
Gani ikut Indy ke rumahnya ambil resep obat untuk Gina. Untuk ini Gani tidak akan menolak lakukan sesuatu untuk kesembuhan Gina. Sejahat apa Gina padanya tetaplah adik sendiri. Gina jahat pada Gani dengan alasan tersendiri. Gina tidak akan marah kepada Gani bila anak itu tidak berbuat macam-macam memalukan keluarga. Namun kadang Gani memang suka berbuat asalan membuat emosi Gina melonjak ke langit.
Kevin tak beranjak dari kamar Gani karena ingin merawat Gina. Kevin sadar kalau semua ini bermula dari dirinya. Kehidupan Gina berubah kacau sejak mengenal Kevin. Hari-harinya yang tenang telah berakhir karena telah masuk dalam kancah perang Kevin. Gina harus berperang untuk lawan dua musuh. Satu Mahabarata dan satunya musuh Kevin. Gina harus berlatih lebih tekun untuk angkat senjata lawan dua musuh kuat.
"Nak Kevin.. ayok kita duduk diluar! Gina sudah banyak cerita tentang masalah kamu! Mungkin bapak bisa bantu kamu bila kau bersedia." ajak Om Sabri.
Kevin manggut segan tetap berada di kamar anak gadis yang sedang sakit. Keluarga ini pasti sangat taat beragama sehingga peduli pada segala kesopanan dan batasan laki perempuan. Kedua laki itu keluar tinggalkan Bu Sarah menjaga Gina. Biarlah Bu Sarah yang menjaga anaknya karena itu memang adalah wilayah seorang ibu.
Om Sabri mengajak Kevin duduk di ruang tamu untuk membahas masalah Kevin yang cukup pelik. Om Sabri ingin mengetahui lebih lanjut mengenai musuh utama Kevin. Kalau mereka berani melukai Kevin di tempat umum pastilah bukan orang biasa. Mereka sudah tak sabar ingin menghabisi Kevin secepat mungkin.
Kedua lelaki dewasa tersebut duduk bersamaan di ruang tamu yang kecil. Rasanya ruangan itu telah dipenuhi oleh tubuh mereka berdua yang cukup besar. Om Sabri bertubuh besar dan tegap sedang Kevin tinggi sedikit kurus akibat menahan tekanan batin bertahun-tahun. Dari segi umur Kevin jauh di bawah Om Sabri namun dari raut wajah mereka hampir tak ada jauh beda usia. Kevin tampak lebih tua dari umur sesungguhnya.
"Sekarang cerita lah! Gina sendirian tidak akan mampu melindungi kamu sepenuhnya. Gina ingin membawa kawannya kawal kamu. Di sini ada beberapa pemuda ahli karate bisa kamu pekerjakan. Jadi supir atau pun satpam rumah kamu."
"Musuh aku bapak aku sendiri. Dia telah khianati ibuku untuk seorang perempuan malam. Di tambah saudara aku yang ingin nyawa aku! Hidupku memang kacau. Aku malu telah menyeret Gina dalam kekacauan hidup aku!" Kevin menunduk tak berani menantang mata elang om Sabri.
Om Sabri termenung mendengar kisah Kevin. Ceritanya tak jauh beda dengan Gina dan Gani. Mungkin karena hal ini Gina bersedia membantu Kevin. Didorong rasa benci pada pengkhianatan maka Gina mau ambil tempat di perang Kevin.
"Kau tak usah kuatir! Anggap saja kami ini keluarga kamu! Kamu tidak sendirian di dunia ini. Kami akan bersama kamu untuk lalui semua rintangan. Gimana usul bapak menambah armada pengawalan? Ini akan menguras kantong kamu tapi bapak akan usahakan tidak terlalu bebani kamu."
"Oh tidak pak! Aku bersedia...kasihan juga Gina harus merangkap semua sendirian. Aku minta dua orang yang keras. Satu untuk supir dan satunya untuk kawal rumah. Kalau bisa tambah satu untuk kantor agar aku punya orang dalam di kantor."
"Kau butuh tiga orang? Untuk sementara ini yang bapak bisa rekom hanya dua orang. Mereka berdua adalah orang kepercayaan bapak."
"Aku serahkan pada bapak saja! Aku percaya kebaikan kalian. Gina demikian hormat pada bapak maka aku yakin bapak akan perlakukan aku sama dengan Gani dan Gina."
"Terima kasih atas kepercayaan kamu! Bapak akan bicara dengan anggota bapak dulu. Mereka juga kerja di bengkel bapak seperti Gina. Kamu sudah curi tiga anggota bengkel bapak!" kata om Sabri sambil tertawa. Anggota bengkelnya dicuri bukannya bersedih melainkan tertawa. Bagi Kevin Om Sabri ini sangat menarik karena sifatnya yang lugas bersahabat.
"Maaf pak! Apa ini tidak menyusahkan bapak?"
"Kalau bapak mau jujur memang menyusahkan tetapi bila kamu tinggal di sini mereka masih bisa bekerja setelah kamu pulang ke rumah."
"Bapak izinkan aku tinggal di sini?"
Om Sabri mengangguk tegas tak keberatan Kevin tinggal bersama mereka asal Kevin merasa nyaman. Lingkungan keluarga om Sabri tidak semewah lingkungan Kevin. Ntah Kevin kerasan tidak tinggal di tempat serba manual.
"Asal kamu kerasan saja!"
"Kerasan pak!"
__ADS_1
"Bagus...kita tunggu Gani pulang baru kita makan. Gina biarlah tidur dulu sampai badannya sehat! Nak Kevin tak usah kuatir soal Gina. Badan sekuat beton cor semen. Nah itu Gani!" dari luar terdengar suara motor berhenti di depan rumah. Itu mungkin Gani pulang bawa obat untuk Gina.
"Assalamualaikum..." sapa Gani sambil melepaskan helm warna pink menyolok mata. Gani tak pantas gunakan warna yang sering digunakan oleh anak cewek. Tapi apa boleh buat dalam darah Gani mengalir darah cewek maka akal rada mirip cewek.
"Waalaikumsalam...sudah dapat obatnya?"
"Alhamdulillah dapat papi...kita bangunkan monster untuk minum obat?"
"Jangan! Biar dia tidur sebentar lagi. Kita makan dulu! Nak Kevin mungkin sudah lapar!"
"Oh iya...aku ke dapur dulu!" Gani lewati kedua laki itu menuju ke belakang untuk siapkan makan malam. Gani terbiasa dengan pekerjaan dapur tidak keberatan harus bekerja di sana hari ini. Dia agak segan bertingkah karena adanya Kevin. Gani tak bisa menjerit sesuka hati lagi apalagi ajak Gina bertengkar. Untuk sementara ini hobi berantem dengan Gina harus dihentikan. Gani harus kibarkan bendera putih untuk melakukan gencatan senjata dengan Gina.
Dia seorang manajer di kantor menang boleh berbuat sesuka hati di depan bos besar. Salah-salah bisa diturunkan posisinya ke level terendah. Baru saja menikmati posisi lumayan harus ditendang turun ke bawah. Gani belum mau mendapatkan nasib buruk itu. Paling sekarang harus menjaga sikap yang sopan di depan Kevin.
Gani membantu Bu Sarah siapkan meja makan untuk keluarga mereka minus Gina. Om Sabri melarang Gani bangunkan Gina maka Gani tak berani melanggar perintah ayah sambungnya itu. Om Sabri sangat sayang pada putri kesayangan itu. Gani tidak iri karena Gina lebih pintar darinya mengerjakan semua tugas di rumah. Gina tak pernah lelah walau pekerjaan segunung. Energi seolah tak pernah habis. Di cas terus sampai full.
Pertama kali Kevin makan di rumah orang lain terasa ada kakunya. Apalagi baru pertama kali datang ke rumah Gina sudah numpang makan. Menyusahkan orang berlapis-lapis. Minta perlindungan juga minta tumpangan. Sungguh-sungguh prestasi buruk sebagai CEO perusahaan besar.
Om Sabri merasakan sikap kaku Kevin di meja makan segera ambil langkah ajak anak itu berbaur dalam arti keluarga sebenarnya. Kalau Kevin tak bisa singkirkan gengsi setinggi Mahameru maka selamanya dia tak bisa terima orang lain.
"Jangan sungkan nak Kevin! Kalau kau mau terima kami sebagai bagian kamu maka kamu harus bersikap rileks. Kamu kaku maka kami juga akan ikutan sungkan. Lepaskan semua simpul di hati agar kamu bisa lempang terima keluarga baru kamu." kata Om Sabri pakai bahasa kelas atas. Gani tahan senyum tak tahu sejak kapan papinya pintar gunakan kalimat bermakna dalam.
"Maaf kalau aku susah berbaur! Aku akan usaha. Kalian jangan terganggu oleh sikap kaku aku! Aku jarang berteman maka kurang pandai bersosialisasi." jawab Kevin agak malu.
"Iya Bu! Maaf aku sudah merepotkan!"
"Tidak repot kok! Anggap rumah sendiri ya! Ayo mulai makan! Bismillah saja!"
"Ya Bu..."
Masakan rumah Bu Sarah tidak semewah masakan di rumahnya namun terasa lezat karena ada ketulusan tersirat dalam setiap tatapan mata penghuni rumah ini. Baru pertama kali Kevin merasakan kehangatan satu keluarga. Punya orang tua lengkap dan ada saudara. Semua makan dengan riang melupakan ada sosok sedang tertidur pulas dalam keadaan demam.
Bu Sarah melarang Kevin mau bantu angkat piring ke dapur. Kevin lihat Gani bawa piring ke dapur maka diapun ikutan mau jadi anak baik. Jangan hanya pandai numpang makan tanpa mau bantu bersihkan meja makan. Gani mana izinkan bosnya bekerja cuci piring di dapur. Di sini dia bisa plonco bos tapi besok di kantor disikat sampai botak. Gani ingin jadi tuan rumah yang baik buat bosnya.
"Bapak tak usah di sini! Aku jadi tak bisa kerja kalau bapak di dapur. Biasanya Gina dan aku gantian bantu ibu di dapur. Pagi hari dia bantu ibu masak untuk jualan di warung. Aku bantu juga bila ada waktu."
Kevin bayangkan bagaimana susahnya Gina atur waktu. Bangun pagi harus bantu ibu di dapur lalu ke kantor, siangnya masih kerja di bengkel baru beri les pada anak-anak. Seberapa banyak stamina Gina borong semua pekerjaan ini.
"Mengapa Gina menampung semua pekerjaan? Apa dia tak lelah jalani segitu banyak pekerjaan?"
__ADS_1
Gani tertawa hambar merasa malu tak segesit Gina. Harusnya dia yang bekerja matian bantu keluarga bukan anak cewek. Ini malah terbalik cewek yang jadi tulang punggung keluarga sementara dia hanya fokus kerja di kantor.
"Aku juga tak tahu apa yang sedang dia kejar? Katanya mau beli rumah untuk ibu. Eh...bapak keluar saja! Biar aku dan ibu yang beresin semuanya. Lebih baik bapak lihat Gina apa sudah bangun! Dia harus minum obat untuk redakan demam."
Kevin baru sadar kalau Gina masih tidur. Memang sudah waktunya Gina bangun minum obat. Tanpa bantuan obat-obatan Gina mana bisa sembuh.
"Aku hampir lupa Gina masih tidur. Aku ke depan ya!"
Gani mengangguk cepat karena agak segan Kevin berada di dapur melihatnya menjadi juru cuci. Gani tak bisa bekerja dengan baik bila dipandangi Kevin. Apa kata orang bila tahu manager perusahaan besar cuci piring bekas makan malam. Bisa jatuh reputasi Gani.
Inilah perbedaan Gani dan Gina. Gani gila nama dan pujian sedangkan Gina cuek bebek mau dibilang apa. Gadis itu tak peduli tatapan aneh orang lihat ada cewek keluar masuk kolong mobil.
Gani lega setelah Kevin tinggalkan dapur untuknya. Dengan luwes Gani cuci piring mangkuk satu persatu lalu membilas hingga bersih. Pekerjaan yang sudah dia lakukan bertahun-tahun bersama Gina. Mereka berdua saling membantu untuk menyenangkan sang ibu. Tepatnya balas jasa ibu telah besarkan mereka tanpa pamrih.
Di luar sana Kevin masuk ke kamar Gani lihat asisten kesayangan. Kevin mau pantau bagaimana kondisi gadis itu. Masih tidur dengan peluh besar-besar di kening. Nafas Gina teratur tak seperti orang sakit. Kevin mencari sesuatu untuk lap keringat di dahi asistennya. Tak perlu cari jauh sebab ada sekotak tisu tergeletak merana di atas meja. Tanpa ragu Kevin comot sehelai lalu tempelkan ke kening Gina. Dengan gerakan perlahan Kevin lap kening Gina.
Ternyata begini bila kuatir pada seseorang. Ada kecemasan nongkrong dalam hati melihat orang yang berarti sedang sekarat. Kalau bisa Kevin ingin gantiin Gina menjadi pesakitan. Gadis ini tak perlu menderita dua kali. Tangan sakit dan sekarang badan pula sakit.
"Gin..bangun minum obat!" bisik Kevin lembut di telinga Gina. Hembusan nafas kasar Kevin menerpa kulit kuping Gina membuat si gadis terbangu karena rasa geli.
Gina membuka mata reflek memutar kepala ke arah wajah Kevin. Wajah keduanya sangat dekat sampai ******* nafas masing-masing terdengar jelas. Dia mata saling bertautan dalam kebisuan. Kevin terbengong begitu juga Gina tak sangka akan begitu dekat dengan sang majikan. Maju sedikit lagi bibir Kevin akan nemplok di pipi Gina.
Tapi keduanya tak lakukan apa-apa selain saling menatap dengan jantung berdetak lebih cepat melebihi laju pesawat super jet. Alunan ombak bertalu-talu memecah di bibir relung hati ciptakan deburan berbuih penuh tanda love.
Sekian detik mereka betah dalam posisi begini sampai ada suara deheman memaksa Kevin menarik kepala dari wajah Gina. Wajah Gina memerah menahan rasa malu sedangkan Kevin salah tingkah ketahuan sedang menatap Gina dalam-dalam.
"Sudah bangun nak?" tegur Om Sabri melerai rasa canggung antara dua anak muda itu.
"Sudah yah! Dibangunkan oleh pak Kevin!" sahut Gina masih terbawa rasa segan.
"Kau sudah enakan? Tadi badanmu panas."
"Sudah yah!" Gina bangun menarik tubuh ke belakang bersandar pada kepala tempat tidur Gani.
"Hhmm..pergilah makan lalu minum obat!"
"Aku mandi dul ya!"
"Eh tak boleh mandi! Kamu masih demam. Ganti pakaian saja!" tukas Kevin cepat.
__ADS_1
"Tapi badanku keringatan. Bau asem..."
"Alah...kambing tak pernah mandi juga mahal harganya! Cuci muka baru pergi makan!" Kevin membantu Gina turun dari tempat tidur. Kevin lakukan hal itu di depan Om Sabri. Om Sabri jengah lihat anak yang dia rawat dari bayi sudah ada yang jaga. Ada rasa kehilangan dalam hati om Sabri. Sudah ada yang gantiin dia jaga Gina. Dia harus bahagia atau bersedih bakal kehilangan anak kesayangan.