
Peter setuju dengan analisa Kevin. Hanya orang dekat keluarga Lucia punya data tentang masa lalu pak Subrata cuma tak sangka isterinya yang terhormat mantan perempuan malam. Terlalu binal malah. Subrata tega tinggalkan seorang isteri hanya untuk seorang penebar cinta malam hari.
"Itu bukan urusan kita. Dan lagi Lucia hanya perancang kita. Masalah keluarga adalah urusan dia. Nanti kita atur pertemuan dengan ibu Gani. Kita harus cepat karena tak lama lagi proyek akan dimulai." Peter malas bahas soal Lucia. Lucia terlalu sombong dengan nama besar keluarga. Nyatanya kemegahan itu hanyalah topeng tutupi kebobrokan keluarga itu.
"Iyalah! Dia belum muncul ke publik klarifikasi soal ini."
"Mau klarifikasi apa? Fakta di depan mata. Lucia itu anak haram penyebab keluarga orang hancur berantakan." ujar Peter sinis. Keangkuhan Lucia selalu anggap dia adalah tuan putri dari kerajaan hebat bikin Peter ilfil. Peter justru merasa Gina jauh lebih baik dari Lucia.
"Kok sewot? Kita bahas dulu konsep kerja proyek pak Julio. Kurasa kau harus tetap di lokasi proyek sampai tujuh puluh lima persen pekerjaan baru bisa balik sini."
"Tak masalah...gadis Batak dan gadis Melayu di sana cukup baik untuk cuci mata. Aku tak punya penyakit alergi macam kamu. Aku bisa klop dipasangkan dengan siapapun. Ok?"
"Ok.." Kevin tak bisa marah Peter ungkit penyakitnya.
Memang begitu dia harus gimana. Peter paling tahu masalah kesehatannya jadi tak perlu tutupi lagi.
Kevin bahagia sudah temukan titik terang penyakitnya. Semoga Gina bisa bantu dia sembuhkan trauma yang sudah terjadi puluhan tahun. Kevin tak pernah cerita masalahnya pada siapapun kecuali pada Peter yang merupakan saudara sepupunya dari sebelah ibunya. Masa kecil Kevin kelam akibat perselingkuhan bapaknya. Beda dengan Gina, ibu Kevin mati bunuh diri karena tak tahan tekanan batin akibat bapaknya suka pada daun muda. Ntah berapa puluh anak gadis jadi korban bapak Kevin.
Sampai detik ini Kevin masih membenci bapaknya walau puluhan tahun telah berlalu. Hubungan anak bapak putus karena kesalahan bapaknya. Tak ada kata maaf dari Kevin walaupun bapaknya berusaha dekati anak itu.
Kevin mewarisi kekayaan dari sebelah ibunya juga warisan langsung dari kakek Kevin. Kakek Kevin tak mau wariskan harta pada anaknya yang mata keranjang itu. Jadilah Kevin orang kaya warisi dua perusahaan. Kevin gabung jadi satu berkat kepintaran dia.
Seperti biasa Gina pulang ke rumah sebelum magrib. Tugas Gina selesai setelah magrib. Waktu selanjutnya adalah berkumpul dengan ibunya dan Gani. Hari ini Gina cukup lelah karena beri latihan karate pada anak murid. Cari uang tidak mudah. Satu rupiah demi satu rupiah dikumpulkan oleh Gina untuk bantu biaya hidup mereka.
Bu Sarah tahu anaknya lagi dalam kondisi tak fit. Tak ada cahaya semangat di wajah cantik itu. Gina menyalami ibunya dengan senyum hambar. Senyum yang dipaksakan.
"Ada apa sayang?" tanya Bu Sarah mengikuti langkah Gina sampai ke kamar mandi.
"Tak ada Bu! Cuma capek saja. Jualan hari ini habis?"
"Ada sisa dikit.. Lagi sepi nak! Semua mengeluh sepi. Kau ada masalah?"
"Aku bisa ada masalah apa? Ibu tenang saja anakmu baik saja. Bebek mana?"
Bu Sarah memukul pantat Gina yang ngejek Gani bebek. Kedua anaknya sangat beda karakter. Satu macho satunya gemulai. Cuma sayang posisinya tidak tepat. Laki gemulai dan ceweknya gagah.
"Gani itu abangmu lho! Pergilah mandi! Antar nasi om kamu sebelum magrib."
"Ya Bu...Gin ambil baju dulu." Gina bawa ransel punggung masuk ke kamarnya.
Bu Sarah memandangi punggung anaknya yang hilang di balik kamar. Bu Sarah bertanya mengapa Gina tampak tak bergairah. Itu bukan sifat Gina tidak optimis pada kehidupan ini.
Bu Sarah tak mau memaksa Gina berkeluh kesah saat ini. Mungkin dia menemukan kesulitan dalam pekerjaan maka kurang semangat. Bu Sarah pilih masuk dapur siapkan rantangan untuk Sabri sebagai lauk makan malam.
Gina bersiap antar nasi untuk om Sabri. Ini sudah menjadi tugas rutin Gina antar makan malam om Sabri. Gina sudah anggap om Sabri sebagai papanya maka dia merasa wajib jaga laki itu juga.
Malam ini Gina sengaja tidak bawa motor karena ingin jalan santai. Gina sengaja jalan untuk hilangkan kegelisahan dalam hati.
Gina bawa langkah dengan gontai. Dalam benak Gina masih terbayang pemilik rumah datang minta uang sisa rumah yang mereka tempati. Pak Haji butuh uang untuk buat rumah anaknya di daerah Sulawesi. Anaknya mendesak minta semua uang agar segera dilunasi. Perjanjian boleh cicil tapi sekarang sudah balik cerita. Bagaimana Gina tidak bingung harus cari uang ratusan juta.
Uang dari Lucia belum berani dia gunakan karena takut ke depan Lucia tuntut balik uang itu. Gina hanya berjaga-jaga sebelum terlanjur habiskan uang Lucia.
Selangkah demi selangkah tiba juga Gina di bengkel om Sabri. Bengkel itu tampak sepi tanpa aktifitas. Tak ada suara ketok besi maupun suara kasar para pekerja bengkel.
__ADS_1
Gina masuk ke dalam pintu gerbang yang tak pernah ditutup sebelum om Sabri tidur. Semua orang boleh datang asal dengan niat baik.
Bengkel sepi membisu tak ada orang. Biasa ada beberapa anak muda suka nongkrong di depan bengkel sekedar kumpul main gitar menghibur diri. Malam ini tak tampak gerombolan anak muda tersebut.
"Om..." seru Gina nyaring bergema di bengkel sepi itu.
"Malam begini teriak seperti tarzan kota. Kamu ini anak perempuan nak!" ntah dari mana muncul laki berbadan tegap itu.
"Memangnya perempuan tak boleh bersuara?"
Om Sabri tak jawab, laki ini menatap Gina yang kusut. Sinar mata yang biasa tajam kini tumpul. Tak bisa diajak potong kertas sekalipun.
"Nih ibu suruh antar!" Gina menyodorkan rantang.
Om Sabri menerima rantang itu dengan suka cita. Bukan isi rantang jadi perhatian melainkan niat baik seorang perempuan pencuri hati. Satu kampung tahu Sabri suka pada Sarah namun Sarah masih bertahan status jandanya.
"Bilang terima kasih pada ibu ya. Om suka makanannya." Om Sabri mengelus rantang anggap itu pengganti Sarah.
Gina nyengir kuda tak sangka ada orang tua sekonyol ini. Rantang dielus untuk suarakan isi hati.
"Bawa ke penghulu Om! Rantang takkan jawab cinta om." ejek Gina bikin om Sabri tersipu malu.
"Anak kecil tahu apa. Besok cepat datang selesaikan mobil pak Julio. Kan sudah hidup tinggal setel mana yang kurang pas."
"Disuruh kawin malah belok ke mobil. Ntar ibu keburu peyot kalau tak segera dihalalkan. Tuh...pak Kosim duda kaya desa seberang tiap hari datang makan hanya untuk ngobrol dengan ibu. Ditikung pak Kosim baru nyaho."
"Yang bener?" Om Sabri tampak panik incarannya ada yang suka. Bisa amsiong bila didahului pak Kosim. Sia-sia pengorbanan selama ini jaga Sarah.
"Bener...sumpah pusing tujuh keliling! Aku sih setuju saja karena pak Kosim kaya-raya walau bangkotan."
"Makanya om gercep!"
"Iya...kau bantu bujuk ibumu ya!"
"Sip...gaji ditambah dong! Masa tak pernah naik gaji."
"Iya...nanti om tambah goceng!"
"Goceng? Bisa beli apa? Sandal swallow saja sudah dua puluh ribu. Ogah punya ayah pelit. Mending pak Kosim. Tua-tua keladi tapi tajir."
"Kupecat kamu sekarang juga! Dasar anak tak tahu diri." Om Sabri sewot dikerjain Gina.
Gina bukannya takut malah ketawa ngakak. Om Sabri memeluk rantang tinggalkan Gina. Omong dengan kedua anak Sarah selalu bikin darah Om Sabri naik ke puncak. Ada saja tingkah mereka usilin Sabri. Namun Sabri memang sangat sayang pada mereka berdua terutama Gina.
Gina memperhatikan kepergian Om Sabri masuk ke dalam bengkel merangkap tempat tinggal. Laki itu betah tinggal di bengkel demi dekat dengan Bu Sarah padahal laki itu juga punya rumah di daerah lain.
Demi cinta dia rela berkorban jalani hidup sederhana. Cinta yang sangat indah. Bu Sarah beruntung mendapatkan cinta demikian tulus dari seorang lelaki.
Gina balik badan ingin pulang untuk istirahat serta pikir cara tepat bayar uang pak Haji. Jual motornya belum juga cukup. Apa dia harus gunakan uang dari Lucia? Gina jadi bimbang untuk ambil keputusan.
Sambil jalan otak Gina terus berputar mikirin dari mana dapat uang dalam tempo seminggu. Gina tak mungkin abaikan permintaan pak Haji pula. Pusing sekali kepala Gina.
"Kak Gin...kak Gin..."
__ADS_1
Gina menoleh melihat siapa manggilnya. Seorang bocah tanggung berlarian hampiri Gina dengan nafas terengah-engah. Kelihatan anak ini lari maraton seperti baru habis dikejar orang sekampung.
"Bayu...ada apa dek? Siapa ganggu kamu?"
"Bukan kak..." bocah dipanggil Bayu mengatur nafas supaya bicara lancar.
"Lalu kenapa? Dikejar anjing gila?"
"Ini lho! Kak Gani, kak Afif dan kak Teo ngamen pakai baju cewek. Mereka ada di dekat warung desa sono. Ayok kakak jemput mereka! Maluin kampung kita saja."
"Astaghfirullahaladzim.. cari mati tuh anak! Ayok kita ke sana! Cari tali dulu kita ikat mereka biar tidak kabur!"
"Ok kak! Aku akan cari bantuan biar kita tangkap rame-rame." Bayu melesat pergi tanpa persetujuan Gina.
Gina menggertak gigi saking marah pada Gani. Makin tak tahu malu saudaranya itu. Sudah berani terangan ngaku diri seorang banci. Gina harus kasih pelajaran pada Gani cs yang dianggap menyimpang dari kodrat.
Ntah dari mana sudah kumpul beberapa bocah tanggung. Mereka demikian gagah siap bantu Gina tangkap banci Kalengan bikin malu kampung.
Bayu bawa satu gulung tambang buat Gina untuk bekuk laki memalukan kampung itu. Perbuatan Gani sudah mencoreng muka kampung mereka. Tak ada kata maaf untuk mereka yang lawan kodrat. Gina takkan beri ampun pada Gani walaupun Gani lebih tua. Tua keladi sekalipun tetap harus diajar kalau memang salah.
Mata Gina nyaris loncat keluar lihat saudara kembarnya nyanyi dengan suara kayak katak hendak bertelur segede gajah. Menjerit-jerit tak bisa keluar telornya. Apa kuping orang yang dengar tidak jebol?
Sungguh memalukan lihat Gani pakai baju super ketat dengan dada membusung persis dada seorang anak gadis. Kedua temannya tak jauh beda sama berantakan. Tapi harus diakui riasan wajah mereka rapi persis wanita tulen. Gina saja kalah pintar dandan.
"Gani...." teriak Gina menggelegar pecahkan kuping ketiga banci kalengan itu.
Ketiga orang itu terkesima lantas hendak kabur. Kumpulan bocah sudah siap siaga hadang ketiga alien dari planet floral dan fauna. Ketiga terkepung disaksikan pengunjung warung. Orang bukannya takut melainkan merasa lucu lihat ada tiga makhluk jadian dikepung puluhan anak dan seorang gadis bertampang seram.
Gina kontan beri tendangan pada tungkai kaki Gani beserta kedua temannya agar mereka lumpuh tak bisa kabur lagi. Selanjutnya para bocah ikat ketiga banci itu dengan tali tambang sampai tak berkutik.
Suasana hati Gina sedang tidak pada posisi baik. Di tambah tingkah Gani bikin ulah maka genap lah rasa kesal di hati Gina.
"Dek...kok diikat kayak maling?" seru Gani tak terima diperlakukan semena-mena.
"Masih untung diikat. Ada rencana pasang gigi palsu? Sini kubantu cabut giginya semua. Dasar manusia hasil daur ulang! Ayo pulang!" Gina menyeret ketiga orang yang terikat dengan kasar.
Sorak tawa bergema tatkala Gina bergerak tanpa beri kata ampun pada ketiga banci itu. Pengunjung sudah maklum kalau banci dadakan pasti akan dihajar keluarga yang tak suka lihat mereka buat ulah di luar.
"Dek...aku ini abangmu. Kamu kelewatan sama Abang!"
"Abang? Aku kok lupa punya Abang pakai rok. Dan kau Afif...abahmu itu ustad! Apa kau tak malu pada Abah kamu? Teo.. ibumu pasti nangis darah lihat kamu berpakaian begini. Malam ini kalian akan kuberi tempat tidur paling nyaman. Hotel bintang kejora. Ayok anak-anak! Bawa alien ini ke bengkel om Sabri! Kita kurung mereka di gudang bersama tikus parit."
"Beres kak!" seru anak-anak bersemangat.
Gani cs diseret seperti hewan siap dibawa ke rumah jagal. Tak ada kata belas kasihan dari Gina. Sepanjang jalan orang perhatikan kelompok ini. Tak ada yang mau bela ketiga alien lokal ini. Mereka malah senang Gina mau berantas sifat kemayu ketiga anak kampung memalukan ini.
Gani agak malu-malu kucing disoraki anak kecil dalam perjalanan pulang ke kampung mereka. Malam ini tamatlah riwayatnya di tangan Gina. Jumpa Gina merupakan hari sial Gani. Dia pernah beroperasi ngamen tapi selamat. Naas banget malam ini kepergok Gina.
Gina dan anak-anak mengantar ketiga makhluk ini masuk ke dalam bengkel om Sabri. Di depan bengkel sudah kumpul beberapa cowok muda nongkrong seperti malam sebelumnya.
Mereka ikutan heboh lihat Gina menangkap tiga alien aneh bin ajaib. Salah satu adalah Abang Teo ikut nongkrong di situ. Abang Teo tidak marah adiknya diperlakukan kasar oleh Gina. Abangnya malah syukur Gina mau hajar adiknya biar kembali ke jalan benar.
"Mau kau apakan monyet-monyet ini Gin?" tanya Abang Teo melontarkan tatapan marah pada adiknya.
__ADS_1
"Rencana mau kukuliti lalu timbang kilo. Ada yang mau beli kulit banci kurap?"
"Perlu kami bantu? Kita siram dulu sama air panas biar gampang dikuliti. Jika perlu siram soda api dulu." timpal pemuda lain.