
"Waalaikumsalam...gimana? Sudah ada hasil? Enak banget makan gaji buta selama beberapa hari ini!"
"Sadis amat mulut kau nona Rambo! Makan gaji buta itu buat si buta dari gua hantu. Kami ini pendekar keturunan ninja. Bekerja pasti berhasil"
"Sombong amat kura-kura ninja ini! Apa laporan kamu?"
"Lelaki yang kamu suruh intai itu memang ada hubungan dengan perempuan bernama Luna. Mereka sering pergi bersama selama dua hari ini bahkan Luna nginap di rumah Peter. Kami ada bukti pertemuan mereka. Mau kukirim ku hp primitif kamu?"
"Sialan kamu! Menghina amat! Kan aku yang gaji kamu!"
Orang di seberang sana tertawa ngakak dengar Gina sewot. Orang itu tahu sifat Gina yang panas tapi tak membakar. Hanya panas di tempat saja.
"Nanti malam kita ketemu di bengkel ya! Aku akan perlihatkan semua bukti biar kerja kami dapat bonus!"
"Ok...nanti kubeli gorengan sebagai bonus. Mau ubi atau pisang?"
"Itu mah bukan bonus tapi cemilan. Tak usah kamu beliin! Aku yang bawa karena emak punya satu kuali. Jumpa nanti! Pinjam hp bebek biar kami bisa kirim bukti ke kamu. Orangnya cantik tapi gaya kayak nenek aku di kampung sono!"
"Punya mulut rangkap?"
"Hehehe...betul kok! Kamu ini memang aneh! Orang berlomba punya hp canggih kamu malah betah dengan hp zaman nenek aku! Jumpa nanti cantik!"
"Jangan lupa pakai masker biar mulut kamu tak kena cabai rawit! Assalamualaikum..!"
Gina tak mendapat jawaban salah melainkan tawa derai dari seberang sana. Gina mendesah jengkel namun tak lama karena dia sibuk memikirkan hubungan Peter dan Luna. Mengapa kedua orang itu bisa bersama padahal jelas Peter tampak selalu menentang keluarga papa Kevin. Mungkin Peter bersandiwara agar dia tak dicurigai sebagai dalang kehancuran Kevin. Makin besar niat Peter hancurkan Kevin maka semakin besar pula niat Gina lindungi Kevin dari tangan keji Peter.
Gina melihat bayangan Kevin berjalan ke belakang menuju ke kamar mandi. Gina makin kasihan pada Kevin dikhianati oleh orang dekat. Sebenarnya hati Peter itu terbuat dari apa? Kevin sudah sangat baik padanya tapi terbersit juga ingin hancurkan Kevin sampai tak berbekas. Sungguh kurang ajar Peter. Dilahirkan ke bumi hanya untuk mendulang dosa. Jauh hari sudah daftar diri jadi penghuni neraka jahanam.
Kevin wajib tahu apa yang dilakukan Peter agar Kevin lebih hati-hati serta buang semua rasa sayang terhadap saudara. Kalau Peter tega khianati mengapa Kevin tak tega singkirkan laki itu.
Gina biarkan Kevin mandi barulah dia menyusul mandi sambil tunggu ayah dan ibunya pulang. Pikiran Gina jadi bercabang karena pikir kesehatan ibunya dan nasib Kevin di kelilingi orang munafik. Bu Sarah masih lumayan dikelilingi oleh orang-orang tercinta, beda dengan Kevin dikelilingi oleh manusia jahat.
Gina berjanji takkan biarkan siapa pun sakiti Kevin karena lelaki itu baik orangnya walau awalnya dingin. Gina makin kenal Kevin dengan segala masalahnya.
Gina menyusup mandi setelah Kevin keluar dari kamar mandi. Rumah ini cuma satu kamar mandi yang harus dipakai gantian. Tidak seperti rumah Kevin setiap kamar ada kamar mandinya. Kevin harus terbiasa hidup sederhana bersama Gina.
Gani menata meja makan sebelum Bu Sarah pulang. Gani tak mau Bebani ibunya lagi dengan pekerjaan dapur setelah pulang dari dokter. Menurut Gani ibunya harus istirahat total bila memang sakit.
Lewat magrib om Sabri dan Bu Sarah baru tiba di rumah. Gani dan Gina sudah menunggu dari tadi tak sabaran mau tahu Ibu mereka sakit apa. Gani dan Gina adalah anak baik wajar saja kuatir kesehatan ibunya. Bagi keduanya Bu Sarah adalah segala-galanya.
Tak heran kedua anak ini menunggu di depan pintu rumah. Begitu om Sabri dan Bu Sarah turun dari mobil keduanya segera sambut Bu Sarah ibarat ratu baru keluar kota.
Om Sabri membimbing Bu Sarah dengan hati-hati membuat Gani dan Gina menelan air ludah. Sakit apa ibu mereka sampai om Sabri demikian waspada jaga Bu Sarah.
"Isshhh...mami sakit apa sih? Kok jalan kayak orang baru sunatan?" protes Gani merasa aneh ibunya tampak tak kurang apa pun namun diperlakukan seperti orang invalid.
"Masuk dulu baru omong! Ayo hati-hati!" Om Sabri tak peduli protesan Gani. Dia tetap pada gerakan semula membimbing Bu Sarah dengan hati-hati.
Bu Sarah tampak sangat tidak nyaman diperlakukan begini oleh om Sabri. Namun wanita ini tak banyak omong asal semua aman.
Gani dan Gina ikut dari belakang penuh tanda tanya. Ada saja tingkah om Sabri bikin orang gemas. Bukannya cerita sakit ibu mereka malah sok lembut pada isteri kesayangan.
__ADS_1
Akhirnya Bu Sarah duduk aman sentosa di sofa kecil mereka. Bu Sarah hanya diam biarkan suaminya yang bicara pada anak-anak soal kesehatan dia.
Gani dan Gina berdiri di depan Bu Sarah menunggu hasil diagnosa dokter tentang kesehatan ibunya. Gina sudah gemas ingin congkel mulut om Sabri agar jangan bertele-tele seperti cewek kehilangan pacar.
"Sudah boleh cerita ibu sakit apa?" tanya Gina tak sabaran.
"Ibu kalian tak sakit kok cuma kalian harus siapkan mental untuk menjadi kakak. Hehehe...ibu kalian hamil." kata om Sabri semangat.
Gina dan Gani melongo. Ibu mereka sudah empat puluh lebih masih hamil? Ini sangat membahayakan jiwa bumil dan juga janin dalam perut. Melahirkan anak di usia cukup tua sangat beresiko.
"Apa kalian pergi ke dokter kandungan? Kukira kalian salah ke dokter patah tulang." gumam Gani bikin om Sabri mendelik.
"Ibu kalian memang hamil. Kata dokter ibu dan janin dalam kondisi sehat cuma harus dijaga. Umur ibu kalian memang beresiko melahirkan tapi Tuhan sudah ngasih apa kita harus menolak?"
"Aduh papi! Kami sudah segede gini punya adik bayi apa tidak memalukan?" protes Gani manyun. Kupingnya akan tebal diejek oleh orang sekampung.
"Memangnya adik kalian hasil korupsi? Ini halal dan legal. Kalian harus ekstra hati-hati jaga ibu kalian sampai lahiran. Mulai besok tak boleh buka warung lagi. Ibu harus istirahat total. Semua pekerjaan rumah dan dapur kalian dua yang kerja."
"Aduh papi ganteng...kami ini kerja! Kapan sempat masak? Papi jangan aneh deh!" Gani merasa om Sabri makin tak masuk akal.
Tak pernah terpikir oleh mereka kalau pernikahan kedua ibunya masih bisa melahirkan. Kehamilan Bu Sarah ini sangat beresiko tinggi. Jangan-jangan nanti merengut nyawa ibu mereka. Keduanya belum siap kehilangan ibunda tercinta. Pendek kata keduanya menentang kehamilan Bu Sarah.
"Sudah tak usah ribut. Ibu baik saja kok! Kalian tak perlu kuatir Ibu masih bisa memasak dan melakukan pekerjaan rumah. Apa kalian pikir ibu sangat lemah? Ibu bisa kok lakukan pekerjaan rumah. Tuhan sudah beri karunia tak baik kita hujat pemberianNya. Kita syukuri saja." Bu Sarah melerai perdebatan tak sehat hanya karena dia mendadak hamil.
"Bu...apa tidak beresiko hamil di usia tak muda?" tanya Gina tetap kuatir.
"Semua kehamilan beresiko nak! Tidak pandang tua muda. Kita berserah pada Yang Maha Kuasa saja. Kita berdoa saja." ujar Bu Sarah bijak.
"Iya Bu...sekarang ibu pergi mandi dulu! Hari sudah lewat senja." Gina bergerak membantu Bu Sarah bangun dari sofa. Sikap Gina tak jauh beda dengan om Sabri menjaga Bu Sarah sepenuh hati.
Om Sabri tersenyum melihat kedua anak tirinya sudah bisa terima mereka bakal punya adik bayi. Memang sangat tak masuk akal sehat di saat usia dua puluh lebih mendapatkan kejutan dapat adik bayi. Usia Gani dan Gina juga sudah bisa hasilkan anak. Untung keduanya belum menikah jadi adik dan anak tidak selevel usianya.
Kevin keluar dari kamar dengar suara ribut-ribut di ruang tamu. Rumah ini demikian mungil maka suara agak ribut sedikit terdengar seisi rumah. Kevin tertarik pada topik perdebatan yang menyangkut kehadiran anggota baru di rumah.
"Ach nak Kevin... Gani akan segera punya adik. Ibu mereka sedang hamil muda." kata om Sabri atk bisa simpan rahasia. Menurut om Sabri kabar baik harus diperdengarkan seisi rumah. Ini pertama kali Om Sabri punya anak kandung tak heran girang bukan main.
"Oh selamat ya pak!" Kevin mengulurkan tangan menyalami Om Sabri. Ini adalah reflek orang ikut gembira dengar kabar baik.
"Terima kasih..sebentar lagi kita makan bersama! Hari ini sangat luar biasa."
"Luar biasa dari Hongkong? Sudah bangkotan baru punya adik. Kalau rambo punya anak nanti om dan keponakan satu kelas." omel Gani masih belum puas dengan kehamilan Bu Sarah.
"Kok nyasar ke aku? Kamu kali pingin cepat kawin! Tuh sapi betina pak haji lagi nyari jodoh. Coba lamar!" Tukas Gina hadang mulut comberan Gani.
Kevin sudah mulai terbiasa dengan suasana ramai di rumah Gina. Kedua saudara kembar ini akan selalu berdebat untuk hal sekecil apapun. Justru ini yang buat suasana rumah menjadi hidup. Canda tawa selalu menghiasi rumah ini. Inilah yang disebut home sweet home.
Bu Sarah malu pada Kevin mendadak hamil di usia tak muda. Seumur Bu Sarah harusnya gendong cucu bukan momong anak. Tapi Tuhan sudah bersabda mereka harus menambah anggota keluarga ya begitu lah yang terjadi.
Om Sabri girang bukan main mendapat Bu Sarah hamil di usia empat puluh tiga tahun. Semoga saja semua akan indah pada waktunya. Ibu dan anak selamat.
Om Sabri menelepon seseorang untuk beri kabar yang sudah di tunggu puluhan- tahun lalu. Om Sabri tak sabar ingin beri kabar pada keluarganya bahwa dia akan punya putra sendiri. Bukan cuma anak tiri seperti Gani dan Gina. Ini asli darah daging sendiri.
__ADS_1
"Halo. Assalamualaikum.."
"Waalaikumsalam...tumben telepon? Pikir sudah lupakan punya orang tua!" terdengar sahutan sinis dari seberang.
"Omong apa itu? Bukankah mami pernah bilang kalau tak bawa pulang cucu tak boleh hubungi kalian?"
"Lantas kau sudah punya anak? Dari wanita tua itu?"
"Aduh Mami ku sayang! Sarah tidak tua kok. Dia adalah wanita tercantik seluruh dunia. Aku sudah punya anak dua orang dan akan segera tambah."
"What??? Isteri tua kamu hamil? Yang bener?"
"Alhamdulillah Sarah sedang hamil mami.. aku tak sabar ingin beritahu mami dan papi."
"Ya Allah... akhirnya aku punya cucu kandung! Besok kau bawa Sarah ke sini! Biar dia melahirkan di sini. Mami mau rawat cucu mami dengan tangan sendiri."
"Aku pasti akan ajak dia jumpa kalian tapi jangan sekarang deh! Di sini aku banyak pekerjaan tak bisa kutinggalkan. Anak dan ibunya sehat."
"Laki atau perempuan?"
"Belum tahu mami...doakan semoga Sarah dan anak kami selamat sampai waktu lahiran."
"Tak usah dibilang ibu pasti doa. Kapan kalian mau ke Jerman? Biarlah Sarah lahiran di sini!"
"Nanti kubicarakan dengan Sarah dulu. Soalnya kami kan punya dua anak kembar."
"Bawa sekalian kenapa? Kalian semua bisa menetap di sini. Di sini juga cuma ada papi dan mami. Kalau ada kamu maka papi kamu akan pensiun."
"Itu akan kita bicarakan perlahan. Sekarang mami tak usah kuatir tak punya cucu kandung. Tak lama lagi dia akan segera muncul di muka bumi ini."
"Iya...mami tunggu kalian ya!"
"Iya mami! Salam untuk papi ya. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Om Sabri merasa lega sudah kabari kedua orang tuanya mengenai kehamilan Sarah. Dari dulu kedua orang tua Sabri kurang suka pada Sarah yang dianggap meracuni pikiran Sabri sampai laki itu tak berpaling dari Sarah.
Mana ada orang pacaran sampai dua puluh tahun tanpa ikatan pernikahan. Hanya Sabri yang sabar menanti pintu hati Sarah terbuka untuknya. Kesabaran Sabri sangat sesuai namanya yakni Sabri yang artinya sabar.
Penantian Sabri berbuah hasil berkat bantuan kedua anak kembar itu. Tanpa campur tangan kedua anak kembar mungkin sampai detik ini dia belum jadi seorang bapak. Kini semuanya jadi indah berkat kesabaran luar biasa Om Sabri.
Kita tinggalkan dulu Sabri yang sedang berbahagia. Kita ikuti perjalanan Ashura ke bengkel om Sabri untuk jumpa mata-mata yang di bayar memantau gerak gerik Peter dan Luna.
Ternyata di bengkel Om Sabri sudah ramai oleh konco-konco Gina. Mereka rata-rata preman insaf setelah dapat pencerahan dari om Sabri. Om Sabri angkat mereka tanpa ragu serta bimbing mereka jadi montir handal.
Kevin agak curiga melihat suasana bengkel yang suram. Bengkel hanya diterangi beberapa bohlam lampu hemat energi. Daerah ini rawan kejahatan. Kalau orang tak punya mental baja pasti pilih kabur hindari suasana kelam bengkel. Di tambah sejuta bau besi serta bau oli sangat kental.
Gina yang sudah terbiasa dengan segala bau ciri khas bengkel tak merasa terganggu oleh bebauan di sini. Gadis ini santai saja masuk ke dalam diikuti Kevin dengan rasa was-was.
"Halo monster Rambo.. tambah cakep saja!" sapa teman Gina tertawai dandanan Gina sudah lebih feminim dikit. Aura cewek mulai terpancar dari raut wajah cantik itu.
__ADS_1