
Gina mendesah ketakutan karena keberadaannya terkuak. Gina takut hal ini akan bawa dampak negatif pada Gani. Gimanapun Gina tak tega menyebabkan Gani dipecat oleh Kevin gara-gara dia.
Gina cepat-cepat menyelesaikan masalah mobil Kevin lantas mengantar mobil itu ke perusahaan Kevin. Gina meninggalkan kunci kepada satpam tanpa masuk ke dalam kantor karena takut nanti pegawai dalam kantor akan mengenalinya. Satpam saja terasa seperti mengenal Gina tetapi tidak berani bertanya. Kalau bukan karena tanggung jawab sumpah mati Gina tidak ingin menginjak kaki di kantor itu lagi.
Semoga ini terakhir kali Gina menginjak kantor Kevin. Gina segera kembali ke bengkel menggunakan ojek online. Masalah selanjutnya biarlah ditangani oleh om Sabri karena Gina tidak ingin bertemu dengan Kevin lagi.
Dalam sejarah hidup Gina tak pernah takut ini. Gina yang tidak takut apa-apa akhirnya bertekuk lutut juga kepada Kevin. Gina bukannya takut kepada Kevin melainkan takut Gani dipecat oleh Kevin. Gina tak bisa membayangkan betapa kecewanya Gani bila dikeluarkan hanya gara-gara keteledoran Gina berjumpa dengan Kevin.
Sesampai di bengkel Gina langsung menelepon nih Gani untuk mengabarkan bahwa dia telah bertemu dengan Kevin di jalan. Paling tidak Gani bisa mempersiapkan mental untuk bicara dengan Kevin bila ditanya masalah ini.
"Assalamualaikum..." sapa Gina begitu terhubung dengan Gani.
"Waalaikumsalam... ada apa Rambo? Mau suruh aku cuci piring pada jam gini? Tunggu aku pulang dari kantor pasti kucuci."
"Bukan itu.." Gina ragu untuk lanjutkan kalimat takut saudaranya syok bila tahu Gina telah bertemu Kevin.
"Lalu apa? Pingin kerja di sini?"
"Amit-amit dah! Maafkan aku Gan! Tadi aku jumpa pak Peter dan pak Kevin. Ntah mereka kenali aku atau tidak."
"What??? Kau dengan rambut ekor kuda kamu?"
"Nampaknya iya..."
"Kok nampaknya iya? Yang tegas dong! Biasa lempang kayak tiang listrik kini kok belokan?"
Gina menelan air ludah merasa bersalah pada Gani. Masalah yang ditimbulkan pasti tidak kecil. Taruhannya posisi Gani.
"Mereka ada tanya apa aku ini Gino. Aku bohong bilang tidak. Aku tak tahu mereka percaya atau tidak. Kamu jaga ibu baik-baik ya! Aku mau ke Dubai jadi TKW saja."
"Ngawur...ini bukan salahmu! Aku yang salah telah libatkan kamu dalam urusan aku. Kita hadapi saja! Paling aku akan cari kerja di kantor lain. Tenang saja! Aku abang wajib jaga adik sendiri." ujar Gani sok kuat padahal dalam hati hancur total. Namun gimanapun Gani tak bisa salahkan Gina. Dia sudah lakukan yang terbaik untuk Gani.
"Iya...maafkan aku tak hati-hati! Aku kan hanya laksanakan perintah om Sabri."
"Huusss...maaf terus! Nanti senjata Rambo jatuh akibat banyak tembak peluru maaf. Kita tunggu reaksi bos Kevin. Kau tetap santai saja."
"Oya...mobil pak Kevin sudah kuserahkan pada satpam. Urusan ongkos biar sama Om Sabri. Mobil om Sabri kamu atur saja kembalikan ke bengkel."
"Ok..ntar ku tenteng!" canda Gani supaya Gina tidak galau.
"Kurangi gaya bebek jjs sore baru kuat. Angkat bantal saja tak sanggup mau tenteng mobil. Sok amat!"
"Aku akan rajin angkat besi saingi kamu. Kau lihat saja aku rebut posisimu sebagai preman kampung. Nanti panggil aku kapten Indonesia."
"Apa bukan wonder woman?" ejek Gina kurang yakin Gani mau berubah.
"Isshhh...menghina sekali. Kamu tunggu saja!"
"Aku tak sabar tunggu hati itu tiba. Asal jangan sampai hari kiamat saja ya! Keburu ko'it."
"Eh punya mulut jangan cuma tempat disinggahi lipstik! Di bawa kuliah dikit!"
"Kapan aku pakai lipstik? Apa bukan kamu yang doyan dandan? Salah sasaran bro! Sudah ach.. kerja aku masih banyak! Assalamualaikum..."
"Waalaikumsalam..."
__ADS_1
Gina menutup ponsel masih gundah. Gani memang ngomong siap menyerah tapi faktanya belum tentu begitu. Gani omong gitu tentu saja untuk menyenangkan Gina agar jangan terbebani oleh rasa bersalah pada Gani.
Gina percaya kalau rezeki itu takkan tertukar bila memang Allah hendaki. Gina berusaha lupakan kejadian tadi dengan menyibukkan diri mobil-mobil sakit. Selepas ini masih tugas lain beri les privat pada anak-anak SD.
Lepas siang Kevin dan Peter baru kembali dari kantor Pak Julio. Keduanya bergembira karena pak Julio percayakan proyek ini pada mereka dengan catatan Gino harus ikut dalam proyek ini.
Tanpa pikir panjang Kevin langsung sanggupi permintaan Pak Julio. Kevin yakin punya cara paksa Gina kembali ke perusahaan. Paling Kevin mengalah rendahkan diri memohon pada Gina untuk tinggal di sisinya. Ini untuk pengobatan dirinya juga untuk proyek impian Peter. Kevin keluarkan dana dan Peter pelaksana. Mereka saling memberi dan mengisi.
Kevin dan Peter bukan bahas proyek melainkan cara rekrut Gina. Kedua laki itu harus susun rencana jitu jebak Gina mati langkah. Kaki anak itu harus dirantai di kantor Kevin. Sekarang tinggal pikir jalan terbaik serta manjur.
Kevin duduk termenung memikirkan Gina yang ternyata bukan cowok. Hati Kevin lega karena yang menarik perhatiannya bukan cowok melainkan anak gadis. Artinya dia tak punya kelainan jiwa. Dia masih laki normal suka pada wanita. Bukan lelaki abnormal jeruk makan jeruk.
"Anak itu sungguh cantik. Tanpa polesan kosmetik dia sudah menarik. Cuma kulit wajahnya kusam tanpa perawatan. Dipoles dikit pasti luar biasa." gumam Peter sama hal dengan Kevin masih ingat pada Gina.
"Kata Gani dia itu kasar tak bisa ramah. Gani takut setengah mati padanya."
"Kasar tapi tetap sopan. Kasarnya ada aturan. Mungkin dia hanya lindungi diri dari lingkungan. Kita panggil Gani tanya kebenaran soal Gina. Jangan tekan Gani biar dia jujur!"
"Aku ragu Gani mau jujur pada kita. Dia pasti akan lindungi cewek itu."
"Kita coba saja! Perlahan tak usah cari kesalahan dia dulu berikan cewek sebagai pengganti dia selama liburan."
Kevin hanya bisa mengangguk setuju pada rencana Peter mulai dari Gani cari tahu soal Gina.
"Panggil dia!"
Gani sudah tahu tak mungkin hindari masalah ini. Cepat atau lambat dia harus berhadapan dengan Kevin tentang penipuan yang telah dia lakukan. Gani tegakkan badan maju jumpa dengan bos untuk tanggung jawab semua sandiwaranya.
Gani busungkan dada siap jawab semua tuduhan Kevin. Memang dia yang salah telah minta Gina menyamar jadi laki. Bukan salah Gina sedikitpun.
Gani berusaha sok kuat padahal dalam hati sudah menangis Bombay. Lagu sayonara mengalun dalam dada melambai pada kantor ini.
"Kau ada penjelasan mengenai Gino?" tanya Peter dingin biar Gani kena skak mental mau bicara jujur.
"Aku yang salah pak! Aku egois mementingkan diri sendiri sampai berani ajak adik kembar aku bersandiwara." kata Gani gagah tak tutupi kebenaran.
"Gino adik kembar kamu?" seru Kevin kaget.
"Dia itu Gina preman kampung kami. Aslinya dia seorang anak cewek. Karena takut dipecat maka aku meminta Gina menyamar menjadi Gino untuk membantu aku selama 10 hari. Kalau aku minta izin tanpa memberi pengganti takutnya bapak akan pecat aku maka mengalirlah sandiwara ini! Gina sama sekali tidak bersalah karena aku yang memaksanya untuk bersandiwara. Mohon maafkan aku!" Gani bungkukkan badan mohon ampun.
"Mengapa dia harus nyamar jadi laki? Kau kan bisa rekom dia secara jujur. Kurasa aku bisa terima asal dia tidak bawa masalah." tukas Kevin.
"Aku suruh dia nyamar karena kulihat bapak kurang suka ada cewek di sekeliling bapak. Takutnya bapak akan menolak dia bila tahu dia seorang cewek. Maafkan aku pak! Aku siap tanggung semua resiko."
Kevin sengaja tak segera jawab untuk kasih pelajaran pada Gani yang berani berbohong demi keegoisan sendiri. Ntah kenapa Kevin lega sekali dengar Gina memang cewek tulen. Seperti Gina adalah bintang timur akan bawa cahaya terang buat Kevin.
"Kau tahu sekarang Gina telah buat masalah besar. Dia harus tanggung jawab untuk semua ini."
Mata Gani terbelalak besar dengar Gina telah bawa masalah buat kantor. Ini bukan permainan sederhana lagi bila sudah bawa bendera kantor. Bukan cuma Gani kena imbas tapi seluruh karyawan.
"Apa salahnya pak? Di hajar klien cabul?" tanya Gani panik. Dalam pikiran Gani hanyalah Gina main tangan.
Peter kasihan juga pada Gani sepanik gitu. Padahal Gina tak buat kesalahan apapun cuma Pak Julio suka pada Gina sampai percaya seratus persen pada gadis itu. Apa mungkin Pak Julio sudah tahu Gina itu cewek.
"Kau tahu kita baru teken kontrak kerja dengan perusahaan besar. Harus ada Gina di sini pak Julio baru mau serahkan kontrak kerja buat kita. Kau mau tanggung jawab bawa Gina balik sini?"
__ADS_1
Gani meringis tak tahu harus jawab apa. Untunglah Gina tidak mengacaukan perusahaan. Ada orang suka pada kinerja Gina tentu saja bukan salah anak itu. Masalahnya gimana bujuk anak itu mau masuk kantor.
"Ini..." Gani bingung sendiri.
"Kau ragu? Apa dia demikian menakutkan?" tanya Peter coba bantu Gani.
"Dia itu monster. Yang bisa kunci dia cuma ibu dan Om Sabri. Tak ada yang dia takuti selain Tuhan dan ibuku."
Peter mau ketawa lagi lihat betapa trauma Gani pada Gina. Pantesan dulu mereka lihat Gina gampang saja jahili Gani.
"Dia kan adikmu...masa takut sama adik sendiri."
Mata Gani beralih pada Peter. Gani tak bisa sembunyikan rasa segan pada Gina. Kadang salahnya sendiri bikin Gina marah. Gani suka berdandan cewek maka Gina selalu emosi lihat saudara lakinya kemayu.
"Kadang aku yang pancing emosinya. Jujur aku tak tahu harus bagaimana. Kalau boleh bapak minta tolong pada ibuku atau om Sabri. Dia hanya patuh pada mereka berdua."
"Ayahmu mana? Kok om?"
"Kami tak punya ayah. Om Sabri pengganti ayah kami. Om Sabri yang punya bengkel tempat Gina bekerja. Gina itu kerjanya serabutan. Ngajar karate, ngajar les kadang ngajar ngaji di mushalla wanita. Pekerjaan utamanya ya di bengkel."
Peter dan Kevin melongo mendengar pekerjaan Gina yang jauh dari bayangan mereka. Masak seorang anak gadis kerjanya di bengkel. Pekerjaan utama pula. Benar-benar wonder woman abad kekinian.
"Dia sarjana kan?"
"Iya pak! Dia punya dua gelar sarjana. Tapi dia tak pernah pakai titel sarjananya. Dia pilih jadi preman kampung."
Kevin merasa dadanya sesak kenal seorang anak muda cantik ternyata seorang cewek. Punya jalan hidup kacau. Dikasih jalan mulus tapi tak mau, justru pilih jalan menyimpang.
"Aku bisa gila ingat adikmu itu. Kasih alamat rumahmu biar aku jumpa ibumu." ujar Kevin coba cari solusi sendiri karena merasa Gani tak banyak bantu bawa Gina ke sisinya.
"Siap pak! Oya satu lagi... dia selalu bercita-cita beli rumah untuk ibu jualan. Rumah yang kami tempati masih nyicil sama pak haji. Mungkin bapak bisa tekan Gina dengan cara ini. Caranya terserah bapak. Jangan bilang aku yang lapor! Nanti kepalaku tak utuh lagi."
"Sudah biar kupikirkan! Kamu tak usah bicara dengan adikmu dulu. Pura-pura tak tahu apa-apa."
"Iya pak. Maafkan aku sekali lagi! Aku tak sangka Gina bawa masalah. Aku yang salah kok!"
"Kali ini ku maafkan! Lain kali harus jujur apapun masalahnya. Sekarang balik kerja."
"Terimakasih pak! Tak ada lain kali. Aku kapok pak!" Gani tak ingin hal ini terulang lagi. Betapa mengerikan bila terjebak masalah. Mereka hidup dalam kejujuran jauh dari masalah. Mereka orang miskin tak ada yang bisa ditampilkan selain kejujuran.
Gani meninggalkan ruang kerja Kevin dengan pikiran tak tentu. Sudah selesai hadapi Kevin kini harus hadapi adiknya yang jagoan itu. Gani tak mampu bawa Gina pada Kevin. Harapan mereka hanya pada Bu Sarah. Semoga Bu Sarah punya cara paksa Gina kerja di kantor Kevin walau itu menyalahi sifat Gina.
Kepala Kevin terasa pusing dibuat oleh Gina. Anak itu sungguh luar biasa kelabui dia sampai sepuluh hari. Parahnya Kevin pernah telanjang bulat di depan Gina sewaktu di hotel di kota M. Memalukan telanjang di depan anak gadis. Seumur gini Kevin belum pernah dekat dengan wanita akibat penyakitnya. Gina lah wanita pertama tidur dengan dirinya.
Kevin tak bisa bayangkan seberapa hancur nama baik Gina bila tersiar dia pernah tidur seranjang dengan seorang pria dewasa. Itu memang bukan karena nafsu melainkan ketidak kesengajaan.
"Kita jumpa ibunya Gani tak boleh ada Gina baru bisa atur strategis. Kita harus jaga Gani jangan sampai bonyok dihajar adiknya itu." ujar Kevin mulai pikir cara bujuk Bu Sarah dukung dia untuk merekrut Gina.
"Kita minta Gani atur jumpa ibunya di luar. Di rumah sangat rawan ketahuan. Kau sudah boleh coba dekati cewek untuk test kejiwaan kamu. Kita lihat kamu tak punya imun terhadap Gina tidak!" kata Peter teringat penyakit sahabatnya.
"Baik..kita coba melalui Lucia. Aku tak bisa dekat dengan sembarangan orang. Jantungku belum bisa terima kehadiran orang asing!"
"Gimana kasus Lucia? Sudah ketahuan penyebar video mesum ibunya?"
"Sejauh ini dia diam saja! Kurasa dia sudah tahu siapa penyebar namun pilih bungkam. Orang itu pasti bukan orang jauh. Kalau tidak dari mana semua foto jadul Bu Angela."
__ADS_1