JALAN MENUJU CINTA

JALAN MENUJU CINTA
Menguak Masa Dulu.


__ADS_3

Pak Julio tidak berkata-kata hanya matanya bermain tak percaya dengan apa yang dia lihat. Bagaimana mungkin seorang pria cantik bertransformasi jadi seorang anak gadis sederhana. Apa karena belum makan siang matanya pak Julio jadi rabun salah lihat orang di depannya.


Gina tertawa kecil memaklumi rasa kaget pak Julio. Jangankan Pak Julio, Kevin dan Peter saja pernah tertipu oleh penampilan Gina. Terutama Kevin yang berhari-hari bersama Gina tanpa mengetahui siapa sesungguhnya gadis ini. Kevin dengan pedenya bertelanjang bulat di depan Gina. Ini merupakan record bagi lelaki itu yang tak pernah berdekatan dengan wanita.


"Maaf pak! Aku ini Gina alias Gino!"


Pak Julio belum bisa move on dari rasa terkejut. Pak Julio tak percaya kalau anak yang dia kagumi ternyata seorang anak cewek. Haruskah dia menambah rasa kagum karena profesi yang digeluti Gina tak lazim untuk cewek.


"Kamu ini...apa maksudmu bermain sandiwara?" tanya pak Julio tajam agak kurang senang. Lelaki ini pasti mengira Gina iseng permainkan orang.


"Mari duduk pak! Aku akan cerita mengapa aku bisa menyamar jadi pria. Sebelumnya aku minta maaf bila pak Julio tersinggung." Gina mengajak Pak Julio cari tempat nyaman untuk berbincang.


Tatapan tajam Pak Julio belum reda sewaktu ikut Gina duduk di tempat bersih. Pak Julio paling tak suka orang banyak trik jahat. Pak Julio melihat keluguan Gina maka bersedia rekom Gina untuk tetap berada di tempat Kevin.


Pak Julio duduk dengan wibawa. Kedua kaki disilang menatap Gina yang masih berdiri di depan pak Julio. Gina sedang menyusun kata agar pak Julio tidak ilfil pada Kevin. Andai dia terus terang soal penyakit Kevin maka ini akan memperburuk reputasi Kevin. Kevin tak bersalah padanya maka dia tak boleh merusak nama baik Kevin.


"Begini pak! Saudara kembarku bekerja pada pak Kevin. Dia minta cuti ke Korea dan Pak Kevin minta pengganti dia untuk sementara waktu. Pak Kevin orangnya tak mau direpotkan oleh masalah anak gadis maka minta saudaraku rekom anak cowok. Saudaraku takut bila dia rekom kawannya maka posisinya bisa terancam maka dia minta tolong padaku untuk menyamar sebagai laki sesuai keinginan pak Kevin. Aku hanya bekerja sepuluh hari lalu saudaraku kembali. Dia telah kembali kerja. Aku diminta bantu pak Kevin untuk sementara waktu sampai proyeknya kelar. Aku sumpah kali ini tidak sandiwara." kata Gina sambil acungkan jari ke atas langit untuk buktikan dia tidak sedang karang cerita.


Pak Julio diam saja mendengar cerita Gina yang cukup panjang. Dari raut wajah Gina tidak tampak dia sedang berbohong. Pak Julio harus paham kalau mereka yang dibawah selalu ketakutan akan tergeser dari tempat kerja sekarang. Wajar kalau Gani berbuat curang sedikit.


"Apa Kevin sudah tahu status kamu?"


Gina mengangguk dengan cepat. Gina tak mau bohongi Pak Julio untuk kedua kali. Cukup sekali terlibat kekonyolan Gani. Gina pilih jadi orang baik tanpa harus takut ketahuan kesalahan.


"Lalu mengapa kamu masih di sini? Apa hari ini kau tidak masuk kantor?"


"Sudah pak! Aku ini cuma kerja setengah hari karena harus bantu om Sabri di bengkel. Aku tak tega tinggalkan om hanya karena dapat pekerjaan baru."


Pak Julio angguk-angguk salut pada jiwa satria Gina. Andai Gina terlahir sebagai seorang anak laki maka dia akan jadi seorang lelaki berjiwa besar.


"Siapa om Sabri?"


"Bukankah Pak Julio pernah jumpa sewaktu datang pertama lihat kondisi mobil? Beliau pemilik bengkel ini sekaligus ayah kami."


"Tunggu..kamu ini gimana sih? Om atau ayah?"


"Om Sabri itu ayah tiri kami. Dia baru saja nikahi ibuku setelah menanti dua puluh tahun. Beliau yang membesarkan kami."


"Wah ribet amat hidup kalian! Lalu ayah kandungmu di mana?"


"Kami tak punya ayah kandung. Dia tak pantas disebut ayah. Sampai kapan pun ayah kami hanya om Sabri." ujar Gina sampai perlihatkan kilatan dendam di matanya.


Pak Julio agak tertegun melihat sinar mata Gina yang agak aneh. Siapa lelaki yang telah menghadirkan kedua anak itu ke dunia lantas menoreh luka mendendam di dalam hati anak-anak itu.


"Sudah...tak usah bahas hal tak perlu. Yang penting kalian hidup wajar. Dulu bapak juga pernah saudara kembar anak perempuan. Menurut adat kampung kami anak kembar beda jenis kelamin harus dipisahkan. Aku bersama orang tua kami sedangkan saudara perempuan aku dibawa jauh ke seberang lautan. Waktu kami berumur tujuh belas tahun pernah jumpa setelah itu tak pernah jumpa lagi. Dia ntah di mana?" Mata pak Julio agak buram ingat saudara kembarnya juga.


"Mengapa bapak tidak mencarinya?"


"Sudah...terakhir kabar yang kami terima dia pindah ke Laos ikut ayah angkatnya yang jadi deputi. Setalah itu kabar mereka hilang."

__ADS_1


"Deputi di Laos? Kakek kami juga pernah jadi deputi di Laos. Kakek meninggal kena serangan jantung di pesawat. Nenek kami menyusul setahun kemudian. Tinggal ibu sendirian di Lombok. Ibu itu sarjana hubungan internasional."


Pak Julio tercekat mendengar kisah ibu Gina. Hampir mirip dengan kisah kakaknya yang hilang. Apa ibu Gina itu saudaranya yang hilang kontak hampir tiga puluh?


"Siapa nama ibumu?"


"Sarah binti Ibnu Hasan."


"Sarah???" seru pak Julio nyaris berteriak mendengar nama yang dia cari selama ini.


Gina kaget Pak Julio berteriak seperti orang jumpa setan di siang bolong. Laki itu sampai berdiri mendengar nama Sarah seolah nama itu punya daya tarik hebat.


"Iya pak! Itu nama ibuku!" kata agak takut karena Pak Julio bertingkah aneh. Gina belum pernah lihat pak Julio memerah matanya.


"Di mana ibumu?"


"Di rumah bersama ayah. Memangnya ibuku ada salah apa pak? Ibu itu hanya wanita biasa yang tidak memiliki apa-apa. Kuharap bapak tidak mempersulit ibuku." Gina kontan melindungi ibunya dari apapun yang akan dilakukan oleh pak Julio.


"Aku ingin jumpa ibumu." pak Julio belum mengungkapkan keinginan apa dia menjumpai Bu Sarah.


Gina tentu saja takut pak Julio melakukan hal yang tidak terpuji kepada ibunya. Sekarang mereka mulai hidup dengan tenang Gina tak ingin menambah beban ibunya yang sudah cukup berat dengan bebannya cukup lama di pikul.


"Kau tak usah kuatir nak! Bapak hanya ingin memastikan kalau ibumu itu kakak bapak atau bukan."


Kini giliran Gina pula melongo. Dari mana pula cerita kalau ibunya adalah kakaknya pak Julio. Mengapa di dunia ini ada hal serba kebetulan. Tak pernah terlintas di benak Gina kalau ibunya itu berasal dari keluarga orang kaya. Selama ini mereka hidup serba papasan tidak berlebihan. Bu Sarah dengan susah payah membesarkan kedua anaknya tanpa bantuan dari keluarga selain Om Sabri.


"Ya ampun anak muda. Aku tak mungkin melakukan hal tidak terpuji kepada kalian. Apa kamu pernah melihat bapak melakukan hal-hal di luar batas?"


Soal ini Gina harus mengakui kalau pak Julio itu terkenal dengan nama bersih tanpa skandal selama menjadi seorang pebisnis. Namun Gina masih agak ragu kalau pak Julio menganggap ibunya adalah saudaranya yang telah lama menghilang.


"Baiklah pak! Kita ke rumah. Tapi kumohon apapun cerita jangan menambah beban ibuku! Aku tak izinkan siapapun menyakiti hati ibu."


"Bapak janji nak! Apa tujuan bapak ingin menyakiti ibumu? Cuma bapak bisa rasakan kalau kalian adalah darah daging bapak. Dari awal jumpa kamu bapak sudah suka padamu. Kamu memiliki sesuatu yang tak bisa ungkap dengan kata. Ayo kita pergi ke rumahmu!"


"Kita pergi dengan kereta saja ya pak! Rumah kami tak jauh dari sini."


"Terserah kamu saja!" Pak Julio sangat


tidak sabar ingin jumpa dengan wanita yang dipanggil ibu oleh Gina. Kalau punya sayap ingin rasanya terbang jumpai wanita itu.


Gina mendorong keretanya memutar arah keluar dari bengkel Om Sabri. Dalam mulut Gina masih sering panggil om karena belum terbiasa sebut Sabri dengan panggilan ayah. Masih butuh waktu untuk Gina dan Gani ubah kosa kata di bibir. Dari om ke ayah.


Pak Julio dan Gina naik motor matic Gina masuk ke gang tempat tinggal Bu Sarah. Kini telah tambah penghuni baru yakni om Sabri. Om Sabri memang berencana beli rumah namun Gina dan Gani menolak karena kehidupan om Sabri juga bukan sangat baik. Tidak miskin juga bukan orang kaya tajir. Yang penting cukup makan dan tidak kelaparan itu sudah merupakan kunci kebahagiaan keluarga mereka.


Gina hentikan motor matic di depan satu rumah petak sederhana. Pak Julio turun dari motor memandangi rumah yang luasnya mungkin hanya seluas ruang tamu rumahnya. Tidak penting seberapa luas rumah yang penting adalah kehangatan yang dipancarkan oleh rumah itu. Gedongan bila tak ada nilai kemanusiaan juga hampa.


"Pak ini rumahku!" Gina menyadarkan pak Julio dari lamunan.


Pak Julio tersadar mengukir senyum tipis di bibir. Pak Julio agak malu ketangkap basah sedang menimbang berapa luas rumah yang dihuni oleh keluarga Gina.

__ADS_1


Gina membuka pintu pagar agar orang kaya itu bisa pindah ke dalam halaman rumah. Halaman juga tak banyak datangkan kebanggaan karena masih berlantai semen biasa. Beda dengan halaman rumah pak Julio yang sudah terpasang tegel mahal.


"Silahkan pak!" Gina mempersilahkan pak Julio jalan sampai ke teras. "Assalamualaikum..." seru Gina menyapa dari luar.


"Waalaikumsalam..." terdengar sahutan merdu dari dalam rumah.


Jantung Pak Julio tak karuan dengar suara perempuan yang mungkin saja orang yang dia cari selama ini. Gina membuka pintu yang memang jarang dikunci kecuali malam hari. Lingkungan kampung ini relatif aman dari penjahat kecuali penjahat kambuhan dari luar daerah.


"Bu...ada tamu nih!" seru Gina berharap ibunya tidak sedang berada dalam kamar dengan om Sabri. Maklumlah pengantin baru masih betah berdiam diri dalam kamar.


Bu Sarah keluar dari kamar sendirian tanpa om Sabri. Wanita itu keluar karena seruan Gina katakan ada tamu. Tamu untuk siapa belum diketahui. Sebagai tuan rumah Bu Sarah wajib sambut tamu yang datang ke rumah mereka.


Bu Sarah tertegun melihat siapa tamunya. Pak Julio juga tertegun tatkala Bu Sarah menampakkan diri. Keduanya saling menatap seperti pernah bertemu tetapi tak tahu di mana ketemunya.


Gina berdiri di samping biarkan kedua orang itu saling memandang cari titik temu. Apakah mereka saling mengenal atau hanya sekedar menyapa orang baru kenal.


"Io???" tanpa sadar Bu Sarah menyebut satu kata yang tak dipahami Gina.


"Rara?" Pak Julio juga menyebut satu kata berirama aneh.


Sumpah mati Gina tak pernah dengar ada sapaan aneh itu di keluarganya. Io dan Rata baru hari ini hadir di antara mereka.


Pak Julio bergerak maju hampiri Bu Sarah yang masih terpaku tak sangka akan jumpa dengan orang yang hampir terhapus dari ingatan. Pak Julio menarik Bu Sarah ke pelukan tanpa malu-malu.


Gina bengong saksikan betapa beraninya pak Julio buat sensasi di rumah orang. Gina jamin ayah barunya pasti takkan tinggal diam pengantin barunya telah dipeluk laki lain.


Bu Sarah mengeluarkan suara tangis kecil menyebabkan Gina was-was ibunya punya masalah dengan pak Julio. Gina belum ngeh cerita pak Julio tentang saudara kembarnya.


Om Sabri yang dengar suara tangis isterinya segera keluar dari kamar lihat siapa berani usik isteri Sabri di jagoan kampung.


Laki itu terpaku saksikan isteri tercinta berada dalam pelukan lelaki lain. Pakai acara nangis pula. Belum pikir yang baik bayangan buruk duluan terlintas di benak Om Sabri.


"Ada apa ini?" tanya Om Sabri dengan suara dipadatkan biar terdengar keren.


Pak Julio sadar diri pemilik asli dari wanita ini telah hadir. Pak Julio segera lepaskan Bu Sarah sambil tersenyum. Tangan pak Julio masih berada di pundak Bu Sarah. Mata Pak Julio menatap wajah Bu Sarah tunjukkan rasa rindu tak terhingga.


"Lama tak jumpa...apa kabar?"


Bu Sarah menunduk belum sanggup bicara saking gembira jumpa orang yang sedarah dengannya.


Om Sabri yang gregetan ada laki berani cari isterinya sampai ke rumah. Ini sangat tidak hormati status Om Sabri sebagai suami.


Om Sabri mendehem menyadarkan Bu Sarah kalau di dekatnya masih ada suami yang harus dijunjung tinggi.


"Io..ini suami aku! Namanya Sabri. Mas...ini Julio saudara kembarku yang terpisah puluhan tahun lalu!" Bu Sarah menarik om Sabri mendekat agar jangan tenggelam dalam lautan cemburu. Makan kelewat banyak cuka tidak baik untuk kesehatan.


"Kita pernah jumpa saudara Sabri. Aku Julio empunya mobil CJ yang diperbaiki Gina." Pak Julio mengulurkan tangan menyalami Om Sabri.


Om Sabri besarkan mata tak sangka isterinya masih punya saudara kembar seperti anak tirinya. Kisah hidup Bu Sarah mulai terkuak sedikit. Selama ini Bu Sarah menutup akses masa lalunya dari siapapun. Termasuk kisah sedih bersama Subrata. Kisah pilu yang takkan hapus dari ingatan.

__ADS_1


__ADS_2