
Gina tersenyum licik suka lihat rekannya manyun. Kantor ini sangat gersang tak ada hiburan. Kini ada bahan untuk menghibur diri mana dilewatkan oleh Gina.
"Ok...gitu saja! Jay cs dan Kupret OB...besok kalian masuk kerja!" Gina menyusun file di atas meja seakan hendak lapor pada Kevin sudah dapat kerja bagus untuk kedua pemuda ini.
"Gin... percayalah aku akan doain kamu kena bisul tak meletus tujuh tahun! Pas di pantat kamu." rengut Jay pasang wajah seram.
Gina terbahak-bahak tak terpengaruh oleh doa Jay. "Doa orang jahat tak didengar Allah! Tunggu aku masukkan data kalian ke komputer agar bulan depan dapat gaji. Jay lima ratus ribu dan Kupret satu juta."
Jay dan Kupret melongo dengar gaji mereka cuma segitu. Beli bahan bakar untuk transportasi saja tak cukup apalagi untuk biaya hidup. Masih lumayan kerja di bengkel bisa hasilkan beberapa juta dalam sebulan.
"Hei tengkulak! Kamu ini makin tak masuk akal ya? Apa namamu harus diperpanjang jadi monster Rambo tengkulak?" kata Jay mulai terpancing emosi.
"Kurang panjang bro! Tambahkan satu lagi rentenir pengisap darah!"
Jay mati kutu dapat serangan balik dari Gina. Gina mana peduli dengan segala julukan. Mau dibilang monster jelek dia juga tak keberatan. Dibilang monster dia juga takkan terluka.
"Aku tak mau kerja sini. Makan hati punya atasan macam kamu. Belum tua uban satu badan." Jay merepet jengkel Gina betah permainkan mereka.
"Tepat. Maunya dari dulu ngaku keturunan monyet. Hanya monyet punya bulu satu badan."
"Emang kamu bukan keturunan monyet juga? Akal kamu warisan dari nenek moyang kamu. Licik."
"Artinya kita saudara dong! Sesama monyet tak perlu saling hujat. Ok sekarang kembali ke topik. Jay akan bekerja di tempatkan di bagian marketing dan kau Kupret akan kurekom kerja di tempat lain. Tempat di mana skill kamu bisa berkembang. Tunggu ya! Aku telepon bos perusahaan lain dulu." Gina mencari ponsel antiknya di balik saku baju. Ponselnya mungil gampang diselipkan di mana saja.
"Tunggu Gin! Apa tak bisa kerja sini saja? Aku takut tak bisa adaptasi bila sendirian. Di sini ada kalian." Kupret cukup kaget akan ditransfer ke perusahaan lain. Jay mengurut dada lega tak jadi cs seperti ancaman Gina. Kini Kupret pula dapat masalah tak bisa kerja di situ karena pendidikan dia tak cocok berada di perusahaan Kevin.
"Pret...kamu ini sarjana teknik mesin. Perusahaan ini bergerak di perhotelan, perhiasan serta konstruksi. Ada perusahaan memang bergerak di bidang mesin kapal. Mungkin kamu cocok di sana."
Kupret lunglai mendapat penjelasan Gina. Ilmu dia memang tak cocok untuk perusahaan Kevin. Ke mana pula dia akan diungsikan oleh Gina. Jay dan Kupret tak sangka Gina punya koneksi sangat luas bisa rekom mereka bekerja lebih baik.
Gina meneleponi pak Julio mau minta tolong masukkan Kupret di perusahaan pak Julio. Gina yakin pak Julio takkan menolak permintaannya. Gina bukan sedang meminta hal di luar akal sehat melainkan permintaan pertolongan untuk temannya.
"Assalamualaikum pak!"
"Waalaikumsalam... capek tunggu bapak ya? Untuk saat ini bapak belum bisa ke tempat kalian. Mungkin sore nanti baru bisa ke sana."
"Oh tak apa pak. Gina mau minta tolong nih!"
"Tolong apa nak? Minta mobil sport?"
"Ngaklah pak! Ini ada kawan sarjana teknik mesin mau lamar kerja di perusahaan pak Kevin. Kami sini tak ada pekerjaan cocok untuknya. Mungkin di tempat bapak ada lowongan?"
Pak Julio tertawa besar dengar permintaan Gina di luar dugaan dia. Pak Julio mengira Gina akan minta sesuatu bersangkutan dengan barang mahal. Ternyata hanya minta kerja. Keponakan luar biasa angkuh.
"Masukkan lamaran! Bapak pasti terima. Besok suruh langsung antar ke kantor bapak dan katakan atas nama kamu. Kebetulan ada lowongan di pelabuhan."
"Terimakasih pak! Besok Gin akan antar langsung. Namanya Hasan pak!" ujar Gina sambil melempar pandangan ke arah Kupret. Kupret menarik nafas lega Gina tidak gila sebut nama Kupret. Kupret tak heran bila Gina sengaja panggil dia Kupret di depan umum. Soalnya dia juga sering panggil Gina sebutan monster.
"Baiklah! Bapak tunggu kamu. Gimana ibumu?"
__ADS_1
"Alhamdulillah sehat pak. Bapak bakal tambah keponakan deh!"
"Apa maksudmu?"
"Ibu hamil pak!"
"Masyaallah...ibumu hamil? Ya Allah..apa tidak bahaya?"
"Iya sih tapi kita tak mungkin menolak pemberian Tuhan. Kami akan jaga ibu dengan baik!"
"Ya sudah..nanti malam bapak ke rumah kamu! Bapak mau lihat langsung kondisi ibumu. Bilang sama ibu kalau kami mau datang."
"Iya pak! Gin akan bilang."
"Bapak ada sedikit urusan. Jumpa nanti sore. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam..."
Jay dan Kupret menyimak obrolan Gina dengan seseorang yang disebut bapak. Apa hubungan Gina dengan orang itu? Tampaknya mereka sangat akrab. Semoga Gina tidak jalan ke kiri menjadi pelakor kondang.
"Gimana? Aku diterima?"
"Terima...besok aku akan antar kamu ke sana! Takutnya satpam salah lihat malah usir kutu kupret."
"Eh...siapa sih kok kamu akrab banget?" tanya Jay curiga. Jay tak suka Gina menjadi nakal ganggu suami orang. Kan masih banyak stok pria lajang siap menjadi pacar tercinta.
Kupret dan Jay saling berpandangan. Apa iya Gina mau di lamar orang kaya? Tapi setiap perkataan Gina harus disaring dan diayak dulu. Tak semua perkataan Gina itu serius. Mereka sudah hafal sifat Gina yang suka isengin orang. Kalau sudah ada masalah besar baru muncul keseriusan gadis songong itu.
"Yang bener Gin? Kami tak terima kalau kau jadi pelakor ganggu rumah tangga orang. Kamu bukan orang model gitu!"
Gina tersenyum bangga temannya percaya padanya. Mereka mengenal Gina luar dalam. Tak ada bakat Gina jadi perusak rumah tangga orang. Mereka paling tahu kalau Gina sangat benci orang tak setia.
"Pak Julio itu adik ibu kita! Tepatnya dia itu pamanku! Puas? Cuma tak usah buka cerita karena kami tak mau numpang nama besar Pak Julio. Kita tetap membumi saja!" kata Gina bikin kedua konconya melongo.
Keduanya tak menyangka kalau Bu Sarah yang sederhana punya alatar belakang sangat hebat. Cuma mereka tak mau andalkan kekayaan keluarga maka selalu tampil sederhana.
Jay acung jempol puji tekat Gina tak suka pamer punya kekuatan dahsyat di belakang. Tak rugi mereka punya teman sekonyol Gina. Di saat penting terbantu juga. Mereka pindah kerja secara jemaah ntah bagaimana nasib bengkel Om Sabri. Padahal pelanggan bengkel cukup lumayan banyak. Satu persatu montir Om Sabri pindah ke kantor Kevin dan terakhir Kupret pindah ke tempat lain. Mereka belum izin dari Om Sabri sudah berani cari kerja baru. Om Sabri tentu kecewa pada mereka.
"Gin... ayahmu gimana? Siapa bantu dia di bengkel? Tak mungkin toh tinggal dia dan Wak No."
Gina termenung mendengar pertanyaan Kupret. Mengapa dia tidak terpikir nasib bengkel ayahnya. Perlahan bengkel itu akan mati bila tak ada pegawai di sana. Satu persatu pindah dari bengkel. Gina menyesal telah usulkan teman kerja di tempat Kevin. Gina lupa efek dari hengkangnya para pekerja.
"Kau benar...kita tanya dulu ayah! Kalau ayah tak izinkan kalian kerja di sini gimana?"
Jay dan Kupret tak bisa jawab. Dalam hati tentu saja berharap bisa maju kerja di kantoran karena mereka memang sarjana tak beruntung. Kini pintu rezeki sedang terbuka muncul pula kendala lain. Mereka tak bisa juga tinggalkan om Sabri yang sangat baik itu. Di saat mereka jatuh om Sabri yang angkat mereka.
"Aku akan kerja di bengkel bila ayahmu keberatan. Kita tunggu dapat ganti baru aku akan cari kerja lagi." Kupret perlihatkan jiwa kesatria tak lupakan jasa om Sabri.
"Terima kasih...kalian boleh jalan-jalan di kantor ini! Carilah bebek di lantai bawah! Dia pasti senang lihat kalian mau kerja di sini."
__ADS_1
"Belum tentu nona! Aku takut om Sabri keberatan tapi tak mau bilang. Kita harus punya perasaan. Kalau saja pak Kevin mau part time kerjanya mungkin aku akan kerja. Aku juga berpikir ulang kerja di sini." ujar Jay ikuti jejak Kupret ingat jasa om Sabri.
Gina bangga bukan main punya sahabat setia tak pentingkan harta. Semangat yang sudah terbangun langsung sirna mengingat nasib bengkel Om Sabri.
"Gini saja! Jay gantiin aku duduk di sini! Aku yang balik ke bengkel. Tenaga aku wakili dua orang. Jadi kalian tetap kerja di sini! Aku juga bosan jadi pegawai kantoran. Tak bisa bebas sesuka hati. Jiwaku terasa dikurung dalam ruang hampa." ucap Gina membuat kedua pemuda itu saling berpandangan. Kalau saja harapan itu terjadi maka masa depan kedua anak ini pasti cerah. Sebagai lelaki yang bakal beri nafkah pada anak istri haruslah punya kerja tetap dan gaji stabil.
"Gin..kau serius mau resign? Pak Kevin sangat butuh kamu lho!"
"Lalu kalian ini apa? Mau makan gaji buta? Enak saja! Sudah...begitu saja keputusan kita! Aku mau tenang kerja di bengkel seperti dulu. Ngajar les dan ngajar karate lagi. Itu dunia aku!"
Jay dan Kupret tak bisa lawan perkataan Gina. Dari dulu Gina memang tak suka dikekang. Dia mau jadi majikan atas diri sendiri. Gadis ini tak suka diatur sesuai aturan. Tapi demi Kevin dia telah banyak berubah. Kini ada kesempatan maka Gina mau hidup seperti dulu. Dia takkan tinggalkan Kevin selama laki itu butuh dia! Dia tetap lindungi Kevin dari kelicikan Peter dan keluarga papanya.
"Terimakasih Gin! Semoga harapan kamu terwujud. Kami cari bebek dulu ya!"
"Ok..jangan nyasar ya!"
Jay mencibir gemes pada cara Gina perlakukan mereka seperti anak kecil. Mana mungkin nyasar di kantor orang. Bertanya juga akan balik ke tempat semula. Gina suka berlebihan.
Gina kembali tekuni kerjanya. Tugasnya satu gunung ntah kapan selesai. Gina tak tahu bagaimana dulu Gani menyelesaikan segitu banyak tugas.
Dari sini Gina bisa menilai kalau Gani termasuk seorang pekerja ulet yang mampu menangani semua pekerjaan yang diberikan oleh Kevin. Kalaupun Gani naik pangkat menjadi manajer itu bukanlah berlebihan karena kemampuan Gani memang telah mencapai taraf tersebut. Gina tak boleh meremehkan saudaranya itu lagi. Gani mempunyai kelebihan yang tak dimiliki oleh Gina yakni sabar.
Gina tak tahu apa yang sedang dibicarakan Hadi dan Naruto dengan Kevin. Dari luar Gina bisa melihat betapa seriusnya mereka membahas gambar yang terbentang di meja kerja Kevin. Gina melihat Naruto yang dominan beri masukkan. Semoga Naruto berguna untuk Kevin. Kevin tak perlu mengandalkan Peter untuk lanjutkan proyek pak Julio. Peter yang jahat dan munafik. Dari luar saja tampak baik tapi isi dalam belatung semua.
Telepon di meja kerja Gina berbunyi. Gina melihat Kevin sedang pegang gagang telepon artinya yang telepon adalah Kevin. Lelaki itu pasti hendak memanggilnya untuk masuk ke dalam ruang kerjanya. Tanpa angkat telepon Gina bangkit dari kursi berjalan ke tempat kerja Kevin. Tak ada guna buang tenaga angkat telepon kalau buntutnya tetap harus ke ruangan Kevin.
Gina masuk tanpa ketok pintu lagi. Toh Kevin sudah tahu yang datang pasti asisten paling judes.
"Ya pak?" Gina berdiri di hadapan Kevin menunjukkan dedikasi seorang pegawai patuh.
"Tampaknya ada sedikit perubahan dalam objek pembangunan proyek kita. Hadi dan Naruto sudah kemukakan kendala rancangan awal kita. Aku percaya rencana mereka lebih bagus dari rancangan Peter. Apa pendapatmu?"
Gina bingung diminta pendapat. Dia buta samasekali soal konstruksi apalagi membangun jalan tol yang perlu skema bagus dan kekuatan. Gina hanya bisa memperindah gambar namun tak tahu cara membangun. Dia mana berani ngasih saran. Takutnya bukan membantu malah mengacaukan.
"Aku tak bisa omong apa-apa pak! Lebih baik kita tunggu pak Julio! Beliau lagi sibuk menunda datang sampai sore."
"Pak Julio ada hubungi kamu?"
Gina mengangguk. Memang barusan mereka ada ngobrol sebentar bahkan pak Julio mau datang ke rumah. Namun Gina tak perlu katakan masalah pribadi di kantor. Yang di rumah bicara di rumah saja. Di sini yang dibahas tetap soal kerja. Gina belum juga omong kalau Jay akan gantiin dia sebagai asisten Kevin. Jay punya kemampuan untuk lindungi Kevin dari segala ancaman.
"Baiklah! Kita tunggu pak Julio! Oya...kau atur tempat duduk Naruto dan Hadi. Aku terima mereka kerja di sini! Tempatkan mereka di bagian konstruksi!"
"Siap pak! Lebih baik kita ikuti prosedur perusahaan yakni buat surat lamaran dan lengkapi CV agar tak ada yang cemburu!"
"Terserah kamu saja! Kalian dua ikuti semua anjuran Gina. Kalau ada apa-apa bicara saja sama Gina. Sekarang kalian boleh keluar tunggu pak Julio datang!"
Hidung Naruto berkembang besar mendapatkan pekerjaan dari kantor Gina. Cuma mereka agak ragu bila harus berurusan dengan Gina. Gina mana mau lewatkan kesempatan bully mereka sampai minta ampun. Kevin belum kenal Gina sepenuhnya jadi belum tahu sifat tegas Gina bila sudah bertugas.
Gina tersenyum simpul mendatangkan rasa ngeri di hati kedua pemuda itu. Pikiran kotor apa lagi dalam otak gadis muda ini.
__ADS_1