JALAN MENUJU CINTA

JALAN MENUJU CINTA
Gani Pulang


__ADS_3

Gina dibawa jumpai mobil jadul warna hitam itu. Catnya tampak kusam hilang cahayanya. Gina menduga cat mobil itu masih original belum tersentuh oleh cat timpahan. Sekilas mobil itu masih gagah walau umurnya lumayan tua.


"Inilah CJ 7 bapak! Sudah beberapa tahun ini tak hidup karena mesinnya tak mau hidup." pak Julio paparkan kondisi terkini mobilnya.


Gina tak banyak komentar karena belum tahu di mana penyakit mobil ini. Harusnya dalam kondisi begini dibawa ke rumah sakit mobil yakni bengkel. Tapi untuk saat ini Gina belum berani keluarkan usul karena tak tahu pak Julio suka apa tidak mobilnya di gerek ke bengkel. Gina hanya bisa periksa tahap awal saja.


Gina periksa mesin dulu lihat batere apa masih kayak pakai. Nyawa utama kenderaan tentu saja batere. Kelihatannya batere sudah soak tak bisa berfungsi dengan baik. Itu hari ini Gina tak bisa berbuat apa-apa karena nyawa mobil tak berfungsi.


Pak Julio dan kedua anaknya perhatikan cara kerja Gina memang seperti montir profesional. Tak ada kesan Gina jijik sentuh barang berbau oli itu.


"Pak...maaf aku tak bisa periksa lebih dalam karena baterainya tak berfungsi baik. Mungkin harus diganti ataupun dicuci dulu."


"Iya sudah lama tak dihidupkan. Saranmu gimana?"


"Kalau bapak ijinkan kami derek ke bengkel kami saja. Di sana peralatan lebih lengkap."


Pak Julio termangu menimbang usul Gina. Harus pak Julio akui dalam kondisi begini memang harus dibawa ke bengkel. Di sana montir bisa periksa lebih maksimal. Tapi pak Julio ragu lepaskan mobil kesayangan takut diapain oleh orang bengkel.


Pak Julio jadi dilema ikuti saran Gina. Mau mobilnya sehat sempurna dia harus berkorban.


"Baik...silahkan kamu derek! Tapi harus jaga baik-baik ya!"


"Insyaallah kami akan berusaha maksimal. Besok baru kami derek karena hati ini bengkel tak buka. Bapak bisa ikut ke bengkel agar yakin mobil bapak berada di tempat tepat."


Pak Julio tertawa lebar merasa lucu Gina takut Pak Julio ragu pada kredibilitas bengkel tempat dia bekerja.


"Bapak percaya padamu. Ayok kita balik ke rumah! Bapak akan langganan di bengkel kamu. Semoga kita jodoh."


"Amin..."


Pak Julio mengiringi Gina dan kedua anaknya kembali ke rumah induk. Pak Julio ingin menahan Gina lebih lama di rumah itu karena Gina membawa aura positif buat kedua anaknya.


Pak Julio ingin kenalan dengan orang yang telah membentuk Gina menjadi manusia yang sangat berguna. Orang yang mempunyai kemampuan mendidik anak pasti lah bukan orang sembarangan. Latar belakangnya harus diperhitungkan.


Gina dijamu dengan baik oleh keluarga Pak Julio. Kedua anak pak Julio sangat menyukai Gina yang peramah dan baik. Gina sangat jauh berbeda dengan penampilannya yang agak dingin setelah bertemu dengan anak-anak. Di sini Gina berpenampilan lebih humoris dan manusiawi.


Sebelum adzan ashar Gina pamitan untuk pulang ke rumahnya. Gina berjanji besok akan kembali untuk derek mobil Pak Julio bersama dengan anggota bengkel lainnya.


Kedua anak pak Julio enggan berpisah dengan Gina namun mereka tak bisa menahan Gina lebih lama karena Gina mempunyai tugas lain. Gina tidak membuat waktu segera pulang ke rumahnya untuk menyambut kepulangan Gani. Gimanapun Gina sudah rindu kepada Gani si bebek kesayangan.


Sesampai di rumah suasana agak ramai. Gina menduga saudara kembarnya telah kembali dari negeri ginseng.


Gina memarkirkan motor bebeknya di tempat biasa barulah masuk ke dalam rumah yang tampak lebih ramai. Celoteh suara beberapa orang terdengar riang gembira. Tawa derai bergema di ruang tamunya yang seupil itu.


"Assalamualaikum..."


"Waalaikumsalam... eh Rambo sudah pulang!" teriak Gani berjingkrak senang jumpa saudara kembarnya yang agak kejam itu.


Gani merentangkan tangan ingin peluk Gina namun Gina melengos ogah pelukan di depan tetangga. Gina beri kesan biasa padahal dalam hati bersyukur Gani telah pulang dengan selamat.


"Ehh...sombong amat!" Gani pasang muka manyun dicueki Gina.


"Ingat...piring kotor menunggumu!" kata Gina melengos masuk kamar.


Gani dan para tetangga tertawa cekikan lihat Gina langsung ingatkan tugas yang telah dijanjikan Gina. Tak ada ramahnya sebagai gadis muda.

__ADS_1


"Lagi halangan ya?" gumam Gani menduga mengapa Gina makin cuek. Saudara datang dari jauh bukannya senang malah perlihatkan wajah seram. Belum apa-apa sudah ingatkan jadwal tugas.


"Alah...kayak bukan saudara kembar saja! Kita sudah hafal sifat Gina. Kita teruskan ceritamu!" kata Bu Ida tetangga sebelah tak sabar ingin dengar kisah cerita Gani selama berada di negeri ginseng. Mereka tak bisa pergi namun cukup dengar cerita sudah lumayan. Apalagi Gani ada bawa pulang oleh-oleh ala kadar untuk tetangga dekat. Gani bawa coklat Korea yang katanya sangat enak. Yang gratis tentu saja enak. Coba kalau disuruh beli jamin dibilang tak enak.


Gani sedang riang di.luar sedangkan Gina coba cek email lihat apa ada reaksi Lucia terhadap dirinya. Gadis itu pasti akan komplain tentang video yang dia buat.


Dugaan Gina tak meleset. Lucia caci maki dalam chat nya tuduh Gina manipulasi videonya. Gina sudah duga jauh hari hal ini pasti datang padanya. Namun Gina punya jurus berkelit. Sedikitpun Gina tak takut makian Lucia. Dia jauh dari kata tersangka.


\=Hei anjing...kau apakan video aku? Kau mau bikin malu aku?\=


\=Aku takkan maafkan kamu bila cemarkan nama baik aku. Aku akan tuntut kamu anjing.\=


Gina tersenyum tipis tak termakan emosi oleh cacian Lucia. Semua ini mang rancangan dia. Lucia sendiri bodoh mau masuk perangkap dia. Tuhan berpihak pada orang terzolimi sehingga terbuka jalan bagi Gina balas pada keluarga Subrata.


\=Yang gonggong itu yang anjing. Punya otak dipakai nona. Video yang kukirim kan kalian edit lagi. Apa ada yang salah? Apa kalian ada lihat hal aneh? Jangan sembarang tuduh ya! Apa aku kenal kamu di dunia nyata? Kamu ini manusia atau setan aku juga tak tahu. Aku kerja sesuai orderan. Jadi kuharap jaga tulisan anda! Kalau kau ragu pada kerja aku mulai detik ini kita putus hubungan. Jangan hubungi aku minta rancangan lagi!\=


Gina balas dengan tulisan menohok biar Lucia tahu rasa. Kalau mereka putus hubungan Lucia pasti takkan bisa luncurkan rancangan baru. Semua rancangan berasal dari dirinya. Lucia tak punya skill di bidang ini. Skillnya menipu orang.


Setelah balas Gina menutup laptop tidak mau tunggu jawaban Lucia. Gina putuskan tak mau digaji Lucia lagi biar gadis itu tahu rasa. Bila Kevin tuntut karya dari mana dia korek bila tanpa bantuan Gina.


Gina picingkan mata tak ingin memikirkan apapun lagi. Mulai besok kehidupan nyatanya telah dimulai lagi. Dia tak perlu pura-pura menjadi orang lain lagi. Cukup jadi Gina.


Malamnya seusai sholat isya Gani menemui Gina untuk beri oleh-oleh untuk saudaranya. Gani mana tega tak bawa sesuatu untuk adiknya. Gina juga sudah beri bantuan sangat besar untuk bantu dia jaga posisi di samping bos Kevin.


"Boleh masuk?" Gani nongol kepala di pintu kamar intip Gina sedang apa.


Gina tidak menoleh sedikitpun anggap Gani angin sedang bertiup keluar kan suara berisik. Gani pindahkan kaki ke dalam kamar adiknya sambil tenteng paper bag di tangan.


"Nih...!" Gani sodorkan paper bag kepada Gina yang sedang asyik nonton layar laptop.


"Bukan buang uang tapi tunjukkan rasa cinta pada adik tersayang. Terima kasih ya sudah capek gantiin aku!"


"Mana gaji bagian aku? Katanya mau hitung berapa gaji aku."


"Ya Allah kok punya adik kayak vampir pengisap darah Abang sendiri. Tega ya! Ini baju kubeli hampir lima ratus ribu." omel Gani jengkel Gina mulai hitungan. Salah sendiri janji akan bayar gaji Gina selama bantu dia di kantor Kevin. Gina orangnya disiplin tak bisa diberi janji kosong.


"Aku tak suruh beli. Pokoknya gajian nanti uangnya bagi dua."


"Iya deh! Tapi cuci piringnya tak usah ya?" rengek Gani bikin Gina memutar leher menantang Gani. Laki itu cengar-cengir takut Gina gampar mulutnya jilat ludah sendiri. Sebelum pergi seenaknya tebar janji. Begitu pulang mau ingkar.


"Pastikan besok sarapan lebih banyak untuk jadi sparing partner latihan karate ya!"


"Bonyok dong!"


"Pilih cuci piring atau bonyok? Terserah mau yang mana? Anda menentukan sendiri."


"Dasar Adek durhaka! Aku lapor pada mami." Gani hentakkan kaki ke lantai tak berdosa.


"Lapor saja biar kutambah jadwalnya!"


"Awas kau ya!" Gani letakkan paper bag di atas ranjang kecil Gina lalu pergi dengan wajah cemberut. Kapan Gina mau akur ngalah padanya. Setiap hari keras didik Gani agar berubah macho. Tapi belum jumpa perubahan.


"Tutup pintu dan terimakasih ya!" pesan Gina bikin amandel Gani kumat. Kerongkongan terasa panas dikerjain adik kembar yang rada tomboy.


Gina tersenyum tipis gembira sudah bikin kesal Gani. Anak itu sudah berapa hari liburan riang gembira. Rasakan sedikit derita mungkin takkan buat dagingnya menyusut.

__ADS_1


Hari baru kegiatan baru buat Gani. Gani merasa lebih ganteng setelah pulang jumpa dengan idolanya. Wajah Gani berseri-seri masuk kantor. Tugas pasti sudah menantinya. Gani tak tahu masalah besar apa telah diperbuat Gina di kantor. Semoga tak ada kejutan buat dia. Tak ada komplain dari Kevin tentang Gina.


Gina membereskan meja kerjanya setelah ditinggal beberapa hari. Gani mau lihat kotoran apa ditinggalkan oleh Gina di mejanya. Biasanya Gina itu kadang ada joroknya. Tak bisa bersih-bersih kalau ada kotoran.


Gani senang karena Gina tak tinggalkan jejak kotor. Malahan sangat bersih tanpa debu. Semua barang tertata pada tempatnya tak ada yang pindah.


Gina memang sudah sangat berjasa pada Gani. Kedudukan Gani takkan bergeser karena Gina. Cuma belum tahu bagaimana keluhan Kevin tentang Gina. Apa adiknya itu bawa masalah buat dirinya atau dirinya akan dapat pujian.


Derap sepatu familiar kembali bergema di lantai ruang kerja Kevin. Gani segera bangkit berdiri dengan sopan menyapa bos.


"Selamat pagi pak!"


Kevin hentikan langkah menatap Gani yang makin kinclong. Ternyata hati bahagia bisa pengaruhi penampilan seseorang. Gani begitu cerah seperti matahari baru terbit.


"Kau masuk ke ruang aku." perintah Kevin lalu beranjak pergi.


Jantung Gani kontan berdetak kencang beri signal bakal ada masalah datang. Pikiran Gani langsung jatuh pada Gina. Jangan-jangan adiknya pernah hajar bosnya sampai babak belur. Tapi tak mungkin karena wajah Kevin masih ganteng. Tak ada tanda-tanda laki itu pernah kena tinju Gina.


Gani terpaksa masuk ke ruang Kevin berdiri seperti anak SD kena setrap tak kerjakan pr.


Kevin dengan santai duduk di kursi mahalnya menatap Gani dengan tajam. Tatapan itu seperti ujung pisau diletakkan di bawah leher Gani. Keras dikit langsung tembus kulit cabut nyawa Gani.


"Kau kenal baik Gina?"


"Kenal pak! Apa dia bawa masalah?"


"Oh tidak ..aku mau dia tetap kerja di sini!"


Wajah Gani seperti ditampar angin mamiri. Sejuk datangkan kenyamanan. Adik nakalnya tak bikin masalah buat dia sudah merupakan karunia Tuhan. Bos malah ingin rekrut dia berarti penampilan Gina mendapat pengakuan bos.


"Kurasa agak susah pak! Dia itu orangnya seperti monster. Susah didekati."


"Katanya kalian teman baik. Masa tak bisa bujuk dia untuk jadi orang kantoran?"


Gani menciut ingat ancaman Gina bila tak senang hati. Kupingnya sudah berkali-kali jadi korban pelecehan Gina. Dia tak bisa melawan karena kekuatan Gina jauh lebih besar.


"Kurasa sangat susah pak! Gino itu orangnya sekeras baja. Jujur aku tak berani usik dia." sahut Gani menunduk takut Kevin kurang senang dia terusan membantah.


"Lalu apa kelemahan dia?"


"Dia???? Tak punya perasaan. Kayaknya tak ada yang dia takuti apalagi kelemahan dia. Seharian dia jarang interaksi dengan orang lain. Tak pernah tidur malam. Bangun subuh. Susah cari kelemahan dia pak!" Gani berusaha ingat semua kegiatan Gina. Semua berjalan normal tak ada yang aneh.


"Aku tak percaya seorang manusia tak ada titik lemahnya. Kau sangat kenal dia berarti kalian sangat dekat."


Gani mana berani akui Gina itu adik kembarnya. Bisa perang dunia bila Kevin tahu adiknya itu seorang cewek. Kedudukan Gani bisa digeser seketika.


"Kenal gitu saja pak! Sekarangpun dia sudah masuk kerja lagi di tempat dia kerja. Dia itu orangnya setia susah kita pengaruhi."


"Kasih tahu di mana dia kerja. Aku akan cari dia di sana."


"Bapak mau apa?" tanya Gani kuatir Kevin lakukan sesuatu pancing emosi Gina. Bukan hanya Kevin kena masalah mungkin dia akan kena imbas. Ntah bagian tubuh mana bakal jadi sasaran adiknya. Gani belum rela wajahnya yang baru saja kena sentuhan salon Korea jadi samsak Gina.


"Aku akan minta bosnya pecat dia. Kita lihat di mana dia mau cari kerja lagi. Aku akan hubungi semua tempat kerja agar tak terima dia." Kevin tersenyum licik bayangkan Gina memohon padanya agar diterima kerja. Betapa nikmat lihat wajah cantik Gina memelas minta dikasihani.


Gani yakin om Sabri tak mungkin pecat Gina. Gina merupakan tulang punggung bengkel om Sabri. Bagaimana Om Sabri mau pecat Gina. Gina tolol juga tak mungkin om Sabri pecat dia. Gina adalah anak kesayangan om Sabri.

__ADS_1


__ADS_2