JALAN MENUJU CINTA

JALAN MENUJU CINTA
Bersama


__ADS_3

Gina cuma perlu hati-hati menjaga Kevin. Sebelum Gina mengetahui siapa dalang dari rencana pembunuhan Kevin maka Gina harus pura-pura bodoh agar bisa menyelidiki secara diam-diam. Dari pembicaraan Peter dia memang tidak bermaksud membunuh Kevin dalam waktu dekat ini. Dia hanya ingin Kevin sakitan dan bodoh sampai dia meninggal sendiri.


Gina duduk termenung sendirian sambil menanti berita dari Om Sabri serta Kevin sadar dari tidurnya. Kegundahan Gina hanya bisa tersimpan dalam rongga dada. Dia belum selesai dengan Mahabarata kini Kevin pula dalam pusaran kemelut. Laki ini asli sendirian hadapi saudara dalam kegelapan.


Gina meremas rambut sendiri merasa sangat resah. Dia sudah tahu masalah Kevin, tak mungkin dia biarkan laki itu berjalan sendirian menantang maut.


"Nona..."


Gina angkat kepala lihat Bibik mengantar secangkir teh dengan asap masih mengepul dari cangkir keramik itu. Bau harum teh sedikit membantu Gina berpikir tenang.


Bibik meletakkan cangkir perlahan di depan Gina sambil melihat rona wajah Gina yang tak bahagia. Tak usah di bilang Bibik tahu Gina kuatir kesehatan Kevin.


"Minum non!"


"Terima kasih! Bibik masih ada kerja lain?"


"Tak ada...apa yang bisa Bibik lakukan untukmu? Masih lapar?"


Gina tertawa kecil ditawari makan lagi. Sungguh mengerikan membayangkan tumpukkan lemak bergelantungan di badan. Gerakan Gina akan jadi lamban.


"Ach Bibik...makan terus menimbun lemak! Oya..pak Kevin kerja apa jam begini?"


"Biasanya berada dalam ruang kerja. Kadang nak Peter datang temani dia. Mereka ngobrol sampai larut malam."


Kalau Peter selalu menemani Kevin dalam suka dan duka mengapa bisa timbul niat jahat. Dia datang menemani Kevin hanya untuk meracuni lelaki itu? Gina yakin tak ada niat baik di dalam diri Peter kalau dia memang ingin membuat Kevin hidup sengsara. Putar-putar masalahnya adalah soal harta. Peter hanya ingin menguasai harta kekayaan Kevin dengan memanfaatkan penyakit jiwa Kevin.


"Gitu ya Bik! Selain Peter apa pak Kevin masih mempunyai saudara lain yang mengunjunginya?"


"Ada juga dari sebelah mama nak Kevin namun itu jarang. Hanya nak Peter yang rutin temani nak Kevin." cerita Bibik sebatas yang dia ketahui.


"Kasihan juga hidup pak Kevin. Siapapun yang ciptakan trauma dalam hidup pak Kevin harus membayar semua ini. Bolehkah aku masuk kamar pak Kevin untuk lihat dia?"


"Masuk saja! Bibik percaya kamu anak baik."


"Terimakasih Bik! Aku takkan siakan kepercayaan Bibik padaku. Kita harus bersatu bantu Pak Kevin keluar dari trauma beratnya."


"Iya nona!"


Gina bangkit sambil membawa secangkir teh suguhan Bibik ke kamar Kevin. Mana tahu Kevin terbangun merasa haus. Gina betul-betul iba pada Kevin tak tahu hidup di ujung mata pisau. Setiap saat bisa tertusuk sampai tewas.

__ADS_1


Gina membuka pintu kamar Kevin dengan hati-hati. Seumur hidup baru kali ini Gina masuk kamar laki lain selain Gani. Bahkan Gina belum pernah masuk ke kamar ayah kesayangannya yakni Om Sabri. Walaupun Gina menganggap Om Sabri sebagai ayahnya tetapi masih mempunyai batasan. Sekarang omnya telah menjadi ayah maka batasan itu perlahan akan terkikis. Soalnya kamar ayahnya juga kamar ibunya.


Gina melihat Kevin tertidur pulas dalam kamar ber-AC sangat dingin. Betapa nyaman jadi orang kaya. Tak kenal kata panas walau udara di luar sanggup panggang kulit. Mereka nyaman saja merangkul mimpi sekehendak hati.


Gina meletakkan cangkir teh di meja kecil samping tempat tidur Kevin. Dengan langkah perlahan Gina dekati Kevin sambil memeriksa suhu badan laki itu. Wajah bersih itu tampak damai tanpa kerutan jelek di kening.


Kevin seperti anak kecil tanpa dosa bila dalam keadaan tidur. Tapi begitu bangun seperti raja tanpa mahkota.


Puas menjelajahi wajah Kevin yang ganteng, Gina mencoba cari tahu obat yang dimaksud Peter. Gina harus bawa obat itu ke dokter lain untuk cek isi kandungan obat itu. Akan menyembuhkan Kevin atau perparah kondisi laki itu.


Kalau obat itu berbahaya artinya dokter Clara juga bermasalah. Dia pasti bersekongkol dengan Peter celakai Kevin. Masak jalani pengobatan puluhan tahun tak ada hasil. Tak ada kemajuan dalam penyakit Kevin.


Gina mencuri setiap butir obat Kevin untuk dijadikan bahan penelitian dokter lain. Gina takkan biarkan Kevin ditangani oleh dokter Clara lagi kalau memang ingin racuni Kevin.


Selesai periksa obat Kevin, Gina duduk di samping Kevin tanpa lakukan apapun. Paling bisa menunggu Kevin bangun. Gina tak tahu laki ini akan tambah buruk atau tambah membaik. Sekarang hanya bisa berdoa semoga Tuhan beri jalan terang pada umatnya yang teraniaya.


Udara sejuk dalam kamar Kevin membuat Gina terayun memberatkan mata. Matanya perlahan sayu tak dapat tahan rasa ngantuk. Perlahan tubuh Gina terkulai di bawah kaki Kevin.


Buai angin sejuk dari pendingin udara makin mengantar Gina terlelap. Di tambah luka di tangan menyebabkan daya tahan tubuh Gina makin renta. Tanpa sengaja Gina tertidur berbantal paha Kevin.


Gina tak sadar telah menyentuh daerah sensitif Kevin. Paha merupakan daerah rawan buat m membangkitkan gairah seseorang. Gina mana tahu karena karena terlanjur lelap dalam tidur. Gina bukan seperti orang lain bisa begadang. Dia harus bangun pagi bantu Bu Sarah menyiapkan makanan untuk jualan. Setelah itu pergi kerja. Waktu siang Gina mana sempat istirahat karena kerja lain masih menunggu.


Lewat tengah malam Kevin terbangun. Mungkin reaksi obat penenang telah berlalu maka laki ini terbangun. Kevin merasa kakinya agak berat seakan tertimpa sesuatu, laki ini mengarahkan mata pada kepala yang bertumpu pada pahanya. Kevin sangat kaget melihat siapa yang tertidur pulas berbantal pada pahanya. Tak urung jantung Kevin berdebar-debar kencang karena ada seorang gadis bersamanya di tempat tidur.


Gina dan Kevin pernah tidur bersama tetapi dalam suasana lain. Waktu itu Kevin masih mengira Gina adalah seorang lelaki muda. Tak ada muncul perasaan aneh sedikitpun walaupun mereka sangat intim waktu itu. Tapi kali ini lain karena Kevin sudah mengetahui Gina adalah seorang anak gadis. Perasaan Kevin kontan tidak karuan dibarengi jantung yang berdegup kencang.


Untunglah gejala alergi Kevin tidak kumat melainkan perasaan aneh yang tak pernah dia rasakan. Ini membuktikan tubuh Kevin telah menerima kehadiran Gina sepenuhnya.


Kevin tidak berani menggerakkan kakinya takut mengganggu tidur Gina. Di masa ini Kevin berusaha mengingat apa yang telah terjadi sampai Gina bersedia tidur di kamarnya. Perlahan Kevin memutar memori berbelanja bersama Gina di mall dan mendapat serangan dari orang tak dikenal. Kevin mulai mengingat semua kejadian yang sangat mengerikan itu sampai melukai Gina.


Kevin cepat-cepat melihat kondisi Gina apa ada kekurangan sesuatu. Kevin sangat berterima kasih kepada Gina yang telah mengorbankan diri demi melindunginya. Kevin melihat tangan Gina yang terbalut perban berarti luka Gina terdapat di tangannya. Kevin telah ingat semuanya kalau Gina maju menghadang penjahat yang berusaha melukai dirinya. Tanpa rasa takut gadis itu mengorbankan diri melindungi Kevin.


Masih untung Gina tidak apa-apa walaupun tangan terluka. Kevin berjanji akan membayar kebaikan Gina dengan cara apapun. Gadis itu memang sulit didekati karena sikapnya yang dingin terhadap orang lain. Dia melindungi diri sendiri dengan kubah tebal.


Perlahan Kevin memindahkan kepala Gina dari kakinya walau agak sulit karena dia tak bisa turun dari ranjang sebelum memindahkan Gina dari kakinya. Dengan gerakan ekstra hati-hati Kevin memindahkan kepala Gina ke atas bantal sebagi ganti kakinya. Kevin tak ingin ganggu tidur Gina. Gadis ini pasti lelah apalagi ada luka di tangannya.


Dengan menahan nafas akhirnya Kevin berhasil pindahkan kepala Gina ke bantal. Lantas dengan perlahan Kevin turun dari ranjang mengangkat tubuh Gina naik ke ranjang gantiin dia tidur di tempat dia baru saja berbaring. Andai Kevin membawa Gina ke tempat sebelahnya akan menganggu ketenangan gadis ini maka Kevin cari yang dekat.


Gina hanya melenguh kecil tetap lanjut nikmati waktu istirahat tak peduli dipindah ke tempat lebih nyaman. Andai Gina sadar mana mungkin Kevin bisa seenak perut menyentuh tubuh anak ini. Bisa perang dunia ketiga. Jamin Kevin kibar bendera putih tanda menyerah.

__ADS_1


Gina telah aman di atas kasur melegakan Kevin. Biarlah gadis muda ini rasakan kenikmatan ranjang besar Kevin. Kasur lebih empuk dari kasur di rumah yang hanya kasur busa biasa harga ratusan ribu. Beda kelas dengan kasur Kevin yang tentu melangit harganya.


Kevin pergi ke kamar mandi cuci muka kembalikan kesegaran tubuh dan pikiran. Kevin memandang wajah sendiri dari pantulan kaca cermin di dinding sambil berpikir keras siapa yang ingin melukainya. Lawan bisnis atau orang-orang tak puas dengan kekayaan Kevin.


Kevin harus lacak siapa yang demikian jahat turun tangan kejam kepadanya. Dalam otak Kevin terlintas bayangan mantan papanya yang durhaka pada anak istri. Kevin lebih suka tak punya papa dari pada mendendam seumur hidup.


Kevin membuka jendela merasakan rangkuman angin menerpa wajahnya agar sadar bahwa permainan baru sedang tayang live dalam kehidupannya. Kevin harus lebih waspada pada orang sekitarnya. Namun tak pernah terlintas di benak Kevin kalau orang paling dekat dengannya selama ini adalah racun paling mematikan. Kevin akan gandeng Peter untuk usut masalah ini. Peter adalah orang kepercayaan Kevin tak tergantikan.


Kevin tak sadar sedang simpan bara api dalam sekam. Bara api pasti akan menyala membakar Kevin sampai gosong. Kevin sama sekali belum menyadari bahayanya Peter dalam hidupnya. Cuma Kevin masih beruntung ada orang telah mengetahui niat busuk pintar yakni Gina. Gina pasti akan semaksimal mungkin melindungi Kevin dari Peter.


Detik demi detik berlalu mulai mengeluarkan semburat jingga tanda mentari akan segera menampakkan diri. Kalau suasana ini berada di desa makan ayam telah berkokok bersahutan. ini Di tengah kota dari mana bunyi kokok ayam tanda fajar telah hadir.


Di sekitar rumah Kevin masih terlihat sunyi belum ada kegiatan apapun. Di rumah tetangga juga belum ada kehidupan karena orang kota tidur telat bangun juga telat. Tidak seperti orang di kampung yang akan segera terbangun bila mendengar suara adzan dari masjid.


Lokasi tempat tinggal Kevin agak jauh dari mesjid sehingga suara panggilan sholat luput dari gendang telinga Gina. Gadis itu dengan pede lelap dalam kamar lelaki yang bukan muhrimnya. Ntah bagaimana reaksi Gina bila tahu dia telah lakukan hal paling dibenci oleh agama yakni tidur di tempat salah.


Kevin meninggalkan kamar supaya Gina tidak canggung satu kamar dengannya. Kevin sudah memahami sifat Gina secara perlahan. Gadis itu sangat junjung adat ketimuran walaupun orangnya seperti laki. Dia tidak sembarangan bergaul dengan lelaki tanpa ikatan.


Kevin sarapan duluan karena sangat lapar sebab semalam dia tidak sempat makan malam. Dia tertidur setelah tiba di rumah dalam kondisi setengah sadar. Pagi ini Kevin belas dendam makan lebih awal dalam porsi lebih banyak.


Bibik dengan setia menemani Kevin sarapan. Bibik tak berani bertanya di mana keberadaan Gina walau tahu semalam Gina masuk kamar Kevin. Dari masuk tak keluar lagi hingga pagi. Apa yang dilakukan oleh kedua orang ini hanya mereka yang tahu.


"Bik...apa Gina ada pulang ke rumahnya semalam?" tanya Kevin mengunyah roti berisi telor dan keju.


"Tidak nak! Dia menunggumu dari datang. Nak Peter pulang tinggal non Gina. Bukankah dia jaga kamu dari semalam?"


"Aku tertidur tak tahu dia ada di sampingku. Terbangun baru lihat dia. Sekarang dia masih tidur. Sediakan sarapan untuknya."


"Dia sangat setia. Tidak mengeluh sedikitpun walau tangan terluka. Dia juga tak cerita tentang lukanya. Emangnya ada apa?" Bibik kepoin kejadian yang menimpa Kevin dan Gina. Bibik sudah seperti ibu buat Kevin tak heran sangat kuatir terjadi sesuatu pada anak asuhnya.


"Ada orang menyerang aku. Gina mengorbankan diri menghadang orang itu. Dia terluka karena aku!" Kevin meletakkan sarapannya di piring mengenang kembali kejadian di mall. Serba cepat mematikan.


"Ya Allah..dia yang terluka tapi dia pula yang rawat kamu. Gimana sih kamu?" omel Bibik mengarahkan mata ke arah kamar Kevin lihat apa Gina sudah keluar kamar.


"Aku kaget bik!" Kevin menyesal mengapa dia sangat lemah tak bisa jadi lelaki sejati buat wanita. Seharusnya dia yang lindungi Gina bukan sebaliknya.


"Nona Gina adalah gadis baik tidak banyak tingkah. Kamu harus jaga dia karena kamu yang laki. Sekarang dia ada di kamarmu. Apa rencana mu beri jawaban pada keluarganya sebagai tanggung jawab seorang lelaki." Bibik adili Kevin telah sekamar dengan seorang anak gadis. Bibik sudah tak sabar ingin melihat Kevin segera punya pasangan. Umur Kevin sudah tiga puluh lebih sudah saatnya punya keluarga sendiri.


Kevin terpana diingatkan bibik soal tanggung jawab pada Gina. Apa yang harus dipertanggungjawabkan? Mereka toh tidak lakukan hal melanggar agama maupun hukum. Mereka profesional hubungan bos dan anak buah. Cuma kebetulan ada kejadian tak menyenangkan ini membuat Gina harus bermalam satu kamar.

__ADS_1


__ADS_2