JALAN MENUJU CINTA

JALAN MENUJU CINTA
Mahar Dahsyat


__ADS_3

Sebelum tiba ditempat makan yang ditunjuk Kevin mendadak ponsel Gina berbunyi. Ponsel yang biasanya kecil mungil kini mendadak berubah jadi layar lebar menganggu ruang gerak Gina. Ponsel mungilnya biasa terselip di saku tak makan tempat. Kini Gina harus terbiasa pegang benda pipih lebih besar.


Kevin melirik Gina mengeluarkan benda itu dari saku celana panjang agak kesusahan. Benda itu terjepit di antara paha Gina karena dia sedang duduk.


Timbul keisengan Kevin untuk menggoda Gina, "Perlu bantuan nona cantik?"


Gina bukanya berterima kasih pada niat baik Kevin membantunya mengeluarkan ponsel malahan gadis ini mendelik dengan mata sebesar buah jengkol.


"Kalau mau tangannya dibawa ke meja operasi ok saja. Jamin patah lima ruas." ancam Gina tak main-main. Coba saja kalau Kevin berniat nakal, Gina takkan segan memberi pelajaran pada laki ini.


"Niat baik mau bantu kok dimarahi?"


"Pikir aku tak tahu niat cabul kamu? Tunggu...ini panggilan dari ayah. Halo... assalamu'alaikum ayah! Tumben telepon?"


"Waalaikumsalam..Suara ponselmu kok jadi jernih? Biasa kurang jelas. Kau mandikan?"


"Iya ayah...tadi kubawa ke doorsmeer! Hasilnya lumayan... ada yang penting?"


"Ayah mau kamu datang ke alamat yang sudah ayah SMS ke kamu. Ayah akan teleponi Kevin ajak dia ke sini sekalian."


Orang yang dimaksud Om Sabri ada di sampingnya. Ngapain pakai telepon segala lagi. Bisa sampaikan sekarang juga.


"Pak Kevin ada bersamaku. Kami berencana akan makan siang bersama. Apa ayah akan ajak kami makan siang bersama? Mau pamer calon mantu?"


Kevin mau ketawa mendengar sahutan Gina terhadap ayahnya. Anak ini suka bicara sesuka hati tanpa pikir panjang padahal yang dia ajak bicara adalah ayahnya.


"Terserah kamu mau omong apa. Kamu ini anak bandel tak ada sopannya pada ayah sendiri. Ayah tunggu kamu di sini."


"Duh ayah ganteng...gitu aja naik darah. Ingat usia lho! Ntar marah terusan naik tensi. Ingat ada adek bayi butuh ayah ganteng. Ok aku dan pak Kevin akan meluncur ke sana."


"Nona manis...sampai kapan kau mau panggil Kevin dengan sebutan bapak? Dia itu calon suami kamu bukan calon suami isteri aku. Enak aja anggap dia bapak mau saingi aku. Jangan mimpi!"


Tina tak bisa menahan tawa Om Sabri sewot Gina memanggil Kevin dengan sebutan bapak yang berarti Bu Sarah adalah istrinya. Gina anak Bu Sarah akan harus memanggil bapak pada suami Bu Sarah. Andai Gina terusan memanggil Kevin dengan sebutan bapak maka berarti dialah suami Bu Sarah. Tak heran kalau Om Sabri sewot Gina tak bisa merubah cara memanggil Kevin.


"Siapa lagi mau saingi ayah tercinta? Aku akan panggil Kevin dengan sebutan paling manis dan manja. Ayah senang?"


"Wow...ayah tak sabar mendengar panggilan mesra kamu pada Kevin. Ayok kasih tahu ayah panggil apa? Beb... honey...atau hubby?"


"Abang...manis kan?"


"Standard amat...di mana manisnya? Maunya panggil honey."


"Ogah..ntar kelewat manis dikerubuti kupu-kupu malam. Yang pahit saja...bagusnya panggil pare ya?"

__ADS_1


Kevin hanya bisa menyimak percakapan anak ayah yang agak songong. Gina takut banget pada Om Sabri dalam keseharian namun mereka suka bercanda. Semua keputusan selalu Gina serahkan kepada Om Sabri tapi mereka bergaul akrab. Betul-betul keluarga hangat.


"Pare kepalamu...ngak ada sopannya sama suami. Sudah jangan ngawur ke mana-mana! Cepat ke sini."


"Siap bos... assalamu'alaikum!"


"Waalaikumsalam.."


Gina memutar stiur kendaraan menuju ke alamat yang telah dikirim oleh Om Sabri. Gina memutar mobil belum beritahu pada Kevin kalau mereka ditunggu om Sabri. Setelah mobil berjalan beberapa meter barulah Gina mengeluarkan suara memberitahu kemping kalau mereka harus menunda rencana makan siang. Ada yang lebih penting daripada makan siang karena bos mereka telah memanggil untuk berkumpul.


"Ayah minta kita ke alamat ini!" Gina perlihatkan tulisan di layar ponselnya biar laki itu yakin kalau memang ini perintah Om Sabri.


Kevin mengerut kening mengapa mendadak Om Sabri meminta mereka ke tempat yang dia tentukan. Suka tak suka Kevin tidak bisa melawan Karena sekarang dia sangat membutuhkan keluarga ini. Kevin harus memperlihatkan sikap baik agar bisa mendapat simpati dari keluarga Om Sabri.


"Ada acara apa ayah meminta kita berkumpul di sana?"


"Sampai di sana kita akan tahu. Ayah pasti takkan celakai kita."


"Aku tak berpikir ke situ cuma bertanya apa rencana ayah. Ayah biasanya kan suka terus terang. Ini penuh misteri."


Gina setuju juga penasaran apa yang akan dilakukan oleh om Sabri terhadap mereka. Sekarang mereka hanya bisa menanti dan langsung menuju ke tempat yang dimaksud oleh om Sabri.


Mobil merayap agak lamban karena jalanan sedikit macet orang jam istirahat. Anak-anak sekolahan lepas sekolah berlomba pulang ke rumah dengan berbagai rencana habiskan sisa waktu. Kejar waktu les ekstrakurikuler maupun rencana lain. Gina bergabung dengan ratusan bunyi klakson mobil aneka varian nada bunyi. Seperti irama orkestra tanpa dirigen.


Hampir satu jam barulah kedua anak muda ini tiba di tempat ditunjuk oleh Om Sabri. Tempat itu merupakan sebuah bridal tempat para pengantin memesan pakaian pengantin dan tempat rias pengantin. Penampakan dari luar cukup bonafide terpasang contoh pasangan pengantin dalam busana putih berhiaskan renda indah. Semua baju pengantin wanita semarak oleh aneka pernak pernik buat pakaian tersebut menarik perhatian.


Apapun bisa dilakukan Kevin selain menghadirkan kerabat keluarga. Orang yang dia anggap kerabat justru menikamnya dari belakang. Apa yang bisa dia harap dari orang syirik tersebut.


Gina dan Kevin mencoba cari tahu apa ada om Sabri dan Bu Sarah di dalam. Gina tak heran kalau kedua orang tuanya serta amplop dan perangko. Selalu bersama untuk satu tujuan. Keduanya masuk ke dalam toko bridal bersamaan.


Seorang penjaga rumah kecantikan itu keluar menyambut tamu yang sudah ditunggu dari tadi. Di situ sepi tak ada pengunjung lain selain mereka berdua.


Mata Gina liar memandangi sekeliling mencari orang yang memanggil mereka datang. Tak ada tanda-tanda om Sabri dan Bu Sarah ada di situ membuat Gina menatap Kevin minta pendapat.


"Telepon ayah!" Kevin langsung beri solusi paham apa yang tersirat di mata Gina. Kelihatannya kedua remaja ini mulai klik. Tak perlu bersuara sudah saling memahami.


"Tak perlu...kalian sudah dinanti di dalam. Mari kuantar ke dalam." gadis penjaga bridal lebih paham keinginan keduanya.


Kevin dan Gina tersenyum malu cepat ketahuan niat mereka. Keduanya diam saja diantar masuk ke dalam lewati gang. Kevin menggenggam tangan Gina ntah karena grogi atau muncul rasa takut di hati laki muda ini.


Gina tidak menepis tangan Kevin maklum Kevin belum bisa tampil utuh di depan keluarganya. Walau Kevin berniat tulus pada Gina tetap saja ada takut tak bisa penuhi harapan keluarga om Sabri.


Mereka di bawa ke satu ruangan terbuka penuh dengan berbagai gaun pengantin indah. Semuanya serba mewah dengan aneka model dan warna berbeda. Gaun pengantin impian para gadis muda menjelang akhir masa lajang. Kevin tak kalah terpesona melihat gaun yang terpajang hampir kuasai seluruh ruangan. Andai Gina yang pakai pasti akan seperti bidadari.

__ADS_1


"Ke mana saja kalian?" suara khas om Sabri buyarkan keterpesonaan kedua anak muda itu terhadap karya perancang busana. Yang rancang pastilah bukan perancang abal-abal seperti Lucia. Orang mampu hasilkan karya demikian agung pantas dapat apresiasi.


Kevin dan Gina memutar badan mencari sumber suara. Di situ sudah lengkap ada Opa oma dan Bu Sarah. Mereka semua menatap Gina dengan tajam akibat molor hampir satu jam. Apa Gina tak tahu menunggu adalah pekerjaan paling membosankan.


"Maaf kami terjebak macet!" sahut Kevin sopan tak biarkan Gina jawab. Gina pasti akan membantah semua perkataan Om Sabri dengan kalimat yang kadang jauh daripada topik utama.


"Pikir kalian makan dulu baru ke sini."


"Yaelah ayahku tersayang! Makan itu bukan minum sekali glek langsung terjun bebas ke lambung. Makan itu satu suap demi satu suap. Kalau kami makan sore baru nyampe sini." tukas Gina mulai keluar sikap membantah.


"Sudah..yang penting sudah di sini. Ayo kalian coba pakaian yang dipilih oma untuk kalian pakai besok!" Opa menunjuk ke satu arah tempat pakaian untuk calon pengantin bakal nikah.


"Besok? Cepat amat? Kayak janjian mau ke taman bermain saja." Gina tak bergeming masih membantah.


"Aduh sayang...lusa Oma sudah berangkat. Kita nikah saja. Tahun depan resmi sekalian selamatan kelahiran adikmu. Kita pesta di Jerman nanti." ujar Oma riang. Bagaimana Oma tidak gembira? Pemilihan pakaian pengantin untuk kedua anak muda itu menjadi tugasnya. Oma merasa dihargai karena pendapatnya akan digunakan untuk moment bagi kedua pasangan muda ini.


Gina tidak bisa berkata apa-apa lagi karena Oma yang buka suara. Coba kalau Om Sabri atau Bu Sarah yang beri pendapat pasti bibir cantik itu akan keluarkan sejuta kalimat membangkang. Gina tidak berani lawan Oma pilih manut saja.


Om Sabri tersenyum melihat anak gadisnya mati kutu bila gunakan Oma sebagai perisai. Gina tak berani menembus pertahanan legenda itu.


"Nona...tolong bawakan pakaian untuk cucu aku!" kata Oma kepada gadis yang temani mereka.


"Iya nyonya! Kami akan persiapkan semuanya untuk nona ini! Kalian semua silakan duduk dan menunggu di situ saja! Bos kami akan dandani nona dan tuan muda biar kita saksikan keserasian mereka. Ayok nona...silahkan!"


Kevin dan Gina digiring ke tempat lain untuk test pakaian yang dipilih Oma. Gina tak bisa membantah walau dalam hati dongkol keluarga kompak persiapkan pernikahan dia dengan Kevin. Gina tak bisa berbuat banyak karena dia sendiri yang terima lamaran Kevin gara ibu Lucia datang melabrak dia. Di dorong rasa kesal pada kelakuan ibunya Lucia sampai Gina kelepasan omong terima Kevin.


Gina belum lapar sekali sampai harus jilat ludah sendiri. Kata janji yang terucap pantang ditelan kembali. Gina harus tanggung jawab omongan sendiri. Tak ada jalan lain selain ikuti arahan keluarga menjadi istri resmi buat Kevin. Semua serba kilat. Kemarin lamaran, hari ini fitting baju pengantin dan besok langsung tancap gas jadi pengantin.


Kevin mendadak beri kabar pada seluruh karyawan bahwa besok kantor libur satu hari. Kevin tak katakan mengapa mendadak kantor libur. Kevin hanya beri pengumuman kalau besok semua karyawan diliburkan satu hari karena ada keperluan penting.


Kevin bisa saja meminta karya-karyawan bekerja seperti biasa dan dia yang libur. Namun Kevin tidak ingin melakukannya demi menghormati Gina menganggap hari ini adalah hari sakral maka dia liburkan seluruh karyawan. Om Sabri ingin membalas jasa Gina mengantar Bu Sarah kepadanya maka Om Sabri kerahkan semua warga kampung bikin acara lumayan besar untuk ukuran kampung meriahkan hari nikah Kevin dan Gina. Mereka menikah di mesjid terdekat untuk umumkan kalau Kevin dan Gina telah menikah secara resmi.


Tak ada keraguan menerima kehadiran Kevin sebagai warga kampung mereka. Para pemuda kampung yang mencintai Gina secara diam-diam auto patah hati massal. Namun tak ada yang berani bikin onar karena Gina memang cewek susah diraih. Boleh mencintai namun susah diraih.


Gina menjadi pengantin tercantik di kampung itu dengan kebaya warna merah terang pilihan Oma. Gina tak bisa menolak walaupun tak suka pilihan Oma karena tak senang warnanya. Cuma Gina tak mau kecewakan Oma Maja tutup mulut biarkan busana pilihan Oma melekat di tubuhnya. Kevin tak kalah ganteng dengan setelan jas warna putih gading ada les merah untuk imbangi warna baju Gina. Pokoknya mereka sepadan kendatipun acara nikahan dilaksanakan super mendadak.


Kevin berikan mahar bikin para cowok gregetan dan uang cewek iri hati. Kevin persembahkan seluruh jiwa dan raga pada Gina supaya gadis itu tahu kalau Kevin tidak main-main dengannya. Gina itu berharga buat Kevin.


Gani menjadi wali Gina karena Gina tak mau Subrata masuk dalam hidupnya. Bahkan Gina tak mau gunakan nama Mahabarata melainkan dengan rendah hati gunakan nama Sabri sebagai ayahnya.


Kevin dengan lantang mengucap ijab kabul dipandu oleh ustad sekaligus penghulu nikahan. Semua yang dengar bergidik tak bisa bayangkan betapa beruntungnya Gina menikah dengan Kevin. Dari seorang montir menjadi wanita muda kaya raya.


"Saya terima nikah dan kawinnya Gina binti Sabri dengan mahar perusahaan, rumah dan seluruh isinya serta semua aset yang kumiliki secara tunai."

__ADS_1


Seluruh ruangan mesjid jadi geger mendengar mahar yang diberikan Kevin kepada Gina. Setelah menikah Kevin auto kere karena semua telah jadi milik Gina. Gina sendiri anggap Kevin. sudah gila serahkan semua padanya. Mau protes ini di depan umum malah mempermalukan Kevin. Gina diam saja biarkan semua berjalan sesuai rencana Kevin.


Gina bukannya senang mendadak dapat durian runtuh dari Kevin. Ini menyangkut tanggung jawab tidak kecil Kevin limpahkan ke pundaknya. Gina tahu tujuan Kevin berikan semua padanya biar tak ada yang merongrong dia lagi. Sekarang Gina menjabat sebagai CEO dan juga komisaris.


__ADS_2