
Di sini posisi Gina adalah bawahan, tak mungkin juga dia minta majikan dorong troli belanjaan. Takutnya nanti Kevin akan menodong Gina dengan alasan capek menemani Gina berbelanja. Selanjutnya pasti akan meminta yang bukan-bukan agar Gina betah di sampingnya.
Gina hanya beli beberapa keperluan untuk dirinya sambil menunggu Kevin melihat-lihat apa yang cocok di mata. Laki itu hanya mondar mandir lihat semua produk yang terpajang di rak. Tak ada yang cocok dengan selera laki ini. Mungkin barang di sini tak sesuai dengan produk yang diinginkan Kevin. Maklumlah orang kaya. Barang yang dipakai tentu saja beda dengan barang umum yang dijual di mana-mana. Punyaan Kevin mungkin saja edisi terbatas.
Keduanya jalan berdampingan seperti sepasang suami isteri belanja kebutuhan sehari-hari. Gina tidak berniat menambah isi keranjang sedangkan Kevin belum bergerak mengambil sesuatu.
Gina menanti dengan sabar apa yang diinginkan oleh laki itu. Mata Gina keliaran cuci mata lihat-lihat kalau ada barang sales ataupun korting besaran. Kan lumayan bisa mengurangi beban pengeluaran bila dapat barang murah.
"Pak...ada rencana nginap di sini?" pancing Gina biar Kevin segera memilih barang yang dia inginkan.
"Rencana ada tapi harus kamu kawani." balas Kevin bikin Gina mencibir lagi.
Kevin suka sekali lihat bibir bebas lipstik itu bergerak maju mundur. Bikin gemas ingin mengulumnya dalam mulut.
"Hei anak muda...tolong ambil bedak paling atas!" seorang wanita paro baya mencolek Kevin dari belakang. Tubuh Kevin menegang dicolek oleh wanita.
Gina tahu gelagat bosnya mulai resah segera menggenggam tangan Kevin sekalian merapat ke tubuh laki itu.
"Ambilkan pak!" ujar Gina lembut alihkan perhatian Kevin dari pikiran ingin kumat.
"Eh iya..." Kevin tersadar segera ambil barang diinginkan oleh ibu itu. Untung Kevin bisa kuasai diri tidak kumat di saat gini. Dewi penolong Kevin juga berada di samping membuat imun tubuh Kevin menjadi kokoh.
Kevin menyerahkan bedak kepada ibu tadi. Ibu itu tertawa senang ada anak muda ramah mau bantu dia. Wajah Kevin yang ganteng tentu saja jadi santapan lezat mata ibu-ibu paro baya itu.
"Terima kasih anak muda. Kamu baik dan ganteng. Isterimu juga cantik. Semoga kalian langgeng hingga hari tua ya!" doa ibu itu tulus.
"Amin Bu...terima kasih doanya!" Kevin cepat-cepat iyakan doa ibu itu. Siapa tahu doa ibu itu memang ampuh bisa wujudkan harapan Kevin.
"Bu...kami ini bukan..." protes Gina tak suka disatukan dengan Kevin.
Kevin sudah hafal sifat Gina tak kenal kata ramah padanya. Gadis itu emoh dibilang pasangan Kevin.
"Maaf Bu..kami permisi lanjut belanja!" Kevin menarik Gina jauhi ibu itu sebelum mulut kecilnya membantah lebih banyak.
"Iya nak.."
Gina bersungut-sungut ditarik Kevin ke blok lain. Kali ini mereka berhenti di tempat khusus perlengkapan bayi. Keduanya bingung lihat rak terisi semua keperluan anak-anak bayi. Ada perlu apa mereka ke situ.
"Ngapain di sini? Mau beli pakaian anak bapak?"
Kevin menyentik kepala Gina dengan geram dengar ejekan anak ini. Dia tahu persis Kevin tak bisa dekat wanita selain dirinya masih juga keluar kata ejekan.
"Beli untuk anak kita kelak! Kamu yang pilih mau punya anak laki atau cewek." sahut Kevin kalem balas goda Gina.
Gina tak tahu kalau hati Kevin sedang bahagia karena dirinya sukses atasi trauma terhadap wanita untuk pertama kali. Dia lulus dari cobaan berkat anak buah ajaibnya. Kevin harus berterima kasih pada Gina mengantarkan atasi penyakit yang sudah bertahun bercokol di tubuhnya.
"Anak kucing kali...meong!" ketus Gina melangkah pergi diikuti Kevin. Kevin takkan marah walau Gina berkata lebih kasar lagi. Dia mulai bisa adaptasi dengan cewek di sekitarnya. Kevin belum tahu gimana reaksi bila tanpa Gina. Bisa perlu didalami.
"Bapak mau beli apa sih? Bulu kaki sudah jatuh sekilo di sini belum juga pilih belanjaan. Ntar keburu malam! Motor aku masih di kantor lho!"
"Aku juga tak tahu mau beli apa? Kamu saja yang pilih."
__ADS_1
Gina membuka mulut sampai ternganga. Dia disuruh pilih. Dia mana tahu apa keperluan laki ini. Di rumah kurang apa dia mana ngerti.
Gina menaikkan tumit kaki biar tinggi baru menyentuh dahi Kevin cek apa laki ini masih sehat. Takut kena demam tinggi sampai gila.
Baru kali ini ada orang berani sentuh kepala Kevin. Hebatnya cewek pula. Tak ada takutnya Gina bully bosnya. Bos dianggap sebagai teman sederajat. Hanya Gina punya nyali sebesar itu.
Setelah menyentuh dahi Kevin, Gina menyentuh dahi sendiri untuk test apa suhunya sama. Rasanya tak ada yang aneh. Laki ini normal.
"Normal kok pak!"
"Hei...anak muda! Aku ini bos kamu. Seenak jidat sentuh bos. Ini pelecehan status."
"Sekarang bukan di kantor artinya kita ini teman. Yok kita pulang! Sudah mau magrib."
"Aku belum sesuatu. Masa pulang tanpa bawa barang belanjaan." protes Kevin masih betah jalan-jalan bersama Gina. Baru kali ini Kevin dengan hati lapang tanpa ras was-was. Kapan lagi bisa keluyuran telusuri pusat belanja.
"Iya...mau beli apa? CD? Bh? Atau lipstik?"
"Itu buat kamu! Ayok kita cari toko kosmetika! Aku mau lihat kamu kena bedak dan lipstik." Kevin gembira diberi ide oleh Gina. Kevin. ingin sekali lihat bagaimana tampang Gina bila disentuh foundation dan bedak lain. Pasti akan tambah cantik.
"Dasar gila..." desah Gina tak habis pikir kok bosnya berubah jadi genit. Mulai sehat berubah sifat pula?
Gina mendorong troli ke tempat yang diinginkan oleh Kevin. Di situ bersusun aneka produk kosmetik untuk mempercantik gadis Indonesia. Sayang di situ tak ada pramuria bisa dandani cewek di stan merek kosmetik.
Kevin agak kecewa tak ada orang bisa dandani Gina di saat ini. Hilang harapan lihat anak buahnya transformasi jadi gadis impian.
"Pak...aku tak perlu semua ini! Aku terima apa di beri oleh Tuhan. Kita pulang ya! Bukankah bapak harus bersiap untuk berangkat ke kota M? Kita pulang istirahat dulu ya!"
Kevin menghela nafas. Kegembiraan malam ini harus berhenti sampai di sini. Mereka harus segera berpisah karena masih ada tugas lain menanti mereka.
"Jangan pak! Itu artinya aku meminta imbalan. Aku berharap bapak segera pulih untuk lanjutkan hidup. Aku tahu begini tidak enak maka Kudoakan semoga bapak sehat."
"Kamu ini makin hari makin cerewet. Aku belanja bukan untukmu melainkan untuk keluargamu. Belikan mereka makanan kesukaan mereka. Kurasa itu bukan sogokan." kata Kevin serius mau balas Budi baik Gina.
Memberi makanan mungkin bukan termasuk membeli budi baik Gina. Sekedar silaturahmi buat keluarga orang yang dia yakin bisa bawa dia keluar dari trauma.
"Baiklah! Kita beli sekilo jeruk manis saja."
"Cuma itu?" Kevin kaget Gina hanya meminta belanjaan paling murah.
"Lantas? Mau beli sekilo emas?" ucap Gina dengan sewot. Gadis ini pergi ke tempat buahan segar untuk cari jeruk biar Kevin senang niatnya terpenuhi.
Kevin tersenyum. Dasar Gina berdarah panas. Dibilang dikit balasnya menusuk jantung.
Sederetan buahan segar tersusun rapi sesuai dengan kelompok masing-masing. Semua lengkap di sana. Aneka warna buah membuat mereka menyegarkan mata.
Gina pilih beberapa buah jeruk Sunkist kesukaan Gani. Di rumah hanya Gani paling kuat makan buah terutama buah Sunkist manis. Gina teringat pada kakaknya maka usulkan beli buah kesukaan Gani.
Kevin tak mau ketinggalan pilih beberapa buah lain termasuk buah anggur dan apel merah. Kevin masukkan cukup banyak dalam kantong plastik untuk ditimbang oleh penjaga buah.
Gina mengira Kevin beli buahan untuk dirinya sendiri maka gadis ini diam saja. Akhirnya ada juga yang dibeli laki ini. Pikir pulang bawa tangan kosong. Katanya belanja tapi hasil nihil.
__ADS_1
Puas pilih buah Kevin pilih roti kaleng dan minuman segar. Satu persatu barang pindah ke dalam troli. Perlahan dan pasti troli mulai terisi oleh buahan dan makanan. Kevin. tampak puas lihat troli sudah sarat isian. Bukan hanya diisi oleh beberapa potong barang Gina.
Kalau boleh Kevin ingin. memberi lebih banyak pada Gina untuk menyenangkan anak dara itu cuma sayang Gina bukan type orang kemaruk harta. Dia lebih mengandalkan kaki tangan sendiri mendulang rezeki.
"Sudah cukup pak?" tanya Gina setelah troli menjadi berat.
"Kau rasa sudah cukup belum?" Kevin balik tanya.
"Bapak yang belanja kok tanya ke aku? Kalau punya banyak duit beli saja supermarket ini. Kita bisa pilih pelan-pelan kemauan kita." sindir Gina membuat Kevin terbahak-bahak. Ada saja jawaban Gina memancing rasa geli di perut Kevin.
"Sinting..." Ujar Gina memilih dorong troli ke kasir.
Kevin ikut dari belakang tak membiarkan Gina membayar semua belanjaan. Kevin sudah niatkan beri hadiah pada Gina karena telah berhasil membawanya keluar dari rasa trauma yang bertahun gerogoti tubuhnya. Hadiah sekecil ini tak ada artinya dibanding jasa Gina bantu dia.
Gadis kasir mengeluarkan satu persatu belanjaan dari troli lalu scan harga satu persatu sampai selesai. Totalnya naik jutaan membuat Gina menelan air ludah. Belanja Sekutil gini sudah merobek kantong. Untung dia hanya beli beberapa potong barang kecil. Kantongnya juga tak bawa segitu banyak duit. Gina bisa takar seberapa lebar kantong sendiri sanggup isi berapa banyak duit. Kantongnya sangat kecil.
Kevin menyodorkan kartu sebesar korek api kepada gadis kasir untuk bayar semua belanjaan. Gina tercekat Kevin mau bayarin dia. Gina sama sekali tak harap Kevin rogoh kocek bayar keperluan dia. Ini hanya menanam budi yang mesti dibalas.
"Pak...ini.." Gina mencolek Kevin agar jangan bayar punya dia.
Kevin abaikan colekan Gina tetap lanjut bayar semua belanjaan mereka. Kasir yang lihat gerakan Gina hanya tersenyum penuh arti. Bagi kasir keduanya merupakan pasangan imut. Saling menjaga dalam diam.
"Maaf ya nona! Isteriku ini memang aneh! Selalu merasa dia lebih berhak nafkahi suami." kata Kevin memberi senyum maut agar sang kasir tidak salah sangka.
"Oh...ibu muda yang perkasa! Kalian pandangan serasi. Langgeng ya! Jangan kawin cerai seperti pasangan sekarang!"
"Oh tidak...aku sangat sayang pada isteriku ini! Di dunia ini cuma ada satu wanita kucintai. Wanita yang berani jentik kepala suami." ujar Kevin kalem namun tujuannya menyindir Gina.
Gina mendelik besarkan mata mau telan Kevin dengan sinar mata tajam. Ini makin menunjukkan power Gina pada Kevin. Gina menguasai hidup Kevin sampai laki ini tak berkutik. Beginilah pikiran dalam benak sang kasir. Sungguh apes nasib Kevin punya bini judes.
Rasa iba mengalir dalam hati sang kasir. Hidup Kevin pasti tak mudah ditelan oleh bini super woman. Ini hanya pendapat pribadi tanpa tahu fakta sesungguhnya.
Kasir menggesek kartu Kevin lantas meminta laki itu tanda tangani struk pembayaran. Satu disimpan satu lagi diberikan pada Kevin berikut kartunya.
"Terima kasih sudah belanja." kasir itu membungkukkan badan sopan.
Gina mendengus dengan angkuh mendorong troli keluar dari tempat Kasir memasukkan belanjaan kembali ke troli untuk didorong keluar menuju ke parkiran. Tak mungkin juga mereka tentang berkantong-kantong tas kresek sampai ke mobil. Dengan bantuan troli kerja dipermudah.
Kevin biarkan Gina pergi duluan menuju ke parkiran. Dia berjalan pelan ikut dari belakang. Dari belakang Gina tampak maskulin tak ubah gaya jalan seorang lelaki berparas rupawan.
Kevin heran mengapa dia bisa jatuh ke tangan wanita tomboi seperti Gina. Tak ada jiwa feminim sedikitpun. Kalau mereka pacaran rasanya Kevin berada di posisi sebagai pihak lemah harus dilindungi. Pelindungnya seorang wanita cantik. Terasa janggal kalau cewek berdiri di barisan depan jadi perisai lelaki. Namun itulah kenyataan. Kevin berada dalam lindungan Gina.
Gina memasukkan semua belanjaan di bagasi mobil. Gadis bekerja tanpa mengeluh ini itu bikin gaya manja. Dia tunjukkan dia seorang pekerja keras dan rajin. Tidak rugi Kevin gaji dia untuk lakukan semua tugasnya.
Gina menutup kembali bagasi lantas berjalan ke pintu mobil berencana buka pintu untuk Kevin. Kevin melihat Gina sudah siap maka dia berjalan ke arah mobil di ujung parkiran.
Tiba-tiba dari arah berlawanan muncul sepeda motor dengan kecepatan tinggi menuju ke arah Kevin. Gina yang melihat hal ini segera menarik Kevin memutar ke belakang mobil untuk hindari tabrakan.
Kevin nyaris tersungkur ke lantai kalau tidak ditarik Gina dengan kuat. Gina lepaskan Kevin lalu berjalan maju menghadang sepeda motor yang punya niat buruk itu. Salah satu pengendara sepeda motor turun bawa sesuatu di tangan berjalan ke tempat Kevin yang masih bengong.
Gina melihat hal ini tak bisa sembunyikan rasa kaget. Gina bergerak secepat kilat menghadang orang itu. Gina posisikan diri jadi tameng Kevin agar laki itu tidak terluka.
__ADS_1
Orang itu menyabetkan senjata tajam ke arah Kevin namun cepat ditangkis Gina. Tak urung tangan kecil Gina jadi santapan benda tajam itu. Kulit putih Gina langsung berubah merah.
Gina tidak tinggal diam berikan tendangan kuat ke wajah lelaki ditutup oleh helm. Laki itu terjatuh kena tendangan Gina. Gina tidak berhenti di situ lanjut hajar lelaki itu bertubi-tubi sampai diam tak bergerak.