JALAN MENUJU CINTA

JALAN MENUJU CINTA
Abang Sayang


__ADS_3

Kevin tak buang waktu ayunkan langkah mencari lift untuk naik ke lantai yang ditunjukkan Gina. Hati Kevin sedang dibalut rasa gembira bisa berjumpa Gina untuk pamer cincin kawin mereka. Kalau ada waktu panjang maunya cincinnya didesign sendiri oleh Gina cuma sayang waktunya sangat dekat tak memungkinkan Kevin membuat cincin baru lagi. Terima apa adanya saja. Kelak kalau resmi secara besaran Kevin akan hadiahkan cincin lebih indah untuk ganti cincin darurat ini.


Tak sulit menemukan ruang kerja pemimpin karena semua menunjukkan tempat buat Kevin untuk jumpa bos. Tempat kerja Gina sangat bersih dan tenang. Semua berjalan tenteram karena semua telah tahu gaya kepemimpinan Gina yang keras. Semua cari aman kalau tak mau dipindahkan ke lahan kering kerontang.


Kevin tiba di dekat pintu ruangan Gina disambut oleh Dinda selaku sekretaris Gina. Gadis cantik itu menyapa Kevin dengan sopan sebagai wanita beradab.


"Ada yang bisa kubantu pak?" sapa Dinda super ramah.


Kevin mengangguk tak kalah ramah. Kesan pertama yang baik akan melekat di hati orang untuk pertama jumpa.


"Aku jumpa Gina."


"Bapak sudah ada janji?"


"Oh belum...katakan saja Kevin mau jumpa."


"Tunggu ya!" Dinda mengetuk pintu ruang kerja Gina perlahan. Semua ini prosedur untuk jumpa bos. Tak bisa sembarangan bilang mau jumpa langsung bisa jumpa. Gimanapun harus mendapat izin dari orang yang bersangkutan barulah bisa masuk jumpai bos.


"Masuk..."


Dinda membuka pintu lebar-lebar untuk melaporkan kehadiran Kevin di kantor ini. Gina yang sudah tahu bakal ada tamu tersayang langsung beri kode pada Dinda izinkan Kevin masuk. Dinda bisa lihat kalau Kevin bukanlah sembarangan laki di mata Gina. Laki perlente itu pastilah orang yang sangat berarti buat Gina.


Dinda tak berani menahan Kevin lebih lama karena wajah Gina jelas terukir rasa senang bisa jumpa laki ganteng itu. Kalau dilihat sekilas mereka merupakan pasangan yang sangat cocok. Keduanya sama-sama memiliki paras rupawan, bila disandingkan pasti akan menghasilkan keturunan yang tak jauh beda daripada kedua orang tuanya.


Kevin langsung masuk begitu mendapat izin dari Gina untuk segera berjumpa. Di sini Kevin bisa melihat betapa nyamannya ruang kerja Gina. Pantesan Gina betah berada di tempat barunya karena fasilitasnya melebihi fasilitas kantornya. Di tempat Kevin hanya dapat meja plus peralatan kerja. Di sini semua lengkap.


Setelah puas memantau ruang kerja Gina barulah Kevin memutar kepala menghadap gadis yang sedang duduk santai di atas kursi mahal. Perasaan Kevin mengatakan kalau Gina tampak makin dewasa duduk di tahta kekuasaan penuh sebagai komisaris. Aura yang terpancar dari raut wajah gadis itu sudah berbeda dari biasa.


"Kukira wajahku baru kena sepuh emas. Jadi berharga untuk dipelototi." canda Gina membangkitkan senyum Kevin. "Aku masih ada pekerjaan penting. Mau apa ganggu aku?"


"Jadi cewek bisa ngak manis dikit? Ini calon suamimu lho!" Kevin menepuk dada angkuh dengan status barunya.


"Aku bukan gula-gula untuk apa manis? Duduklah pak Kevin!" Gina belum bisa tinggalkan panggilan kaku terhadap Kevin. Kuping Kevin terasa panas mendapat panggilan tak dia harapkan. Gina gunakan kata bapak seolah ingin jaga jarak dengan laki ini. Apa maunya gadis ini? Di satu sisi dia mau hidup bersama Kevin di sisi lain dia menjaga jarak seolah ingin bangun tembok pemisah dengan Kevin. Jangan-jangan Gina mempunyai kepribadian ganda.


Kevin malas berdebat dengan Gina saat ini. Nanti malah merusak mood dia perlihatkan cincin kawin untuk mereka pakai di acara nikahan. Kevin duduk di depan Gina serata sodorkan tiga buah kotak ke depan gadis ini. Gerakan Kevin terhalang oleh monitor komputer terletak persis di depan mata Gina. Ketiga kotak itu agak menyamping untuk capai perhatian Gina.


Gina menatap ketiga kotak berbeda di atas meja tanpa menyentuhnya dulu. Ini bukan permainan maupun omong kosong lagi. Benda bulat dari bahan emas itu akan mengikat jari Gina selamanya. Gina dan Kevin punya tekat sama yakni menikah cukup sekali.


Kevin menanti dengan sabar Gina meraih benda perhiasan itu. Andaikata benda ini diberikan pada Lucia maka dalam hitungan detik benda ini akan pindah ke dalam genggaman Lucia. Sayang Gina bukan Lucia. Gadis itu dipenuhi sejuta keraguan.


"Bukalah!" pinta Kevin menyadarkan Gina dia tak boleh berbuat sesuka hati sakiti perasaan Kevin yang baru percaya pada wanita.


"Sebenarnya aku tak butuh semua ini. Aku cuma butuh janji tulus takkan berpaling dariku." Gina menatap Kevin lekat-lekat mencari kejujuran di mata laki itu.


"Aku tahu kau ini bukan cewek matre tapi ini satu keharusan untuk ingatkan kita bahwa kita sudah punya tanggung jawab terhadap pasangan kita. Pilihlah satu di antara tiga model! Yang sesuai ukuran jarimu."


Gina tidak berkata apa-apa lagi selain mengambil ketiga kota itu satu persatu periksa isi dalam lihat mana yang cocok dengan selera dia. Cocok selera juga harus cocok di jari. Dua terbuat dari emas kuning dan satu terbuat dari emas putih. Gina lebih suka emas putih tidak menyolok di mata. Bentuknya juga sederhana tidak akan ganggu aktifitas bika dipakai setiap hari.

__ADS_1


Gina perlihatkan pilihannya kepada Kevin berharap laki itu beri komentar terhadap pilihannya. Sudah Kevin duga kalau Gina akan pilih model paling sederhana ini. Karakter Gina yang humble cocok dengan pilihan model ini.


"Kamu suka ini? Ayok masukkan ke jari ukuran cocok tidak!" Kevin mengambil alih cincin itu untuk dimasukkan ke jari manis Gina. Kevin mau dia yang lakukan untuk tunjukkan dari awal dia memang ingin ikat Gina.


Sedikit kecil namun masih bisa muat. Gina tidak keberatan walau agak sempit. Ini lebih baik sehingga dia takkan lepaskan benda bulat ini sembarangan.


"Jarimu sakit ngak?" Kevin kuatir akan lukai jari manis Gina.


"Tidak kok...kena air juga akan longgar. Punya test punya kamu."


Kevin mengambil cincin yang agak besar lalu serahkan pada Gina untuk dimasukkan ke jarinya. Walau masih dalam tahap test ukuran namun Kevin mau Gina yang lakukan biar terasa telah memiliki.


Punyaan Kevin sangat pas seolah memang cincin pesanan khusus untuk laki itu. Kevin perlihatkan jemarinya yang telah terpasang tanda kepemilikan.


Kevin meraih tangan Gina satukan dengan tangannya untuk melihat kecocokan pasangan cincin ini. Senyum bahagia terukir di bibir Kevin. Kevin tak tahu kapan terakhir dia sebahagia ini. Akhirnya dia punya pacar akan segera dia nikahi.


"Aku foto ya untuk kenangan!" Kevin mengeluarkan ponsel jepret kedua tangan yang telah terpasang tanda kepemilikan. Bagi Gina itu konyol namun bagi Kevin itu adalah lambang bersatunya dua hati.


Kevin sangat puas mendapat hasil memuaskan. Semua berjalan sesuai harapan dia. Gina tak banyak menuntut seperti gadis lain. Berbahagialah Kevin jumpa Gina sebagai bidadari penolong hidup Kevin.


"Kita makan siang bersama Bu Komisaris?"


"Undangan atau sogokan?"


"Emangnya kamu ini aparat yang harus disogok baru mau jalan? Aku cuma mau ajak kamu makan siang bersama setelah yakin kalau kita takkan berpisah lagi."


Jawaban yang sangat tak disukai Kevin. Kalau wanita sudah berkarir akan lupa tugas sebagai ibu rumah tangga. Apalagi Gina harus menjabat di dua kantor. Kesibukan dia akan menyita seluruh waktu bersama mereka.


"Gina... pekerjaan itu takkan selesai kalau kita tak mau berhenti sendiri. Waktu kerja ya kerja. Waktu makan ya makan. Sebentar lagi jam istirahat waktu makan. Kita pergi makan bersama sekaligus rayakan hari jadi kita. Moments ini harus kita ingat sampai ajal menjemput."


Gina terdiam tak sangka Kevin demikian romantis tak mau kenangan ini berlalu begitu saja. Gina tidak terpikir sedikitpun akan rayakan hari jadi mereka sebagai moments penting. Sudah gini apa Gina tega merusak perasaan Kevin?


Gina tersenyum manis mengimbangi rasa senang Kevin. Semoga trauma Kevin akan segera terkikis sampai laki itu bisa hidup normal berada di antara wanita. Bukan untuk berhubungan intim namun sekedar bermasyarakat layak manusia normal.


"Ok...kita pergi. Bapak yang traktir ya!"


"Aku belum terlalu kere minta Bu komisaris yang traktir."


Gina tertawa renyah kena sindiran Kevin. Logisnya memang harusnya Kevin yang bayar. Dia kan seorang CEO kaya mana mungkin biarkan wanita yang bayar.


Kevin suka dengar tawa polos Gina. Tidak sok jaim berpura-pura manis namun di belakang seperti mbak Kunti. Bersama Gina sedetikpun terasa berharga. Semoga kebahagiaan ini tidak berhenti sampai hati ini saja. Tetap berlanjut ikuti perputaran poros bumi. Abadi hingga waktu tiba.


"Mana kunci mobil pak?" Gina ulurkan tangan minta kunci mobil Kevin.


Kevin mengernyit alis apa maksud Gina minta kunci mobil. Untuk saat ini Kevin yang harus layani Gina sebagai calon bini. Mana mungkin Kevin biarkan Gina berbuat seolah masih berstatus asisten laki ini.


"Mau jadi pengawal aku lagi?"

__ADS_1


"Iya dong biar tetap digaji."


Kevin ingin gampar mulut Gina dengan bibir sekaligus cicipi bibir ranum gadis itu. Kevin gemas sekali dengan cara Gina mengolok dia. Ada saja tingkah Gina pancing kekesalan dia.


"Aku yang supir. Oya satu lagi... bisakah kau tak panggil bapak? Aku merasa jadi orang jompo jalan sama anak kecil. Orang seganteng gini disangka om senang pacaran sama anak kecil."


Gina mau ketawa namun ditahan biar tampak lebih wibawa di depan Kevin. Gina mana mau menyerah gitu saja lawan calon suami yang punya penyakit alergi cewek itu. Maunya penyakit itu tidak sembuh selamanya Kevin tak bisa interaksi dengan cewek lain. Namun Gina berkesan egois bila punya harapan sejelek itu. Kasihan Kevin harus tanggung derita seumur hidup. Gina mana tega membiarkan Kevin tetap seperti ini selamanya. Gina tetap harus berusaha agar Kevin hidup normal seperti manusia sehat umumnya.


"Orangnya boleh kecil tapi tenaganya badak. Ayok masuk ke mobil! Aku belum mau kehilangan pekerjaan sebagai asisten pribadi." Gina merebut kunci dari tangan Kevin tanpa menjawab permintaan Kevin untuk ubah cara panggil dia. Gina masuk duluan di belakang setir tak peduli seberapa kesal laki di sampingnya.


Kevin angkat tangan menyerah tak bisa lawan sifat brutal Gina. Tak ada jalan lain selain masuk ke dalam mobil lewat pintu satu lagi. Kevin melirik Gina gunakan ekor mata mau tahu apa anak ini ada rencana ubah cara panggil dia.


Gina cuek saja starter mobil memajukan mobil meninggalkan kantor. Soal keahlian bawa mobil Kevin tidak ragu pada Gina. Gadis ini sudah tunjukkan skill mumpuni jadi supir jempolan. Perlahan mobil maju terus membelah jalan raya bergabung dengan mobil lain.


Kevin masih bersabar menanti Gina berkata sesuatu tentang permintaannya. Ntah Gina enggan dekat dengan Kevin atau memang tak suka basa-basi gunakan panggilan sayang yang lazim digunakan pasangan lain.


Gina seperti bisa membaca apa yang dipikirkan oleh Kevin. Secara diam-diam Gina tertawa di dalam hati menganggap Kevin terlalu kekanakkan. Hanya satu panggilan bisa membuat lelaki ini uring-uringan padahal panggilan itu hanya satu kata yang keluar dari mulut. harusnya panggilan yang keluar dari hati kecil barulah bisa menjadi penghubung mereka berdua.


"Apa arti satu panggilan? Memangnya bapak Mau dipanggil dengan sebutan apa? Mas ganteng? Abang sayang? Aa tercinta?" Apa yang dinanti Kevin tercetus juga dari bibir Gina.


Kevin mendecak kesal Gina tak mau hargai permintaan calon suami. Kevin tetap merasa janggal kalau Gina tetap memangilnya sebutan bapak. Terasa mereka terpisah oleh jembatan panjang walau ada jalan penghubung.


"Terserah asal jangan bapak! Aku tak bisa punya anak segede kamu."


Gina mengetuk bulatan setor pikir panggilan terbaik supaya Kevin puas tak bikin onar sita perhatian Gina. Gina heran mengapa satu panggilan diributkan. Panggilan ini harus lain dari yang lain biar Kevin merasa diistimewakan.


"Gimana kalau kupanggil Mon tresor?"


Kevin asing dengan panggilan terasa aneh. Di dalam dunia percintaan masih belum terdengar panggilan berkesan agak unik.


"Apa itu?"


"Itu panggilan untuk orang Perancis. Mon Tresor artinya harta Karun aku. Bisa juga Mon Bebe yang artinya bayiku. Bapak boleh pilih salah satu."


Kevin memang tak ngerti bahasa Perancis karena tak berbisnis dengan orang negara itu. Bahasa Perancis sangat sulit dipelajari bila tak tinggal di sana. Aksennya unik seolah setiap kalimat lidah harus berputar.


"Kurasa itu terlalu aneh...cukup mas saja. Mas tulen..."


"Aku tak mau disamakan dengan Lucia. Dia sudah gantung kata mas di bibirnya untuk bapak."


Kevin tak sangka Gina perhatikan panggilan Lucia padanya. Kevin girang Gina ada perhatian padanya. Sikapnya selalu cuek tak open sekeliling ternyata secara diam-diam Gina simak semua interaksi Lucia dan Kevin.


"Abang?" tawar Kevin mau yang sederhana tidak aneh-aneh. Mereka tinggal di Indonesia untuk apa menggunakan panggilan orang luar.


"Ok...bang Toyib. Semoga tidak kabur berbulan-bulan." gurau Gina bikin Kevin tersenyum. Panggilan biasa namun tetap jadi pemicu rasa adem di hati.


"Deal ya...mulai detik ini singkirkan panggilan mengerikan kamu. Aku tak nyaman kau selipkan kata bapak."

__ADS_1


Gina mengangguk hentikan debatan soal panggilan. Kedua terdiam sejenak memikirkan jalan mereka berdua ke depan. Apa mereka bisa saling mengisi dan memberi?


__ADS_2