menurunkan Subrata dari tahta kerajaan Mahabarata. Gina jamin kalau Subrata akan menangis darah bila di lengser dari jabatan sebagai pemimpin di Mahabarata. Inilah yang sangat diharapkan oleh Gina melihat Subrata hancur lebur menerima karma yang telah dia tanam.
Gina berpikir sejenak lalu angkat ponsel hubungi Kevin untuk ajak makan siang bersama Pak Julio. Gina tetap harus melapor pada Kevin walau berkesan manja dikit-dikit main lapor seolah Gina tak bisa jauh dari Kevin. Gina mau tunjukkan kalau dia juga memiliki rasa hormat kepada suami.
"Assalamu'alaikum bang!"
"Waalaikumsalam istri Abang tersayang...gimana perkembangan kasus kamu dengan Pak Subrata?"
"Alhamdulillah Subrata mengibar bendera putih. Angela tidak terima kekalahan ini. Aku diajak pak Julio makan siang bersama. Abang mau gabung?"
"Abang mau sekali tapi Abang ada meeting dengan klien di luar sekalian makan siang. Lain kali ya!"
"No problem...urus yang lebih penting. Kita juga tiap hari makan bersama. Aku cuma teringat ajak abang. Kan kasihan makan sendiri."
"Kan ada Jay dan Lucia."
"Oh gitu ya? Baru sehari nikah sudah mau selingkuh. Akan kucatat sebagai perselingkuhan perdana. Aku mau lihat berapa panjang catatan perselingkuhan Abang. Kalau sudah penuh akan kujadikan alas panggang daging manusia. Mungkin tidak terlalu gosong namun cukup bikin kulit perih."
Gina omong gitu tanpa ada jijik sedikitpun. Gampang saja dia utarakan isi hati kalau ketahuan Kevin main belakang. Bagi Kevin itu peringatan ringan kalau Gina tak mau terima dia main serong.
"Duh yang sewot! Aku mana berani main backstreet... Isteriku kan Rambo tak punya rasa iba. Aku benar kok jumpa sama klien. Atau kau sambangi kami nanti biar kuperkenalkan sebagai istri aku."
"Jangan gila! Mau bikin sensasi umumkan pernikahan kita? Belum waktunya bang! Lucia belum terkapar jadi masih harus dirahasiakan. Oya di mana nona gila itu? Hati-hati sama dia."
"Ngak tahu...sampai sekarang belum nongol. Aku sudah minta tukang dekor kembali seperti dulu dan tambah CCTV untuk berjaga-jaga."
"Good boy...kita jumpa di rumah nanti."
"Ok... hati-hati di jalan. Assalamu'alaikum.."
"Waalaikumsalam.."
__ADS_1