JALAN MENUJU CINTA

JALAN MENUJU CINTA
Bos Dapur


__ADS_3

Mata Kevin menatap nanar pada Jay seenak perut minta Gina duduk di sampingnya. Apa anak itu tak tahu kalau Gina ini berada dalam kekuasaan seorang CEO kaya.


Celakanya Gina langsung daratkan pantat di samping Jay tanpa sungkan. Tampaknya mereka bergaul dengan baik seperti kawan akrab.


Om Sabri melihat reaksi janggal Kevin setelah duduk Gina di sisi Jay. Raut wajah laki itu masam berkerut bak jeruk purut sudah diperam bertahun. Sudah layu berkerut.


"Nak Kevin...ayok silahkan duduk!" om Sabri meminta Kevin ambil tempat agar enak ngobrol.


Tanpa omong Kevin berjalan menuju ke tempat duduk antara Jay dan Gina. Sedikit sempit namun masih muat untuk mereka bertiga. Agak berdesakan di sofa untuk dua pantat.


Gina melirik Kevin berpikir apa mau laki ini sengaja cari masalah dengan memasukkan diri di tempat sempit.


Kevin santai saja seolah apa yang dia lakukan itu hal biasa. Tak ada sanksi hukum menerobos wilayah orang. Gina malas berdebat di depan orang ramai.


"Well nak Kevin! Ini dua orang yang akan direkom kepadamu. Ini Jay dan Hadi. Mereka berdua anak asuh aku dan bekerja di bengkel juga. Jay akan kawal kamu sebagai supir dan Jadi kawal rumahmu. Untuk kawal kantormu bapak masih pilih yang terbaik. Apa pendapatmu?"


"Yang terbaik menurut bapak saja! Masalah gaji akan disesuaikan dengan peraturan kantor. Mereka berdua akan dimasukkan sebagai karyawan agar dapat tunjangan dan asuransi kesehatan."


"Bagus...nah kalian berdua apa ada permintaan?" Om Sabri melayangkan mata kepada kedua calon pegawai Kevin itu.


"Tak ada...yang penting nyaman saja! Dan lagi kami bisa apa kalau ada monster dekat kami." kata Hadi tak malu akui takut pada Gina. Padahal apa yang mau ditakuti? Gina tak pernah anarkis bahkan tampak jinak tak pernah ganggu orang.


"Baik...besok kalian mulai dinas. Khusus untuk Jay dan Gina harus selesaikan mobil yang kalian pegang. Kerja jangan setengah-setengah!"


"Iya om! Sepulang kerja aku akan bereskan semua mobil yang belum kelar." sahut Gina semangat. Dengar kata mobil semangatnya kontan menyala. Perbaiki satu mobil hingga senat merupakan tantangan buat Gina.


"Sudah deal! Sekarang kalian bubar." om Sabri angkat pantat tinggalkan ruang tamu menuju ke kamar untuk temui isteri tercinta. Malam ini om Sabri harus rela tidur di bengkel mengalah buat Gina. Gina akan tidur bersama ibunya maka om Sabri yang harus angkat kaki dari rumah. Tak mungkin dia biarkan anak kesayangan tidur sendirian di bengkel. Sehebat apapun Gina tetaplah seorang anak gadis. Om Sabri tak mau ambil resiko biarkan Gina bercanda dengan bahaya.


"Hei... berpakaian yang rapi ya! Jangan baju seabad tak cuci dipakai!" Gina ingatkan kedua rekannya agar tampil bersih.


"Seabad??? Fosil kali.." rutuk Jay cibiri perumpamaan Gina yang kebangetan. Baju abad lalu mau jadi apa? Habis dimakan rayap.


Gina terkekeh melihat Jay sewot diusilin. Kalau begini Gina tampak lucu tidak menyeramkan seperti yang diceritakan. Kevin belum melihat keganasan Gina yang digadangkan oleh Gani. Malah kadang Gina tampak imut dan lucu.


Kevin menarik nafas lega kedua calon pegawai telah tinggalkan rumah Gina. Kevin merasa terancam oleh kehadiran kedua orang itu. Mereka sangat akrab dengan Gina. Ada perasaan mereka akan rebut perhatian Gina darinya. Kevin lupa kalau mereka bekerja untuk Kevin maka frekwensi ketemu akan makin rutin.


"Ini sudah malam. Bapak pergilah istirahat! Besok masih banyak tugas menanti kita."


"Kau tidur bersama ibumu?"

__ADS_1


"Aku akan bentang tikar tidur di kamar Gani! Tak mungkin juga aku minta ayah tidur di bengkel. Nanti ibu diculik vampir ganteng, ayah bisa gantung diri di pohon strawberry."


"Emang bisa mati? Macam saja kamu ini...ada saja akal kamu bikin lucu! Biar aku tidur bersama Gani. Kau tidur di kamarmu saja!" Kevin merasa tak enak harus korbankan Gina. Mana ada lelaki egois biarkan anak gadis tidur di lantai hanya beralas tikar.


"Bapak tak usah susah. Kami akan bagi tempat tidur dengan adil. Gani Abang yang baik kok! Dia pasti ngalah untuk adiknya yang cantik jelita


ini." Gina tersenyum licik membayangkan penderitaan Gani tidur di lantai.


Kevin tak tahu apa yang akan dikerjakan oleh Gani dan Gina. Keduanya saudara kembar tapi sifat seperti langit dan bumi. Kevin tak banyak protes lagi karena sudah ada solusi soal pembagian jatah kamar. Kevin bisa tenang tidur di tempat tidur Gina.


Keduanya berpisah setelah ada deal soal tempat tidur. Tak ada yang dikorbankan malam ini. Mungkin Gani akan tidak nyaman harus berbagi tempat tidur dengan adiknya yang badannya sekuat badak.


Gina cengar-cengir masuk ke kamar abangnya. Dari gaya preman Gina sudah pasti akan injak posisi Gani sebagai Abang.


Gani besarkan mata melihat adiknya telah datang. Kehadiran Gina di kamarnya bukan bawa kabar baik. Gani mencium adanya bau-bau kekerasan dalam kamar ini. Gani meloncat dari ranjang merentangkan tangan melarang Gina mendekat. Gani kuasai seluruh ranjang sebelum adiknya itu merampas haknya. Gani sudah hafal sifat brutal Gina kalau sudah ada maunya.


"Ngapain ke sini? Katanya mau tidur di bengkel."


Gina bersandar di kusen pintu belum masuk sepenuhnya ke dalam kamar yang tak terlalu besar itu. Gina menaksir dengan cara apa dia baru bisa tidur nyaman di kasur empuk Gani. Gina terlalu lelah untuk jahati Gani. Dia harus pakai jurus memancing air mata bebek biar muncul rasa iba.


"Aku capek...aku numpang tidur di lantai kamar kamu ya! Kasihan ayah kalau harus tidur di bengkel."


"Apa kau tak kasihan pada ayah? Dia sudah tua harus tidur sendirian di bengkel sepi. Ayah tak ijinkan aku tidur di bengkel. Aku di lantai saja. Tak ganggu kamu kok!" ujar Gina memelas pasrah.


"Tapi kamu demam mana boleh tidur di lantai. Kalau kau sakit aku yang kena imbas harus berdiri lama di dapur. Ya sudah kamu boleh tidur di atas tapi jangan mimpi latihan karate ya! Aku masih sayang pada wajahku yang ganteng."


Wajah Gina yang tadinya sendu mengundang rasa iba orang kontan berseri bak bunga melarang di musim semi. Gadis ini tak sungkan naik ke ranjang tak peduli pada Gani yang terduduk loyo. Dasar apes punya adik tak ubah monster cantik.


Gani biarkan Gina jadi ratu di atas ranjangnya. Dia relakan kasur mahalnya jadi tempat bersandar tubuh kuat Gina. Gani duduk lesu di ranjang empat kaki itu. Rencana mimpi indah ambyar akibat invasi monster ke kamarnya.


Perlahan kesunyian merajai malam. Sekeliling jadi hening karena satu persatu insan di sekitar Gani berlayar ke pulau mimpi. Gani tak ketinggalan mau mengejar kapal berlayar ke tempat sama.


Gani menyentuh kening Gina mau tahu suhu tubuh adiknya itu. Masih hangat tapi tidak sepanas tadi.


Gani menatap wajah Gina dalam-dalam. Gina tampak imut dalam tidur. Sama seperti gadis lain mengundang rasa sayang orang. Namun begitu melek orangnya berubah total. Sadis siap menghancurkan musuh.


Setelah yakin Gina tidak apa-apa, Gani merebahkan diri di samping Gina menyongsong fajar esok. Sempit sedikit tak masalah yang penting dia sudah lakukan kewajiban sebagai Abang lindungi adik yang sakit.


Kicauan burung di luar jendela kamar Gina membangunkan Kevin dari tidur nyenyak. Tadi malam dia tidur sangat lelap tanpa bantuan obat tidur. Laki ini mengitari mata di sekeliling kamar Gina tanpa alat pendingin udara. Tidak ada mesin pendingin namun kamarnya tetap adem.

__ADS_1


Kevin merentangkan tangan melemaskan otot badan. Lakukan gerakan stretching beberapa kali barulah cowok ini turun dari ranjang menuju keluar kamar.


Di luar sudah ada aktifitas cukup heboh karena ada tawa canda berasal dari dapur. Samar-samar Kevin mendengar tawa Gina usilin Gani. Mereka selalu ribut namun saling menyayangi. Kevin jadi iri pada keluarga ini. Mereka tak kaya harta namun kaya akan kasih sayang.


Kevin tebalkan muka masuk ke dapur ingin bergabung rasakan kehangatan di pagi yang dingin. Hawa dingin tak mampu melawan kehangatan terpancar dari keluarga bahagia ini.


Gina paling duluan lihat Kevin nongol di dapur segera hentikan gerakan tangan mengupas kentang. Gina surprise Kevin bisa juga bangun pagi. Biasa bos akan bangun telat. Datang ke kantor saja selalu lewat jam delapan. Gina sudah hafal kalau jam sembilan pagi Kevin akan muncul bersama Peter. Apa semua itu akan terjadi lagi setelah Kevin tahu niat jahat Peter.


"Gin...tanganmu sakit lho!" itu yang pertama keluar dari mulut Kevin ingatkan Gina kalau tangannya masih dalam perawatan.


"Tenang saja pak! Cuma kupas kentang takkan lukai dia!" Gani yang nyahut sambil mengerling sinis pada Gina. Pagi-pagi sudah ada yang kasih perhatian lebih. Yang kasih itu bos mereka pula. Mujur amat nasib Gina.


"Maunya jangan banyak gerakan agar tak infeksi! Kau duduk saja biar aku yang kupas kentangnya!"


Bu Sarah, Gani dan Gina melongo tak percaya CEO kaya menawarkan diri gantiin Gina kupas kentang untuk jualan di warung nanti. Apa kuping mereka kemasukan embun pagi tak dengar dengan jelas. Kevin dekati Gina menarik gadis ini dari bangku pendek di atas hamparan plastik. Plastik itu sengaja dibentang supaya dapur tidak terlalu kotor bila selesai masak. Tinggal bersihkan plastik tebal itu lalu lipat dan simpan. Dengan demikian akan minimalkan kotoran di lantai dapur.


Gina bengong karena Kevin ambil alih kupas kentang. Apa laki ini tahu cara kupas kentang yang benar? Jangan-jangan kupas kulit berikut isi dalam sampai daging tinggal seupil. Kevin perhatikan kentang itu baik-baik lalu mulai gerakan mata pisau di tubuh kentang untuk buang kulitnya. Dengan gerakan super hati-hati Kevin mengupas kulit kentang seolah takut kentang itu menjerit kena tajamnya mata pisau.


Gina menghela nafas. Kalau begini cara kerja sampai tahun depan ibunya tak bisa buka warung. Satu butuh waktu satu bulan baru terselesaikan. Bu Sarah dan Gani cuma bisa mengulum senyum tak berani berkomentar. Bosnya sudah mau bantu merupakan karunia tak terhingga walau masih banyak kekurangan.


Gina yang tak sabar lihat Kevin membelai kentang takut umbian itu sakit.


Gina mengambil pisau lain kembali duduk di samping Kevin. Gina duduk di atas plastik tanpa alas bangku kecil lagi. Gerakan tangan Gina lincah walau terluka. Dua tiga kali bergerak satu kentang sudah telanjang. Luka di tangan tak halangi Gina beraktifitas menimbulkan rasa kagum di hati Kevin. Gadis tak manja.


Keempat orang itu saling membahu bantu Bu Sarah masak. Perlahan Kevin bisa atasi rasa canggung di hati. Dia mulai bisa berbaur dengan keluarga ramah ini. Cuma Kevin masih segan pada om Sabri yang punya kharisma luar biasa.


Sambil bantu masak Kevin curi makan rasakan betapa nikmat masakan Bu Sarah. Bu Sarah dibantu oleh tiga anak muda kreatif. Harusnya Bu Sarah bangga dia masak dibantu oleh seorang CEO kaya. Mana ada penjaga warung nasi pembantunya orang kaya. Mungkin dalam sejarah hanya Bu Sarah mendapat kehormatan dibantu seorang CEO.


Di sini tak ada batasan bos dan anak buah. Kevin tak ubah seperti Gani dan Gina berada di rumah Bu Sarah. Kevin tak merasa direndahkan walau harus bantu di dapur. Malah harusnya bahagia dianggap keluarga oleh keluarga Gina.


Semuanya antrian mandi dilanjut sarapan bersama barulah Om Sabri membawa isterinya pergi jualan dengan mobil pick up yang selalu setia. Pasangan pengantin baru yang sudah basi tetap seiya sekata saling mendukung mengais rezeki.


Di rumah tinggallah ketiga anak muda bersiap untuk pergi ke kantor. Kevin maunya Gina tak usah ke kantor karena masih kurang sehat. Tapi Gina santai tak tampak kan dia kurang fit. Dia tetap segar seperti tidak sakit cuma tangannya terbalut perban.


Gani sudah rapi dengan baju manager warna putih dan celana hitam plus dasi hitam strip putih. Laki kemayu itu tampak lebih ganteng. Cuma sayang perginya gunakan sepeda motor. Coba kalau mobil pasti lebih keren.


Gani duluan pamitan agar tak didahului oleh bos yang masih berleha di rumahnya. Gani tentu saja tak berani kasih tahu rekaman kantor kalau bos mereka tidur di rumahnya. Orang bisa saja salah sangka pikir aneh-aneh tentang dia dan Gina. Pola pikir orang kan berbeda-beda.


Pagi ini Gina tak perlu jadi supir lagi karena sudah ada Jay siap kawal mereka ke kantor. Pagi ini Hadi ikut ke kantor karena belum tahu di mana dia akan bertugas. Untuk sementara ikut bos ke kantor dulu.

__ADS_1


Kevin menjadi berharga karena Dikawal tiga karateka handal. Siapa berani cari masalah dengan Kevin berarti sedang undang bala. Tiga pendekar siap melawan.


__ADS_2