
Pikiran Kevin kini melayang kepada Peter yang menginap di kantor polisi. Kevin bisa membayangkan betapa ketakutannya Peter berhadapan dengan hukum. Mengapa rasa takut itu tidak dia letakkan sebelum melakukan kejahatan berlapis-lapis. Kevin harus memikirkan cara menghindar dari rengekan Peter minta dibebaskan. Sudah waktunya Peter nikmati hasil kenakalan dia. Terpesona pada seorang wanita usia jauh lebih tua darinya. Akibatnya sungguh fatal.
Namun Kevin tidak bisa pura-pura tak tahu telah terjadi penangkapan terhadap Peter. Dia tetap harus datangi Peter untuk sekedar tunjuk rasa simpati tapi tak punya daya bantu dia lolos dari jeratan hukum. Kevin harus bermain cantik agar tidak disalahkan oleh keluarga Peter yang merupakan saudara dari mamanya.
Lamunan Kevin terhenti tak kalah satu sosok cantik telah keluar dari kamar mandi dengan rambut basah. Gina begitu fresh menggoda iman Kevin untuk ulangi moment indah yang telah berlangsung semalam. Kevin oke saja kalau diajak mengulang pertarungan semalam.
Gina mengeringkan rambut pakai handuk menggosok kain lembut itu ke sana kemari di atas kepala. Gina tak sadar kalau gerakannya begitu mempesona membetot sukma Kevin.
Rasanya di dunia ini tak ada wanita secantik istrinya. Untuk saat ini Gina is the best buat Kevin. Tetapi kelak siapa tahu apa yang akan terjadi. Bisa jadi Kevin terjerumus pada pesona wanita lain di saat puber kedua nanti. Kejadian ini sering terjadi di masa pernikahan berjalan cukup lama. Ada kejenuhan membangkitkan niat cari udara segar maka timbul perselingkuhan.
Gina hentikan gerakan berhubung Kevin tak bergeming dari tempat tidur. Apa suaminya berniat lewatkan sholat subuh pagi ini? Gina tak terima bila punya suami malas tak mau kenal agama. Gimana mau didik anak istri bila dia sendiri tak becus mendidik iman sendiri.
"Tuan Kevin mau minta dimandikan sama Mai?"
Kevin pasang senyum paling manis turunkan kepala angguk setuju usulan Gina. Tujuan Kevin hanya ingin goda Gina yang Eri saran di luar nalar sehat. Mana mungkin Gina ijinkan wanita lain sentuh tubuh suaminya. Dia sendiri saja belum habis menyentuh tubuh Kevin. Baru sebatas daerah tertentu yang terjangkau oleh tangan. Kalau dimandikan barulah menyentuh seluruh tubuh Kevin dari atas sampai ke bawah termasuk daerah paling rahasia di tubuh laki itu.
Mustahil Gina mengizinkan wanita lain menyentuh dia. Salah Gina sendiri mengapa mengusulkan usulan konyol. Kevin hanya melengkapi saran Gina biar ada candaan subuh. Pagi yang diwarnai keceriaan pasti akan berlanjut gembira sampai akhir.
"Bagus...aku kan minta Mai sikat tubuh Abang pakai sikat WC. Biar bersih sebersihnya. Lalu tak usah mandi-mandi lagi karena kulit Abang akan terkelupas semuanya." ujar Gina santai membuat Kevin merinding. Bisa dibayangkan betapa pedih disikat pakai sikat WC yang tajam berduri. Bukan nikmati mandi malahan sengsara.
"Tak usah manis... abang mandi sendiri saja. Tunggu Abang ya! Kita sholat barengan." Kevin menarik tubuh dari ranjang berjalan gontai ke kamar mandi.
Gina mendengus merasa menang. Tak perlu tarik urat untuk paksa Kevin segera mandi nujub. Pertanyaannya apa Kevin tahu baca doa mandi besar serta tata pelaksana. Gina akan mengajar Kevin lakukan banyak hal berhubungan dengan agama.
Gina tidak menyalahkan Kevin yang tidak begitu kenal agama karena lelaki ini tidak ada yang membimbing selain si bibik. Masih untung laki itu tidak terjerumus hal maksiat yang akan menutup rezeki seseorang.
Pas adzan selesai Kevin sudah siap mandi hanya gunakan handuk tutupi daerah vital. Tanpa disuruh Gina mengambilkan suaminya pakaian untuk bisa dirikan sholat bersama. Kevin hanya diam biarkan Gina melayani dia. Sebagai istri Gina wajib ladeni semua kebutuhan Kevin untuk tunjuk bakti seorang istri.
Kevin merasakan betapa nikmatnya memiliki seorang istri yang memahami dirinya. Gina tidak pernah lalai mengurusnya walaupun sibuk dengan pekerjaan. Di mana lagi Kevin akan mendapat istri sebaik Gina. Pasang lampu sorot ribuan Watt belum tentu akan cari wanita seperti Gina.
Banyak bicara keduanya segera melaksanakan sholat mengejar waktu yang hampir habis. Kevin bertindak sebagai imam bagi Gina. Sholat dua rakaat selesai dilanjut baca ayat Al Qur'an oleh Gina. Kevin yang kurang ngerti huruf-huruf hijaiyah terpaksa hanya menunggu istrinya selesai mengumandangkan ayat-ayat suci.
Selesai baca ayat Gina tak segera keluar kamar melainkan duduk di samping Kevin di tas ranjang. Kalau begini tempat paling menyenangkan adalah tempat tidur. Bisa pelukan mesra tanpa ada yang ganggu. Jika perlu lanjut ke tahap lebih intim saling berbagi peluh melayang ke awang-awang mencari nikmat duniawi.
Kevin merangkul pundak Gina agar makin dekat. Bau segar sampo di kepala Gina membelai hidung Kevin. Kevin tak malu-malu mencium ubun kepala Gina untuk meresapi bau harum dari badan istrinya. Betapa nikmat memiliki seorang istri bisa berbagi rasa juga merasakan kemulusan tubuh seorang wanita. Pantesan banyak lelaki tak sabaran ingin cepat-cepat memiliki seorang istri untuk menjadi pendamping hidup. Walaupun kadang ceritanya berakhir tragis. Seperti yang terjadi kepada papanya dan Subrata.
"Gin...Peter dan kelompoknya sudah dibawa ke kantor polisi oleh Ardi. Tengah malam Peter menelepon aku minta dibebaskan."
__ADS_1
Gina angkat kepala melihat wajah Kevin yang mendadak muram. Kevin pasti sedang menyesali perbuatan Peter yang berkhianat dari keluarganya. Harta dan wanita telah membutakan hati Peter sehingga tega melakukan kejahatan terhadap keluarga sendiri.
"Kok aku tak tahu?"
Kevin membelai pipi Gina sekedar iseng. Kevin tak tahu harus buang ke mana rasa kesal di dada. Kevin tak mungkin uring-uringan untuk menyalurkan rasa kesal.
"Kau tidur sangat nyenyak. Aku tak tega membangunkan kamu hanya untuk mendengar laporan dari Peter. Biarlah dia rasakan apa yang mesti dia rasakan. Berani berbuat harus berani bertanggung jawab." Kevin menatap lurus ke depan terbentur pada dinding tembok tanpa lukisan apapun. Di sana seperti ada bayangan Peter sedang menderita di kantor polisi. Itu harga yang harus dia bayar atas kejahatan dia.
"Abang tak ingin membebaskan dia?"
"Tidak... Peter sudah berkali-kali mengecewakan aku. Berani manipulasi obat aku lalu berbuat kejahatan terhadap papa. Aku memang tak suka kepada papa tapi tak mengharap terjadi sesuatu kepadanya."
Gina merasakan hal yang sama pada Subrata. Gina memang tak suka kepada papanya namun tak mengharap terjadi hal tak diinginkan kepada lelaki tua itu. Kevin dan Gina memiliki kisah yang hampir sama walaupun berbeda versi.
"Lantas apa yang abang akan lakukan?"
"Abang akan ke kantor polisi menjenguknya sebentar barulah ke kantor. Kamu langsung ke kantor bersama Gani dan Jay saja ya! Jangan pergi dengan motor rongsokan kamu lagi. Abang takut terjadi sesuatu kepadamu karena musuh sedang mengincar kita. Kau harus hati-hati di setiap langkah."
Gina menganggap nasehat Kevin adalah perhatian dari suami terhadap istri. Demi menyenangkan suaminya Gina memilih mengangguk menyetujui permintaan Kevin agar dia tidak pergi sendirian ke kantor. Gina tak mau menambah beban pikiran Kevin yang sudah cukup rumit. Biarlah Kevin hilangkan satu beban agar bisa menyambut beban lain.
"Maaf bang! Aku sudah janji pada pak Julio untuk main ke rumahnya. Tak enak rasanya ingkar janji lagi. Nanti Pak Julio tidak akan percaya kepadaku lagi karena selalu umbar janji tetapi tidak membayar."
"Baiklah..tapi janji cepat pulang ya! Abang akan pergi ke rumah lama kamu untuk melihat keadaan papa. Abang tak mungkin mengabaikan dia begitu saja bukan?"
"Ya bang... kita saling menguatkan untuk mencapai hasil terbaik."
"Terimakasih sayang!" Kevin mengecup pipi dan bibir Gina berulang kali sebagai tanda terima kasih Gina mau memahami posisinya.
Seusai makan pagi mereka berpisah menuju ke tempat kerja masing-masing. Kevin berangkat dengan mobil sendiri beri tugas kepada Jay dan Gani kawal Gina sampai ke kantor. Kevin tahu resiko Gina menjadi petinggi perusahaan. Pasti banyak tangan nakal berusaha menjatuhkan dia demi keuntungan pribadi.
Kevin menjalankan menuju ke kantor polisi untuk lihat kondisi Peter. Entah mengapa tak ada rasa iba terbit di hati Kevin walau saudaranya sedang dala kesulitan. Ini penyakit yang Peter undang sendiri. Padahal Kevin sudah berniat jauhkan Peter dari dirinya dengan berikan hotel untuk dikelola Peter. Bukannya sadar telah banyak lakukan kesalahan malah makin tenggelam dalam kejahatan.
Kevin sudah tak mampu angkat Peter dari kubangan dosa. Jalan satu-satunya adalah membiarkan laki itu merasakan bagaimana akibat dari perbuatannya. Kevin mau lihat Peter bisa sadar tidak setelah merasakan dinginnya tembok penjara.
Sebelum pergi ke kantor polisi Kevin sempatkan diri beli makanan kecil untuk Peter sekedar tunjuk rasa simpati. Kevin tak mungkin brutal abaikan Peter secara total. Paling tidak nampakkan sedikit rasa iba.
Kehadiran Kevin bisa buat langsung oleh Ardi yang sudah menunggunya. Suasana kantor polisi sepi saja tidak ada kegiatan seperti terjadinya ada kasus berat. Hanya ada satu dua polisi menekuni berkas kasus yang bakal mereka tangani. Kevin juga tak melihat adanya kelompok Peter di dalam kantor.
__ADS_1
Ardi bersikap ramah menyambut Kevin menyalami laki itu dengan wajah cerah. Tak ada gelagat terjadinya keributan di situ. Kevin menduga kalau keluarga Peter akan heboh di situ namun dugaan itu meleset. Tak ada kehadiran keluarga Peter di sekitar kantor polisi. Kevin cukup lega tak jumpa keluarga inti Peter.
"Ach pak Kevin... silahkan duduk!" Ardi persilahkan Kevin duduk di depan meja kerjanya. Mejanya sederhana tidak seperti meja kerja perusahaan yang elite. Hanya ada seperangkat komputer serta setumpuk file tergeletak di atasnya. Bahkan tak ada hiasan bunga ataupun foto keluarga.
"Di mana mereka?" Kevin tak menemukan Peter langsung bertanya.
"Oh ada...mereka sudah masuk sel sementara di belakang. Mereka terbukti lakukan kejahatan. Positif A 1."
Kevin mana ngerti kode sandi kepolisian hanya bisa manggut. Tak urung jantung Kevin berdegup sekejap membayangkan derita Peter terkurung dalam jeruji besi. Betapa nestapa berakhir di penjara.
"Apa yang harus kulakukan?"
"Tak ada...papa kamu akan dihadirkan bila sidang nanti. Kasus mereka akan lebih cepat masuk sidang dibanding dengan kasus isteri anda. mereka telah menjual mobil papa kamu. Uangnya sudah dikirim keluar negeri. Mereka berencana palsukan tanda tangan papa kamu untuk jual rumah. Sudah ada pembeli di bawah harga normal. Mereka akan diganjar oleh hukuman berlapis Karena melakukan beberapa tindakan kejahatan. Yang paling berat adalah Luna dan meja karena mereka turun tangan langsung. Saudara Peter hanya terbukti melakukan penganiayaan tanpa terlibat dalam pemalsuan dokumen. Kita lihat saja tuntutan hakim di sidang nanti." Ardi menjelaskan panjang lebar dipahami oleh Kevin.
Kevin sudah berjanji pada diri sendiri untuk tidak membantu salah satu di antara mereka termasuk Peter. Kalau tidak begini selamanya Peter tidak akan jera melakukan kesalahan. Ini sangat bagus latih mental Peter agar kembali ke jalan benar. Kalaupun sudah keluar dari penjara Kevin tidak akan mengijinkan Peter berada di sekitarnya untuk menghindari terulangnya kejadian sama.
"Apakah aku boleh jumpa Peter?"
"Tentu saja boleh. Sebenarnya Peter bisa bebas kalau papa kamu cabut tuntutan. Dia tidak ikutan menjual aset papa kamu maka hukuman tak seberat kedua wanita itu. Ayok kuantar ke belakang." Ardi meninggalkan kursi tempat dia melakukan pekerjaan mengembangkan setiap kasus.
Kevin mengikuti Ardi menuju ke belakang kantor untuk lihat kondisi Peter. Kevin yakin mental Peter pasti terpukul masuk ke tempat tak pernah dia bayangkan. Seorang berbuat kejahatan harusnya sadar kalau tempat tujuan terakhir dari kejahatan adalah penjara.
Di belakang ada beberapa sel tahanan cukup bersih dan manusiawi. Beda dengan penjara betulan seusai sidang. Di situ masih ada tikar bersih walau tanpa fasilitas apapun. Kevin melihat Angela masih di situ bersama wanita lain. Di sampingnya barulah tampak Luna dan Mince terpekur lesu. Wajah Luna yang biasa glowing kini kumuh tak beda dengan tampang ibu-ibu di pasar tradisional. Luna lebih parah tak ada gairah sedikitpun. Mince tak kalah kusam. Ibu sosialita itu jauh beda dengan Mince istri papanya.
Rambut awutan belum kena sisir. Tak sempat sisir dari rumah kali. Kevin hanya melirik sekilas tak ada niat menyapa. Perempuan ini yang bikin hidupnya sengsara seumur hidup.
Mince melihat bayangan Kevin tak pelak berdiri berseru kencang teriak nama Kevin.
"Kevin anak mama..."
Kevin tak menahan langkah maju terus cari tempat Peter ditahan. Kevin harus tegar tak boleh lemah walau tersirat sedikit rasa kasihan.
"Kau mau ke mana Kevin. Bebaskan mama. Kita bisa bicara baik-baik." Mince berteriak tak putus harapan Kevin mau menoleh ke arah mereka.
Ardi melirik rona wajah Kevin seperti orang tak punya perasaan. Wajah Kevin mengeras menahan diri agar tak jatuh iba. Suara Mince memang pilu datangkan rasa kasihan. Tapi kesalahan wanita itu tebal melebihi kitab kamus lengkap.
Kevin terus melangkah sampai di depan sel Peter ditahan. Dari balik jeruji Peter melihat kehadiran Kevin. Laki itu tak kuasa menahan tangis menyesal. Menyesali semua perbuatannya sayang sudah terlambat.
__ADS_1