
Gina bukannya menolak kemajuan teknologi tapi tak mau pusing oleh semua kegaduhan di medsos. Betapa tenang tidak terlibat di dunia yang bukan miliknya.
"Aku tak suka kegaduhan. Bapak tak perlu sibuk mikirin aku. Aku sudah terbiasa hidup tanpa kegiatan media maka tak perlu dirubah."
Kevin angguk-angguk setuju namun dia mau cari smartphone untuk Gina bukan untuk ikuti semua kegiatan media melainkan untuk kebutuhan sesuai kemajuan teknologi. Dengan smartphone banyak kemudahan. Transfer duit tak perlu antrian di bank lagi. Cukup gunakan jari di mana suka untuk mengirim uang dan sampai tepat waktu.
"Itu bukan untuk kamu untuk ikuti semua kegiatan yang tak kamu sukai melainkan untuk memudahkan kita berkomunikasi dan transaksi."
Gina merasa tidak perlu menjawab perkataan Kevin karena akan memberi kesan dia memang menginginkan barang itu. Terserah Kevin akan melakukan apa yang penting tidak mengusik wilayah Gina.
Gina melanjutkan bersihkan halaman yang tinggal sedikit lagi. Hari ini Gina bisa santai karena hari ini hari libur. Rencana mereka hari ini akan berkunjung ke rumah pak Julio sesuai janji Gani dengan adik ibu mereka.
Kevin hanya bisa menunggu diajak ke sana. Sekarang Kevin paham mengapa Gina dengan mudah meminta proyek mereka dihentikan sementara sampai mereka punya cara singkirkan Peter dari lingkungan mereka. Ternyata Gina adalah keponakan pak Julio. Yang menjadi pertanyaan Kevin mengapa Gina tak gunakan nama besar Pak Julio mencari ketenaran. Dia justru menyembunyikan kebenaran tentang hubungan dia dengan pak Julio.
Bu Sarah sudah siapkan sarapan pagi berupa mie goreng pakai telor. Rasanya nikmat walaupun dimasak apa adanya. Hanya mie instan yang dimasak dengan sedikit minyak dicampur dengan telur namun rasanya bisa menggoyang lidah. Tidak bisa dipungkiri kalau Bu Sarah adalah seorang koki yang baik. Makanan paling sederhana pun menjadi lezat bila dimasak oleh wanita itu.
Om Sabri sangat beruntung mendapatkan wanita seperti Bu Sarah yang memiliki kesabaran luar biasa. Bu Sarah pantas mendapat kebahagiaan dari Om Sabri dan anak-anaknya. Ditambah sekarang Bu Sarah memiliki seorang adik yang sangat kaya yang siap menjadi tulang punggung dari Bu Sarah.
Seusai sarapan Gani, Gina dan Kevin berangkat menuju ke rumah Pak Julio sesuai dengan janji Gani. Gani sebagai anak tertua wajib membayar janji yang telah dia buat. Ini hanya bukan sekedar membayar janji melainkan tanggung jawab atas perkataan yang telah dia keluarkan.
Berhubung Gina yang mengetahui letak rumah Pak Julio maka dia yang menjadi sopir buat Kevin dan Gani. Kevin yang kenal sifat ugalan Gina dalam berkendaraan was-was kalau penyakit sinting gadis ini kumat. Sarapan yang baru masuk auto keluar bila Gina membawa mobil seperti orang gila.
"Gin...mie goreng ibu itu enak jadi kuharap kau tak memaksa mie yang sudah dalam perut aku lari keluar ya!" Kevin ingatkan Gina begitu menutup pintu mobil.
Gina hanya tersenyum tipis tak jawab sedangkan Gani yang duduk di belakang tertawa kecil. Gani menduga kalau Kevin sudah pernah mencicipi ke gilaan Gina dalam berkendaraan. Laki itu pasti kapok disupiri oleh Gina.
Jalan raya raya agak lengang karena hari libur. Banyak yang menggunakan waktu libur untuk berkumpul dengan keluarga karena sehari-hari sibuk melakukan aktivitas di luar rumah. Berkumpul dengan keluarga melupakan waktu yang sangat berharga bagi yang telah memiliki keluarga terutama memiliki anak-anak.
Dalam mobil Kevin penumpangnya adalah jomblo akut belum terdaftar kepemilikan. Ketiganya belum ada pemiliknya walau Kevin berusaha menarik Gina dalam hidupnya. Ntah apa yang sedang dicari gadis itu dalam memilih pasangan. Orang macam Kevin tak masuk buku dia! Seberapa tinggi harapan Gina pada calon suami kelak. Takutnya terlalu memilih dapatnya malah limbah.
Pagi ini mobil Kevin berjalan santai bergabung dengan kenderaan lain membelah jalan aspal. Gina sengaja stel musik ringan sebagai penawar rasa sepi dalam mobil. Ketiganya ogah bicara lebih menikmati musik lembut memanjakan kuping.
Jemari Gina mengetuk setir mobil ikuti alunan irama lagu. Kevin dan Gani hanya bisa merasakan suasana agak tegang karena supirnya beri kesan super cuek pada penumpang. Gani paling tak tahan dengan kondisi mencekam ingin sekali bongkar bibir Gina agar mau sedikit ramah pada Kevin. Kevin sudah cukup baik pada mereka namun Gina masih beri kesan acuh tak acuh. Laki mana tahan dengan cewek model ini.
"Gin...kau sering ke tempat om Julio?" Gani bongkar keheningan dengan buka suara.
__ADS_1
"Pernah sewaktu melihat mobilnya yang rusak! Kenapa? Mau pindah ke sana?" sahut Gina tetap tak ramah.
"Sensi amat! Nanya doang cewek...Herannya mami tak pernah cerita punya adik super tajir! Maunya dia hidup melarat besarkan kita!" gerutu Gani menyesali hidup mereka yang datar selama ini.
Gina melirik kearah Gani dengan tatapan tajam. Gina justru bersyukur memiliki ide yang sangat tegar menghadapi cobaan hidup. Bukan menumpang kekayaan orang lain walaupun itu adik kandungnya.
"Ibu itu manusia punya nilai sendiri bukan lintah numpang hidup pada orang lain."
"Kamu ini pantang diajak diskusi! Aku ini kan bicara fakta! Punya keluarga kaya malah banting tulang puluhan tahun demi kita! Om pasti takkan keberatan segenggam uang receh pada mami!"
"Ibu kita lebih berharga dari emas permata! Untuk apa uang receh? Aku justru bangga ibu kita tak andalkan uang paman kita! Kita ini jadi tahu arti hidup berjuang tanpa andalkan orang lain. Kenapa tak kau bilang andalkan setan neraka yang kaya untuk biayai hidup kita? Dia lebih wajib beri nafkah namun dia pilih hidup mewah bersama setan-setan!"
Gani terdiam dengar tensi Gina melonjak naik. Gani ngerti orang yang di maksud Gina adalah ayah biologis mereka tuan Subrata si kaya raya. Gina tak salah bila menganggap Subrata sebagai setan. Dia pantas menyandang gelar itu. Berselingkuh lalu abaikan anak kandung demi anak haram dia. Wajar Gina naik darah bila tercungkil nama Subrata.
Kevin dapat merasakan hawa panas dalam mobil akibat Gani tak sengaja pancing amarah Gina soal ayah biologis mereka. Kevin tahu Gina sangat benci kepada Subrata yang imbasnya kepada Lucia. Dari awal Gina sudah tak suka kepada saudara tirinya itu. Sejauh ini Gina hanya perlihatkan rasa tak suka tanpa ada tanda akan lukai Lucia.
"Lusa aku akan ke kota M. Kalian dua harus jaga perusahaan sebaik mungkin ya! Aku pergi kasih pengarahan saja! Dan kau Gani! Jangan lengah terhadap pegawai yang ingin gunakan dirimu sebagai batu loncatan untuk naik pangkat!" Kevin alihkan pembicaraan sebelum hawa panas membakar isi dalam mobil.
"Tenang pak! Aku tak bisa disogok! Aku akan berusaha sebaik mungkin! Siapa berani usik aku ada monster siap telan mereka!" gurau Gani hendak cairkan amarah Gina. Pantang banget sebut Subrata di sekitar mereka. Gina kontan menyala bila nama itu muncul.
"Untuk sementara dia takkan ganggu kita karena masalah hotel di sana cukup menyita perhatian dia! Yang harus kau perhatikan adalah jangan biarkan Luna cs datang ke kantor! Mereka tak boleh injak kaki di kantor!" Kevin teringat pada ayahnya yang takkan berhenti sebelum rencana mereka terealisasi.
"Baik pak!" jawab Gina tegas. Gina dengan senang hati beri pelajaran pada manusia pengkhianat keluarga. Gina benaran dendam pada setiap orang menyia-nyiakan keluarga demi perempuan atau laki lain. Mereka adalah pendosa yang harus dihukum rajam.
Kevin merasa tenang Gina sudah beri jawaban pasti. Kevin yakin Gina takkan ingkar janji. Gina adalah gadis setia bisa dipercaya. Kevin yang beruntung jumpa asisten bernilai plus-plus.
Untuk selanjutnya Gani tak berani tanya hal sensitif pada Gina lagi. Takutnya seperti tadi Gina naik darah ingin ulek Subrata di cobekan. Ntah jadi sambal terasi atau jadi bumbu pecel.
Gina berhasil mengantar Kevin dan Gani sampai di rumah pak Julio yang super mewah. Gani tak habis-habisnya mengagumi keindahan rumah omnya itu. Dapat dibayangkan betapa tajirnya pak Julio. Dari rumahnya bisa di nilai seberapa kaya omnya. Dalam hati Gani menyesali keangkuhan Bu Sarah tak mau minta bantuan pak Julio biar hidup makmur. Suara hati itu cuma berani bergema dalam dada. Kalau Gani suarakan via mulut pasti kena semprot Gina. Mending monolog dalam hati saja.
Kehadiran ketiganya sudah dinantikan oleh keluarga Pak Julio. Terbukti begitu mobil Kevin tiba di depan pintu gerbang langsung dibukakan pintu oleh Satpam penjaga. Julio pasti telah memberi pesan kepada satpam untuk memberi akses kepada mereka masuk ke dalam.
Gina hentikan mobil tak jauh dari pintu rumah. Tak mungkin juga Gina langsung berhenti di depan pintu rumah beri kesan sangat penting sebagai tamu VIP. Mereka tetap saja bawahan karena mereka lebih muda. Gina paling duluan tinggalkan mobil menuju ke pintu rumah yang sudah terbuka lebar.
Kelihatannya pak Julio telah mempersiapkan diri menerima kehadiran mereka. Setiap langkah mereka dipermudah untuk mencapai rumah yang terbilang sangat mewah itu.
__ADS_1
"Assalamualaikum..." sapa Gina belum berani !asik kendatipun pintu rumah terbuka lebar. Dari luar Gina melihat tak ada tanda-tanda tuan rumah ada di sekitar rumah. Ruang tamu sepi senyap tanpa ada kehidupan.
Kevin dan Gani berdiri di belakang Gina menanti jawaban sang pemilik rumah untuk izin masuk. Rumah segede gini penghuninya hanya sekutil beri kesan rumah kesepian. Harusnya pak Julio punya selusin anak untuk semarakkan lingkungan rumah.
"Waalaikumsalam..." akhirnya penantian mereka mendapat sambutan. Isteri pak Julio muncul dengan wajah super cerah menyambut tamu yang sudah ditunggu. Wanita itu tampak cantik di usia empat puluhan. Namun wajah itu tak tunjukkan usia sesungguhnya berkat perawatan di salon mahal. Itulah kelebihan punya suami tajir. Kecantikan sekarang bisa dibeli asal ada uang. Asal ada uang tak ada wanita jelek lagi.
"Kalian sudah datang! Ayok masuk! Ngapain berdiri di situ?" Pak Julio ikutan muncul ntah dari mana. Di belakang pak Julio sudah ada dua remaja tanggung ikut menyambut tamu papi mereka. Nabila dan Angga sangat ingin jumpa Gina setelah pertemuan dulu. Sayang Gina tak tepat janji untuk kunjungi mereka.
Kevin pimpin kedua saudara kembar masuk ke rumah. Kevin yang sudah terbiasa hidup dalam tumpukan dolar tidak surprise pak Julio punya aset semewah ini. Pengusaha seperti pak Julio wajar punya rumah semewah ini. Kekayaan laki itu mungkin takkan kering dikonsumsi tujuh turunan.
"Sudah sarapan?" tanya Pak Julio ramah sambil beri tanda persilahkan tamunya duduk.
"Sudah om!" sahut Gani kenes merasa bangga punya saudara kaya raya. Sekarang dia tak perlu diletakkan di pulau miskin lagi. Ternyata dia punya saudara membanggakan.
"Oh..Yok anak-anak Salim kakak-kakak kalian! Kak Gani dan kak Gina itu saudara kembar! Dan ini Kak Kevin pacarnya kak Gina!" pak Julio perkenalkan ketiga tamunya kepada kedua anaknya.
Angga tertawa lucu tak rasakan ada kemiripan antara Gani dan Gina. Biasa saudara kembar itu mirip satu sama lain. Ini sangat beda. Apapun cerita kedua anak itu menyalami ketiga anak muda tersebut. Kevin senang bukan main diperkenalkan sebagai pacar Gina. Lampu hijau sudah menyala buat dia dekati Gina. Pak Julio restui Kevin mendampingi Gina meniti hari-hari depan.
Gina mendesis namun tak bantah. Bukan gaya Gina adu mulut di depan anak kecil. Itu hanya beri contoh buruk buat kedua anak itu. Gina masih bisa kontrol emosi tak umbar emosi di sini.
"Kenapa tak tinggal bersama kami di sini kak? Papi sudah sediakan dua kamar besar untuk kakak berdua. Di lantai atas!" ujar Angga menunjuk ke atas. Kepolosan masih jelas terukir di wajah itu.
"Kakak pasti akan nginap sini nanti! Sekarang tak bisa karena ibu kurang sehat! Kalian kapan ke rumah kakak?" sahut Gina ramah tidak sangar seperti biasa. Gina bisa pisahkan kapan dia harus keras dan kapan lembut. Gina mana mungkin kasar kepada kedua anak itu.
"Oh...kalau kakak di sini kami bisa belajar ngaji dan karate!" Angga bergeser ambil tempat di samping Gina. Anak itu cepat manja pada Gina yang dia anggap cocok jadi panutan. Gina beri kesan melindungi ketimbang Gani yang agak kemayu.
"Gimana kalau malam Minggu nanti kakak nginap sini? Pulang dari kantor kakak langsung ke sini!"
"Kakak tak bohong kan?" Angga meneliti wajah Gina dengan bola mata bening. Mata Angga tak langsung terima pernyataan Gina yang dia nggap gagal penuhi janji pada jumpa pertama.
"Insyaallah kakak akan datang bersama kak Gani!"
"Janji ya!" Angga keluarkan tangan mau high five dengan Gina. Gina tak menolak menerima tepukan tangan dari lajang kecil itu. Terlihat Angga puas Gina beri janji untuk kedua kali. Semoga gadis itu tak ingkar lagi.
Pak Julio dan isterinya tersenyum senang adanya interaksi antara saudara sepupu itu. Makin sering jumpa akan terbangun chemistry antara saudara itu. Gani dan Gina pantas jadi panutan karena mereka berdua reputasi cukup baik di kantor Kevin walaupun Gina selalu beri kesan cuek pada lingkungan.
__ADS_1