
Subrata makin penasaran siapa yang bersama Sarah mantan isterinya. Sarah tidak berubah sedikitpun selain makin matang. Awet muda masih manis seperti dia tinggalkan dulu.
Sayang Subrata tak punya akses dekati Sarah lagi apalagi di samping Sarah ada seorang gadis galak siap lumatkan orang yang dekati Sarah. Subrata bertekad korek kehidupan Sarah. Apa mantan isterinya hidup layak sejak dia tinggalkan? Sarah pergi tanpa harta gono gini akibat hasutan Angela alias Poniyem. Wanita malam yang berhasil kuasai hidup Subrata.
Gani dipindahkan ke ruang perawatan setelah ada hasil lab. Gani di diagnosa kena demam berdarah karena trombosit nya rendah sekali. Pihak rumah sakit menyarankan agar pihak keluarga bersiap bila Gani butuh transfusi darah bila Hb nya terus anjlok.
Kebetulan pihak rumah sakit tidak memiliki stok darah AB Rhesus negatif. Kebetulan di rumah sakit tak ada stok darah demikian maka keluarga diharapkan bantu cari dari luar. Pihak rumah sakit juga akan bantu cari melalui PMI.
Bu Sarah dan Gina diskusi masalah pendonor darah Gani. Orang yang bisa donor tentu saja Gina yang satu darah dengan Gani. Kedua adalah saudara kembar maka golongan sama. Masalahnya Gina sedang halangan tak boleh diambil darahnya maka mereka harus memutar otak mencari pendonor dari orang lain.
Bu Sarah dan Gina termenung cari jalan siapkan satu kantong darah untuk Gani bila Hb darahnya terusan anjlok.
Gani sudah ditempat di ruang rawat kelas dua sesuai standar yang ditentukan oleh pihak perusahaan. Bu Sarah dan Gani serta Afif diskusi di luar kamar agar jangan terdengar oleh Gani dia butuh penambahan darah untuk dongkrak Hb darah.
"Fif..coba kau cari di antara teman di kampung. Jika penting sekali kita ambil saja darah aku." kata Gina tegas. Gina tentu saja ingin Gani sembuh total. Tak ada rasa takut sedikitpun walau harus ambil resiko anemia karena diambil darah sewaktu datang bulan.
"Kita cari dulu! Ayo telepon om kamu minta pendapat. Mungkin dia tahu ada teman golongan darah sama dengan kalian." Bu Sarah tak ingin bahayakan Gina. Keduanya anak Bu Sarah. Mereka berdua sama pentingnya buat Bu Sarah. Bu Sarah tak ingin kehilangan satupun anaknya.
"Baik Bu.." Gina mengeluarkan ponsel jadul kebanggaan tanpa malu.
Anak kecil saja sudah pakai hp smartphone. Gina masih terpaku pada teknologi jadul. Tak ada kemajuan sebagai seorang generasi muda. Namun Gina tidak masalahkan kekurangan ini. Yang penting tepat guna.
"Assalamualaikum om..."
"Waalaikumsalam...gimana Gani?"
"DBD om.. kita butuh stok darah AB Rhesus negatif."
"Darah langka...baiklah! Om akan cari. Gani stabil kan?"
"Sekarang sudah tidur. Panasnya turun dikit tapi belum turun sepenuhnya. Maaf ya merepotkan!"
"Omong apa itu? Kalian dua anak om... kalian sakit om juga ikutan sakit. Secepatnya om kabari kamu."
"Terimakasih om...saya akan usaha dari tempat lain. Aku hubungi teman-teman sesama karateka."
"Bagusnya kamu juga hubungi bos Gani. Di perusahaan begitu banyak karyawan tak mungkin tak ada yang darahnya sama dengan Gani. Eh bukankah darahmu juga sama?"
"Katanya tak boleh karena lagi halangan. Banyak sekali aturan dibuat manusia. Aku akan coba hubungi bos Gani. Aku tunggu kabar om."
"Iya nak! Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam..."
Gina menyimpan ponsel jadul itu ke dalam saku celana lantas balik ke tempat Bu Sarah dan Afif menunggu. Gina tak perlihatkan wajah gundah setelah tahu darah mereka sangat langka. Gina butuh kesabaran penuh mencari pendonor darah untuk saudaranya.
Bu Sarah sangat berharap dapat kabar baik dari Gina. Om Sabri selalu dukung mereka pasti akan usahakan darah untuk Gani.
Gina tersenyum tipis untuk menenangkan ibunya. Andai dia pasang muka gundah hanya menambah rasa panik ibunya. Gina usaha hindari semua kesedihan ibunya.
"Gimana nak?" tanya Bu Sarah setelah Gina kembali.
"Om Sabri akan usahakan. Aku akan coba telepon kantor Gani minta tolong pada bosnya cari di antara rekan kerja. Ibu tenang saja. Aku toh ada walau belum bisa tapi kalau terdesak kita bisa ambil kok!" Gina menepuk punggung tangan ibunya perlihatkan tak ada yang perlu disusahkan.
Afif teman Gani tak kalah sudah hati. Gani adalah teman satu gang yang sangat akrab. Karena keisengan mereka Gani jadi sakit. Kalau mau dikaji lebih jauh penyakit Gani tak ada hubungan dengan kejadian semalam. Demam berdarah tidak terjadi satu dua hari melainkan sudah berhari-hari namun reaksinya baru sekarang. Gani sudah terjangkit virus DBD namun sekarang baru meledak di saat tubuh Gani sedang melemah.
__ADS_1
Gina kembali keluarkan ponsel coba hubungi bos Gani. Harus langsung pada bos baru bisa perintahkan seluruh anak buah untuk bantu Gani.
"Selamat pagi pak. Ini Gina saudara Gani."
"Gina??? Oh iya...ada apa?" terdengar sahutan semangat dari seberang sana.
"Begini pak! Saudara aku Gani kena DBD. Dia butuh darah segar golong AB Rhesus negatif. Sini tak ada stok darah golongan itu. Apa boleh minta tolong pada bapak cari golongan itu di antara rekan kerja?"
"Gitu ya? Akan kuusahakan. Gimana keadaan dia sekarang?"
"Masih tidur cuma panasnya sudah agak turun. Nanti test lagi darah lihat Hb ada turun tidak. Kalau turun transfusi darah harus segera dilaksanakan." kata Gina datar takut Kevin berpikir dia sedang cari rasa iba.
"Siapa jaga dia?"
"Aku dan ibu."
"Aku akan ke sana. Kata orang minum jus jambu biji cepat tingkatkan trombosit. Nanti kalau ada akan ku bawakan."
Gina kaget Kevin mau datang. Sejak kapan bos yang sombong itu mau merendahkan diri menjenguk anak buah yang sakit. Atau memang sifat Kevin begitu rendah hati mengurus setiap anak buahnya yang sakit. Bisa jadi Gina belum mengenal sifat Kevin dari sisi baiknya.
"Tak usah pak! Nanti pekerjaan bapak terganggu. Bapak cukup bantu carikan pendonor darah untuk Gani."
"Aku ini pemimpinan Gani wajib tahu kondisi setiap karyawan. Kalian tunggu saja di sana."
Gina tak bisa berkata apa-apa lagi. Mungkin memang sifat Kevin mengurus setiap karyawannya yang sakit. Ada sedikit nilai tambah untuk Kevin di dalam hati Gina. Ternyata Kevin tidak seburuk yang dia duga.
"Iya pak. Aku wakili Gani ucapkan terima kasih."
Kevin betulan datang menjenguk Gani. Ntah tujuannya tulus atau tidak yang penting Kevin sudah tunjukkan tanggung jawab sebagai bos baik.
Pak Subrata sendiri surprise lihat Kevin datang. Lelaki ini senang lihat Kevin di sana. Lelaki ini mengira Kevin datang menjenguk Lucia yang sedang sakit.
Lucia drop setelah kejadian yang menimpa keluarganya. Lucia tidak bisa menerima kalau ibu yang dia kagumi adalah mantan seorang wanita malam. Lucia sangat membenci diri sendiri dilahirkan oleh seorang wanita yang menggeluti kehidupan tengah malam. Lucia auto membenci ibunya yang dianggap telah mempermalukan dirinya.
"Nak Kevin???"
"Pak Subrata? Siapa sakit?"
Subrata terdiam tak sangka kehadiran Kevin di situ bukan untuk Lucia. Bahkan Kevin tak tahu pegawai designer nya sedang sakit. Lalu ngapain dia di rumah sakit. Pertanyaan berbalik pada pak Subrata. Untuk siapa Kevin datang.
"Lucia sedang kurang sehat."
"Lucia? Pantes berapa hari tidak ke kantor. Aku akan menjenguknya. Aku di sini karena asistenku kena DBD. Katanya butuh darah AB Rhesus negatif. Darah yang langka."
Subrata tercekat dengar golongan darah yang sama dengan golongan darahnya. Di dunia ini jarang temukan golongan darah itu. Agak sulit didapatkan.
"Siapa pegawaimu?" tanya Pak Subrata pelan masih surprise ada orang punya darah sama.
"Gani pak! Oya...bapak mau pulang?"
Subrata mengangguk tanda mengiyakan pertanyaan Kevin. Subrata tidak terlalu menggebu ingin pulang karena ingin mengetahui siapa pemilik darah yang sama dengan darahnya.
"Darah bapak juga sama. Apa perlu bantuan bapak?" tawar Subrata ingin adu nasib cari tahu apa anak itu betul anak Sarah yang barusan dia temui.
"Tapi pak...mana boleh ambil darah bapak? Dia itu hanya asisten aku."
__ADS_1
"Asisten kenapa? Ingin membantu orang apakah kita harus melihat latar belakangnya? Aku kita ke bagian pengambilan darah. Tidak perlu cerita siapa yang donor darah. Kita membantu bukan cari nama."
Kevin menjadi ragu untuk menerima donoran darah Subrata. Lelaki itu adalah orang kaya mana bisa sembarangan mengalirkan darahnya kepada orang tak dikenal. Kevin benar-benar segan untuk menerima uluran tangan Subrata.
"Pak...aku..."
Subrata menepuk bahu Kevin yang tampak masih ragu untuk menerima bantuannya. Subrata benar-benar ikhlas membantu Gani walaupun tidak mengenal orang itu.
"Aku wakili Gani berterima kasih pak. Silahkan! Aku lihat anak itu sebentar dulu. Dia ditemani oleh ibu dan adik kembarnya."
"Ibu dan adiknya? Ibunya bernama Sarah?"
"Kalau tak salah itu nama ibunya. Mereka tidak mempunyai ayah karena menurut cerita ayahnya telah meninggalkan mereka. Cuma aku tidak tahu persis bagaimana kisah hidup mereka."
Subrata menelan air ludah membasahi kerongkongan yang terasa kerontang. Kalau memang benar Gani anak Sarah bisa jadi anak itu adalah anaknya. Tetapi waktu mereka bercerai Sarah tidak mengatakan dia sedang hamil. Wanita itu memilih bungkam seribu bahasa sewaktu ditalak oleh Subrata demi Poniyem alias Angela.
Subrata harus membuktikan kalau anak yang sedang sakit itu adalah anaknya. Jalan satu-satunya adalah dengan tes DNA secara diam-diam. Saat ini adalah saat yang tepat untuk melakukan tes karena Gani kebetulan ada di rumah sakit.
"Baiklah! Kau pergi lihat mereka dan aku langsung donor darah. Ingat jangan katakan siapa penyumbang darah!" kata Subrata takut Sarah tak mau menerima sumbangan darahnya. Kalau benar Gani anaknya berarti dia telah menyelamatkan nyawa anak sendiri.
Betapa menyesakkan memiliki dua anak tetapi tidak diakui sebagai bapak. Tetapi semua ini bukan kesalahan pihak Sarah melainkan kesalahan dia sendiri. Dia lebih memilih seorang wanita malam daripada seorang istri yang sangat baik. Tidak diakui sebagai orang tua Subrata juga tidak boleh sakit hati. di mana kontribusi dia sebagai seorang bapak? Dia hidup gelimang harta sementara mantan istri dan anak-anaknya hidup dalam kesusahan.
Kevin berjalan masuk ke dalam mencari Gina. Sebelumnya Kevin bertanya pada gadis penjaga meja resepsionis tanya di mana kamar Gani. Berdasarkan petunjuk gadis itu Kevin menemukan kamar rawat Gani.
Kevin bukannya langsung jumpa Gani melainkan mencari Gina. Kevin ingin sekali melihat reaksi tubuhnya setelah tahu Gina adalah cewek. Apakah di juga akan alergi seperti terhadap cewek lain?
Kevin menemukan Gina sendirian di depan kamar ruang rawat Gani. Mata Kevin menangkap sosok cantik itu dalam pakaian sederhana kaos oblong serta celana jeans. Kini jelas tampak dia anak gadis. Dari rambut hingga ujung kaki sudah wakili sosok wanita. Dari segi wajah tak ada perubahan tetap cantik.
"Gino..." panggil Kevin ingin menggoda Gina.
Gina menoleh ke arah suara panggilan lantas majukan bibir tahu Kevin sedang usilin dia. Sudah tahu dia cewek masih gunakan panggilan laki. Huruf O dan A sangat jauh intonasi suara.
"Pak Kevin...mana pak Peter?" Gina mencari bayangan Kevin yang tak pernah jauh.
"Di kantor..ada perlu dengan Peter?"
"Ach tidak...pisah juga amplop dan perangko." gumam Gina ibaratkan hubungan Kevin dan Peter seperti amplop dan perangko.
Kevin mendengar gumaman Gina namun belum ngeh makna dari kalimat Gina. Kevin tak tahu sama sekali kalau Gina anggap Kevin dan Peter adalah pasangan sejati. Kevin tak suka cewek karena doyan cowok.
"Aku sudah dapat pendonor darah untuk Gani. Sebentar lagi orangnya datang. Pokoknya darah untuk Gani sudah ada!" Kevin mengingat kalau Gina sangat berharap ada donatur darah untuk Gani.
Mata indah Gina kontan cling bersinar cerah. Satu persoalan tuntas hari ini. Kini tinggal tunggu penyembuhan Gani serta masalah pak Haji yang minta uang. Gina akan fokus pada permintaan pak Haji selanjutnya.
"Terimakasih pak!" tanpa sadar Gina menyalami Kevin. Semula Kevin tersentak hampir saja mundur karena takut penyakitnya kumat di depan Gina lagi. Dulu sudah pernah kumat sekali gara-gara Lucia. Semoga tak ada reaksi disalami Gina.
Tak ada hawa dingin maupun rasa sesal dera dada. Perasaannya normal saja seperti dia memegang Peter maupun Gani. Tak ada reaksi bikin Kevin gelisah.
Kevin tertawa dalam hati sudah ada wanita bisa sentuh dia. Artinya jalan menuju ke normal akan segera terealisasi. Kevin tak perlu takut pada wanita lagi berkat rasa percaya diri dari Gina.
"Ayok kita lihat Gani!" ajak Kevin tak mau terlalu lama tenggelam dalam euforia. Masih perlu waktu untuk cari kesembuhan.
"Oh maaf pak! Silahkan!" Gina menggeser pintu untuk Kevin.
Di dalam ada Afif dan Bu Sarah. Gani juga sudah bangun tanpa semangat. Laki itu duduk di atas brankar dengan pandangan kosong. Gina agak miris melihat kondisi saudaranya. Laki yang biasanya selalu tertawa penuh semangat kini kuyup ku tak bergairah.
__ADS_1
"Pak Kevin..." seru Gani surprise bos besarnya datang menjenguk. Dalam sejarah baru kali ini bosnya datang jenguk karyawan sakit. Mungkin Gani adalah karyawan pertama dapat kehormatan dikunjungi Kevin.