JALAN MENUJU CINTA

JALAN MENUJU CINTA
Digerebek


__ADS_3

Gani tentu saja setuju Om Sabri yang baik jadi papi dia. Gani malah tak sabar ingin Om Sabri segera berada dalam rumah supaya ada backing bila Gina kumat ingin hajar orang.


"Siippp...aku akan atur mereka cepat nikah. Kalau andalkan Om Sabri sampai tahun 3000 juga takkan kelar. Serahkan padaku! Aku akan urus semuanya. Ok?"


"Aku akan percaya padamu kali ini. Awas kalau kerja tak beres!"


"Yaelah nih bocah! Ngak percaya sama abang sendiri. Aku ini abangmu lho! Duluan lahir ke dunia dari kamu." Gani membanggakan status untuk ingatkan Gina dia lebih tua harus dihormati.


"Lantas? Aku harus bilang wow gitu? Sinting...sudah ach! Aku harus kerja lagi. Sudah hampir kelar. Sore nanti sudah siap on the road."


"Semoga kamu dapat bonus ya!"


"Amin... assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


"Eh bebek! Punya mulut jangan kwek-kwek ya! Jangan sempat mami kamu tahu kita sudah tahu siapa setan cabul itu! Kita bersikap masa bodoh saja."


"Iya...cerewet amat seperti cewek!"


"Emang aku bukan cewek? Dasar bebek songong!"


Gani terkekeh dengar adiknya sewot diragukan kewanitaannya. Kadang Gani suka lupa punya adik perempuan. Adiknya itu melebihi anak cowok saking kasarnya.


Gani menutup telepon diakhiri dengan helaan nafas. Ternyata Gina memang lebih maju dari dirinya. Dia itu serba bisa bahkan serba tahu. Kadang Gani merasa bodoh tak ngerti apa-apa. Dia masih tidur Gina sudah melesat jauh ntah sampai di mana.


Kini Gina percayakan dia atur Bu Sarah dan Om Sabri segera menikah. Dia harus susun rencana secara sempurna untuk wujudkan harapan Gina. Gani tahu Gina sangat sayang pada Om Sabri. Laki itu juga sayang pada Gina seperti putri sendiri.


Sepulang dari rumah sakit Gani mulai bergerak menyusun rencana menarik benang pernikahan untuk Om Sabri dan Bu Sarah. Tentu saja Gani harus berkoordinasi dengan Gina semua rencananya. Semua rencana harus disusun secara matang agar tidak terjadi kesalahan.


Gani tentu saja melibatkan konconya yang juga nyiur melambai. Siapa lagi kau bukan Afif dan Teo. Pertama-tama Gani minta tolong pada ketus RW untuk fasilitasi undang penghulu. Lantas minta tolong ibu-ibu sekitar rumah siapkan sedikit acara syukuran di balai desa tempat Bu Sarah dan Om Sabri dinikahkan.


Tentu semua ini tanpa sepengetahuan Om Sabri dan Bu Sarah. Gani gunakan cara paling ekstrem yaitu meminta para pemuda kampung menggebrek Bu Sarah dan Om Sabri di bengkelnya. Dengan cara ini Bu Sarah tidak akan mengelak lagi untuk menikah dengan om Sabri. Rencana ini terdengar gila namun memang harus dilaksanakan sebelum Subrata mengacaukan kehidupan mereka lagi.


Baru kali ini Gina puji rencana kotor Gani jebak om Sabri dan Bu Sarah dibantu oleh warga kampung. Seluruh warga kampung tahu kalau Bu Sarah dan Om Sabri saling menyayangi namun tak berani melangkah lebih jauh. Maka itu warga kampung bekerja sama wujudkan impian Om Sabri.


Pada hari Kamis kegiatan di rumah Bu Sarah berjalan monoton seperti biasanya. Gani dan Gina tak bisa cepat pulang dengan alasan harus kerja lembur.


Itu hanya alasan Gina saja karena dengan demikian dia tak perlu antar tantang untuk makan malam om Sabri. Otomatis Bu Sarah yang antar nasi Om Sabri di bengkel. Kesempatan ini akan digunakan oleh para pemuda menggebrek kedua insan berlainan jenis ini.


Para pemuda sudah mengintai dari jauh atas perintah Gani. Begitu Bu Sarah masuk mereka akan susul ke dalam. Begitulah kira-kira rencana Gani.


Seusai magrib Bu Sarah terpaksa antar tantangan untuk om Sabri karena Gina belum tampak batang hidung. Anak itu hanya bilang akan telat pulang karena ada pekerjaan tak bisa ditinggal. Kalau Gani memang tidak bisa diharapkan. Anak itu mana pernah peduli soal rantangan Om Sabri. Selama ini Gina yang selalu mengantar rantangan tersebut.


Bu Sarah berjalan dengan agak segan masuk ke dalam bengkel yang sangat sepi. Semua pekerja sudah pulang hanya tinggal Om Sabri di dalam bengkel seperti yang sudah-sudah.


Bu Sarah mendorong pintu gerbang bengkel yang tak pernah ditutup kalau belum benar-benar malam. Anak muda di kampung itu suka nongkrong di bengkel Om Sabri untuk habiskan malam maka itu om Sabri tak pernah menutup pintu gerbangnya biar anak-anak bisa masuk.


"Assalamualaikum..." seru Bu Sarah di depan rumah om Sabri yang sepi.


Tak ada jawaban sama sekali. Dari dalam hanya ada kesunyian menyambut wanita itu. Bu Sarah yakin Om Sabri ada di rumah karena motor dan mobilnya masih terparkir manis di depan rumah. Itu tanda sang pemilik ada di dalam.


Bu Sarah beranikan diri buka pintu rumah. Dengan tangan sedikit gemetar Bu Sarah putar gerendel pintu. Sekali putar langsung terbuka.

__ADS_1


Lampu rumah belum dihidupkan, tak ada tanda-tanda kehidupan di dalam. Bu Sarah berjalan hati-hati takut menimbulkan suara berisik ganggu empunya rumah.


"Assalamualaikum.." sapa Bu Sarah sekali lagi. Siapa tahu sapaan kali ini akan dapat balasan.


Tetap sunyi. Bu Sarah terus melangkah mencari sang pemilik rumah. Mentok di depan kamar om Sabri yang sepi.


Bu Sarah mengetok pintu kamar.


"Siapa??" terdengar suara dari dalam. Suaranya serak seperti baru bangun tidur.


"Aku..."


"Oh...masuklah! Om lagi kurang sehat."


Bu Sarah duga Om Sabri mengira yang datang itu Gina. Lelaki itu tak bisa bedakan suara anak ibu. Padahal intonasinya sangat jauh beda. Suara Gina lebih bening karena usianya masih muda. sedangkan suara Bu Sarah tetap memiliki intonasi suara orang tua.


Bu Sarah mendorong pintu dengan pelan karena dengar Om Sabri kurang sehat. Bu Sarah mau lihat bagaimana kondisi Om Sabri.


Kamar dalam kondisi gelap karena Mentari telah kembali ke ufuk barat tinggalkan kegelapan pada umat manusia. Bu Sarah berusaha mencari saklar lampu agar dapat melihat dengan lebih jelas.


"Ini aku mas!" akhirnya Bu Sarah bersuara biar om Sabri mau menghidupkan lampu listrik.


"Sarah??? Masyaallah.. maaf! Kukira Gina..." Bu Sarah sekilas melihat ada bayangan turun dari tempat tidur. Bayangan tinggi besar yang sangat dia kenal.


Belum sempat om Sabri hidupkan saklar lampu mendadak ruangan jadi bercahaya. Bukan cahaya listrik melainkan cahaya senter. Bu Sarah dan Om Sabri sangat kaget karena di sekitar mereka telah muncul beberapa orang. Mereka menyoroti wajah Bu Sarah dan Om Sabri bergantian dengan pandangan tidak sedap.


"Lagi ngapain dalam gelap-gelap?" terdengar suara yang sangat wibawa.


Sabri berusaha menguasai diri menghidupkan lampu agar ruangan menjadi terang. Ini pasti telah terjadi salah paham membuat semua orang menduga yang bukan-bukan. Om Sabri meringis malu karena kedapatan berduaan dengan Bu Sarah di dalam kamar. Padahal mereka tidak melakukan apa-apa selain Bu Sarah ingin mengantar makanan untuk Om Sabri.


"Maaf pak Sabri! Kalian berdua telah melanggar aturan kampung kita. Maka itu kita harap kalian lebih dewasa beri contoh baik pada warga lain. Om Sabri adalah panutan kita jadi kami harap ikuti peraturan kampung." ujar pak RW dengan suara dimantapkan. Yang iyanya Pak RW juga ikut dalam rencana yang dirancang oleh Gani.


"Apa mau kalian?" Om Sabri sangat panik dan malu.


Kalau Bu Sarah sudah tak bisa berkata-kata karena sangat terkejut dengan kejadian ini. Seluruh tubuh Bu Sarah membeku tak bisa digerakkan lagi. Rasa malu serta takut menguasai seluruh tubuh wanita ini.


"Begini pak! Kami minta maaf dulu karena terpaksa nikahkan kalian berdua. Ayo kita ke balai desa!" Pak RW menggamit lengan om Sabri untuk di bawa ke balai desa.


"Tunggu..aku belum berpakaian! Masa ke balai desa pakai kaos jelek gini. Ini pasti ada salah paham karena Bu Sarah datang hanya mengantar rantang." Om Sabri masih berusaha membela diri agar tidak dipermalukan lebih jauh.


"Maafkan kami pak Sabri! kita ini hanya melaksanakan peraturan yang telah dibuat oleh kampung! Silahkan berpakaian paling bagus!" pak RW tidak mau kendor beri peluang pada Om Sabri mengelak.


Sebenarnya pak RW kasihan pada Bu Sarah yang tampak bingung. Wanita ini seperti mimpi kena grebek oleh warga kampung. Bu Sarah malu pada kedua anaknya yang sudah dewasa.


"Aku boleh hubungi kedua anakku?" tanya Bu Sarah dengan suara gemetar.


"Oh tentu..panggil mereka datang ke balai desa biar kita selesaikan secara baik. Silahkan!" Pak RW bijak ijinkan Bu Sarah keluh kesah kepada kedua anaknya.


"Terima kasih.. Mas pinjam ponselnya! Aku tak bawa ponsel." Bu Sarah berusaha tenang walaupun ngeri hadapi massa kampung.


Sabri berikan ponselnya kepada Bu Sarah. Lelaki itu segera mengambil pakaian untuk tutupi tubuh yang terbalut kaos tipis. Kepala Om Sabri jadi mumet pikirin bagaimana nasib mereka berdua di bawa ke balai desa. Bisa jadi tontonan satu kampung. Betapa memalukan.


Sarah meneleponi Gina yang dia anggap lebih dewasa dari Gani. Gina bisa diandalkan untuk selesaikan masalah.

__ADS_1


"Halo Gin.. assalamualaikum."


"Waalaikumsalam.. ada apa Bu? Sebentar lagi Gin pulang!"


"Bukan itu nak! Ibu sedang bersama om Sabri dan warga. Ibu antar rantang ke tempat om Sabri dan digrebek warga. Demi Tuhan nak! Ibu cuma antar rantang."


"Gin percaya kok! Ibu tenang saja! Ikuti saja kata warga. Gin segera pulang kok!"


"Tapi ibu malu. Ibu dan Om kamu mau dibawa ke balai desa."


"Pergi saja! Gin ke sana sekarang. Ibu tenang saja! Semua akan aman. Ditangkap sama om Sabri tidak maluin kok! Dia itu laki baik."


"Ngomong apa kamu ini? Ibu tunggu kamu!"


"Iya Bu! Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


Om Sabri dan Bu Sarah tak bisa ngelak dibawa ke balai desa. Pak RW jalan duluan biar tidak jadi tontonan warga. Beberapa menit berselang barulah Bu Sarah jalan ditemani beberapa pemuda kampung.


Sepanjang jalan ke balai desa tampak sepi. Semua warga seperti sudah pulang ke kandang masing-masing. Rata-rata pintu rumah tertutup rapat. Bu Sarah bersyukur tak ada warga yang kepoin kejadian mereka.


Om Sabri terkesima lihat balai desa ramai oleh warga yang duduk manis di bangku yang sudah disusun rapi. Ada makanan di atas meja disusun prasmanan.


Pak RW tidak biarkan om Sabri lama-lama berada di luar. Pak RW iringi Om Sabri masuk ke balai desa di mana sudah ada penghulu siap nikahkan mereka berdua. Ada beberapa orang tua kampung sudah disitu untuk jadi saksi nikah.


Ntah dari mana muncul Gani tertawa senang. Rencananya sukses iringi Om Sabri bawa Bu Sarah ke depan penghulu.


Om Sabri mulai ngerti tatkala Gani berikan sebuah kotak kecil yang disinyalir adalah wadah cincin nikah. Om Sabri segera ngerti kalau semua ini adalah settingan Gani. Gani ingin Om Sabri segera nikahi ibunya biar status yang terkatung-katung dua puluh tahun jadi jelas.


"Semangat om eh...papi!" bisik Gani sambil memeluk Om Sabri.


Om Sabri terharu pada perhatian anak-anak Sarah. Ternyata cinta kasih pada anak-anak itu tidak sia-sia. Semua terbalaskan.


"Terimakasih nak! Gina tahu?"


"Dia produsernya. Cincin ini dia yang beli. Nanti om balikin uangnya. Dia itu pelitnya melebihi Abunawas. Keluarkan uang berjuta-juta mau gigit jantungnya." ujar Gani cerita peran Gina dalam penggerebekan malam ini.


"Pasti om balikin. Itu ibumu datang! Kau sembunyi dulu biar dia tidak ngamuk jadi korban permainan kalian."


"Beres..." Gani segera menghilang ke belakang supaya jangan dimarahi Bu Sarah karena permainkan perasaan seorang ibu.


Namun dibiarkan terus sampai kiamat kedua orang itu takkan naik ke pelaminan. Dengan cara tak lazim barulah kedua orang itu akan dikukuhkan sebagai pasangan abadi.


Bu Sarah terpaku lihat semua sudah disiapkan. Bahkan pak penghulu susah hadir untuk nikahkan mereka. Apa yang sedang terjadi membuat Bu Sarah bingung.


"Bu Sarah...ayo kita ganti pakaian! Mari sini." Bu Ani tetangga Bu Sarah menarik tangan Bu Sarah ke belakang balai.


Bu Sarah makin melayang tak percaya akan dinikahkan dengan cara ekstrim. Digrebek lalu dipaksa menikah dengan Om Sabri. Mimpi apa dia semalam sampai harus menikah dalam kondisi aneh bin ajaib.


Bu Sarah tak berdaya didandani ibu-ibu kampung. Dasarnya sudah cantik, diberi baju sederhana sekalipun tetap menarik. Tak perlu dandanan menor seorang pengantin. Cukup polesan bedak.


Om Sabri sudah diberi baju jas kelihatan sangat gagah. Laki itu sudah duduk di bangku berhadapan dengan penghulu. Kini tinggal tunggu kehadiran mempelai wanita. Om Sabri tampak grogi menikah secara dadakan. Laki ini juga tak pernah bermimpi bakal nikahi pujaan hati dengan cara luar biasa.

__ADS_1


Akhirnya Bu Sarah disandingkan dengan om Sabri di depan pak penghulu. Bu Sarah keluar keringat dingin karena nikah mendadak. Satu jam lalu dia masih berstatus janda. Beberapa menit ke depan akan jadi nyonya Sabri.


"Maaf...aku mau tunggu Gina!" ujar Bu Sarah lirih. Bu Sarah sendiri tak tahu dia harus menyerah atau menghentikan semua ini. Bu Sarah masih tak yakin mau melangkah bersama om Sabri


__ADS_2