JALAN MENUJU CINTA

JALAN MENUJU CINTA
Terbit Kata Bahagia


__ADS_3

Namun Kevin tidak ingin mengatakan apapun karena melihat kesehatan Gina juga sedang tidak bagus. Kevin berjanji dalam hati akan menjelaskan secara perlahan kepada istrinya mengenai pesawat pribadi. Kevin tapi memang kaya namun belum bisa mencapai taraf membeli pesawat pribadi. Mungkin Gina sendiri yang mampu membeli barang mahal itu karena keuangannya jauh melebihi Kevin. Yang membuat kagum Kevin adalah Gina tetap sederhana walaupun memiliki segudang uang. Gina tetap humble menjajakan kaki di bumi berjalan beriringan dengan teman-teman lain. Ini yang sangat disukai oleh Kevin dari diri Gina.


Kelompok Gani sudah berdiri di hadapan Kevin dan Gina dengan wajah bak bulan purnama. Gina tak tahu apa yang membuat saudara kembarnya sangat bahagia, yang penting gembira bukan bersedih itu sudah merupakan jawaban paling indah buat Gina.


"Dari mana saja kalian ini? Apa tak tahu kalau setiap pesawat memiliki jadwal terbang yang telah ditentukan." ketus Kevin tampak kurang senang kelompok anak muda itu abaikan jam terbang. Mereka pikir boleh berbuat sesuka hati karena itu pesawat pribadi. Itu salah besar. Pesawat pribadi juga harus ikuti aturan penerbangan.


Ketiga anak itu menunduk persis anak kecil kena hukuman dari guru. Kepala menunduk dengan tangan berada di depan perut. Tangan kiri kanan memegang berkotak-kotak makanan hasil buruan mereka.


Gina kasihan melihat ketiga pemuda itu tak berdaya karena omelan Kevin. Mereka memang salah telah melanggar waktu yang telah dijanjikan. Mereka tak tahu kalau Kevin sangat kuatir dengan kondisi bina yang tampak tidak sehat biasanya. Kalau Gina sedang sehat mungkin Kevin bersedia membayar parkiran pesawat untuk semalam walaupun biayanya lumayan mahal. Tapi kini kondisi Gina kurang membaik membuat mood Kevin berubah buruk. Sasaran ya ketiga anak ini.


"Sudahlah bang! Mereka sudah tahu salah. Sekarang coba Abang checking jam berapa kita bisa take off." Gina melerai takut Kevin benar-benar marah. Kevin jarang marah tapi sekali marah tak bisa terbayang luapan emosi. Gina harus jaga image Kevin sebagai bos juga suaminya.


Kevin menata emosi agar tak makin kesal. Kevin sudah tak sabar mau bawa Gina ke rumah sakit untuk kontrol bekas luka. Kevin masih trauma dengan kejadian yang hampir merenggut nyawa Gina. Kevin belum siap kehilangan wanita yang dia cintai.


Tanpa mengeluarkan sepatah katapun Kevin pergi mencari informasi mengenai penerbangan mereka. Wajah ganteng Kevin agak hitam dirundung rasa takut.


Gina lega Kevin telah pergi. Kini wanita ini berhadapan dengan ketiga konconya yang takut setengah mati lihat Kevin marah. Ternyata Kevin bisa juga marah. Pikir laki itu tak punya emosi ganas. Nyatanya terpendam bisa mencuat ke atas kapan dia terusik.


"Kalian ini..." desah Gina tak berani keras. Di sini bukan tempat mereka bisa umbar rasa jengkel sesuka hati.


"Maaf...kami pikir pesawat pribadi boleh sesuka hati. Tadi jumpa cewek cakep maka pamer dikit. Kami dapat diskon maka belanja banyak." ucap Gani cukup menyesali kebodohan dia.


"Lain kali tak boleh gitu. Kenapa kalian bisa ikut terbang ke sini?"


"Kami dihubungi bapak agar ke bandara untuk jemput kamu. Semula hanya aku dan Jay yang pergi. Pas ada Kupret ya kami ajak sekalian. Mumpung tiket gratis." sahut Gani jujur.


"Sudahlah. Lain kali kita datang lagi kalau mau main. Kalian lihat Kevin begitu kuatir terjadi kesalahan dalam penerbangan. Bersiaplah kita terbang kembali ke kandang! Kalian beli segitu banyak apa sanggup kalian habiskan?" Gina menunjuk kotak tentengan para cowok.


"Ini mah tak cukup. Apa kau tak tahu seberapa rakus anggota kita di kampung? Aku ada beli untuk Andara." Gani buka rahasia masih hubungan dengan gadis cs di kantor. Gina samasekali tak marah Gani berhubungan dengan gadis tidak selevel. Apa guna selevel bila tak sayang. Perasaan tak bisa diukur dengan materi.


Dulu Kevin juga tak peduli status Gina yang hanya montir. Dia tetap perhatian walau Gina bukan sederajat. Tuhan berbaik hati memutar keadaan membuat Gina hartawan. Gina tak meragukan cinta Kevin.


"Ya sudah...kita tunggu kabar bang Kevin kapan kita berangkat. Kalian jangan pergi jauh lagi!"

__ADS_1


Ketiga kepala itu serentak mengangguk sudah kapok keliaran berbuntut panjang. Mereka sudah cukup senang bisa menginjak Pulau Sumatera walaupun hanya beberapa jam. Istilahnya makan di rumah buang air di pulau Sumatera. Betapa keren kehidupan mereka. Jadi orang tajir dadakan.


Keempatnya berdiam diri menunggu kabar dari Kevin. Sejujurnya Gani masih ingin jalan-jalan namun pesawat takkan menanti mereka. Dalam hati hanya berharap suatu saat bisa kembali ke kota ini untuk jalan sepuasnya.


Sepuluh menit berlalu barulah Kevin kembali membawa kabar kalau mereka harus segera naik pesawat. Sudah waktunya mereka kembali ke rumah mereka di kota. Kevin merangkul Gina untuk mencari pintu menuju ke pesawat mereka.


Ketiga pemuda ini berjalan dengan busung dada bangga naik pesawat jet pribadi. Kapan lagi pamer kalau bukan sekarang. Orang-orang yang melihat kelompok anak muda ini iri hati usia muda sudah punya pesawat siap antar ke sana kemari. Bisa dihitung dengan jari berapa orang memiliki pesawat pribadi di tanah air. Kalau tidak benar-benar kaya mana mungkin memiliki alat transport yang memakan biaya sangat besar.


Kevin lega bukan main begitu menginjak badan pesawat. Kevin sudah tidak sabar ingin segera membawa istrinya ke rumah sakit. Yang lain tidak tahu apa yang berkecamuk di dalam pikiran Kevin. Mereka pikir Kevin masih kesal karena mereka berkeliaran sembarangan padahal bukan itu yang di khawatirkan oleh Kevin. Kesehatan Gina menjadi pusat perhatian lelaki ini.


Di dalam pesawat ketiga pemuda ini tak berhenti berselfie untuk pamer kepada teman-teman bahwa mereka pernah naik pesawat jet pribadi. Ini akan mendongkrak nilai mereka di mata para cewek. Siapa peduli pesawat itu milik siapa.


Sementara itu Kevin dan Gina mencari tempat agak pojokan untuk saling memberi kehangatan. Mereka duduk berdempetan saling berpelukan membuat yang lain iri pada kemesraan kedua orang ini. Rasanya mereka juga ingin segera memiliki pasangan untuk berbagi kehangatan.


"Ssttt..." Kupret mencolek Gani tunjuk ke arah Kevin dan Gina.


"Ada apa?" tanya Gani berbisik takut suaranya menganggu ketenangan dalam pesawat.


"Tak kusangka monster kejam kita sudah berubah jadi kelinci manja." balas Kupret juga berbisik.


"Virus apa? Apa sedahsyat itu?" Kupret belum ngeh apa yang dicandakan Jay.


Jay dan Gani tersenyum simpul mengejek kebodohan Kupret. Sejak kapan ada virus bisa merubah seseorang kalau bukan virus mematikan tapi disukai semua orang yakni virus cinta.


"Kamu masih kecil belum ngerti. Tunggu kamu dewasa nanti baru ngerti dari mana asal virus itu nanti. Kalau mau cepat dewasa kamu harus sunat!" olok Jay menimbulkan gelak tawa Gani.


Kupret mendelik sadar telah jadi korban keisengan kedua temannya. Harusnya Kupret sadar kalau bicara sama temannya jangan pakai logika. Cukup asbun asal bunyi.


"Habis dong disunat lagi. Dasarnya segede cucu belut. Dipotong jadi cicit belut."


Tawa derai kembali berkumandang di dalam badan pesawat mengundang lirikan mata Gina. Gina tak tahu apa yang dibicarakan oleh ketiga anak buahnya tapi lihat kebahagiaan mereka Gina ikut bahagia.


Maunya di sekelilingnya setiap hari mendengar suara tawa derai bukan muka muram durja. Satu persatu halangan di depannya mulai tersingkir tinggal bagaimana menata jalan-jalan yang rusak agar lebih mulus untuk dilalui. Gina menyadarkan kepalanya di bahu ingin menutup semua kisah lama. Gina telah mempunyai sandaran yang kokoh untuk mengantarnya menuju gerbang kebahagiaan.

__ADS_1


Kevin menoleh ke arah wajah Gina yang bersandar di bahunya lalu tangan bergerak mengelus kepala istrinya. Kevin merasa Gina takkan pernah berpaling. Susah payah dia menemukan seorang wanita yang bisa bergandengan menuju gerbang kebahagiaan.


"Kau pusing?" tanya Kevin mengingat Gina memiliki phobia terhadap ketinggian.


"Tidak bang... aku hanya sedang berpikir betapa bahagianya kita saat ini. Aku tak mau keluar dari lingkaran yang sedang kita lalui ini. Serba tenang tentram dan damai."


"Kau pikir Abang juga tak ingin damai? Kamu benar kita harus melupakan semuanya. Tak ada dendam-dendam lagi."


"Kau benar bang. Kadang kita semua diberi pilihan tergantung apa yang kita inginkan. Kadang kita manusia ini suka sengaja berbuat salah namun masih juga sengaja malah ke jalan itu. Itu semua karena ketamakan dan keserakahan. Mince, Luna dan Angela adalah salah satu contoh dari watak orang serakah. Mereka sudah tahu apa yang mereka lakukan itu salah tetapi tetap saja mau maju ke depan. Ya akhirnya mendapat karma. Abang ingat Sum keponakan bibik? Jelas-jelas dia tahu kalau menggoda Abang adalah salah tetapi dia tetap melakukannya dengan harapan Abang mau memberinya sesuatu. Kita bisa mengambil Sum sebagai salah satu contoh kadang wanita itu."


"Untuk apa ingat itu. Abang tidak banyak mengharap selain ingin selalu bersama kamu bergandengan berjalan sampai akhir hayat kita. Kau mau berjanji tidak pernah meninggalkan abang?"


Gina menjauhkan kepala dari sandaran bahu Kevin. Gina merasa pertanyaan ini sangat lucu. Bagaimana mungkin dia tega meninggalkan Kevin asalkan Kevin tidak pernah berulah. Justru Gina takut kalau suatu saat Kevin telah sembuh dari penyakitnya akan menjadi pahlawan cinta buat para wanita.


"Apa pertanyaan ini tidak dibalikkan ke abang? Aku justru takut suatu saat Abang pergi tinggalkan aku bila jumpa yang lebih mulus."


"Tidak akan...tidak pernah. Abang akan selalu berada di sisimu tak peduli seberapa banyak rambut putih di kepala. Saat itu kepala Abang juga telah berwarna perak bercampur rambut hitam. Kita akan duduk berdampingan melihat anak cucu kita mulai merangkai kisah. Semoga kita bisa menjadi contoh yang baik buat mereka."


"Amin..." hati Gina berbunga-bunga mendengar janji Kevin. Tanpa ragu Gina sandarkan kepala ke dada Kevin untuk dengar detak jantung lakinya. Detak teratur berirama konstan.


Pesawat terbang tinggi membelah angkasa mengantar Kevin dan Gina menuju ke puncak kebahagiaan. Yang di bawah biarlah jadi kenangan untuk jadi pelajaran berharga. Selamat datang puncak bahagia.


Sidang terakhir Angela telah ketok palu. Wanita itu skan mendekam di penjara selama tiga tahun berkat bantuan Gina. Gina melakukannya demi menjaga perasaan Lucia juga mencoba berdamai dengan masa lalu. Gina tidak sekejam ajalah berani berbuat apa saja demi keuntungan pribadi. Angela telah memetik hasil dari kejahatannya menjadi narapidana. status Angela adalah dari nol kembali ke nol.


Sidang Mince, Luna dan Peter berakhir lebih seru. Mince dan Luna diganjar hukuman penjara 7 tahun sedangkan Peter yang hanya menjadi pengikut dihukum 2 tahun. Itu sudah cukup menjadi pelajaran berharga buat ketiga orang itu. Yang lebih tragis adalah mereka kehilangan segala-galanya demi sejumput materi yang mereka incar. Mince dan Luna harus keluar dari kehidupan Papa Kevin sedangkan Peter didepak dari perusahaan tak mendapatkan apa-apa atas perbuatannya.


Bagi Gina dan Kevin itu adalah akhir yang baik. Tak ada korban jiwa tapi semua telah memetik pelajaran berharga dari semua kisah mereka.


Kevin dan Luna kembali disibukkan oleh kegiatan masing-masing. Lucia telah resign dari perusahaan Kevin karena merasa tidak berguna berada di situ. Lucia tidak bisa berbuat apa-apa selain menjadi pajangan membuatnya malu untuk tetap berada di perusahaan itu. Lucia memilih membantu Subrata di kantor yang kini telah menjadi milik Gina. Lucia juga sudah punya proyek baru digarap bersama polisi ganteng Ardi. Mereka telah mencapai jenjang lebih serius, keluarga Ardi juga telah setuju hubungan kedua orang ini. Nama Mahabarata masih jadi jaminan buat Lucia mendapatkan restu dari keluarga Ardi. Apalagi Lucia punya adik luar biasa yang sedang naik daun. siapa tidak mau berbesan dengan keluarga kaya raya.


Pesta pernikahan Lucia dan Ardi dilaksanakan secara mewah atas sponsor Gina. Gina mau beri yang terbaik untuk Lucia atas derita wanita itu kehilangan mama di penjara. Lucia begitu cantik dengan busana pengantin warna putih susu dan Pak polisi juga gagah dalam setelan pakaian warna hitam. Keduanya tampak serasi di pentas didampingi oleh kedua orang tua masing-masing. Angela diijinkan datang dikawal ketat oleh polisi.


Angela diijinkan mengikuti pesta Lucia hanyalah untuk memberi muka kepada Ardi sebagai aparat polisi. Wajah Angela tidak secantik dulu lagi karena tidak tersentuh oleh alat kosmetik yang mahal. Muka wanita itu tampak sudah mulai menua meninggalkan garis-garis keriput halus yang tak dapat disembunyikan lagi.

__ADS_1


Kita di sini mendapat pasangan baru yang tidak tahu sejak kapan mereka meresmikan hubungan mereka. Gani datang bergandengan dengan Andara, Kupret datang bersama Denada gadis penjaga meja resepsionis kantor Gina, sedangkan Jay bersama gadis yang kurang dikenal oleh Gina. Mungkin inilah gadis yang sering disebut tetangga ujung dekat rumah. Gina tidak memasalahkan semuanya yang penting masing-masing mendapat kebahagiaan. Semua orang berhak bahagia.


Pak Julio tidak ketinggalan hadir di pesta ini bersama keluarganya. Papa Kevin juga datang sendirian karena Mince dan Luna telah dijebloskan ke penjara. Kini papa Kevin menjadi jomblo tua tanpa pasangan seperti Subrata. Mereka harus legowo menerima nasib mereka karena semua ini berawal dari ketamakan mereka juga.


__ADS_2