
Kevin menduga Gina juga mengalami hari buruk di masa lalu seperti dirinya. Namun Kevin tidak ingin bertanya lebih jauh karena pancaran kebencian terpancar sekali di mata Gina. Biarlah itu menjadi rahasia hati wanita muda itu. Kalau dia mau bercerita maka dia akan mengungkap semuanya kepada Kevin. Untuk saat ini Kevin cukup mendapat kepercayaan Gina untuk menjadi bosnya.
"Kau tak ingin bertanya soal gaji?"
"Apa itu penting? Yang penting adalah Bapak cepat sembuh sehingga aku bisa melanjutkan hidup seperti dulu." ujar Gina tulus tidak ingin dihubungkan niat baiknya dengan materi.
"Terima kasih nona cantik."
"Apa pujian bapak tidak mubazir?"
"Tidak...kamu memang cantik alami! Dulu aku takut aku mempunyai kelainan jiwa menyukai lelaki. Aku sangat takut terjebak pada halusinasi yang aku buat sendiri. Aku pikir aku ini mempunyai kelainan jiwa seperti yang disangkakan orang. Ternyata aku normal menyukai wanita seperti yang lainnya."
"Bapak suka padaku? Kuharap jangan pak! Aku ini tidak seperti yang Bapak sangka. Aku ada di dunia ini dengan semua kekurangan aku. Rasanya tidak ada nilai plus diriku ini." Gina merendahkan diri menganggap diri bukan siapa-siapa. Gina belum mampu menyenangkan ibunya maka belum pantas disebut seorang manusia berguna.
"Kenapa omong gitu? justru aku merasa kamu mempunyai nilai tambah termasuk Pak Julio juga menganggap begitu. Jadi kamu tidak perlu memandang rendah diri sendiri. Angkat kepala dan terus maju!"
"Terima kasih atas dukungan bapak. Sekarang aku mau balik ke rumah sakit untuk menjaga si Gani. Dan aku akan kabarkan pada si bebek itu bahwa dia akan menjadi manager."
"Bebek?" Kevin menjadi pusing mendengar ada julukan baru entah untuk si Gani.
Gina tertawa kecil keceplosan menyebut panggilan untuk Gani. Gina terkenal dengan panggilan si Rambo dan si Gani terkenal dengan panggilan si bebek. Panggilan sayang di antara keluarga tanpa ada rasa sakit hati.
"Maaf pak! Jangan dipikirkan! Hanya candaan. Aku harus pergi sekarang. Bapak istirahat saja. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam. Eh kamu pulang dengan apa?"
"Ojek online pak! Tak perlu pikirkan aku! Aku pasti selamat sampai di rumah sakit." sahut Gina sambil tersenyum.
"Bawa saja mobil. Besok kamu jemput aku di sini. Mulai besok kamu harus jemput aku sebagai tugas tambahan. Aku akan gaji kamu dengan layak."
Gina senang dapat gaji tambahan namun gadis ini tidak bertanya berapa gajinya. Baru mulai kerja sudah tanya masalah pembayaran sangat tidak etis. Gani bisa naik pangkat saja hati Gina sudah girang. Saudaranya sukses sama saja angkat derajat keluarga.
"Tak usah pak! Besok pagi aku akan datang tepat waktu. Permisi." Gina melangkah pergi dengan langkah gagah.
Semoga ini yang terbaik untuk keluarganya. Dia dapat kerja sampingan lagi dan Gani menjadi karyawan lebih tinggi sederajat darinya.
Gina balik rumah sakit mau beri kabar gembira kepada Gani. Mungkin saja sudah setelah mendapat kabar Ini Gani segera sembuh. Semua orang pasti ingin mendapat posisi yang lebih baik daripada terdahulu. Demikian juga dengan Gani.
Sewaktu Gina sampai di rumah sakit Bu Sarah dan Afif masih setia menjaga Gani. Cuma kini telah bertambah seorang lelaki berbadan tegap yang biasa mereka panggil dengan sebutan Om Sabri. Lelaki setia ini tampak gundah lihat anak yang dia asuh dari kecil tergeletak tak berdaya di tempat tidur.
"Assalamualaikum..." sapa Gina begitu jejakkan dalam kamar rawat Gani.
"Waalaikumsalam..."
Gina nyelonong naik ke atas tempat tidur Gani cek suhu badan saudaranya apa ada turun panas. Masih terasa hangat walaupun tidak sepanas waktu masuk pertama kali.
"Tumben baik hati?" Gani meragukan ketulusan Gina kuatir pada kesehatannya. Biasa anak ini paling doyan siksa dia.
"Bukan baik hati. Takut kamu kelewat panas jadi step. Jadi bebek panggang deh!" olok Gina sambil tertawa renyah.
"Sudah kuduga tak ada niat baik kamu. Senang ya lihat aku menderita!"
"Ngak...di rumah pasti sepi tak ada bebek tanpa bulu. Bulu pada rontok akibat demam tinggi. Bebek telanjang deh!"
Tangan Gani bergerak mencari pinggang Gina untuk beri putaran cantik di daerah sensitif tersebut. Gina bukannya sakit melainkan geli kena cubitan sayang Gani. Gina tahu saudaranya itu mana tega sakiti dia. Mereka bertengkar namun saling menyayangi.
__ADS_1
"Awas kau...aku akan rebut posisi manager dari tanganmu!" ancam Gina sekalian sampaikan kabar gembira ini.
Gani tertegun sejenak lantas berseru girang. Otak banci jadian ini cepat tangkap maksud kata Gina. Gina barusan bersama Kevin pasti tahu sesuatu perihal kedudukan dia di kantor.
"Aku jadi manager?" teriak Gani tak bisa direm.
"Selamat ya!" Gina memeluk Gani sebagai luapan rasa senang.
Bu Sarah dan Om Sabri saling berpandangan belum ngerti mengapa mendadak Gani naik pangkat di saat dia sedang sakit. Hanya Gani dan Gina yang tahu apa yang sedang terjadi.
Gani tahu kalau Gina terima tawaran Kevin barulah dia bisa naik pangkat. Tanpa bantuan Gina tak mungkin karir Gani melesat jauh.
"Terima kasih dek!" bisik Gani paham situasi.
"Cepat sembuh biar ke kantor pakai terasi! Abangku jadi keren." gurau Gina membuat semua tertawa.
"Dasi kali...terasi mah bau! Besok aku mau ke kantor! Sembuh deh!" Gani menepuk dada sok kuat. Saking semangat sampai terbatuk-batuk.
Giliran Bu Sarah memeluk Gani ucapkan selamat. Sebagai seorang ibu Bu Sarah tentu saja bahagia anaknya meraih jenjang lebih tinggi. Bu Sarah tak tahu semua ini berkat Gina.
Tanpa bantuan Gina sampai sekarang Gani masih tetap seorang asisten biasa. Gina membantu Gani tanpa mengharap balas jasa. Yang penting saudaranya mendapat posisi lebih baik di kantor.
"Untuk sementara waktu aku akan membantu Pak Kevin sebagai asisten sambil menunggu dapat asisten yang lain." kata Gina menatap om Sabri. Gina tahu om Sabri pasti akan kehilangan seorang pegawai rajin bila dia pergi.
"Berapa lama?" tanya om Sabri dengan suara parau. Jelas sekali Om Sabri tidak rela kehilangan Gina.
"Aku kerja hanya setengah hari. Dari pagi jam delapan hingga zhuhur saja. Sisa waktu aku akan tetap di bengkel. Om tak keberatan bukan?"
"Baiklah kalau gitu! Tapi kamu harus memberitahu Pak Julio duluan. Om takut dia mengharap kamu secepatnya menyelesaikan mesin mobilnya."
Gina sangat berharap Om Sabri mau menjaga ibunya seumur hidup. Tidak ada lelaki yang lebih tepat buat ibunya selain Om Sabri. Om Sabri telah menunjukkan kesetiaan tak tergantikan pada Bu Sarah.
"Gin..nanti bawa baju ganti ibu ya!"
"Iya Bu..ibu dan Om mau makan apa biar Gin belikan?"
"Biar om yang beli nanti. Kamu pulang kawal bengkel saja. Oya... ada satu mobil janjinya mau dijemput hari ini! Masih ada sisa uang belum di bayarkan. Bon nya ada di dalam laci. Kunci laci ada di tempat biasa." Om Sabri ingatkan Gina tugas yang harus dia lakukan.
"Iya om.. kami pulang ya! Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam..."
Gina dan Afif segera angkat kaki dari ruang rawat Gani. Mereka harus bawa pulang mobil yang digunakan angkut Gani tadi. Gina bertanggung jawab kembalikan mobil ke tempat semula.
Afif sendiri senang dengar konconya diangkat ke jenjang lebih tinggi. Mungkin Gani tak bisa gila-gilaan dengan mereka lagi bila sudah punya pangkat lebih baik. Sekarang Gani pasti akan punya anak buah. Sangat menggelikan bila seorang bos keliaran di jalan dengan pakaian wanita. Afif anggap Gani sangat berprestasi baru diangkat menjadi manager. Dia tak tahu ada campur tangan Gina.
Gina sendirian di rumah karena Bu Sarah menjaga Gani di rumah sakit ditemani oleh om Sabri. Gina bersyukur jumpa dengan orang yang benar-benar menghargai cinta. Bu Sarah sangat beruntung dicintai lelaki sebaik Sabri. Sayang sekali Ibu Sarah belum memberi reaksi atas semua pengorbanan cinta Om Sabri. Ntah sampai kapan Sabri harus menunggu pintu hati Bu Sarah terbuka untuknya. 20 tahun lebih belum cukup bagi Om Sabri menyelami is hati Bu Sarah. Mungkin dia harus bersabar tunggu pohon besi mengeluarkan bunga.
Gina cepat tidur karena besok dia harus mulai ganti Gani di kantor. Sekarang Gina tak perlu berdandan seperti lelaki lagi. Dia bisa tampil sebagai diri sendiri sebagai seorang gadis yang cantik.
Pagi ini Gina kenakan kemeja kotak-kotak aneka warna plus celana berbahan kain katun twill drill. Gina menonjolkan keremajaan tidak terpaku pada pakaian resmi seorang sekretaris maupun asisten pribadi yang berkesan kaku.
Gina polesi wajah dengan bedak tipis biar tidak terlihat kusam. Bergaya sedikit untuk menjaga muka Kevin. Asisten pribadi nya mestilah tampil rapi agar bos tidak malu.
Yakin sudah rapi Gina segera ke kantor Kevin gunakan sepeda motornya. Motor Gina melaju kencang menembus kemacetan yang sudah terjadi. Semua berlomba capai tujuan masing-masing. Jam segini jalan raya dipadati para murid menuju ke sekolah menimba ilmu. Ditambah para pegawai kantoran menambah kesemarakan macetnya lalu lintas.
__ADS_1
Gina dengan skill mengendarai mumpuni dengan sigap berhasil terobos kemacetan menuju ke kantor Kevin. Hari ini hari pertama Gina bekerja sebagai asisten gantiin posisi Gani. Gina mendapat prioritas untuk kerja setengah hari mengingat kerjanya di tempat lain juga banyak.
Semua mata memandang heran pada Gina karena anak ini muncul dengan penampilan berbeda dari sebelumnya. Rambut Gina yang terurai lewati bahu tunjukkan anak ini cewek. Heran sebelumnya Gina berdandan sebagai cowok dan kini tampil sebagai cewek. Orang-orang pada bingung gender Gina itu apa aslinya. Cowok atau cewek.
Dasar Gina orangnya cuek. Tatapan tajam para pegawai dia anggap angin lalu. Dengan pede dia naik lift menuju ke lantai kantor Kevin.
Di depan lift Gina berpapasan dengan Peter. Orang nomor dua di kantor ini terbelalak lihat Gina muncul dengan sosok berbeda. Peter perhatikan Gina dari atas hingga bawah lihat apa orang ini orang yang dia kenal.
Gina pura-pura tak perhatikan keheranan Peter dengan buang pandangan ke atas langit-langit gedung. Lift belum juga datang membuat keduanya harus menunggu. Peter masih belum yakin sekali ini Gina padahal sebelumya mereka sudah bertemu sewaktu mobil Kevin rusak.
"Gino???" tegur Peter supaya lebih pasti.
"Gina pak! Asisten pak Kevin yang baru." Gina perkenalkan diri dengan pedenya.
Peter tertawa geli selama ini mereka kecolongan. Seorang gadis cantik berada di sekitar mereka tertutup oleh kelihayan Gina bertingkah seperti anak cowok.
"Mana Gani?"
"Sakit pak! DBD...berapa hari ini aku yang ganti dia."
"Kau tak ingin katakan sesuatu padaku setelah jadi pembohong profesional?"
Gina terdiam sejenak berusaha pahami apa maksud Peter. Gina bukan orang bodoh tak tahu kalau Peter menuntut tanggung jawab Gina telah berbohong.
"Aku minta maaf pak!"
Lagi-lagi Peter tertawa senang. Dia senang karena Gina cewek atau senang punya bawahan cerdas. Dengan satu kalimat saja Gina paham tujuan dia.
"Kuharap lain kali kau harus jujur. Tak perlu sandiwara mencapai tujuan."
"Gani cuma takut pak Kevin tak bisa terima aku bila muncul sebagai cewek. Maka aku berdandan sebagai cowok. Sekali lagi maaf!"
Peter angguk terima permintaan maaf Gina. Ini bukan salah Gina dan Gani sepenuhnya. Kevin yang menuntut terlalu banyak sampai orang harus jungkir balik penuhi permintaan Kevin yang terlalu aneh.
"Kevin sudah tahu kamu ganti Gani?"
"Tahu pak! Dia adalah permintaan pak Kevin. Kami sudah bicara." sahut Gina sopan.
Peter manggut-manggut puji gercep Kevin. Laki itu bertindak cepat kunci Gina setelah tahu dia bisa dekat dengan cewek itu. Kevin bukan orang bodoh tak tahu kalau Gina bisa jadi obat untuk penyembuhan dia.
"Ya sudah...kerja yang rajin! Kami akan perhatikan setiap kinerja kamu. Selamat bergabung!"
"Terimakasih pak!"
Pas lift berbunyi tanda tiba. Peter ulurkan tangan pencet tanda panah naik. Mereka bekerja di lantai yang sama maka mereka akan bareng naik ke atas.
Dua pekerja kebersihan keluar dari lift lantas membungkuk hormat pada Peter. Sudah pasti bukan untuk Gina yang pangkatnya juga karyawan umum. Beda dengan Peter yang petinggi perusahaan.
Peter dan Gina masuk setelah kedua petugas itu keluar. Mereka naik ke atas tanpa obrolan lagi. Hanya Peter sekali-kali melirik gadis muda di depannya untuk pastikan Gina tidak berubah jadi cowok lagi. Takutnya sekali tutup mata terbuka lagi Gina sudah berubah jadi cowok.
Gina memang cantik dengan ekspresi wajah datar. Emosi gadis ini sulit ditebak karena tak ada tulisan emosi di wajah cantik itu. Datar kayak papan setrika. Sangat beda dengan Gani yang selalu ceria dan tersenyum pamer gigi rapi.
"Gani itu benar saudara kembar kamu?" Peter buka pembicaraan setelah lama berdiam diri.
"Benar pak! Dia itu Abang selisih menit."
__ADS_1
"Kalian tak mirip saudara kembar. Beda jauh. Kamu macho sedangkan dia gemulai. Kayaknya sifat kalian terbalik."