JALAN MENUJU CINTA

JALAN MENUJU CINTA
Nikah Kilat


__ADS_3

Om Sabri sekeluarga tak kalah kaget lihat betapa Kevin pertaruhkan hidupnya kepada Gina. Andai Gina wanita tamak maka hidup Kevin kontan sengsara. Sengsara dibayar kontan. Gani paling jengkel karena otomatis Gina menjadi bos barunya. Laki gemulai ini bukannya tak tahu tangan besi Gina tangani satu masalah. Tak ada kata toleransi dalam diri adiknya itu. Gani bergidik bila perusahaan kena tangan Gina.


Ucapan sah berkumandang di seluruh ruang mesjid. Yang kagum ya kagum. Yang sirik juga tak kalah banyak. Dalam pemikiran mereka Gina gunakan pelet maka Kevin tunduk kepada cewek cantik itu.


Kini Kevin dan Gina resmi sebagai suami isteri sesuai perjanjian kedua orang ini. Mereka akan tetap seperti biasa tanpa ada ritual intim suami isteri sampai Gina yakin untuk bertekuk lutut pada Kevin. Kevin akan sabar menunggu hari itu tiba.


Acara selanjutnya adalah acara makan-makan di balai desa. Pesta kampung namun meriah. Seluruh warga diundang tanpa kecuali. Baik tua muda miskin kaya berbaur menjadi satu di badai desa untuk memeriahkan pesta pernikahan Kevin dan Gina yang sangat jauh dari pemikiran. Orang sekaya Kevin pestanya hanya pesta kampung. Tidak ada rekanan bisnis maupun redaksi yang datang ke pesta Kevin ini. Satu-satunya orang di dunia bisnis yang mengetahui hal ini adalah Pak Julio. Pak Julio sebagai pamannya Gina mana mungkin melewatkan acara ini.


Pak Julio termasuk walinya Gina maka dia wajib hadir di acara ini untuk memberi restu kepada keponakannya itu. Pak Julio juga setuju kalau Gina menikah dengan Kevin karena mereka bisa saling membantu. Kevin pasti akan membimbing Gina menjadi seorang pebisnis handal karena Gina telah memegang kekuasaan tertinggi di perusahaan opanya.


Kevin dan Gina bersanding di pelaminan ala kadar tidak gambarkan pesta orang tajir. Tak jauh beda dengan pesta rakyat yang irit biaya. Pestanya sederhana namun hidung hidangannya luar biasa Karena Om Sabri memesan semua makanan ini dari restoran mahal. Om Sabri tidak pelit untuk pesta Putri kesayangannya.


Semuanya berpesta dengan gembira tanpa kecuali. Pak Julio ikut senang melihat keponakan luar biasanya telah berada di tangan tepat. Hati Pak Julio tenang karena Gina telah mendapat jodoh setimpal. Tak urung mata Pak Julio berkaca-kaca larut dalam keharuan. Pak Julio duduk di samping Bu Sarah karena wanita ini akan segera tinggalkan tanah air menyongsong hidup baru bersama lelaki yang baik. Om Sabri memang lelaki terbaik untuk Sarah. Subrata yang bodoh lewatkan wanita sebaik Bu Sarah.


"Kak...kapan balik sini?" tanya Pak Julio seraya menggenggam telapak tangan Bu Sarah.


Bu Sarah tersenyum memperlihatkan bintang kejora terpancar dari manik mata bening wanita ini. Mata yang bening tanda orang ini hatinya tulus tak ada niat jahat kepada orang lain.


"Setelah lahiran aku pasti kembali untuk urus kedua anak bandel itu. Kamu harus jaga mereka terutama Gina. Jiwanya terkukung oleh dendam masa lalu. Aku sudah minta dia lepaskan semua penyakit hati namun dia tetap begitu. Tolong nasehati Gina agar tak cari masalah lagi. Fokus urus kantor saja." kata Bu Sarah lembut


"Kau tak usah kuatir. Kevin pasti akan bimbing Gina. Kevin itu anak baik. Aku tetap akan jaga mereka. Kamu di sana jaga kesehatan saja ya. Kita baru jumpa sudah harus berpisah lagi. Terpisah benua lagi." Pak Julio tak bisa sembunyikan rasa sedih harus berpisah jauh dari kakaknya. Kalau bisa Pak Julio ingin ngobrol labuh lama kenang masa lalu Bu Sarah yang menyedihkan. Maunya Pak Julio tidak memaafkan Subrata namun Pak Julio orang beragama tak mau simpan dendam kesumat sepanjang hidup.


"Kita terpisah hanya untuk sementara. Sebenarnya aku juga tak ingin pergi namun aku tak bisa melawan permintaan orang tua mas Sabri. Biarlah aku mengalah dikit. Ada kamu kawal kedua anak itu aku agak tenang."


Pak Julio mengangguk menyejukkan hati Bu Sarah. Perasaan Bu Sarah harus stabil mengingat usia tidak muda lagi baru hamil. Lebih banyak resiko buruk ketimbang yang positif.


"Aku akan jaga mereka. Bagusnya Gina dan Gani tinggal bersama Kevin di rumahnya. Ini bagus untuk perkembangan jiwa Gina. Dia butuh suasana baru agar jiwanya tidak terpaku pada kenangan buruk."


Bu Sarah rasa perkataan Pak Julio sangat benar. Gina tak boleh asyik terpaku di tempat ingat kenangan buruk yang hantui hidup anak itu. Mungkin tinggal di tempat Kevin yang lebih baik Gina tidak ingat apa yang telah terjadi di dalam hidupnya.


"Kita serahkan pada nak Kevin saja. Dia adalah imam Gina. Aku yakin Gina takkan membantah permintaan Kevin. Walaupun bandel tapi Gina itu anak patuh. Dia tidak menyusahkan orang lain."


"Nanti kubicarakan dengan Kevin ajak Gani dan Gina pindah ke sana. Sekarang biarlah mereka menyusun rencana masa depan. Tantangan Gina juga bukan kecil harus mengurus satu perusahaan yang nyaris kolaps. Kuakui kalau Gina bertangan besi. Dia lakukan banyak hal di belakang sebelum melangkah. Itu harus kuakui kemajuan anak itu."

__ADS_1


Bu Sarah melepaskan mata ke arah Gina yang sedang bercanda dengan beberapa gadis kampung. Tawa Gina begitu lepas tanda dia bahagia. Tak ada kerutan di atas kening yang bikin dia tampak tua. Bu Sarah yakin Gina suka pada Kevin namun anak itu belum berani ungkap perasaan sesungguhnya karena masih takut kejadian ibunya terulang padanya.


"Gina bahagia..." desah Bu Sarah.


Pak Julio ikutan mengarah mata ke arah Gina pastikan omongan Bu Sarah itu bukan omong kosong. Gina memang tak ubah seperti gadis muda suka bercanda. Untuk sesaat Gina kejam tak terlihat muncul di tubuh gadis itu.


"Semoga begitu seterusnya. Kakak tak perlu memikirkan kedua anak kakak. Mereka anak baik bertanggungjawab. Cuma kita perlu keras pada Gani agar jangan terjebak pada pergaulan tak jelas." ujar Pak Julio mengingat sifat Gani agak feminim tak sesuai dengan kodrat sebagai cowok.


Bu Sarah paham maksud Pak Julio. Bu Sarah tidak menampik kalau Gani punya kelainan jiwa tak ubah seperti anak gadis. Bu Sarah sudah sering ingatkan Gani untuk ubah sikap namun tetap saja begitu. Kadang Bu Sarah putus asa ingatkan Gani untuk kembali ke kodrat sebagai cowok.


"Gina memang keras pada Gani namun aku tak tega. Gina tak segan hajar dia sampai tak bisa bangun seminggu. Ntah kenapa aku sakit hati lihat putraku terluka. Gina itu kejam sekali bila ketahuan Gani berbuat aneh-aneh." ujar Bu Sarah tanpa sadar telah memberi izin pada Gani untuk lanjut bergaya banci.


Pak Julio tak bisa melarang kasih sayang seorang ibu walaupun caranya salah. Hati seorang ibu memang sedalam samudera. Luas dan dalam. Sudah tahu Gani salah tapi tetap saja dukung sehingga anaknya tak tahu di mana salahnya.


"Tak usah kakak pikir lagi. Aku akan didik Gani lebih keras dikit tanpa harus anarkis seperti Gina. Kakak balik sini dia sudah jadi laki tulen." janji Pak Julio. Bu Sarah bersyukur mendapat adik baik bisa membantunya menjaga anaknya. Bu Sarah tidak ragu lagi untuk melangkah lebih jauh seberang lautan.


"Terimakasih Julio...kakak percaya padamu." Bu Sarah menepuk punggung tangan Pak Julio. Kalau orang tak kenal mereka pasti akan pikir negatif keduanya sedang berselingkuh. Sikap Pak Julio sangat mesra dan protek pada Bu Sarah. Padahal ini murni kasih sayang seorang adik pada kakak. Berpuluh tahun berpisah sekali jumpa semua telah dewasa punya keluarga sendiri.


Pesta berakhir begitu saja hanya sisakan rasa lelah. Gina tetap berdesakan tidur di kamar Gani tanpa open suami yang nelangsa ditinggal pengantin perempuan. Coba kalau opa dan Oma lihat keduanya pusan tempat tidur. Kuping Gina akan dijejali sejuta nasehat serta dalil-dalil agama tugas seorang istri. Om Sabri dan Bu Sarah tak bisa memaksa Gina harus terima Kevin seketika. Pernikahan mereka mendadak tanpa persiapan matang seperti Om Sabri dan Bu Sarah menikah karena jebakan batman anaknya.


Malam itu berlalu tanpa ada yang berubah. Kevin tetap harus berpelukan dengan kata sabar dan Gina acuh tak acuh pada Kevin. Pokoknya Kevin merupakan pengantin pria paling nelangsa patut dikasihani.


Gani membantu Bu Sarah berbenah untuk berangkat besok. Wajah Gani agak murung ditinggal mami tercinta. Tanpa backing Mami Gani akan jadi bulan-bulanan Gina. Gina tak pernah beri ampun pada Gani kalau ketahuan bergaya banci. Pikir hukuman Gina saja bulu kuduk Gani merinding semua. Dia harus pandai jaga sikap agar tak jadi mangsa Gina.


Pagi subuh Gina sudah bangun siapkan sarapan untuk satu keluarga. Ini hari terakhir Gina bikinkan ibunya sarapan sebelum bertolak ke Jerman. Tugas Gina ke depan akan lebih ringan namun Gina akan kehilangan orang tercinta. Dia orang sekaligus.


Bu Sarah ikut bangun mau bantu Gina namun gadis itu menolak. Gina tak mau kesehatan Bu Sarah terganggu oleh hal kecil. Om Sabri wanti-wanti Bu Sarah harus jaga kesehatan agar adik bayi tumbuh sehat.


"Gin...ibu titip Gani ya! Kamu jangan terlalu keras pada Gani ya!"


Gina hentikan gerakan tangan menumis bawang putih untuk masak nasi goreng sarapan sekuat umat. Gina tak habis pikir mengapa ibunya tak beri dia kesempatan ubah Gani. Apa ibunya mau Gani tetap jadi banci selamanya. Kalau mau Gani bisa berubah asal ada kemauan.


"Iya Bu..." Gina pilih cari aman tak mau merusak mood ibunya. Sebentar lagi ibunya akan segera berangkat jauh. Tak mungkin juga Gina tanamkan rasa sesal dalam hati sang ibu. Dalam hati Gina tetap akan bereskan Gani kalau berbuat macam-macam.

__ADS_1


"Terimakasih nak! Kau juga tak boleh kasar pada nak Kevin. Dia itu imam kamu. Sebagai isteri kamu harus manut asal berada di jalan terang. Tak baik umbar emosi. Jadilah istri shalihah banggakan ayah dan ibumu!"


Gina tinggalkan nasi goreng memeluk ibunya mau katakan kalau dia akan laksanakan semua wejangan sang ibu dengan catatan Kevin tidak macam-macam. Gina paling tak bisa toleransi pada laki tukang main perempuan. Semoga saja Kevin tidak terjangkit penyakit duniawi itu.


"Gin akan patuh selama Kevin tidak keluar dari jalur. Ibu tak perlu banyak pikiran. Jaga adik bayi buat kami itu saja tugas ibu. Soal rumah dan kantor akan Gina urus sebisanya."


Bu Sarah mengelus punggung Gina mau tinggalkan jejak kenangan bahwa ada ibu yang akan rindu padanya. Sebenarnya Bu Sarah mau omong soal Subrata namun dia telan kembali bahas sosok tak pantas di antara mereka. Takutnya Gina bukannya mereda bahkan makin menggila mau hancurkan Subrata. Sekarang Gina punya kekuatan untuk bicara di forum para pedagang karena jabatan sebagai pemilik sah perusahaan opa. Bu Sarah takut Gina salah gunakan kekuasaan hajar Subrata hingga amblas ke bumi.


"Kau mau antar ibu ke bandara?"


"Iya dong! Masa mau lewatkan moment ini. Ibu jaga diri ya! Tiap hari harus Videocall biar kami tahu ibu sehat."


Mata Bu Sarah menyipit Gina minta Videocall. Mau Videocall pakai apa. Bu Sarah belum tahu kalau Gina sudah punya smartphone canggih pemberian Kevin. Sang ibu masih pikir Gina setia pada ponsel jadul pemberian om Sabri.


"Emang kamu punya hp ada layar besar?" tanya Bu Sarah meremehkan Gina.


Gina mendorong tubuh ibunya menjauh untuk tatap langsung wajah sang ibu. Gina kesal ibunya sendiri pandang remeh padanya. Apa selamanya Gina harus terpaku pada ponsel jadul? Tak bolehkah Gina melangkah maju?


"Ibu ini...anak sendiri dipandang kecil. Aku ini komisaris masak tak boleh punya hp baru. Itu untuk tugas bukan untuk bersenang-senang." Gina meniru ucapan Kevin sewaktu beri hp padanya.


"Maaf sayang...kamu selalu tolak sewaktu ayahmu mau beli hp baru. Sekarang kok mau?"


"Dibelikan oleh Kevin. Tak enak menolak. Ibu tunggu saja di depan. Bumil tak boleh lama berdiri. Adikku capek.." gurau Gina mendorong Bu Sarah keluar dari dapur. Bu Sarah hendak beri nasehat lebih banyak namun Gina lebih kuat memaksa Bu Sarah tinggalkan dapur.


Bu Sarah menghela nafas tak bisa lawan Gina di monster baja. Bu Sarah serahkan pada Yang Maha Kuasa jaga kedua anaknya. Di sisi keduanya ada Pak Julio dan Kevin yang jauh lebih pengalaman dalam hidup. Kevin pasti akan jaga Gina dengan baik. Bu Sarah tidak ragu soal itu.


Di ruang tamu Bu Sarah lihat Kevin dan Om Sabri sedang ngobrol penuh keakraban. Mereka berdua tak ubah sahabat kental sedang berbincang isi dunia. Bu Sarah suka lihat pemandangan ini. Keluarganya saling hargai satu sama lain.


Kedua laki itu hentikan percakapan begitu lihat Bu Sarah keluar dari dapur. Om Sabri bangkit menyongsong kehadiran sang istri lantas membimbingnya duduk di salah satu sofa sederhana.


"Kenapa ke dapur? Bukankah ada Gina?" tegur Om Sabri.


"Kupikir mau bantu dia. Dia menolak dibantu. Nak Kevin harus sabar sama Gina ya. Dia itu baik cuma keras. Dia tak suka berada di jalan salah."

__ADS_1


__ADS_2