
Gina mengangguk. Dia bisa apa sudah begini. Mau cepat pulang juga tak mungkin. Motornya masih tertinggal di kantor sehingga mempersulit dirinya bergerak pulang. Tapi itu tak penting. Dia harus rawat Kevin sampai pulih karena laki dibutuhkan oleh banyak pegawainya.
Sambil menunggu Kevin sadar, Gina coba hubungi ayahnya agar keluarga tidak cemas menunggunya. Gina selalu beri kabar bila telat pulang. Ini untuk menenangkan keluarga di rumah.
Deringan telepon baru berbunyi dua kali sudah ada sambutan dari seberang sana. Gina bisa bayangkan betapa kuatirnya keluarganya menantinya pulang. Terutama Om Sabri sang ayah teladan.
"Assalamualaikum ayah! Ini Gina.."
"Waalaikumsalam.. ayah tahu kamu Gina! Emang anak ayah yang nakal ada berapa orang? Kau di mana? Mengapa terlambat pulang?"
Sabri bertanya tak sabaran mau tahu di mana keberadaan anaknya itu. Gina memang keras tapi bukan type anak tidak bertanggungjawab. Anak itu masih tahu batasan sebagai seorang anak.
"Sejak kapan ayah jadi Intel? Tanya kok kayak petasan. Gina ada di rumah pak Kevin. Kami diserang di pusat belanja. Kayaknya anak buah bang Toha. Rencana pembunuhan terencana tapi gagal. Aku terluka sedikit."
"Astaghfirullah...ayah akan cari tahu! Apa sudah ditangkap?"
"Sudah cuma satu. Kawannya kabur. Gina di sini dulu sampai pak Kevin sadar. Dia syok berat."
"Perlu ayah ke sana?" Gina menangkap nada kuatir dari mulut Sabri. Bagaimana Gina tidak sayang pada Sabri. Kasih sayang laki itu melebihi kasih sayang ayah kandung yang kurang ajar. Di mata Gina yang betulan ayahnya hanya Sabri. Orang lain hanya dianggap pengacau cari perhatian.
"Tidak usah ayah! Cukup ayah cari tahu siapa dalang rencana ini biar Gina bisa berjaga-jaga. Bilang pada ibu bahwa Gina akan tepat pulang."
"Baiklah nak! Kamu harus hati-hati menghadapi orang berhati culas itu. Kali ini mereka gagal pasti akan mencoba lagi."
"Gina ngerti ayah! Gina akan berusaha semaksimal mungkin melindungi pak Kevin. Beliau memang membutuhkan seseorang untuk melindungi dia karena dia memang memiliki penyakit mental. Gina sudah melihat sendiri keadaan pak Kevin yang sangat memprihatinkan."
"Yang penting kamu hati-hati saja. Yang lain kamu serahkan pada ayah saja! Ayah akan cari bang Toha malam ini juga. Ayah rasa ibumu tak perlu tahu soal ini. Nanti dia tak bisa tidur."
"Bukankah sekarang ibu sudah punya obat tidur?"
"Kamu ini nggak ada sopannya sama orang tua. Mau dipecat sebagai anak?"
Gina tertawa kecil bisa goda ayahnya yang sangat sayang pada Bu Sarah. Gina lega ibunya berada di tangan tepat. Dia tak perlu kuatir ibunya akan tersakiti lagi walaupun tidak punya suami kaya raya. Yang penting mereka saling mencintai dan setia satu sama lain.
"Tega sama anak kesayangan? Bilangin bebek besok bantu ibu masak! Itu yang harus Ayah pecat sebagai anak! Kerjanya bersolek terus lupa kalau dia itu pejantan tangguh."
"Akan ayah sampaikan. Ayah harus pergi nak! Kau tunggu kabar ayah ya!"
"Terimakasih ayah! Gina tetap setia menunggu kabar ayah tercinta."
"Ngerayu kalau ada maunya. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam..."
__ADS_1
Gina menutup ponsel jeleknya sambil berpikir siapa yang menginginkan nyawa Kevin. Sungguh besar nyali orang yang menyerang Kevin karena berani bertindak di tempat umum. Mereka tentu salah perhitungan mengira Kevin bersama seorang gadis yang lemah lembut sehingga bisa melaksanakan rencananya dengan sempurna.
Orang yang ingin menyerang Kevin tertentu membentuk Kevin setiap hari baru bisa mengetahui gerak-gerik laki itu. Mungkin selama ini Kevin terlalu menutup diri sehingga kesempatan mereka sangat kecil. Begitu Kevin muncul di umum mereka langsung bertindak. Hasilnya jauh dari harapan karena adanya Gina.
Pembantu Kevin menyuguhkan segelas teh hangat kepada Gina. Mereka sudah mengenal Gina karena pernah datang ke situ dan bersyukur Kevin telah mempunyai teman wanita.
Si Bibik belum mengetahui apa yang terjadi pada majikannya. Mereka hanya tahu Kevin diantar pulang oleh Peter dan Gina. Mereka tidak diberitahu apa yang telah terjadi pada tuannya itu.
"Non Gina..silahkan minum!" si Bibik persilahkan Gina cicipi minuman penghangat perut.
Gina yang kebetulan sangat lapar segera mengisi perutnya dengan cairan berwarna coklat itu. Mungkin rasa manis dari teh itu bisa mengurangi rasa laparnya. Mau minta makan kepada Si bibi rasa malu melebihi tingginya gunung. Masa baru datang sudah meminta makan kepada tuan rumah. Apalagi status Gina adalah bawahan Kevin. Makin tidak mungkin tebalkan muka meminta makan.
"Bik...biasa pak Kevin makan di luar atau di rumah?"
Si Bibik berdiam sesaat lalu tersenyum. Si bibik mengira Gina sedang mengkhawatirkan kesehatan Kevin makan bertanya soal pola makan lagi itu. Bibik tak tahu Gina sedang memancing ikan agar menampakkan wajah ke permukaan minta dijadikan hidangan.
"Nak Kevin tak pernah makan di luar. Dia selalu habiskan waktunya di rumah. Makan juga hanya sendirian walaupun kadang sekali-kali minta ditemani oleh bibik."
Gina manggut-manggut sok tahu padahal tujuannya adalah minta sedikit ransum untuk mengisi perut.
"Pak Kevin sedang kurang sehat. Bibik Boleh sediakan makan malam untuk bapak takut bapak bangun setiap waktu." Gina mulai lancarkan strategi untuk dapat sesuai nasi dari rumah bosnya. Susah amat dapat sepiring nasi dari orang kaya. Mending di rumahnya yang sederhana. Satu bakul nasi siap manjakan perut Gina.
"Sudah tersedia kok! Bisa dimakan setiap saat. Nona mau maka" akhirnya muncul juga hati nurani Si Bibik sadar gadis di depannya sudah kelaparan.
"Mau bik!" sahut Gina tak malu-malu karena terdesak oleh rasa lapar. Jaim hanya menyengsarakan diri. Peduli amat dengan image.
"Tapi nona...pakaian nona ini!" Bibik menunjuk gaun Gina yang penuh bercak darah mengering. Kelihatannya memang agak mengerikan. Gina bisa dituduh membunuh bila orang yang tidak mengetahui kejadian.
"Iya Bik! Tanganku terluka jadi ini darah aku!" Gina menunjukkan tangannya terbalut kain perban. Kain perbannya memang bersih dari noda namun Ginanya yang berantakan.
"Gimana kalau nona bersihkan diri dulu sebelum makan. Takutnya nanti nak Kevin kaget melihat nona dalam kondisi begini."
Apa yang dikatakan Bibik sangat beralasan. Takutnya Kevin kaget melihat dia dalam kondisi berantakan. Sudah sadar langsung lihat pemandangan mengerikan bisa memicu trauma baru.
"Lebih baik aku pulang dulu! Bibik jaga pak Kevin ya!"
"Jangan! Nona pakai saja baju nak Kevin! Ada kok bajunya yang sudah kecil. Tunggu ya Bibik ambilkan!" Bibik balik badan pergi ntah ke mana. Yang pasti bukan menuju ke kamar Kevin.
Tadi Gina melihat Peter antar Kevin ke kamar tak jauh dari ruang tamu. Ini si Bibik masuk ke lorong lain. Gina tak ngerti Bibik ambil pakaian Kevin di mana. Dia hanya perlu menunggu saja.
Gina menghempaskan badan ke sofa lupa kalau dirinya sangat kotor oleh noda darah. Gina sudah terbiasa bercanda dengan oli hitam tidak anggap noda ini mengganggu cuma takut Kevin syok melihat darah di tubuh Gina.
Bibik datang lagi bawa sepasang pakaian warna coklat muda. Bahannya terbuat dari bahan kaos tanpa motif alias polos saja. Sekilas itu pakaian untuk rumahan buat santai. Gina sudah tak punya pilihan selain terima niat baik sang bibik. Peter sudah pergi cari tahu soal rencana celakai Kevin. Gina lah yang bertanggung jawab urus Kevin untuk sementara waktu.
__ADS_1
"Bersihkan dirimu di kamar mandi! Letakkan saja pakaian kotor di samping. Bibik akan cuci secepatnya biar nak Kevin tak lihat semua ini." ujar Bibik seakan tahu soal penyakit Kevin.
"Bibik tahu soal kejiwaan pak Kevin?" tanya Gina hati-hati jangan sempat terjebak dalam pertanyaan sendiri. Kalau bibik tak tahu artinya dia sedang menjerumuskan Kevin.
"Non..bibik yang besarkan nak Kevin. Siapa lagi ngerti dia kalau bukan bibik dan Paman. Kami melihat dia jatuh bangun. Maka kami senang dia bawa nona ke sini. Nona satu-satunya wanita pernah ke sini."
Gina harus percaya karena raut wajah sang bibik serius ungkap semua tentang Kevin. Gina berharap Kevin segera pulih dari penderitaan sekian tahun.
"Bik..kita akan jaga pak Kevin bersama-sama. Aku akan ke kamar mandi. Bibik berikan saja pakaiannya dan tunjukkan di mana kamar mandinya."
"Mari ikut bibik!" Bibik memimpin Gina lewati lorong menuju ke tempat Gina akan bersihkan diri. Tampaknya bukan kamar mandi melainkan pintu satu kamar tidur.
Bibik membuka pintu buat Gina. Harum segar seperti kamar baru dibersihkan untuk ditempati. Gina agak segan masuk takut itu kamar untuk seseorang di hati Kevin.
Bibik merasakan keengganan Gina masuk karena gadis ini masih bertahan di depan pintu. Tak ada niat Gina masuk ke kamar pribadi orang lain.
"Masuklah non! Kamar ini memang khusus untuk nona. Nak Kevin perintahkan kami sediakan kamar untuk nona karena suatu waktu nona pasti akan nginap di sini. Harapan nak Kevin sudah terwujud."
Gina teringat Kevin pernah ajak dia jadi asisten dua puluh empat jam. Sebelum Gina beri jawaban Kevin sudah persiapkan segalanya sambut Gina. Jelas sekali Kevin sangat mengharap Gina berada di sampingnya. Soal keselamatan Gina tidak meragukan moral Kevin. Di rumah ini juga banyak pembantu lain selain dirinya tetapi tetap saja ada yang janggal dia berada di rumah lelaki. Kedua orang tuanya juga belum tentu mengijinkan Gina tinggal bersama Kevin.
"Terima kasih bik! Aku akan segera bersihkan diri sebelum pak Kevin bangun."
Bibik mengangguk sambil tersenyum senang Gina bersedia masuk ke kamar ini. Dari dulu bibik sangat mengharap Kevin dapat memiliki seorang teman wanita untuk menemaninya meniti hari-hari depan. Kini harapan itu telah terwujud setengah walaupun belum 100%. Rumah ini mulai tercium keharuman wanita.
Bibik pergi sambil menutup pintu kamar untuk Gina. Perlahan Gina masuk mengedarkan mata ke sekeliling kamar. Dekorasi kamar emang diperuntukkan untuk anak gadis karena warnanya ditata dengan warna soft. ranjang cukup besar berada di tengah-tengah kamar dengan warna penutup nila muda. hiasan di dinding juga diperuntukkan untuk anak gadis karena gambarnya bunga dan matahari bersinar cerah.
Gina cukup berkesan dengan penataan kamar ini tetapi cepat-cepat menepis rasa kagum pada kamar ini. Gina tak boleh GR walaupun bibik mengatakan bahwa kamar itu dipersiapkan untuk dirinya. Itu hanya perkataan bibik karena pemiliknya tidak mengatakan apapun.
Gina tak mau berlama-lama kagum berada di kamar ini. Dia harus bersihkan diri secepatnya sebelum Kevin maupun Peter datang. Gina tetap tak mau orang berprasangka buruk terhadap dirinya.
Kamar mandi juga super Lux. Jauh beda dengan kamar mandi di rumah yang hanya ada baju serta kloset jongkok. Keramik juga asal ada tak menarik. Sangat beda jauh dengan kamar mandi di rumah Kevin ini. Keramik yang terpasang di kamar mandi ini desain sangat indah karena berhias motif-motif secara minimalis. Tak ketinggalan bath tub model setengah oval berada di sudut kamar mandi untuk memanjakan tubuh yang lelah.
Mulut Gina sampai terbuka setengah tampakkan gigi saking terpesona pada penataan luar biasa ini. Perancang kamar mandi ini pasti betul-betul ahli perancang design rumah. Baru kali ini Gina melihat kamar mandi semewah ini.
Gina tak biarkan diri tenggelam dalam pesona dekorasi kamar mandi Kevin. Dia harus segera bersihkan diri.
Gina tak buang waktu lakukan ritual bersih-bersih buang hawa sial yang baru menimpanya. Sambil mandi otak Gina berputar memikirkan nasib Kevin bila dia tinggalkan. Berapa orang lagi ingin celakai orang itu. Saingan bisnis atau orang dalam tak mau Kevin sehat. Gina tak bisa tinggal diam biarkan Kevin menempuh bahaya sendirian. Dia harus tegakkan keadilan buat Kevin. Siapapun orangnya harus dapat ganjaran.
Setelah yakin telah bersih Gina segera balik ke ruang tamu. Baru beberapa langkah Gina berjalan terdengar suara lelaki bicara dengan suara pelan di ruang sebelah. Gina menunda langkah karena itu bukan suara Kevin melainkan suara Peter. Gina menahan nafas mau tahu dengan siapa Peter bicara.
"Kalian sudah gila ya? Beraninya kalian permainkan nyawa Kevin. Aku tak peduli apapun alasan kalian tak boleh lukai dia. Cukup takuti dia agar selamanya dia tetap hidup dalam ketakutan. Aku akan kuasai Kevin sampai dia percaya penuh padaku."
Gina kaget mendengar suara Peter bicara dengan seseorang. Andaikata Gina punya ponsel pintar bisa merekam semua percakapan Peter untuk jadi bukti laki itu bukan orang baik. Ternyata Peter tahu siapa yang merancang rencana celakai Kevin. Peter bersekongkol dengan seseorang celakai Kevin.
__ADS_1
"Dengar ya! Orang di samping Kevin sekarang itu orangnya cerdas. Kalian jangan anggap remeh anak gadis itu! Aku akan kuasai gadis itu baru kuasai Kevin. Sekarang kalian jangan lakukan apapun! Aku harus segera berangkat urus proyek besar. Kalian jangan hancurkan rencana aku! Aku akan ambil alih proyek triliun itu. Selangkah demi selangkah kita kuras semua aset Kevin barulah kita bisa hidup senang. Sekarang dia sedang kumat. Aku beri obat penenang biar dia ketergantungan. Biar dia mati secara alami. Tak perlu kalian kotori tangan kalian." Peter kembali ingatkan lawan bicara.