
Kalau dewan direksi berpikir komisaris mereka adalah anak bawang yang tidak tahu apa-apa maka mereka salah besar. Justru wawasan Gina jauh lebih luas dari mereka dengan pemikiran yang sangat panjang melebihi rel kereta api. Cicak di dinding mau mengkadali komodo yang tampak anteng tapi sangat membahayakan.
Mandala yang sangat terpukul dengan kebijakan baru Gina yang tidak melepaskan mereka untuk mengurus promo ini. Sejak promo dimulai dia telah meraup ratusan juta untuk menutupi kebutuhan hidup yang semakin melonjak. Mandala berpikir dengan menilai setengah uang dp lalu bebankan kepada pembeli maka semua akan mengangkat derajat hidupnya. Siapa sangka Gina secepat ini telah kembali ke perusahaan dan langsung menangani promo ini tanpa memberi belas kasihan kepada mereka yang telah susah payah mengusulkan promo ini.
"Sebelumnya aku mau tanya apa sudah ada yang mengambil alat berat kita?"
"Belum Bu tapi uang dp sudah dikasih. Alat beratnya baru di order dari pabrik langsung dikirim ke tempat tujuan masing-masing." Hartono wakili rekan lain menjawab pertanyaan Gina. Hartono sangat bersyukur dia tidak terlibat mengambil uang dp yang pasti akan mencoreng nama baiknya. Hartono sudah memetik pelajaran daripada kasus terdahulu maka dia tidak berani lagi mengulang kesalahan sama. Hartono masih bersyukur Gina mau memperkerjakan dia dan tidak menggeser posisinya sebagai seorang CEO. Paling tidak nama Hartono masih berlaku di dunia bisnis walaupun kelak dia pensiun ataupun mengundurkan diri secara baik-baik.
"Bagus...aku kaji ulang atas usulan promo ini. Ku akui promo ini sangat bagus tetapi tidak boleh kita langsung yang memberi kredit. Tetap saja harus melalui pihak ketiga. Pak Hartono selaku penanggung jawab harus segera memberi semua data perusahaan yang telah memberi DP kepada kita. Rapat ini kita tutup dan aku menunggu semua data di meja kerjaku." Gina tidak mau panjang lebar adu mulut dengan mereka karena yakin mereka akan memberi sejuta alasan untuk memuluskan rencana jahat mereka.
Dengan cara memotong semua plan busuk mereka maka kesempatan mereka akan terputus tak bisa menilep uang perusahaan lagi. Gina segera pergi tanpa menoleh ke arah wajah-wajah yang kusut masai itu. Yang paling parah adalah Mandala dan Putri. Kalau Gina usut kecurangan di balik promo ini maka mereka berdua pasti akan diminta angkat kaki dari perusahaan.
Mereka harus bergerak cepat mengembalikan semua data yang telah mereka rombak sesuai dengan DP yang diberikan oleh pelanggan. Kalau sampai ketahuan sama Gina tamatlah riwayat mereka. Gina sudah pernah memberi mereka kesempatan dan sekarang mereka mengulangi kesalahan yang sama dan tidak kapok-kapoknya berbuat curang.
Untuk kali ini Gina tidak akan berbaik hati lagi kepada mereka yang selalu ingin menusuknya dari belakang. Gina akan membeli vacuum cleaner yang paling dahsyat untuk menyapu semua debu-debu kotor yang ada di dalam perusahaan. Kelihatan kecil tapi tetap mengotori keindahan perusahaan. Gina tidak akan toleransi kepada mereka yang mencoba menipunya lagi.
Sepeninggalan Gina Hartono langsung berdiri di depan meja yang ditinggalkan oleh Gina. Hartono selaku CEO dari perusahaan ini wajib menertibkan mereka yang selalu merasa punya hak di atas perusahaan Gina.
Hartono menatap wajah bawahannya satu persatu dengan hati kecewa. Hartono sudah wanti-wanti kepada mereka untuk tidak berbuat curang agar perusahaan bisa lebih maju. namun tetap saja ada yang nakal melanggar peraturan yang sudah diterapkan oleh Gina.
"Kalian sudah mendengar apa yang dikatakan oleh komisaris kita. Oleh karena itu dengan segala kerendahan hati saya memohon kepada kalian untuk melengkapi data-data yang sesungguhnya. Komisaris kita memang muda tetapi dia jauh lebih kompeten dari kita jadi kuharapkan kalian tidak keluar dari jalur rel yang sebenarnya. Aku menunggu semua laporan dari kalian untuk diteruskan kepada Bu Gina." Hartono berpidato tanpa beban karena dia telah berjalan di jalan semestinya sehingga tidak perlu takut akan surat pemecatan yang bakal ditebarkan oleh Gina.
"Siap pak..." sahut Putri dengan lesu binti lemas. Putri yang sudah terbiasa makan enak hasil korupsi kontan lesu dan loyo karena uang yang dia incar akan segera menguap. Mau tak mau dia harus mengembalikan semua dana yang telah dia manipulasi bersama Mandala.
Mandala meninggalkan ruang rapat tanpa berkata apa-apa karena sudah dirundung oleh rasa takut setinggi leher. Mandala pikir kalau Gina tidak akan memasalahkan promo ini karena berkesan memajukan perusahaan. Namun sayang Gina lebih cerdik memikirkan masa depan perusahaan ketimbang menjual barang tanpa membawa hasil maksimal.
Hartono senyum penuh kemenangan karena berhasil melawan nafsu angkara yang pernah mengotori pikirannya. Hartono sudah kapok menjadi orang di lembah hitam yang selalu dirundung ketakutan memakan hasil uang korupsi. Hartono merasa hidupnya lebih nyaman setelah mengembalikan seluruh uang yang telah diambil dari perusahaan walaupun tidak hidup mewah seperti dulu. Yang penting dia tidak dikejar oleh rasa takut diincar oleh pihak yang berwajib.
Gina kembali ke ruang kerjanya dengan wajah murung diikuti oleh kedua pengawalnya yang paling setia. Kupret belain tinggal kan bengkel demi jaga bosnya atas permintaan Kevin. kalau Gina sudah sehat seperti dulu maka Kupret tak akan ikuti ke mana Gina pergi.
Gina menghempas badannya ke kursi mewah di ruang kerjanya dengan hati kesal. Gina tak habis pikir mengapa masih ada orang ingin masuk ke jurang yang sama walaupun pernah ditolong dari tempat yang gelap itu.
Sam dan Kupret berdiri tak berani bersuara mengingat suasana hati Gina lagi bad mood. Daripada jadi tempat pelampiasan amarah lebih baik keduanya bungkam menunggu Gina yang bersuara duluan.
__ADS_1
Gina menggaruk kepalanya tak peduli rambutnya jadi kusut saking kesalnya kepada bawahannya. Sekali-kali Gina memutar kursi sehingga tubuhnya ikut berputar bak gasing diputar oleh anak kecil. Sam dan Kupret kuatir Gina gerak berlebihan akan pengaruhi lukanya yang belum sembuh seratus persen.
"Gin...ntar kursinya bonyok." lirih Kupret sekedar mengingatkan Gina agar tenang.
Gina menghentikan putaran berbalik menghadap ke dua konconya dengan tatapan mata tajam. Gina baru sadar dia telah berbuat konyol mempermalu diri sendiri. Mana ada seorang komisaris menghambur amarah dengan melakukan tindakan yang sering dilakukan oleh anak kecil.
"Kita pergi cari motor yang kujanjikan! Mumpung aku lagi baik hati maka kita cabut."
Sam mencolek Kupret menggeleng kecil menolak cari hadiah yang dijanjikan oleh Gina. Kesehatan Gina belum fit 100% gadis ini pulang dan istirahat. Bukannya keliaran mengumbar energi sampai kandas.
"Aku lelah Gin...kita pulang saja ya! Lain kali kita cari motor. Lagi pula kami percaya kamu tidak akan ingkar janji." cetus Sam diiyakan oleh Kupret.
"Bukan gitu bro! Aku sudah berjanji akan memberi kalian motor maka aku harus segera menepati janji. Janji itu seperti hutang yang menjerat kita maka itu harus segera kubayar. Kita tak tahu kapan ajal kita tiba. Siapa tahu muncul musuh lain ingin menghabisi aku maka mumpung masih bisa bernafas aku ingin membayar hutangku kepada kalian."
"Huuusss mulut dijaga Gin! Kamu harus umur panjang untuk menjaga kami. Kamu ini adalah nakhoda buat kami."
Gina sedikit terhibur mendengar pengakuan konco-konconya yang masih setia kepadanya. Pengakuan ini membuat perasaan Gina merasa lebih baik dibandingkan tadi. Gina makin ingin cepat membayar janji kepada konco-konconya agar mereka lebih giat bekerja memajukan bengkel.
"Tenang bro...aku kan monster yang takkan segitu gampang dikalahkan. Ayo kita cabut mencari motor yang kalian inginkan! Aku ingin menyegarkan pikiran dengan jalan-jalan bersama kalian. Aku sudah sangat lama tidak berkumpul dengan kalian mungkin dengan hari ini kita bisa kembali ke masa lalu yang ceria tanpa beban. Kini aku merasa betapa lelahnya menjadi seorang pemimpin."
"Enak kepalamu...apa kau tak lihat para lintah sedang mau isap darah perusahaan ini? Dikasih kerja bukannya kerja jujur malah mau bermain api di kepalaku. Ya aku terbakar...untung tidak aku ledakan kepala mereka. Biar otaknya berhamburan. Kita bisa lihat apa isi otak mereka."
Sam dan Kupret tahu kalau kekesalan Gina sudah capai puncak gedung. Masih syukur Gina tidak ngamuk banting orang di ruang rapat. Berdasarkan sifat Gina yang kadang tidak terkontrol bisa saja terjadi kekerasan di kantor. Gina Sudah ada kemajuan bisa mengontrol emosi di depan umum.
Sam dan Kupret tak ingin terburuk mood Gina terpaksa ikut saja kemauan wanita ini. Mungkin dengan menghabiskan waktu bersama mereka pikiran Gina akan membaik.
"Ok...kita pergi!" Sam menyerah membiarkan Gina melakukan apa yang dia inginkan. Mereka berdua paling menjaga Gina lebih baik agar tidak terjadi hal-hal tak diinginkan.
"Ok..." seru Gina mulai menemukan keceriaan. Lebih baik menyegarkan pikiran bersama konco-konconya ketimbang memikirkan mereka yang suka melakukan praktek maling.
Gina keluar dari ruang kerja melewati Dinda. Sekretaris cantik itu berdiri menanti perintah yang akan disampaikan oleh Gina. Sudah menjadi tugas Dinda menurut semua apa yang dikatakan oleh Gina.
"Aku akan keluar. Aku mau semua berkas tentang promo sudah ada di mejaku esok pagi. Tak ada yang boleh tercecer. Kamu cek ulang apa sudah sesuai dengan data dari bagian pemasaran dan keuangan. Aku tak mau ada file beda."
__ADS_1
"Iya Bu... aku akan menghubungi ibu bilang ada apa-apa."
"Bagus...aku pergi dulu!"
Gina melangkah pergi meninggalkan tetap suara sepatunya yang mewarnai koridor kantor yang sepi. Sam dan Kupret berjalan perlahan tidak berani berlagak memperdengarkan sepatu karena memang sepatu mereka tidak akan mengeluarkan bunyi. Sepatu mereka berdua hanya sepatu usang dari bahan karet. Mana bisa dibanding dengan sepatu seorang komisaris.
Sam dan Kupret menduga kalau sepatu Gina pasti harganya berjuta-juta. Keduanya tak tahu kalau harga sepatu Gina tidak lebih daripada 200.000 rupiah. Gina buka mereka yang gila akan barang mewah menunjang penampilan. Gina lebih senang menjadi diri sendiri tanpa dibebani oleh berbagai merek mahal yang belum tentu membawa untung.
Cerita beralih ke daerah lain di mana Ardi dan beberapa aparat menyambangi rumah Papa Kevin. Ardi dan kawan-kawannya segera bergerak untuk mengamankan aset Papa Kevin sebelum mengalir ke tempat tak jelas.
Ardi dan kawan-kawan membawa surat perintah untuk mengamankan aset Papa Kevin dan meneruskan laporan Papa Kevin bahwa dia dianiaya oleh Mince dan Luna. Ardi dan kawan-kawannya menggunakan mobil pribadi tanpa embel-embel lambang kepolisian menyambangi rumah Papa Kevin. Mereka lakukan itu untuk tidak menarik perhatian tetangga yang pasti bertanya-tanya apa yang sedang terjadi.
Ardi berusaha meminimalkan keributan agar tak terjadi kehebohan di lingkungan itu. Ardi dan kedua kawannya dengan sopan mengetuk pintu rumah yang tertutup rapat. Berkali-kali mereka mengetuk tetapi belum ada jawaban dari dalam. Apa mungkin penghuni rumah sedang tidak berada di tempat sehingga tidak ada yang membukakan pintu.
"Assalamualaikum..." seru Ardi sambil lanjut mengedor pintu lebih kencang. Takutnya penghuni rumah ada penyakit pekak sampai tak dengar gedoran segitu kencang.
"Mungkin sedang pergi pak!" teman Ardi beri analisa.
"Sepertinya begitu..." sahur Ardi sambil melontarkan pandangan ke arah jendela yang terbuka. jendela model Spanyol itu terbuka menyisakan sedikit ruang membuat orang bisa mengintip ke dalam.
Ardi memajukan langkah mendekati jendela untuk melihat ke dalam apa ada orang di dalam. Jendela yang terpasang jeruji besi jelas mempertontonkan kalau di dalam sedang sepi. Tak ada kegiatan sama sekali di dalam rumah itu.
"Gimana pak? Kita balik nanti atau kita tunggu di sini."
"Kita tunggu satu jam. Kalau penghuni rumah masih tidak berada di tempat maka kita akan datang sore nanti." Ardi beri kebijakan agar tidak bolak-balik mencari Mince dan Luna.
Ke mana mereka akan mencari kedua orang itu kalau bukan menunggu di rumah ini. Ardi mengajak kedua kawannya kembali ke dalam mobil untuk memantau kegiatan rumah yang dihuni oleh tersangka.
"Pak...kurasa kita bisa cari tahu sedikit cerita di balik penganiayaan korban. Siapa tahu ada yang melihat kejadian ini ataupun kita bisa memeriksa rekaman CCTV tetangga. Kalau kita mengambil CCTV sini pasti sudah dihapus oleh pemilik rumah." teman Ardi kembali memberi solusi untuk mencari fakta di lapangan.
Setelah mendengar perkataan kawannya Ardi segera mengingat mengitari matanya ke sekeliling rumah tetangga mencari apa ada yang mempunyai CCTV menghadap ke rumah papanya Kevin. Tetangganya memang mempunyai CCTV tetapi tidak langsung menghadap ke rumah Papa Kevin. Yang paling memungkinkan rekam jejak perbuatan Mince dan Luna adalah CCTV rumah depan. Karena ada satu buah CCTV menembak ke arah jalan.
Semoga saja bisa sampai ke pagar rumah Papa Kevin sehingga bisa terekam apa yang terjadi pada malam itu. Tanpa buang waktu ketiga orang ini segera menghampiri rumah di seberang untuk meminta hasil rekaman CCTV pada malam itu. Semoga saja Tuhan mempermudah hasil investigasi ke-3 polisi ini.
__ADS_1
Ardi yang maju paling depan menekan bel pagar rumah di seberang Papa Kevin. Baru dua kali orang itu menekan bel muncul seorang ibu muda berpakaian ketat berbadan agak subur keluar dengan wajah dipenuhi oleh keraguan. Ibu muda itu melontarkan tatapan penuh curiga kepada ketiga lelaki ini.