
Kalau hanya untuk ini Gina tidak keberatan. Gina pun bisa banyak belajar mengenai dunia bisnis. Siapa tahu suatu saat kita terjun di dalam dunia bisnis bekerjasama dengan Pak Julio.
"Iya pak! Aku terima."
"Good...kamu harus banyak belajar agar bisa tampil lebih jauh di bisnis. Sekarang bersiaplah kita pergi belanja! Aku juga ingin beli kebutuhan sehari-hari. Biasa si bibik yang beli semua kebutuhan aku. Mungkin hari ini aku bisa memilih apa yang kuinginkan karena didampingi olehmu. Duniaku agak terbuka sedikit setelah kehadiran kamu." Kevin tidak malu-malu mengakui kalau Gina telah berjasa padanya.
"Apa bapak tidak takut suatu saat aku akan memeras bapak dengan kelebihan aku? Jangan terusan puji aku karena suatu saat bapak akan menyesal setelah tahu sifat buruk aku!" Gina mengerling Kevin dengan sudut mata. Kevin hanya tersenyum tanggapi kejujuran Gina.
Biasa orang yang terbuka begini justru tidak pernah macam-macam. Mereka yang sok baik penuh dengan kemunafikan itu lebih berbahaya lagi. Sedikitpun Kevin tidak takut kepada Gina yang menurutnya memiliki hati yang baik walaupun keras.
"Aku tak keberatan aku peras. Kau bawa pulang ke rumahmu juga aku mau." canda Kevin bikin Gina mendelik. Gina mencibir tak tanggapi godaan Kevin.
"Ikut aku pulang? Tidak takut kujual sama mucikari jadi gigolo?"
"Kau tega? Mengapa tidak kau nikahi aku saja. Aku siap kok dijadikan suami oleh kamu." Kevin perlihatkan sedikit kekonyolan goda Gina.
Kevin senang sekali lihat pipi Gina bersemu merah diajak bercanda sedikit menyimpang dari kebiasaan. Hari ini masih ada orang tersipu diajak menikah.
"Ibuku perlu tukang cuci piring di warung. Bapak mau dijadikan pembantu oleh ibu?"
"Untukmu apa yang tidak?"
Gina mengibas rambut bingung tiba-tiba Kevin berubah genit menggodanya. Ini tak seperti Kevin yang selalu dingin pada wanita. Mungkin otak Kevin sedang korslet kena virus dari Lucia. Sungguh berbahaya biarkan Kevin lebih lama bersama Lucia.
Gina merinding melihat Kevin berubah menjadi budak cinta. Boleh jadi budak cinta tapi jangan padanya. Gina belum siap menjalin hubungan dengan laki manapun sebelum tegakkan keadilan atas nama Bu Sarah.
Gina membereskan semua file di atas meja serta mematikan perangkat komputer tanpa tinggalkan kekacauan di atas meja. Soal kerja Gina tak pernah anggap remeh. Setiap kerja adalah amanah yang harus dituntaskan.
Gina berdiri tegak dalam posisi siaga siap diajak pergi belanja. Gadis ini bersikap pasif berharap Kevin yang mengajaknya duluan jalan. Gina posisi diri sebagai bawahan supaya Kevin sadar bahwa Gina bukanlah gadis dijadikan pasangan.
Kevin ingin sekali cubit pipi Gina biar gadis ini berubah hangat sedikit. Sikapnya yang selalu dingin membuat orang gregetan ingin melongok ke dalam isi hati gadis ini untuk melihat apa yang terjadi di dalamnya. Mengapa seorang gadis muda demikian dingin terhadap lingkungan bahkan kepada seorang lelaki ganteng seperti dirinya.
Kevin terpaksa duluan melangkah pergi dengan harapan Gina memahami apa yang dia maksud. Tentu saja ikut dengannya pergi berbelanja.
Memang ini yang diharapkan oleh Gina membiarkan bosnya duluan melangkah pergi supaya jangan dianggap dia yang ngebet ingin bepergian dengan Kevin. Detak sepatu ciri khas Kevin terdengar sepanjang jalan menuju ke arah lift. Gina sudah sangat hafal sepatu Kevin yang seperti nada pasti satu dua ketukan.
Kevin memencet tombol lift agar mereka bisa segera turun ke bawah. Tampaknya lift sedang digunakan oleh orang lain sehingga mereka harus menunggu sesaat.
Bunyi Ting menyadarkan Gina kalau mereka harus segera masuk ke dalam kotak tangga menunjuk menuju ke bawah. Kevin duluan masuk ke dalam kotak itu barulah menyusul Gina dari belakang. Di dalam lift hanya ada mereka berdua membuat keadaan menjadi canggung.
Di antara mereka berdua tidak ada yang ingin mengeluarkan suara selain bernafas dengan baik. ******* nafas keduanya pun tak terdengar sama sekali walaupun keheningan membalut di dalam ruangan kecil itu.
Gina memilih menundukkan kepala daripada harus melirik ke arah bosnya. Pokoknya rasa canggung melanda di dalam kotak lift. Untunglah keadaan ini tidak berlangsung lama. Lift berhenti dan pintu terbuka mempersilakan kedua orang itu keluar dari tubuh kotak lift.
__ADS_1
Kevin duluan keluar barulah Gina ikut dari belakang seperti sekretaris setia. Keduanya kembali menjadi tontonan para pegawai lain karena dalam sejarah baru kali ini melihat Kevin bepergian dengan seorang wanita.
Sesampai di depan pintu besar kantor Kevin mengeluarkan kunci mobil memberikan pada Gina. Laki ini mau Gina yang nyetir untuk sore ini. Kevin tak tahu ke mana mereka akan belanja maka serahkan remote kunci pada Gina. Biarlah Gina yang tentukan bawa dia belanja ke mana.
Gina menyambut kunci lalu pergi ke parkiran untuk jemput mobil bawa ke depan bos. Kevin mana mau capek-capek berjalan ke arah parkiran untuk naik ke dalam mobil. Bos tetap bos yang harus dilayani oleh anak buah. Tak peduli anak buahnya seorang gadis muda.
Gina membawa mobil sampai ke hadapan Kevin. Sikap begini yang tak disukai Gina. Bos dengan angkuh memandang rendah pada anak buah seolah dialah pemilik semua yang ada dalam gedung kantornya. Maka itu dari dulu Gina tak suka merendahkan diri kerja di kantor yang harus bungkukkan badan pada atasan.
Kevin membetulkan letak bajunya baru masuk ke dalam mobil duduk di jok belakang seperti biasa. Gina yang sudah berjasa padanya tetap saja menjadi bawahan tunduk pada Kevin.
"Ke mana kita pak?" tanya Gina sebelum mobil melaju keluar dari area parkiran.
"Lha yang mau belanja kan kamu. Aku hanya numpang belanja." sahut Kevin juga kurang ngerti harus belanja ke mana.
"Pak kita beda kelas. Belanjaan bapak kan kelas VIP sedangkan punya aku kelas teri. Mana bisa sama?"
"Cerewet...di mana saja sama! Ke supermarket terdekat tapi harus yang lengkap. Aku tak mau bolak balik berbagai tempat cari belanjaan."
"Baiklah!" Gina bisa baca keinginan Kevin mau cari tempat nyaman untuk penuhi kebutuhan harian dia. Tempat yang akan dikunjungi oleh Kevin pasti tak ramah pada dompet Gina. Namun Gina tak punya pilihan selain ikuti selera Kevin.
Gina melakukan mobil tanpa tanya lagi. Gina sudah temukan jawaban harus bawa Kevin ke mana. Tentu saja ke pusat perbelanjaan terlengkap di kota.
Kevin hanya bisa menatap kepala Gina yang duduk di depan stir. Kevin makin tergantung pada Gina. Kalau dia kumat sudah ada Gina redakan emosinya yang meluap bila sedang kumat. Akan kah Kevin maju merebut hati Gina yang dingin itu. Kevin sendiri tak tahu dia ingin bersama Gina karena butuh atau memang telah jatuh cinta pada anak muda ini.
"Gin...maukah kamu jadi asisten dua puluh empat jam?" ntah dari mana ide Kevin luncurkan pertanyaan ini.
"Bapak sedang kumat stress?" Gina balik tanya dengan nada sinis. Minta dia kerja dua puluh empat jam artinya harus berada di sisi laki ini seharian penuh. Intinya di mana ada Kevin di situ ada Gina.
"Aku minta dengan hormat nona! Aku merasa nyaman dan tenang bila kau ada. Di rumahku kan banyak orang. Bukan cuma kita berdua. Aku akan hormati kamu sebagai seorang gadis remaja. Aku berjanji takkan melecehkan kamu."
"Pak..bukan soal itu! Aku tahu bapak takkan macam-macam tapi apa kata orang aku tinggal di rumah bapak. Orang tua aku juga takkan setuju. Kita bukan orang barat tak punya sopan santun. Maaf aku tak terima!" sahut Gina dengan ketus.
"Sudah kuduga kau akan tolak. Ok..aku hormati prinsip kamu!" Untuk sementara Kevin menyerah. Menyerah bukan berarti Kevin akan lupakan niat rekrut Gina dalam hidupnya. Dia akan tiarap dulu cari solusi lain paksa Gina terima dia dalam sepanjang hidupnya.
"Terimakasih.."
Keduanya tiba di pusat perbelanjaan paling moderen dan lengkap. Semua serba ada di sana. Dari barang terkecil sampai yang besar ada di situ. Dari segede semut sampai segede gajah. Gina parkiran mobil di tempat parkir khusus kendaraan roda empat. Sementara itu Kevin menunggu Gina di depan pintu masuk gedung pusat perbelanjaan yang tampak megah. Sudah dipastikan yang belanja di sini orang-orang berkantong tebal. Sekali tarik uang berjuta-juta bunyinya. Beli sandal saja bisa ratusan ribu. Ini membuat jiwa miskin Gina berontak.
Gina melihat Kevin agak gugup berdiri mematung di dekat pintu mall. Mata laki itu agak liar memantau orang sekeliling takut dekati dia terutama yang wanita. Imun tubuh Kevin kontan menurun setelah berada di tempat umum begini. Rasa cemas melanda laki itu cemas bersentuhan dengan wanita.
Gina tidak akan biarkan Kevin gelisah lebih lama karena akan pengaruhi faktor kejiwaan laki itu. Gina bukan tidak kuatir penyakit Kevin kumat di tempat umum. Hal ini akan memalukan laki itu.
Gina hampiri Kevin lalu meraih tangan cowok itu bergandengan masuk ke dalam mall. Gina melangkah dengan gagah siap melindungi cowok ini dari segala kemungkinan. Kevin terpana sesaat seraya menatap tangannya yang berada dalam genggaman Gina. Tangan mungil kasar menggenggam tangannya erat-erat beri perlindungan total pada Kevin.
__ADS_1
Kevin tersenyum lantas melangkah dengan pasti menuju ke tempat di mana kebutuhan mereka berada. Hati Kevin tenang bersama Gina, dia tak kuatir lagi bila berpapasan dengan wanita. Tak perlu gugup bila bersentuhan. Anggap itu pelatihan mental capai kesembuhan.
"Terimakasih.." bisik Kevin namun jelas di kuping Gina. Gina tertawa tipis terdengar merdu di telinga Kevin.
"Bapak cari apa?"
"Cari barang kamu dulu,! Biasa cewek selalu banyak kebutuhan."
Gina mendecak mengerling Kevin. Baru saja mereka berdamai kini Kevin kibar bendera perang cari masalah. Kevin tak tahu kalau Gina bukanlah seperti gadis umumnya yang terlalu senang pergi berbelanja. Gina berbelanja ala kadarnya untuk keperluan sehari-hari. Tidak pernah berlebihan membuang uang secara sia-sia karena uang Gina bukan gampang datangnya.
"Aku hanya beli sampo dan bedak serta sedikit keperluan rahasia."
"Keperluan rahasia? Memang ada keperluan yang harus dirahasiakan? Aku jadi penasaran keperluan apa itu?"
"Ayoklah kukasih tahu. Siapa tahu bapak pingin juga beli." Gina menarik tangan Kevin masuk ke tempat khusus barang wanita. Di situ tersusun rapi semua keperluan harian wanita. Dari bedak, sampo, sabun mandi sampai pembalut wanita.
Gina memang sengaja bawa Kevin ke tempat penjualan pembalut biar laki itu merasa malu. Laki kok datang ke bagian penjualan barang yang disebut rahasia oleh Gina.
Kevin besarkan mata melihat barang keperluan rahasia. Betul-betul barang rahasia hanya digunakan oleh wanita.
"Kalau bapak suka silahkan pilih biar aku yang bayarin! Ada yang pakai sayap samping, ada yang tipis dan ada yang khusus untuk dipakai malam hari anti bocor." kata Gina santai tanpa malu. Bukan Gina yang malu melainkan Kevin kena jebakan Gina.
"Dasar kamu ini tak tahu malu...aku pergi ambil troli! Tunggu sini saja!" sungut Kevin ngeloyor pergi dengan malu. Gina sungguh keterlaluan goda Kevin dengan barang ajaib buat wanita itu.
"Pak...belum dipilih lho!" seru Gina belum puas bikin Kevin malu.
"Pilih sendiri!" rengut Kevin jauhi Gina cari troli untuk isi belanjaan. Sebenarnya Kevin was-was harus pergi jauh dari Gina. Takut jumpa wanita dan kumat lagi. Selama ini Kevin berusaha jauhi keramaian agar tidak interaksi dengan makhluk Tuhan yang indah yakni wanita. Kumat di tempat umum bukan hanya memalukan tapi akan mencoreng nama baik Kevin sebagai pengusaha muda.
Tapi keisengan Gina memaksa Kevin harus hindari anak itu untuk sesaat sampai dia menemukan benda rahasia yang dia inginkan.
Tak lama berselang Kevin kembali sambil dorong troli kosong. Laki ini belum memilih barang dia inginkan. Kevin sendiri tak tahu mau beli apa. Barang di rumah apa yang sudah kosong dia juga tak tahu. Keperluan harian dia sudah ada yang urus yakni pembantu rumah tangga dia.
Gina sudah memegang beberapa bungkusan warna biru gelap. Kevin sama seali tak ingin tahu bagaimana bentuk barang itu. Itu benda memang khusus rahasia wanita.
"Yok kita cari barang lain!" ajak Kevin tidak enak lama di tempat aneh ini.
"Ok...Oya...aku beli banyak lho pak! Kalau butuh boleh minta satu!" olok Gina cari kesempatan usilin Kevin.
"Mau minta dicium di tempat umum? Jangan lupa aku ini tidak alergi terhadap kamu!" ancam Kevin harap Gina tutup mulut tak lanjut goda dia.
"No way..." Gina mencibiri Kevin majukan bibir ke depan. Kevin makin gemas lihat tingkah manja Gina. Gina tampak lebih mirip anak gadis kalau begini. Ada sikap gemasin.
"Ayok lanjut! Sekarang mau cari apa?"
__ADS_1
"Sampo dan sabun mandi. Bapak tidak ingin beli sesuatu?" Gina berkata sambil memasukkan bungkusan di tangan ke dalam troli kosong. Gina ambil alih dorong troli supaya Kevin tidak dianggap budak wanita.