JALAN MENUJU CINTA

JALAN MENUJU CINTA
Subrata Bergerilya


__ADS_3

Subrata maklum Kevin tersinggung bila dia berniat bantu gaji Gina maupun Gani. Majikan manapun takkan senang bila dianggap tak mampu bayar gaji pegawai. Sanggup pekerjakan pegawai namun tak sanggup bayar gaji. Istilahnya sanggup beli kerbau tapi tak sanggup kasih umpan.


"Nak Kevin... bapak minta maaf bila kamu tersinggung. Bapak lakukan ini ada alasannya. Bapak ingin Gani hidup layak cuma tak berani tampil di depan mereka." usai berkata demikian Pak Subrata menurunkan kepala ke bawah mencari semut nyasar di lantai ruang kantor Kevin. Mau pantau Kevin orang jorok atau bukan kali. Dalam ruangan banyak semut.


"Aku makin tak ngerti maksud bapak! Apa hubungan bapak dengan Gani dan Gina?"


Subrata angkat kepala menatap lurus ke arah wajah Kevin. Mata Pak Subrata agak berkaca-kaca ingin mengungkap rasa sesal yang menggunung di dalam dada. Namun lelaki tua ini tidak tahu harus mulai dari mana.


"Gani dan Gina itu anak-anak aku! Bu Sarah itu mantan isteri aku! Dialah wanita yang ku khianati demi wanita lain." boom yang tersimpan cukup lama akhirnya meledak juga.


Kevin terpana sampai tak bisa berkata-kata. Sedikitpun Kevin tak menyangka kalau Pak Subrata yang dia hormati ternyata seorang pengkhianat besar pada anak isteri sendiri. Dan orang itu tak jauh darinya pula. Lucia dan Gani sering ketemu namun tak tahu kalau mereka berdua adalah saudara. Lelucon apa pula ini?


Satu dagelan lucu nan konyol sedang dilakoni oleh keluarga pak Subrata. Endingnya bikin miris. Yang tersakiti tetap jadi korban sedangkan yang culas hidup di puncak dunia dengan gelimang harta.


Kevin merasa dadanya bergemuruh timbulkan gelombang rasa antipati pada Subrata sekeluarga. Tidak berlebihan kalau ada orang ingin bongkar kebusukan keluarga ini. Ini disebabkan Subrata dan isterinya sekarang sudah kelewatan.


"Apa Gani dan Gina kenal bapak?"


"Tidak...aku juga baru tahu setelah kita jumpa di rumah sakit. Aku melihat Sarah maka kuselidiki Gani. Dari awal golongan darah maka aku test DNA. Hasilnya hampir seratus persen darah kami sama. Aku telah salah pada mereka. Aku harus bayar tapi aku tak punya keberanian temui mereka." ujar Subrata dengan nada pesimis. Gestur tubuh orang kaya itu tampak menunjukkan kegelisahan. Ntah berapa besar rasa penyesalan membalut dada laki itu.


Kevin merasa Subrata lebih baik tidak jumpai Gani maupun Gina. Kevin tidak kuatir pada Gani tapi kuatir Gina akan anarkis. Gina bukan orang ramah mudah dibeli dengan materi. Dia pilih hidup susah ketimbang menghamba pada materi.


"Jujur aku kaget pak! Asal bapak tahu mereka hidup sederhana bahkan rumah tak punya. Rumah yang mereka tempati sedang dicicil oleh Gina. Dia bekerja lagi siang malam untuk beli rumah itu. Sedangkan Lucia menghambur uang sesuka hati. Sekali belanja mungkin bisa beli rumah untuk Gina. Ini sangat menyedihkan!" Kevin tidak bisa sabar untuk diam. Perbuatan Subrata dan Angela sudah sangat kelewat batas.


Pak Subrata tidak bisa omong apa-apa disekak oleh Kevin. Apa yang dikatakan oleh Kevin adalah fakta yang tak bisa dipungkiri. Mereka sekeluarga hidup dalam gelimang harta sedangkan keluarganya yang lain terpuruk dalam kesulitan ekonomi.


"Kau mau bapak bayar kesalahan bapak pada mereka?"


"Aku tak tahu caranya karena Gina itu bukan orang gampang didekati. Mereka miskin namun tak pernah mengemis. Ku sarankan pada bapak dekati Bu Sarah dan Gani saja. Tak usah cari perkara dengan Gina. Kurasa Gina tidak akan gampang memaafkan bapak."


Subrata manggut memaklumi keadaan. Subrata ingat pancaran dendam di mata seorang gadis tatkala dia menyapa Sarah. Subrata tak tahu Gina hanya melindungi ibunya dari incaran lelaki atau memang mengetahui Subrata itu adalah bapaknya. Yang pasti Gina bukanlah orang yang gampang ditaklukkan.


"Aku paham. Semua ini berawal dari kesalahan aku yang terlalu angkuh pada kekayaan sehingga melupakan kesengsaraan di hari tua. Bapak harap kamu bisa memetik pelajaran dari kejadian yang Bapak alami. Bersenang-senang hanya membuahkan hasil penderitaan di akhirnya."


Kevin merekam semua omongan Subrata yang mengajarnya untuk tidak memiliki hati bercabang terhadap istri. Pengalaman yang dialami oleh Subrata mengajar Kevin untuk lebih berhati-hati dalam berumah tangga. Saat ini Kevin hanya bisa berinteraksi dengan Gina dan sulit memasuki dunia gadis itu.


"Iya pak! Kalau boleh aku ingin jujur kalau aku tertarik pada Gina cuma aku butuh waktu untuk taklukkan dia."


Kevin mengungkap isi Hati ingin mendekati Gina.


Hati Subrata langsung mencelos mendengar Kevin menyukai Gina. Di lain pihak Lucia sangat menyukai Kevin. Sementara Kevin lebih menyukai Gina daripada Lucia. Ini akan jadi ajang pertempuran antara saudara untuk seorang lelaki.


"Lalu Lucia? Apa arti Lucia bagimu?" tanya Subrata berusaha cari tahu gimana perasaan Kevin pada anak sulungnya.


"Lucia??? Dia itu teman bagiku. Aku tahu dia gadis baik namun aku tak bisa suka padanya seperti aku suka pada Gina. Gina memiliki aura wibawa tak bisa ku ungkap dengan kata. Pokoknya dia lain dari yang lain."

__ADS_1


Subrata makin lesu ingat kata Lucia dia sangat cinta pada Kevin. Siapa sangka Kevin telah melabuhkan hati pada gadis lain. Gadis yang juga anaknya. Subrata harus berpihak pada siapa? Kedua gadis itu anaknya juga.


"Lucia sangat mencintaimu nak Kevin. Dia bela-belain kerja di sini supaya dekat denganmu! Tidakkah kau simpan sedikit rasa sayang padanya?" Subrata mewakili Lucia mengungkap perasaannya.


"Aku sayang padanya sebatas teman. Tak lebih pak! Selama ini aku belum pernah menyukai seorang gadis tetapi begitu jumpa dengan Gina aku langsung tersentuh. Aku sengaja memintanya bekerja mengganti Gani hanya untuk mengikatnya agar tidak pergi dari sisiku. Aku janji akan menjaganya dengan baik."


Subrata tidak dapat berkata apa-apa lagi karena Kevin sudah berterus terang isi hatinya. Tak mungkin juga Subrata memaksa Kevin untuk menyukai Lucia. Cinta itu adalah hak semua insan di bumi dan memiliki kemerdekaan total.


"Lucia pasti kecewa kau tak mau terima cintanya. Bapak tidak dapat membayangkan kekecewaan Lucia. Anak itu pasti akan semakin drop bila mengetahui cintanya tidak terbalas."


Kevin tahu kalau Subrata lebih membela Lucia daripada Gina. Namun Kevin tidak bisa mengabaikan suara hati dan penyakitnya. Dia memang tidak bisa berdekatan dengan Lucia jadi apa yang harus diperjuangkan untuk gadis itu. Beda dengan Gina yang bebas berinteraksi dengan dirinya.


"Seperti Bapak katakan kalau aku harus jujur pada diri sendiri dan pasangan. Kalau aku memaksa diri untuk mencintai Lucia dan akhirnya berantakan lebih baik tidak memulai sesuatu dari awal."


Subrata makin terpuruk mendengar pengakuan Kevin. Lelaki ini makin gelisah karena tahu sebentar lagi Lucia akan semakin sedih karena cintanya tidak terbalaskan.


"Bapak mohon kau beri sedikit perhatian pada Lucia. Siapa tahu suatu saat hatimu terbuka untuk Lucia."


"Lalu Gina?" Kevin tanya ulang tentang Gina. Apakah belum ada pengakuan Subrata terhadap Gina. Gina itu juga anaknya. Mengapa Subrata memilih lebih jaga perasaan Lucia daripada Gina.


"Kau bilang Gina sulit ditaklukkan artinya dia belum tentu suka padamu. Jadi fokus pada Lucia saja."


Kevin menghela nafas tak tahu harus berkata apa. Dia memang tidak bisa bersentuhan dengan Lucia jadi apa yang harus diperjuangkan lagi. Menjadikan Lucia sebagai pacar tetapi tak bisa bersentuhan. Bukankah Kevin juga menjadi lelaki yang tak punya perasaan?


"Biarlah waktu yang jawab pak! Saat ini hatiku cuma ada Gina."


Kevin hanya bisa angguk tanpa bisa janjikan apa-apa. Subrata tak ngerti apa itu cinta suci. Dia pikir perasaan itu bisa dipindahkan sesuka hati. Mau ke mana bisa diatur. Kevin tak mau tragedi Subrata terulang pada dirinya.


"Bapak mau pamitan dulu! Tolong jaga Gina dan Gani! Kalau perlu sesuatu tolong hubungi bapak. Bapak akan penuhi semua tuntutan kedua anak itu."


"Baik pak! Apapun adanya aku akan katakan pada bapak. Cuma aku tak janji apapun."


"Iya...bapak pamitan dulu. Bapak harap kau kaji lagi perasaan Lucia. Dia sedang bersedih atas peristiwa memalukan hati itu. Sampai detik ini belum tahu siapa yang demikian kurang ajar sebar video tersebut."


"Lapor polisi saja pak! Kita tak bisa menduga terus. Kita perlu orang selidiki kasus ini."


"Mama Lucia tak ijin karena ini makin menguak masa lalunya. Biarlah kita tutup saja sampai rumor reda sendiri. Bapak pergi ya!" Subrata bangkit tak mau perpanjang keburukan keluarganya. Angin itu pasti akan berhenti bertiup bila waktunya reda.


Kevin benarkan kebijakan pak Subrata. Makin dikorek makan boroknya akan makin terkuak. Bukan cuma Angela jadi santapan gosip. Subrata dan Lucia pasti akan kena imbas. Maka itu Subrata pilih tutup mulut saja.


Berbekal keterangan dari Kevin kalau mau jumpai Sarah harus mulai dari Sarah dan Gani. Jangan sekali-kali sentuh Gina kalau tak mau terlibat masalah. Gina pasti akan berbuat lebih ekstrim lagi.


Subrata beranikan diri jenguk Gani yang masih dirawat. Kalau tak dimulai dari sekarang mungkin tak ada kesempatan lagi buat Subrata untuk dekati Gani. Moment ini paling tepat coba interaksi dengan putra kandungnya.


Subrata beli buah tangan sebagaimana lazim orang menjenguk orang sakit. Ini pendekatan paling kondusif karena Sarah tak mungkin mengusirnya di depan Gani. Subrata yakin Sarah tidak ungkap siapa bapak anaknya.

__ADS_1


Dengan mengumpulkan segenap keberanian Subrata maju menuju ke kamar rawat Gani. Subrata tak tahu bagaimana sambutan Sarah tapi dia harus coba.


Subrata mengetok pintu dua kali dengan perlahan. Di rumah sakit siapa yang bisa berbuat kasar karena semua yang di sini orang sakit. Bicara saja harus pelan agar tak ganggu orang sakit lain.


Pintu di buka dari dalam. Subrata tertegun melihat mantan isterinya bukakan pintu untuknya. Sarah tak kalah kaget melihat siapa yang datang. Seluruh tubuh Sarah membeku tak bisa bergerak lagi oleh kehadiran orang paling tidak ingin dia jumpai. Sarah berusaha melupakan pertemuan pertama setelah sekian tahun tak jumpa. Sarah menepis semua bayangan Subrata dari ingatan karena laki itu tak pantas dikenang.


Kini laki itu muncul kembali. Sarah sama sekali tidak berharap Subrata hadir lagi di depan mata. Laki itu sudah tamat dalam kisah hidup Sarah.


"Siapa mami?" seru Gani heran mengapa sang ibu mematung di depan pintu kamar.


"Orang salah kamar." kata Bu Sarah dengan kejam.


Subrata tercekat tak sangka Sarah tega anggap dia orang tak dikenal. Sedemikian benci kah Sarah pada Subrata sampai tak ingin kenal lagi.


"Sarah...ini aku! Aku datang jenguk Gani." kata Subrata tidak langsung menyerah ditolak oleh mantan isteri.


Sarah tetap cantik awet muda. Hampir tidak beda dengan dua puluh tahun lalu cuma wajahnya telah matang akibat harungi badai cobaan.


"Tak perlu...silahkan pergi! Kami tak kenal kamu. Jangan pernah muncul lagi di sini!"


Samar-samar Gani mendengar suara maminya sangat ketus. Belum pernah Gani lihat ibunya judes pada seseorang. Orang ini siapa sampai bikin ibunya naik darah.


"Mami...kok marah? Salah kamar toh tak perlu marah. Tinggal kasih tahu saja." Gani berkata dari dalam.


"Nak Gani...kau kenal aku!" Subrata ambil kesempatan menerobos masuk begitu Sarah lengah. Sarah ingin sekali tinju wajah orang itu ambil kesempatan curi masuk.


"Papanya nona Lucia??? Kok bisa datang?" Gani surprise melihat kehadiran orang yang dia kenal sebagai orang tua Lucia. Gani sedikitpun tidak terpikir akan dikunjungi oleh bapak designer tempat dia kerja. Angin apa bawa orang itu datang.


"Bapak dengar kamu sakit. Kebetulan bapak lewat sini maka sekalian jenguk kamu. Sudah sehat?" Subrata makin mendekat pada Gani. Subrata ingin lihat putra kandungnya lebih dekat. Anak inilah pewaris sah dari Mahabarata.


Gani ganteng sedikit kemayu. Wajahnya klimis bersih melebihi wajah cewek tulen. Kulitnya bersih kinclong terawat baik. Ini kebalikan dari Gina yang tak kenal salon kecantikan.


Lama Subrata menatap putranya. Ada kerinduan dipanggil papa oleh lelaki muda di atas brankar tempat tidur. Rasa rindu itu cuma boleh terselip di sudut hati. Tak bisa ditumpahkan lewat kata maupun gerakan.


"Pak...ada yang salah dengan wajahku? Gara demam berdarah gantengku hilang ya?"


"Ach tidak nak! Kau tetap ganteng. Sudah enakan?" Subrata tanya sekali lagi karena Gani belum jawab pertanyaannya.


"Alhamdulillah sudah enakan. Mungkin besok sudah boleh pulang. Aku tak sabar ingin pulang. Tugas baru sudah menanti ku." Gani tak bisa sembunyikan luapan kegembiraan diangkat jadi manager.


"Kau senang diangkat jadi manager?"


"Pasti dong! Oya nona Lucia mana? Kok sudah lama tak tampak."


"Oh dia sedang istirahat di villa. Kurang sehat."

__ADS_1


"Oh...semoga cepat sembuh ya!" kata Gani tak lihat wajah maminya sudah hitam menahan emosi. Bisanya Gani ngobrol santai dengan algojo yang menghancurkan seluruh angan indah Bu Sarah.


"Kalau kau suka boleh datang ke kantor bapak. Bapak butuh pemuda pintar untuk duduk di jabatan direktur keuangan. Mungkin kamu tertarik?" Subrata mulai lancarkan rayuan untuk rekrut putranya. Tampaknya Gani bukan orang sulit bergaul. Sikapnya sangat terbuka menerima orang luar. Benar kata Kevin untuk dekati keluarga mantan istrinya harus dimulai dari Gani maupun Sarah.


__ADS_2