JALAN MENUJU CINTA

JALAN MENUJU CINTA
Diciduk


__ADS_3

Polisi yang temani Jamilah meringis menahan rasa kesal. Maunya Jamilah lembut dikit gunakan suara full power. Tikus got pasti ikut terusik oleh teriakan Jamilah membelah kesunyian.


Ardi dan teman lain tak kalah kaget dihantam badai teriakan Jamilah. Kalau sudah begini mana ada rahasia lagi kehadiran mereka. Penghuni komplek jamin akan intip apa yang telah terjadi. Mengapa Jamilah cari sensasi di malam hari.


Teriakan Jamilah sungguh mujarab. Tak butuh waktu lama dua orang keluar dari dalam hanya bermodal kain sarung. Kalau ada pasangan sedang memadu kasih pastilah ingin cekik leher Jamilah sampai putus. Acara nikmati tour ke bulan tertunda sudah.


"Ya ampun Milah... tenggorokan kamu apa sudah sembuh?" tegur ibu berbadan tak jauh beda dengan Jamilah. Sama-sama sabar subur. Kelihatannya aura komplek ini trademark bertubuh gempal. Baru jumpa dua ibu-ibu sudah tampak tunjukkan betapa subur penghuni komplek.


"Sudah dong Bu RT...ini ada pak polisi cari suami ibu." Jamilah menunjuk teman Ardi yang menunduk malu gara suara blong Jamilah.


"Polisi???? Apa salah suami aku? Ketahuan selingkuh sama bini orang?" seru Bu RT tak kalah heboh. Pak RT melongo sampai tak bisa berkata-kata.


Malam hari begini tiba-tiba didatangi polisi bukanlah hal baik. Ini merupakan malapetaka yang akan mencoreng nama baiknya sebagai ketua RT. Seharusnya Pak RT itu sadar kalau dia tidak berbuat salah maka tak perlu takut. Ketakutan sendiri berarti dia sedang menyimpan rahasia takut ketahuan sama istrinya.


"Pak RT mau selingkuh sama aku??? Aku siap jadi yang kedua. Bu RT ijin kan?" ujar Jamilah genit ambil kesempatan goda pak RT yang sedang bingung.


"Ijin gigimu...kucabut semua gigimu biar ompong. Janda genit."


"Ngak genit susah laku Bu...Oya...silahkan pak polisi! Tangkap saja kalau pak RT selingkuh!" Jamilah belum puas bikin ulah bangkitkan emosi Bu RT. Mungkin nikmat bisa usilin tetangga dekat.


Teman Ardi menepuk dada agar jangan kena serangan jantung. Kalau diperpanjang buntutnya perang mulut di malam sepi ini. Teman Ardi harus cepat tengahi agar tak melebar ke mana-mana.


"Assalamualaikum pak...kami dari pihak kepolisian mau minta ijin melakukan penggrebekan pada salah satu rumah warga bapak. Jadi kami datang hendak minta persetujuan bapak."


Wajah pak RT yang sempat menegang perlahan mereda. Mungkin pak RT sedang bersyukur belangnya tidak ketahuan sama istrinya. Ini pasti ada sesuatu hal buruk disembunyikan oleh Pak RT dari istrinya yang bertubuh bundar itu.


"Ayok silahkan masuk dulu biar kita bicara lebih jelas. Apa yang di luar juga anggota bapak?" mata pak RT jelalatan ke jalan melihat dua mobil terparkir di seberang.


"Betul pak! Kami harap bapak ikut dengan kami agar tak terjadi salah paham. Ini merupakan tindakan kriminal berat jadi harus segera kita lakukan pengusutan.


Pak RT manggut-manggut paham, "Kalau gitu tunggu aku berpakaian."


Berkata demikian Pak RT masuk ke dalam rumah untuk berganti dengan pakaian lebih sopan. Bu RT tak kalah lega kalau suaminya tidak terlibat dengan masalah apa-apa. Kalau perang mulut dengan Jamilah bukan hal baru lagi. Setiap hari mereka juga berperang mulut walaupun masalahnya seupil. Sehari tak ribut dengan Jamilah gulai di kuali terasa hambar. Seperti kehilangan satu bumbu penyedap paling penting.


Jamilah juga tak tahu malu setiap hari goda pak rt walaupun belum terjadi skandal. Jamilah berani koar doang. Ditantang beneran jadi bini muda belum tentu berani.


Si usil Jamilah memeluk tangan pasang gaya menaksir berat badan sang bu rt tak sadar dia juga perusak alat timbangan.


Teman Ardi berharap dalam hati semoga mulut ember Jamilah tak melumer lagi. Perang mulut sesama wanita kadang bikin malu hati para lelaki. Nyerocos out of record.


Bu rt kesal dipandangi terus oleh Jamilah seperti ajak perang lagi. Untuk sementara bu rt malas ladeni Jamilah. Dia harus dukung suami jalankan tugas sebagai raja lingkungan ini. Bu Rt sudah dengar alasan pak polisi datang ke komplek ini. Masalahnya tentu kecil.


Pak Rt kembali dengan pakaian sopan dan bersih. Profil seorang pemimpin baru muncul setelah tampil beda. Bukan kayak tadi hanya pakai kaos kutang dan kain sarung.

__ADS_1


"Ayok kita ke rumah yang bapak maksud! Sebelumnya aku mohon tegakkan azas praduga tak bersalah." ujar pak rt bijak hendak lindungi warganya walau kesandung kejahatan.


"Tentu saja pak! Tanpa bukti yang jelas kita tidak bisa melakukan penangkapan. Itu sama saja melawan hukum." Teman Ardi menyambut baik niat pak rt menjaga warganya. Pihak polisi juga bukan orang bodoh melakukan hal tanpa pertimbangan.


Mereka juga bisa terjerat hukum bila sembarangan menuduh orang tanpa bukti. Pihak yang dituduh bisa lapor bila mereka memang tak lakukan kejahatan.


Pak RT tak kuatir lagi antar pihak kepolisian jumpa keluarga yang dituju. Memang lebih bagus hadir di lapangan jadi saksi hidup kejadian penangkapan.


"Rumah mana target bapak?" pak rt menunda langkah berdiri di tengah jalan meminta petunjuk dari pihak polisi.


Jauh di hati pak rt sudah tahu namun dia tetap bertanya untuk lengkapi kecurigaan. Pak rt harus hati-hati bertindak agar jangan salah kaprah.


"Rumah Bu Mince dan Luna."


Helaan nafas pak rt jelas terdengar. Dugaan pak rt tak meleset. Ketua komplek ini sudah duga ada yang tidak beres di keluarga itu. Sudah cukup lama mereka tak melihat papa Kevin keluar rumah. Mau tanya segan karena Mince dan Luna menutup diri dari pergaulan.


"Silahkan pak! Biar aku yang panggil biar mereka cepat buka pintu." Pak rt mengajukan diri sebagai pelopor masuk rumah papa Kevin.


Teman Ardi mempersilahkan ketua komplek jalan duluan barulah dia ikut dari belakang. Sementara Ardi dan kawan lain berdiam diri dalam mobil tidak menonjolkan diri dulu. Takut begitu melihat banyak aparat mereka kabur.


"Assalamualaikum..." seru pak rt kencang tak kalah dengan suara Jamilah beda versi. Satu keras bariton sedang suara Jamilah melengking nyaring mirip suara kuntilanak gentayangan.


Bu rt dan Jamilah perhatikan dari jauh tak berani mendekat. Keduanya berdiri berdekatan lupa kalau mereka ini musuh tersayang. Sehari tak jumpa timbul rasa kangen.


"Hei...kamu ini kenapa sama Mince? Kan dia tak pernah ganggu kamu. Kok doanya sadis."


"Aduh bu rt...di Mince itu sombongnya selangit kayak bini konglomelarat."


"Konglomerat bukan konglomelarat. Omong belepotan. Sekolah lagi tuh!"


"Nah ini bu rt tak tahu.. dulu konglomerat tapi sekarang konglomelarat. Apa bu rt tak tahu kalau pak Ibrahim jatuh kismin. Jaringan signal lelet amat. Makanya si Mince tendang pak Ibrahim dari rumah."


Sumpah mati bu rt belum dengar berita ini. Antena di rumah Jamilah sangat hebat cepat sekali menangkap siaran berita aktual. Bu rt tak bisa menahan diri dengar gosip teranyar kekinian. Bu Rt lupa dia dan Jamilah musuh abadi. Dengar gosip lebih penting dari musuhan.


"Ayok cerita lagi! Kamu hebat Mil! Aku samasekali tak tahu hal ini. Kita masuk ke dalam yok! Aku ada goreng kerupuk emping. Enak cerita sambil ngemil." Bu rt menggamit lengan Jamilah bak sahabat sejati. Barusan saling serang kini bak konco tak terpisahkan.


Jamilah tentu saja terima ajakan bu rt dengan senang hati. Bisa gosip dapat suguhan pula walau tak mahal. Gencatan senjata telah di mulai demi perjuangkan gosip top on the top di lingkungan ini.


Panggilan pak rt mendapat sambutan dari rumah Mince. Yang keluar bukan Mince melainkan Luna. Wanita itu sudah berganti pakaian rumahan siap tidur. Wajah ditempel sejenis kertas menyerupai masker. Luna keluar tak malu tampil dengan kondisi tak siap terima tamu.


"Pak rt...ada apa malam ganggu waktu istirahat orang." Luna beri kesan yak senang diganggu..


"Boleh buka pintu pagar dulu nona Luna?" Pak rt tetap berlaku sopan tak terpengaruh oleh sikap ketus Luna.

__ADS_1


"Pak...ini sudah jam berapa! Masak bertamu tengah malam. Besok saja!" Luna malas layani pak rt dianggap bukan orang penting. Luna perlihatkan sikap arogan orang kaya. Sok penting begitulah adanya.


"Maaf nona Luna... ada hal sangat urgen saat ini! Lebih baik kita bicara baik-baik sebelum adanya keributan di sini." teman Ardi tak mau kehilangan moment tak bisa jumpa Luna lagi. Jalan damai masih terbuka untuk apa bikin onar di komplek orang.


"Kamu siapa pula ikut campur." suara Luna naik satu oktaf makin tak sedap si kuping. Kalau penyanyi yang naikkan oktaf suara teras adem di kuping. Ini yang omong perempuan tak punya lebel malu. Sudah pasti fals.


"Nona akan tahu siapa kami bila kita bicara baik-baik." teman Ardi tak sungkan bicara lebih keras imbangi suara Luna.


Luna terhenyak mulai sadar bahaya sedang mengintai. Nyalinya agak menciut karena suara teman Ardi tak bersahabat lagi. Bukan Luna namanya bila cepat jatuh mental. Wanita ini sudah terbiasa berada di atas mana mau ditindas oleh laki lain. Dia saja bisa tindas Peter yang notabene wakil CEO. Masak anggota pak rt tak bisa diatur.


"Aku mau istirahat. Kita bicara besok." ketus Luna balik badan berniat tinggalkan tamu tak diundang. Sudah begini jalan paling tepat adalah mundur susun rencana pergi dari lingkungan ini.


"Tunggu nona.." seru Ardi mendadak keluar dati mobil. Suara Ardi yang bikin mabuk kepayang para cewek menahan langkah Luna. Wanita itu putar kepala melihat siapa pemilik suara ngebas itu.


Bukan cuma satu sosok keluar dari mobil melainkan empat orang. Serentak mereka maju ke depan pintu pagar Luna. Kalau Luna tak segera buka pintu maka Ardi dkk akan buka paksa.


Cara damai telah ditempuh tetapi tidak digubris oleh Luna. Jalan terakhir ya model paksa. Sebenarnya Ardi tak mau bikin heboh namun sikap angkuh Luna bikin kesal mereka yang menunggu dati tadi.


"Kalian mau apa?" tanya Luna mulai gemetar melihat rumahnya telah dikerumuni beberapa lelaki berbadan tegap. Mereka pasti bukan preman karena di dampingi pak rt.


Lutut Luna kontan lemas. Bayangan buruk terlintas di kepala mungil Luna. Tak disangka secepat ini sudah muncul pihak berwajib usut kehilangan Papa Kevin. Siapa yang melapor mereka padahal papa Kevin raib di telan bumi. Kalau Kevin tak mungkin lapor mereka karena tahu Kevin sangat membenci papanya.


Dengan langkah gemetaran Luna paksa kaki bergerak ke arah pintu lalu putar kunci agar para penyidik dan pak RT bisa masuk. Kali ini lidah Luna harus lebih licin dari biasa untuk lolos dari penangkapan malam ini. Segala upaya harus dia tempuh agar tak sampai ke kantor polisi. Dia tak boleh masuk penjara apa pun terjadi. Ini hal paling memalukan.


Pikiran Luna hanya ada cara berkelit. Sewaktu lakukan kejahatan tak ingat kata malu. Bertindak sesuka hati anggap dunia miliknya. Yang lain hanya numpang hidup di atas lahannya maka dia bisa berbuat semena-mena.


Ardi dkk meringsek masuk langsung ke dalam. Ada dua lainnya jaga Luna jangan sampai keluar dari pintu pagar. Mereka takut Luna ambil langkah seribu mau kabur dari jeratan hukum.


"Kita ke dalam nona Luna." ajak pak RT tak bisa berbuat banyak. Pihak polisi sudah lalui tahap sesuai prosedur mengajaknya ikut saksikan penangkapan ini. Kini semua tergantung barang bukti yang bisa antar kedua wanita beda usia itu nginap di hotel gratis bersama para kecoak dan tikus.


Luna menyeret langkah tanpa daya. Cepat atau lambat hal ini pasti datang cuma Luna tak sangka sangat cepat. Mereka tak sempat kabur keluar negeri sudah datang pihak berwajib.


Ardi sudah duduk di kursi tamu tanpa ijin tuan rumah. Ardi membawa map untuk dibaca oleh Luna menyatakan merek datang secara resmi atas perintah dari kantor. Kalaupun mereka ditahan malam ini semua legal.


"Duduklah nona! Di mana ibumu?" suara seksi Ardi tak lagi merdu di kuping Luna. Malahan seperti suara malaikat maut siap jemput mereka menuju ke alam kematian.


"Ada di kamar...biar kupanggil." Luna melirik pak RT sekilas isyaratkan bantuan. Pak RT mematung di pinggir ruang tamu belum ada kesempatan bicara. Pak RT harus dengar dulu apa dakwaan buat Luna dan Mince baru bisa ambil kesimpulan.


Luna dan Mince dihadirkan barengan di ruang tamu dengar mengapa mereka didatangi pihak berwajib. Tentu saja dengar apa dosa mereka.


Wajah Mince dan Luna pucat pasi menanti aba-aba dari Ardi. Keduanya tak bisa ngelak dari hukuman bila terbukti berbuat curang serta lakukan tindakan keji pada papa Kevin. Bibir Mince komat Kamit baca mantera supaya terhindar dari hukuman. Ntah dukun mana kasih mantera penghindar hukuman. Pikir sang dukun punya ilmu halimun sakti bisa sulap pikiran Ardi jadi kosong melupakan kejahatan Mince. Lihat saja seberapa sakti dukun andalan Mince. Hukum lebih sakti atau dukun itu.


"Begini ibu-ibu...kami dapat laporan resmi kalau kalian lakukan penganiayaan terhadap pak Ibrahim dan perampasan harta. Bukti lengkap dan hasil dari rumah sakit juga ada. Jadi kami minta anda berdua hadir di kantor untuk pertanggung jawabkan perbuatan kalian."

__ADS_1


__ADS_2