JALAN MENUJU CINTA

JALAN MENUJU CINTA
Monster Sakit


__ADS_3

Kevin memegangi tangan Gina dengan super hati-hati takut gadis ini terserang pusing sehingga mendadak jatuh. Gina justru merasa tidak nyaman diperlakukan seperti seorang cacat. Gina sudah terbiasa hidup mandiri merasa sangat tidak nyaman diperlakukan seperti orang lumpuh.


Om Sabri hanya memperhatikan interaksi kedua anak muda itu tanpa berkata apapun. Sekarang Gina sudah ada yang jaga walaupun penjaganya tidak bisa diandalkan. Paling tidak Kevin sudah berusaha menjadi seorang lelaki sejati merawat asistennya yang sedang sakit.


"Aku bisa berjalan sendiri Pak!" Gina menolak perhatian berlebihan dari Kevin.


"Kamu baru sadar dari demam tinggi. Apa kamu tidak merasa pusing?" Kevin kembali perlihatkan rasa kuatir kepada Gina.


Gina menggeleng dua kali lalu ngeloyor keluar dari kamar Gani menuju ke kamar mandi. Kevin tetap ikut dari belakang tak memaksa Gina untuk tetap berada dalam kawalan dia.


Om Sabri hanya diam saja biarkan keduanya melakukan apa yang pantas dilakukan. Selamanya kedua tidak melampaui batas om Sabri tidak akan lakukan tindakan represif.


Kevin menunggu Gina agak jauh dari pintu kamar mandi. Kevin masih tahu batasan untuk tak melukai harga Gina sebagai anak gadis.


Gina orangnya praktis tak butuh waktu lama untuk membersihkan sisa muka bantal. Badannya sudah agak segar walau belum fit sepenuhnya.


Kevin tersenyum melihat Gina sudah lebih baik dari sebelumnya. Di sini mereka tak ubah seperti pasangan lain tanpa ingat status Kevin sebagai bos. Tak ada atasan dan majikan di malam ini.


"Enakan?" tanya Kevin


Gina mengangguk pasti sudah merasa hampir pulih seratus persen. Tiduran terus bukanlah jalan menuju kesembuhan melainkan makin sakit karena tubuh tidak digerakkan.


"Ayok kita makan dulu baru minum obat!"


"Bapak sudah makan?"


"Sudah bersama orang tua kamu. Ini sudah malam. Cepat makan!"


Tak usah disuruh dua kali Gina berjalan ke ruang makan dekat dapur. Di meja masih terhidang makanan untuk Gina walau sudah agak dingin. Bu Sarah dan Gani segera temui Gina begitu tahu Gina sudah bangun. Rasa cemas akan kesehatan Gina tampak terukir di wajah orang itu.


Gani paling sibuk kalau Gina sakit. Tanpa gadis itu dia harus borong semua kerja di rumah. Harganya sebagai manager terbanting murah. Masak manager harus cuci piring kotor dan bantu masak di dapur. Maka itu Gani tak rela Gina terkapar sakit. Imbasnya ke dia.


"Aduh tuan Puteri terjelek sedunia! Betah amat sakit! Monster bisa juga sakit." ejek Gani sengaja pancing emosi Gina biar panas.


"Monster juga makhluk Tuhan! Aku mau sakit sebulan. Kata dokter tak boleh kena air selama sebulan. Kalau tidak lukanya lama sembuh." kata Gina balas ejekan Gani.


Kalau sebulan tak boleh sentuh air berarti selama itu Gani harus gantiin dia bekerja bantu ibu di dapur. Bisa mati berdiri cowok kemayu itu.


"Dokter gila dari mana bilang gitu? Tadi Indy ada datang kok tak bilang gitu. Karangan kamu saja!"


"Indy dokter umum. Aku berobat sama dokter spesialis. Yang sabar ya boy!" Gina mencolek perut Gani sambil lalu. Gani menangkap tangan Gina lalu mencubit tangan jahil itu dengan gemas. Katanya sakit tapi masih juga usil.


Bu Sarah tersenyum malu pada Kevin yang bingung lihat kedua saudara kembar saling ejek. Pemandangan ini sudah biasa di rumah. Tapi mungkin Kevin belum biasa lihat keduanya kumat penyakit jiwa.


"Sudahlah! Gina makan dulu. Apa kalian tak capek asyik berantem?" tegur Bu Sarah melerai keduanya.

__ADS_1


Gina tertawa tak pengaruh omongan ibunya. Berantem dengan Gani jadi keharusan. Sehari tak berantem makan pun terasa tak enak. Apalagi ini pas waktu makan. Mungkin nasinya akan lebih nikmat ditambah omelan Gani.


Bu Sarah mengambilkan nasi untuk Gina diiringi tatapan iri Kevin. Betapa nikmat hidup Gina dan Gani. Tidak kaya tapi memiliki surga dunia yakni kasih sayang tulus dari seorang ibu.


Gina menarik kursi tepat di depan piring nasi diletakkan oleh Bu Sarah. Bau nasi panas tercium lewati hidung Gina. Perutnya terasa menggigil minta segera disuapi dengan nasi hangat dan lauk pauk lezat.


Gina menyendok sayuran tanpa malu-malu lagi. Piara sifat malu hanya bikin perut sengsara. Gina tak mau jadi orang sok jaim siksa fisik sendiri. Yang penting perutnya happy. Gadis ini melahap hidangan di atas meja tak peduli pandangan mata yang lain. Mereka terpancing selera itu urusan mereka.


Kevin saja suka lihat cara Gina makan tak tutupi diri dengan gaya sok manis. Dia tampil apa adanya tanpa takut Kevin lihat sisi buruknya.


"Mami piara napi ya! Rakus amat!" Gani kembali bikin ulah pancing suasana hangat biar tidak beku.


"Huuusss mulut dijaga! Gina kan baru sembuh sakit maka lapar. Diam saja kamu!" kata Bu Sarah tak enak karena Kevin di situ keduanya asyik beradu mulut.


"Ibu kayak tak tahu gimana mulut bebek! Kwek Kwek tak jelas. Potong saja untuk menu besok siang. Masak bebek panggang!" sahut Gina santai tidak nyir-nyiran kayak Gani. Kevin tersenyum melihat Gani melengos dengan genit tinggalkan ruang makan. Sudah K O anak itu lawan monster. Bebek mau lawan monster mana bisa unggul.


"Kalau sudah siap makan langsung minum obat ya! Tuh sudah dibeliin oleh Gani!" Bu Sarah meletakkan satu bungkusan di atas meja lalu meninggalkan ruang makan beri kesempatan pada Kevin dan Gina ngobrol. Bu Sarah pernah muda tahu sedikit keinginan anak muda tak mau diganggu oleh orang tua macam dia. Bu Sarah sudah kadaluarsa untuk ikut dalam bincangan anak muda.


Kevin menarik kursi dekat Gina tanpa rasa segan lagi. Mereka sudah cukup akrab. Duduk lebih dekat mungkin takkan lukai kulit Gina yang tebal.


"Keluarga kamu lucu! Kedua orang tua kalian sayang pada kalian!" uajr Kevin tak bisa sembunyikan rasa iri. Boleh iri asal jangan dengki saja.


"Kalau kami tak saling lindungi siapa akan lindungi kami lagi? Om Sabri adalah segalanya buat kami! Dia ayah terbaik di seluruh kulit bumi ini. Tanpa dia kami ntah sudah jadi apa! Dia berjuang bersama ibu besarkan kami tanpa menuntut apapun."


"Aku bisa melihat pancaran sinar matanya pada kalian. Dia ingin lindungi kalian dari siapa pun yang ingin berbuat jahat. Termasuk aku! Dia belum percaya sepenuhnya padaku!"


"Aku tahu maka itu aku percaya sepenuhnya pada ayah." Gina akhiri makan lalu minum obat yang sudah disediakan oleh Bu Sarah. Semoga saja obat ini berkah buat kesehatan Gina. Gina tak bisa lama-lama berdiam diri karena setiap detik terbuang sama saja buang uang.


"Besok kau tak usah masuk kantor! Istirahat di rumah saja!"


"Tapi Peter itu berbahaya!"


"Kamu tenang saja! Kalau dia mau langsung bunuh aku mungkin sudah dari dulu. Dia belum dapat apa yang dia ingin kan maka dia takkan berubah anarkis! Aku punya rencana lebih baik ingin mop mentalnya."


Gina menopang dagu dengan kedua tangan bertumpu pada meja mau tahu apa rencana Kevin pukul mental Peter. Kevin bukan orang bodoh walaupun fisik agak lemah. Kalau dilihat dari postur tubuh seharusnya Kevin adalah lelaki kuat. Sayang trauma masa lalu telah merebut kejayaan Kevin sebagai lelaki macho.


"Rencana apa?"


"Aku akan panggil! pengacara untuk bikin surat wasiat bahwa kalau umurku pendek maka perusahaan akan dikelola oleh kamu lalu keuntungan berikan pada yayasan anak yatim piatu. Apa pendapatmu?"


Gina menggeleng tak setuju. Tindakan Kevin sama saja langsung tunjuk Peter adalah orang bermasalah. Peter pasti akan ngerti Kevin sudah berhasil bongkar kebusukan dia.


"Tak boleh gitu! Harusnya bapak bilang gini! Aku merasa sakit-sakitan dan tak tahu kapan ajal akan menjemput. Perusahaan ini hanya titipan Allah maka itu aku akan kembalikan ke Allah bila ajalku tiba kelak. Semua aset akan dijual untuk disumbangkan ke anak yatim piatu. Dengan demikian bapak tidak libatkan siapapun selain Allah."


Kevin merenungi kata-kata Gina yang jauh lebih bijak daripada dirinya. Kini Kevin mulai meragukan usia Gina yang sebenarnya. Orangnya masih muda tapi pola pikirnya seperti seorang nenek-nenek berusia lanjut.

__ADS_1


"Baiklah! Aku akan lakukan apa yang kau katakan! Aku makin tak bisa jauh dari kamu! Kayaknya aku harus berbuat sesuatu untuk buat kamu tak bisa jauh dari aku!" ujar Kevin menggoda Gina.


Gina tidak terpengaruh apalagi ge er dianggap penting oleh Kevin. Gina bukan orang bodoh cepat terlena. Untuk sementara ini Kevin hanya bisa berteman dekat dengan seorang wanita yakni dirinya. Kevin tak punya pilihan lain selain dekat dengannya. Gina yakin itu bukan keluar dari lubuk hati melainkan kebutuhan. Gina tak mau terperangkap dalam pesona yang belum tentu miliknya.


"Cara gombal sangat buruk! Bapak harus belajar lagi! Coba belajar sama Gani cara gombal cewek!"


"Dari mana kamu tahu aku ini payah bergombal. Emang sudah berapa banyak laki gombalin kamu?" kata Kevin dengan wajah masam tak suka wanita pertama dia disukai laki lain.


"Hampir cowok satu kampung pernah gombal aku! Ada yang masuk rumah sakit..ada yang ke dokter gigi pasang gigi palsu bahkan ada yang ke dukun patah tulang akibat leher patah. Bapak boleh pilih mau diantar ke mana!"


Kevin bergidik sambil meraba tengkuk kena hajaran tangan Gina. Mati kagak sengsara seumur hidup.


"Sadis amat jadi cewek! Siapa berani jadi pacar kamu?" sungut Kevin ngeri mau lanjut gombal. Nanti beneran dihajar Gina sampai nginap di rumah sakit. Cewek tak dapat malah bonyok.


"Pacaran? Masih belum terpikir...dalam hukum agama Islam tak ada istilah pacaran. Yang ada ta'aruf..."


"Kalau tak pacaran bagaimana kita bisa kenal sifat pasangan kita. Masak begitu kenal langsung nikah. Bahagia kagak yang ada berantem terus."


"Ta'aruf itu bertujuan hindari fitnah buat pasangan muda. Ta'aruf juga tak boleh terlalu lama karena akan timbul hawa nafsu di antara anak muda. Bagusnya menikah dan pacaran dalam pernikahan."


"Aku tak sependapat...setelah menikah baru ketahuan belangnya sudah susah mundur. Aku pilih pacaran saling mengenal dalam batas sopan. Aku tak mau kawin cerai dalam hidup ini. Cukup satu isteri sampai mati."


Gina angguk-angguk salut pada tekat Kevin tidak poligami. Sudah jarang lelaki berani angkat janji setia seumur hidup. Jumpa wanita lebih menarik hati diremas-remas pingin rasakan harum tubuh wanita baru. Lidah itu tak bertulang, bisa meliuk sesuai keinginan hati. Sekarang bilang A lusa bisa loncat ke Z. Gina sudah dapat pelajaran berharga dari bapak kandungnya juga bapak Kevin. Keduanya terbius oleh hawa nafsu sampai tega terlantarkan anak isteri.


"Berbahagialah calon isteri bapak kelak." hanya itu yang bisa dikatakan oleh Gina. Sesuka hati Kevin berjanji tapi di hari kemudian siapa tahu akan terjadi perubahan. Yang pasti Gina tak mau dibodohi oleh perasaan semu.


"Kau tak mau coba?" olok Kevin.


"Coba rasa apa? Strawberry atau coklat? Aku lebih suka rasa buah pare. Pahit tapi menyehatkan."


Kevin menyipitkan mata merasa lucu jawaban Gina. Itu tak menjawab pertanyaannya. Gina berkesan hindari bicara soal perasaan hati. Kevin sendiri tak tahu perasaan sesungguhnya pada Gina. Dia hanya tahu dia butuh Gina untuk melanjutkan hidup.


Gina tak berlarut ngobrol hal tak penting. Gadis ini angkat piring ke belakang dapur untuk bersihkan piring bekas makan dia. Kevin dibiarkan duduk melamun sendirian di ruang makan. Gina harus pintar menata hati agar tidak tergoda pada semua rayuan Kevin. Semua yang ada pada Kevin memang membius para gadis. Siapa tak ingin jadi ratu dari seorang cowok keren dan kaya raya.


Selesai cuci piring Gina keluar dari ruang makan diikuti Kevin yang tak tahu harus kerja apa setelah ini. Di rumah ini dia hanya tamu, keliaran tanpa izin tuan rumah. Kevin juga tak bisa bergerak bebas karena ruangan di rumah Gina hanya seupil.


Mereka kembali ke ruang tamu di mana sudah ada om Sabri dan dua pemuda kampung yang sangat dikenal Gina. Mereka tersenyum melihat monster kampung akhirnya dikalahkan. Mereka bukannya prihatin melainkan senang Gina bisa juga terluka. Gina terlalu kokoh sulit ditaklukan, sekarang kena batunya.


"Perlu sumbangan pengobatan?" tanya Jay Abang Teo. Laki itu suka melihat Gina nyengir kuda.


"Simpan saja untuk kamu nanti! Satu tangan cukup rontokkan gigi preman ompong!"


Jay dan Hadi tertawa ngakak. Kayaknya otak Gina sudah terendam air. Preman sudah omong mau dirontokkan gigi. Sudah omong dari mana datang gigi lagi.


"Preman ompong sedang kumpul duit pasang gigi palsu buat kamu rontokkan. Berapa jahitan?" tanya Jay mengarah pada balutan kain perban di tangan Gina.

__ADS_1


"Angka hoki. Delapan jahitan. Kenapa? Mau merasakan jahitan juga? Dengan senang hati aku bantu kamu rasakan jahitan."


"Untuk sementara tak perlu. Duduk Gin! Om mau omong!" Jay menunjuk tempat di sampingnya untuk Gina. Preman insaf tak sadar kalau di ruangan itu ada tamu penting harus diutamakan.


__ADS_2