
Gina makin tak enak tiba-tiba diserahkan tanggung jawab sangat besar. Memegang uang perusahaan tak sedikit bukannya membuatnya senang malah tertekan. Gina bukan orang silau akan harta karena tujuan hidupnya adalah cari kebahagiaan mengandalkan sepasang tangan sendiri.
Gina menelan air ludah sebelum angkat suara. Dia harus tenang tak boleh gugup menerima limpahan tugas seberat ini. Menerima berarti menambah beban di bahu yang telah sarat dengan masalah. Gina takut dia tak bisa memikul beban over load. Gimanapun dia hanya seorang wanita muda dengan segala keterbatasan.
"Opa...Gina terimakasih atas kepercayaan opa dan Oma tapi kami masih terlalu muda untuk memegang tanggung jawab segitu besar. Bisa saja kami tergoda dan berbuat hal tak pantas. Gina rasa ayah adalah orang paling pantas terima tugas ini." kata Gina sambil membungkukkan badan langsung mohon maaf tak bisa terima tugas ini. Lebih baik tolak dari awal sebelum keluarga om Sabri menaruh harapan pada mereka.
Opa manggut-manggut coba paham. "Opa dan Oma sudah tua! Ayah kalian harus pegang perusahaan kita di Jerman sedang yang di sini hanya andalkan orang lain! Keuntungan kita tiap tahun sangat tipis bahkan ada yang rugi! Opa hanya ingin kalian ambil alih lihat apa memang rugi atau ada permainan!"
Darah Gina kontan naik begitu mendengar perkataan sang opa menjurus ke arah negatif. Tampaknya di perusahaan opa juga ada tikus nakal gerogoti uang perusahaan. Gina si pencinta kejujuran merasa terpanggil untuk tegakkan keadilan. Dia harus tumpas semua kejahatan yang terbayang di mata.
"Gina terima tugas ini opa! Serahkan semua pembukuan perusahaan serta semua kontrak kerja sebelum opa perkenalkan Gina sebagai pemimpin. Gina harus pelajari dulu semua kegiatan di perusahaan sebelum ambil alih perusahaan dari oknum pengerat!" ujar Gina berapi-api seperti jenderal akan masuk ke Medan perang.
Semua tersenyum melihat Gina mau masuk ke dalam kekacauan perusahaan opa. Gina bersumpah tidak akan membiarkan mereka yang jahat merajai bumi ini. Kalau bisa Gina ingin menumpas segala kejahatan yang ada di dunia ini dan tampil sebagai superhero buat mereka yang terzalimi. Cuma sayang Gina hanya seorang anak gadis yang memiliki keterbatasan.
"Terima kasih sayang...opa kira kamu mampu! Sekarang opa sudah tenang ada yang meneruskan perusahaan di sini! Semoga amanah ya nak!"
Om Sabri tersenyum melihat anaknya berani terima tantangan sebesar ini. Om Sabri tidak meragukan kemampuan Gina. Tapi kalau Gani yang terima tugas ini Om Sabri masih harus pikir ulang. Gani belum memiliki kemampuan seperti Gina. Om Sabri bukan pilih kasih namun melihat dari kemampuan antara kedua anaknya itu.
Gina bukannya girang menjabat sebagai presiden komisaris perusahaan. Kedudukan Gina di atas CEO karena akan bawahi pejabat yang kini duduk sebagai CEO perusahaan atas kepercayaan Opa. Hidup Gina makin akan sengsara karena berada diantara tiga perusahaan harus dia tangani. Yang pasti harus dia tangani adalah perusahaan Kevin lalu perusahaan Pak Julio serta sekarang limpahan kekuasaan dari opa. Gadis muda ini mendadak menjadi orang penting dari tiga perusahaan besar.
Kerutan di wajah Gina bertambah secara otomatis. Wajah cantik itu tampak lebih tua dari umur sesungguhnya. Kini dia harus jadi wonder woman buat orang-orang yang dia sayangi.
Kedua orang tua Om Sabri nginap di hotel mewah selama berada di sini. Mereka punya rumah sangat besar namun terbengkalai cukup lama karena penghuninya tak tinggal di sini lagi. Untuk membersihkan rumah butuh waktu cukup panjang maka mereka cari yang gampang nginap di hotel sambil tunggu pengurus paspor dan visa Bu Sarah dan Om Sabri untuk terbang ke Jerman.
Gina mati-matian cari di mana kesalahan perusahaan Opa agar tahu siapa aktor di balik kerugian perusahaan yang bergerak di bidang alat berat ini. Gina tinggalkan dulu masalah dengan Subrata karena ada yang lebih urgen. Gina harus cari sendiri tanpa bantuan orang lain.
Tiga hari kemudian Kevin pulang melihat di rumah Om Sabri sudah bertambah dua penghuni baru. Kevin tentu saja tak mengenal kedua orang tua Om Sabri yang bukan orang sembarangan. Mereka adalah orang Indonesia sukses berbisnis di luar negeri. Pewaris tunggal justru tidak tertarik pada kekayaan keluarga memilih hidup sederhana bersama orang tercinta.
Gina dan Gani masih di kantor sewaktu Kevin pulang ke rumah. Dari bandara Kevin menuju ke rumah Gina karena ingin istirahat. Tapi siapa sangka di rumah yang sudah cukup kecil disesaki oleh dua orang tua lagi. Kevin memang tak berhak melarang Om Sabri terima tamu tapi kondisi rumah sudah tidak memungkinkan menerima orang lagi.
Bu Sarah terpaksa memperkenalkan Kevin kepada kedua mertuanya sebelum mereka berpikir yang bukan-bukan. Bu Sarah harus menjaga reputasi Om Sabri sebagai kepala rumah tangga. Om Sabri tidak bisa sembarangan memasukkan orang lain ke dalam keluarga tanpa alasan yang jelas. Namun berhubung Kevin di bawah perlindungan Gina maka mau tak mau Om Sabri harus menerima lelaki berpenyakit jiwa itu. Kevin memiliki penyakit jiwa bukan berarti Kevin itu gila melainkan memiliki trauma terhadap masa lalu.
Kevin agak sungkan ditatap tajam oleh kedua orang tua Om Sabri yang merasa heran tiba-tiba muncul lagi seorang pemuda tampan di rumah ini. Mereka bertanya-tanya siapa gerangan pemuda ini. Dari segi penampilan Kevin tidak memalukan maka berkesan dia adalah lelaki intelek.
__ADS_1
"Mari kuperkenalkan! Ini Kevin atasan Gani dan Gina! Nak Kevin ada sedikit masalah maka untuk sementara nginap di sini bersama kita!" Bu Sarah yang awali perkenalkan Kevin.
Kevin mengangguk sopan kepada kedua orang tua Om Sabri berhubung dia yang lebih muda. Cuma Kevin tidak seperti Gani dan Gina yang menciumi tangan kedua orang tua Om Sabri karena Kevin belum terbiasa dengan adat tersebut.
"Oh... masih muda sudah memiliki jabatan yang sangat penting di perusahaan! Kamu tentu anak muda berbakat! Ayo duduk anak muda! Kami ini opa dan Omanya Gina datang dari Jerman!"
Kevin menahan nafas mendengar siapa gerangan kedua orang ini. Keluarga ini penuh kejutan membuat jantung Kevin berdetak tak menentu karena di belakang mereka adalah orang-orang super kuat. Baru beberapa hari yang lalu Pak Julio mengaku adik dari Bu Sarah dan sekarang muncul lagi keluarga dari Jerman mengaku Opa dan Omanya Gina. Bukankah keluarga ini termasuk keluarga luar biasa yang menyembunyikan identitas diri di masyarakat? Memiliki tulang punggung yang sangat kuat tapi memilih hidup sederhana.
"Opa dan Oma sudah berapa hari di sini?" tanya Kevin duduk berseberangan dengan opa. Tampaknya Opa itu macan gagah yang sudah lama tidak turun gunung. Macan yang pilih bertapa di gunung sambil melayangkan mata ke bawah lihat situasi di luar gunung.
"Sudah tiga hari nak! Kamu dinas keluar kota?"
"Iya opa! Aku sedang menggarap proyek pembuatan jalan tol! untuk sementara perusahaan aku sedang ditangani oleh Gani dan Gina! mungkin besok aku baru akan ke kantor!"
Opa tertawa dengar Kevin juga percayakan kantor pada kedua cuci tirinya. Opa merasa sudah tepat pilih orang tangani perusahaan di sini yang rugi terus. Kevin saja berani percaya pada Gina mengapa dia tak berani. Opa merasa bersyukur om Sabri mendapatkan anak sambung yang pintar.
"Kau percaya pada Gani dan Gina?"
Kevin mengangguk tanpa pikir panjang. Semua pekerjaan di kantor beres tanpa ada kendala selama berada di bawah kekuasaan Gina. Gina tidak segan menegur setiap ada kesalahan dalam laporan yang diberikan kepadanya. Syukurlah selama berapa hari ini semua laporan aman sentosa.
Opa tertawa terbahak-bahak mendengarkan pujian Kevin terhadap Gina. Opa merasa tidak salah lagi menetapkan Gina sebagai pemilik saham tertinggi di perusahaan untuk sementara ini. Mereka yang tua telah tertinggal zaman karena bergerak secara lambat, biarlah sekarang anak muda yang maju ke depan mewakili mereka yang sudah tua.
Kini Opa hanya menunggu hasil audit Gina terhadap seluruh perputaran di perusahaan. Semoga saj Gina menemukan di mana titik penyebab kerugian perusahaan yang terus melanda mereka selama beberapa tahun ini. Opa sangat yakin Gina mampu menjawab tantangan yang mereka berikan.
Kevin terheran-heran mengapa tiba-tiba Opa tertawa terbahak-bahak begitu dia menyebut nama Gina. Apa yang telah dilakukan oleh gadis itu membuat sang opa demikian gembira? Gina itu memang gadis yang penuh dengan kejutan. Kevin tak tahu bagaimana keluarga ini membesarkan Gina sampai memiliki talenta tak terbatas.
"Maaf ya nak Kevin! Opa akan meminjam asisten kamu untuk beberapa hari! Opa telah memberinya tugas untuk mengelola perusahaan kita di sini. Dia tidak perlu resign dari perusahaan kamu tetapi harus mengontrol perputaran di perusahaan kami. Pendek kata dia akan diangkat menjadi komisaris dari perusahaan kami."
Belum habis Kevin terkejut oleh pengakuan Opa dan kini mendapat kenyataan yang lebih mengejutkan hampir menghentikan detak jantung Kevin. Gina si monster akan menjadi komisaris perusahaan? Kevin tak dapat membayangkan bagaimana nasib mereka yang menjadi bawahannya. Syukur kalau mereka lurus berjalan di atas aspal kebenaran, cobalah kalau mereka berjalan di jalan tikus yang berliku-liku pasti akan terjun ke jurang bila telah jumpa dengan Gina.
"Opa mau Gina mengurus perusahaan? Pasti telah terjadi kekeliruan dalam perusahaan ya?" Kevin menjabarkan telah terjadi korupsi di dalam perusahaan dengan mengatakan secara halus.
Opa mengangguk meminta pengertian Kevin agar melepaskan Gina membantunya.
__ADS_1
"Kalau itu memang keahlian Gina. Opa tak usah kuatir! Dia pasti akan tuntaskan semua kecurangan dalam perusahaan. Aku kan beri dia waktu untuk urus perusahaan opa tapi dengan catatan dia tak boleh tinggalkan aku!" kata Kevin terus terang sangat membutuhkan Gina di sampingnya.
Opa menyipitkan mata menerima kenyataan kalau Kevin sangat membutuhkan Gina di sampingnya. Gina pasti sangat terampil barulah dibutuhkan oleh anak muda itu. Opa juga melihat adanya pijaran cinta di mata Kevin buat Gina. Mata anak muda itu berbinar bila terselip nama Gina.
"Opa jamin itu. Dia cukup ke perusahaan dua hari sekali untuk pantau roda perekonomian dalam perusahaan!"
"Iya opa!"
"Opa berterima kasih dulu kepada kamu! Kamu sudah sangat baik kepada cucu opa."
"Gina itu yang baik maka dia dibutuhkan di mana-mana! Apa opa tak tahu di sedang urus kecurangan di tubuh perusahaan pak Julio? Dia sedang matian cari di mana kesalahan teknis di perusahaan pak Julio!"
"Pak Julio? Siapa itu?" Opa bertanya heran karena mendadak muncul nama baru di antara mereka.
Kevin tak berani jawab karena ini adalah tugas Bu Sarah jelaskan siapa pak Julio itu. Takutnya Bu Sarah tak mau pamer punya adik tajir.
Bu Sarah melihat Kevin diam maka dia yang wajib jawab. Bu Sarah sama sekali tak mau ada salah paham antara dia dengan keluarga om Sabri. Mereka telah berjuang bertahun-tahun untuk dapat restu. Sekarang restu itu sudah turun maka harus dipergunakan secara baik-baik.
"Julio itu adikku pa! Dia juga mau Gina masuk ke perusahaannya tapi Gina pilih bekerja di tempat nak Kevin maka Gina hanya bantu dari samping!"
Perkataan Bu Sarah lagi-lagi sedang tunjukkan kualitas Gina sebagai anak muda multi talenta. Seorang gadis muda diperebutkan perusahaan besar pasti punya inner sangat kuat.
"Oh gitu!!! Opa syukur Gina itu cucu opa! Artinya opa paling punya hak atas Gina dan Gani!" canda Opa disambut tawa Oma yang ikut senang punya cucu multi talenta. Oma tak banyak komentar karena semua berpacu pada kebijakan opa mau serahkan perusahaan pada siapa.
Kevin merasa terancam mendengar pengakuan opa bahwa Gina adalah miliknya. Bisa saja opa memaksa Gina masuk ke perusahaan mereka dan mengabaikan Kevin. Semoga saja Gina tidak memiliki hati kejam meninggalkan Kevin di saat dia sangat memerlukan gadis itu.
Kevin hanya bisa ikut tersenyum hambar. Bayangan Gina meloncat tinggi bermain di mata Kevin. Sekali Gina melompat maka Kevin akan tertinggal jauh di bawah. Sulit bagi Kevin untuk ikut Gina meloncat ke atas.
"Nak Kevin pergilah istirahat kalau baru tiba! Sebentar lagi Gina juga akan pulang!" Bu Sarah memberi ijin pada Kevin untuk masuk kamar karena tahu pemuda ini tidak sekuat Gina.
"Terimakasih Bu! Permisi dulu ya opa oma..." Kevin tertolong tak perlu basa basi dengan opa yang hendak monopoli Gina. Kevin tak rela Opa merebut wanita yang sangat dia sukai itu.
Opa mengangguk biarkan Kevin menyeret koper menuju ke kamar Gina. Kalau boleh jujur Kevin sangat tidak nyaman dengan kehadiran Opa dan Oma di rumah ini. Kevin bukan tak senang bertambah tamu melainkan rencana opa bawa Gina masuk ke perusahaan keluarga. Kevin pusing mengapa mendadak Gina menjadi rebutan. Padahal gadis itu paling duluan kerja untuknya. Kevin harus akui Gina memiliki kharisma seorang pemimpin sejati. Tegas tak suka bertele-tele.
__ADS_1
"Opa sudah duga kalau Gina itu punya kekuatan tersembunyi! Hanya orang hebat bisa melihat kalau anak itu adalah pemimpin baik! Semoga perusahaan akan berjalan lebih baik di bawah kendali Gina!" gumam opa penuh harapan.