
Kevin malas berdebat dengan wanita namun Lucia sudah perlihatkan borok sendiri di depan Kevin. Kevin tak mau menuduh babi buta tanpa bukti. Kevin ingin Lucia mengaku sendiri apa yang telah dia lakukan selama ini. Kevin sangat yakin kalau Lucia tidak ngerti apa-apa dalam soal merancang gambar.
"Terserah kamu saja. Yang penting kamu harus buktikan kalau kamu itu memang perancang perhiasan."
Lucia tersenyum manis tak tahu dia sedang berdiri di tepi jurang. Kevin tidak menyiapkan tanggal untuk Lucia turun ke dalam jurang melainkan membiarkan wanita itu terjun sendiri.
"So pasti mas...sekarang aku akan bersiap untuk pindah ke sini. Terimakasih sudah beri aku kesempatan untuk lebih dekat dengan kamu!" Lucia menaruh harapan besar kalau dia akan bisa mengalahkan Gina meraih cintanya Kevin.
Sayang sekali Lucia tidak tahu kalau Kevin telah mempersiapkan diri untuk meminang Gina menjadi istrinya. Semua yang dilakukan oleh Lucia untuk mencuri perhatian Kevin merupakan pekerjaan sia-sia. Sebentar lagi Kevin akan segera menyandang status suami Gina. Siapapun tidak bisa mengingkari fakta tak akan terjadi dalam tempo singkat ini.
Kevin biarkan Lucia larut dalam kegembiraan akan segera dekat dengan Kevin. Lucia sudah berangan akan menggunakan segala trik untuk mendapatkan Kevin termasuk menggunakan cara kotor agar Kevin tidak dapat lari dari tangannya. Istilah sudah terlanjur tidak bisa mundur harus ditetapkan dalam Lucia. Lucia akan mengiringi Kevin naik ke ranjangnya agar nasi terlanjur menjadi bubur dan Kevin harus bertanggung jawab. Itu yang terlintas di benak Lucia agar bisa bersama Kevin selamanya.
Kevin tidak memikirkan Lucia sedikitpun justru Kevin memikirkan Gina yang sampai sekarang tak ada kabar. Apa yang sedang terjadi dalam kantor gadis itu sampai tak sempat balas chat serta panggilan telepon.
Akhirnya Kevin ambil keputusan berangkat ke kantor Gina untuk lihat apa yang sedang terjadi pada gadisnya. Kalau muncul kendala Kevin harus tampil ke depan untuk lindungi Gina walaupun mungkin Gina bisa lindungi diri sendiri.
Kevin merasa kuatir pilih tinggalkan kantor menuju ke kantor Gina. kalau saja Gina mau membalas chat Kevin maupun membalas teleponnya mungkin laki ini tidak akan secemas ini. Kevin sadar kalau orang-orang yang dihadapi Gina adalah orang-orang yang punya tabiat buruk. Apalagi bila harus berhadapan dengan Subrata yang terkenal dengan kelihayan melobi bisnis.
Kevin meninggalkan pesan kepada Jay agar menjaga kantor dan segera berlalu tanpa memberitahu kemana dia pergi. Jay sebagai bawahan hanya bisa mengangguk mengiyakan semua yang diperintahkan oleh bosnya itu.
Kevin membawa mobil sendiri tanpa bantuan supir karena ini menyangkut ranah pribadinya. Baru kali ini Kevin merasa sangat kuatir terhadap seorang wanita. Biasanya Kevin akan cuek terhadap hidup mati seorang wanita karena dia memang tidak bisa berdekatan dengan wanita manapun selain Gina.
Kita tinggalkan Kevin yang sedang galau menanti balasan Gina. Kita menuju ke kantor Gina yang terlihat adem ayem tanpa riak berarti. Namun tak ada yang tahu di atas lantai dua puluh sedang terjadi perdebatan sengit antara Gina dengan ketiga karyawan yang telah mencuri uang perusahaan. Hartono masih mau bekerja maka dia serahkan aset yang masih tersisa. Lain dengan Mandala dan Putri yang bersikeras ingin bayar sekian persen dari yang hasil jarahan mereka di kantor.
Hartono telah bayar hampir 75 %. Sedangkan Mandala dan Putri hanya kasih tak sampai sepuluh persen. Alasannya tak bisa dapat uang cash dalam waktu singkat. Gina tak mau dengar semua alasan yang tak masuk akal. Mereka masih punya rumah serta mobil mewah. Kalau mereka mau bisa jadikan uang segar untuk tutupi kerugian perusahaan.
Gina duduk di belakang meja menatap ketiga orang itu dengan wajah seram. Mandala mengira itu hanya akting Gina biar mereka takut. Kalau mereka tak mau bayar Gina bisa apa? Paling menempuh jalur hukum, mereka korupsi dengan cara cantik takkan mudah terdeteksi maka Mandala berani keras tak mau bayar.
"Nona Gina... kamu penjara aku pun uang itu tidak bisa kudapatkan kembali karena sudah habis terpakai. Aku siap bertanggungjawab tapi beri aku waktu beberapa tahun. Kalau aku masuk penjara maka semuanya tidak dapat kau ambil kembali maka kurasa lebih baik nona kerjasama dengan kami dan memberi kami waktu untuk membayar kembali uang yang telah terpakai." ujar Mandala seperti memiliki kekebalan terhadap hukum.
"Kau pikir aku bodoh ya? Aku telah menyiapkan segalanya termasuk menyita aset yang telah kamu miliki. kau pikir aku menekan kamu dengan tangan kosong? Kau pikir aku orang bodoh nggak bisa kamu perlakukan sesuka hati?"
"Bukan gitu maksud nona...aku berjanji akan tanggung jawab tapi beri aku waktu. Aku berjanji akan bekerja lebih baik dan jujur untuk menutupi semua kesalahan aku." kata Mandala penuh keyakinan mampu mengalahkan Gina yang dia anggap anak bawang mudah digertak.
__ADS_1
"Aku tak perlu semua omong kosong kamu. Kamu pikir dengan dipenjara beberapa bulan kamu akan menikmati sisa uang yang kamu miliki. Aku akan pastikan kamu membusuk di penjara dan menyita seluruh yang telah kau ambil dari perusahaan. Kalau kau tak percaya kamu boleh mencoba apa yang dikatakan hari ini terbukti atau tidak. kamu jangan lupa di zaman serba canggih ini seluruh data tidak bisa dihapus begitu saja. Rekaman CCTV dan bukti pembelian yang kamu hamburkan dari uang perusahaan. Aku memiliki semua itu termasuk semua data tentang nona Putri. Kalian boleh saja main-main dengan aku. Kita lihat saja siapa yang akan pergi pada akhirnya."
Putri menelan air ludah agak takut pada keyakinan Gina penjarakan mereka dalam waktu cukup lama. Dari ekspresi wajah Gina tidak main-main akan antar mereka ke penjara.
"Bukan itu nona Gina...aku cuma perlu waktu untuk jual semua aset aku." kata Putri termakan sikap tegas Gina.
"Tak perlu kau yang jual. Cukup kamu serahkan semuanya pada perusahaan maka perusahaan yang akan mengurus semuanya. Kau punya villa mewah, rumah di beberapa tempat dan koleksi tas mahal. Aku tak percaya tak bisa jual semua aset kamu. Jangan lupa kalau suami nakal kamu akan ikut masuk penjara karena gunakan uang untuk main perempuan. Aku berani masuk sini dengan semua perhitungan. Hadapi orang licik macam kalian aku harus sudah ada tameng. Aku kasih waktu sampai besok. Kalau besok tak ada keputusan maka kalian akan berhadapan dengan hukum. Mau hukum rimba boleh, hukum negara juga boleh." Gina bangkit dari kursi menantang Mandala dan Putri. Gina mengangkat cangkir di sampingnya lalu menekan cangkir sekuat tenaga menyebabkan isi cangkir berhamburan jatuh di atas meja.
Ketiga orang itu kaget melihat kekuatan Gina. Gina bukan hanya kuat mental namun juga kuat fisik. Kalau wanita umum mana sanggup hancurkan cangkir dengan sebelah tangan.
Gina jelas mau unjuk kekuatan untuk intimidasi ketiga orang itu kalau dia bukan makhluk lemah mudah diancam. Hartono bersyukur dia tak jadi target Gina. Perkiraan Mandala dan Putri salah total pikir bisa kadalin gadis muda ini.
"Aku akan usahakan sebisanya. Tapi aku akui kalau aset yang kuberikan belum capai nominal tujuan nona." Putri cepat berubah pikiran tak mau melawan Gina. Harusnya mereka sadar kalau Gina sudah berani keras tentu saja sudah dibekali backing keras.
"Aku tunggu itikat baik dari kalian. Sekarang kalian boleh pergi tapi ingat. Tak perlu main kucing-kucingan dengan aku. Jangan ada niat buruk dalam pikiran kalian mau kabur dari aku! Setiap jarak sepuluh meter aku sudah tempatkan pengawal untuk kalian. Keluarga kalian dalam pantauan aku." ujar Gina tanpa suara keras. Sikapnya santun bikin orang mengira kalau Gina baik hati kawal para pengerat itu. Padahal itu hanya ancaman halus agar orang itu tak coba-coba kabur dari cengkraman Gina.
Ketiganya makin loyo jumpa manusia cantik tapi berhati baja. Mereka mungkin belum tahu kalau Gina punya beberapa julukan menakutkan di kalangan preman setempat. Kalau saj mereka tahu Gina disebut monster oleh para preman mungkin mereka akan berpikir sepuluh kali untuk lawan wanita muda ini. Hartono bersyukur sekali tak jadi incaran Gina.
Hartono patah arang karena istrinya main gila dengan brondong gunakan jerih payah dia. Dia pikirkan segala cara untuk menyenangkan keluarga namun dapat balasan menyakitkan. Hartono sudah putuskan kembalikan semua aset pada perusahaan biar istrinya yang selalu sok kaya kena mental.
"Baik...aku akan beri tempo selama kalian punya itikat baik. Kalau kita jujur jalan hidup kita pasti akan lancar. Kurasa pak Hartono merasa lega karena semua beban di hati telah terangkat. Ini akan jadi pelajaran buat kalian. Karma itu bukan tak ada tapi tunggu waktu tepat untuk kalian cicipi. Kalian mungkin tak sangka opa aku punya cucu segede aku kan? Aku memang sedang digembleng untuk jadi penerus. Cucu opa bukan cuma satu tapi ada dua untuk saat ini. Jadi buang pikiran kotor dari otak kalian." Gina beri nasehat pada orang itu. Semoga saja termakan oleh hati nurani orang-orang itu. Gina tidak berharap terlalu banyak dari orang-orang ini namun paling tidak Gina telah memberi satu pegangan agar mereka berubah sikap jahat mereka.
"Iya nona...maafkan kami! Ini akan jadi pelajaran sangat berharga buat aku." ujar Hartono lemas. Setelah usai dengan Gina dia masih harus hadapi istrinya yang curang. Jalan ke depan pasti akan berliku menuju ke pengadilan agama.
Hartono takkan toleransi pengkhianatan istrinya. Buang uang hanya untuk bersenang-senang dengan anak muda padahal anak mereka sudah besar tak jauh beda dengan Gina. Ini karma jahat untuk dia.
Ketiganya berlalu dari hadapan Gina. Ruangan menjadi hening hanya terdengar suara deru AC beri kesejukan buat gadis ini. Gina sempat panas ingin gampar orang namun Gina bertahan agar jangan kesandung kasus hukum. Pukul orang tetap ada sanksinya tak peduli terjadi di mana. Salah tetap salah. Gina berusaha sabar untuk mencapai hasil maksimal.
Setelah suasana tenang barulah Gina melirik benda pipih yang baru saja menjadi teman barunya. Gina sengaja buat suara silent agar jangan ganggu perdebatan dia dengan ketiga orang itu. Gina membuka layar melihat begitu banyak panggilan masuk dari Kevin bahkan ada chat yang masuk. Gina tersenyum bayangkan betapa bucinnya Kevin pada dirinya.
Gina merasa tak enak juga pada Kevin. Ntar laki itu pikir Gina sok penting. Yang benar dia sedang mengurus masalah kantor dengan ketiga orang pengerat itu. Gina gerakan jemari balas panggilan Kevin supaya laki itu tak menunggu lebih lama.
"Assalamu'alaikum..." sapa Gina begitu terhubung. Baru satu kaki dering sudah disambungkan oleh Kevin.
__ADS_1
"Waalaikumsalam...ke mana saja kamu nona monster?"
"Berani ya sama calon istri? Nanti dipecat jadi calon suami baru nyaho...Ada apa telepon terusan? Kita kan baru jumpa pagi tadi."
"Ya ampun nona...aku mau kamu lihat model cincin kawin kita. Dan lagi mau pastikan ukuran. Aku mau sekali lolos ke jarimu takkan lepas selamanya."
"Duh romantisnya...maaf ya aku sibuk! Tadi baru saja urus tikus nakal! Ada sedikit masalah tapi sudah bisa kutangani dengan sedikit intimidasi. Kita jumpa di rumah saja. Oya gimana dengan Lucia? Apa dia ngaku plagiat?"
"Aku sudah dekat kantormu. Kita bicara langsung saja. Bicara tak lihat wajahmu terasa hambar."
"Garami dong!!! Yang benar kejar calon bini sampai ke sini? Kepala aku besar lima mili dong!"
"Dikit amat. Maunya lima meter biar semua orang tahu calon istri aku senang banget dipuji suami."
"Gendeng...aku tunggu sini saja. Tak baik main ponsel dalam mobil. Lihat jalan baik-baik! Lurus ke depan jangan putar kepala kiri kanan! Bahaya..."
"Cemburu ya."
"Ciiss geer...malu jadi janda sebelum dinikahi!"
Kevin tertawa terbahak-bahak dengar nada sinis Gina. Gina tak ada manisnya bila berdebat. Ada saja cara dia bikin lawakan lucu di tengah keseriusan.
"Ok...tunggu situ saja! Aku sudah di halaman parkiran kamu."
"Langsung ke lantai dua puluh bilang mau jumpa komisaris yang manis dan imut."
"Imut dari mana? Dari Hongkong?"
"Dari kebun binatang. Assalamu'alaikum..."
Ponsel mendadak putus hubungan. Kevin meletakkan ponsel sambil menarik nafas. Gina tak bisa manja seperti Lucia atau gadis muda lain. Dia itu selalu tegas walau kadang konyol bikin urat leher rilex.
Kevin mencari tempat untuk parkir mobilnya. Perusahaan Gina jauh lebih besar daripada perusahaan dia. Tanggung jawab Gina sangat besar di tempat ini. Jujur Kevin ragu apa Gina sanggup hadapi hantaman badai persaingan bisnis. Gadis itu harus kuat ikut berkompetisi dengan perusahaan lain.
__ADS_1
Kevin siap jadi mentor Gina agar bisa lebih maju. Gina masih butuh banyak bimbingan di dunia baru yang dia geluti sekarang.