
Kevin diam saja tak beri jawaban memuaskan untuk Lucia. Lucia tak bisa berpikir waras mengapa orang sekelas Julio bisa hargai Gina. Orang itu pasti telah lihat nilai plus dari Gina. Kevin sendiri belum lihat apa kelebihan Gina selain keras otak. Kinerja kerja belum tampak samasekali karena baru gabung.
"Dia akan pergi setelah Gani pulang. Kuharap kau jangan ganggu dia karena dia bukan orang sabar macam Gani!"
Lucia mendengus tak puas Kevin bela Gina. Padahal Kevin bukan bela melainkan ungkap apa adanya. Lucia yang cari pasal dengan Gina sedangkan anak itu bersikap pasif. Tidak bergerak bila tidak diusik.
Satu jam menunggu akhirnya Kevin dipanggil untuk ikut tender. Satu persatu peserta berdatangan termasuk Ferdinand dan Imam. Mereka datang belakang setelah Kevin masuk ruang rapat perusahaan pak Julio.
Mereka diminta duduk rapi di tempat yang ditentukan. Kevin duduk bersama Lucia di sebelah kanan sedangkan sampingnya Imam barulah Ferdinand serta sekretaris. Di samping Ferdinand ada peserta lain berupa seorang wanita bertangan besi. Seorang wanita berani kiprah di bidang ini merupakan prestasi.
Ferdinand senyam senyum ke arah Kevin yang muncul bersama backing kuat. Siapa tak kenal Lucia putri orang top di kalangan pebisnis.
"Bawa bodyguard elite ya?" ejek Ferdinand iri pada Kevin gaet putri orang tajir itu.
"Omong apa? Lucia hanya ikut meramaikan saja. Ini bukan bidangnya." tukas Kevin biar tak ada yang salah sangka pikir dia gunakan Lucia cari keuntungan.
"Asisten cantikmu mana? Aku teringat pada matanya. Mengandung magis bikin kita lupa daratan."
"Tadi di jemput Pak Julio ke kantornya." Kevin sengaja omong gitu supaya Ferdinand berpikir sendiri bagaimana hubungan Gina dengan Pak Julio.
"Wah ..pak Julio juga terpikat pada asisten kamu? Sungguh luar biasa. Wanita tulen saja kalah pesona dari asistenmu. Kuakui dia cantik." Ferdinand terus terang memuji Gina. Pujian ini bikin dada Lucia makin sesak. Mana mungkin dia dibandingkan dengan seorang laki muda. Di mana harganya sebagai gadis menarik di kalangan putri orang kaya.
"Jangan ngawur! Gino itu anak baik.. mereka ngobrol masalah kerja."
"Kerja? Kau main backstreet menangkan proyek?" tuduh Ferdinand tak sedap di kuping.
"Makin ngawur. Pak Julio belum dengar presentasi kita dari mana ada keputusan. Bukankah kita sudah janji bersaing secara sehat?"
Imam menangkap suasana agak memanas akibat ulah Ferdinand provokasi Kevin. Imam yakin Kevin bukan orang suka gunakan kesempatan dalam kesempitan. Ferdinand saja suka memancing ikan di air keruh.
"Sudah...ini bukan ajang debat kusir. Kita tunggu Pak Julio saja!" Imam tengahi keributan sebelum keadaan makin kacau.
"Kurasa itu tepat! Jangan seperti anak kecil ngoceh tanpa bukti!" lerai wanita yang tenang tak seperti Ferdinand duluan pukul mental Kevin. Wanita ini tahu kalau Ferdinand sedang kacaukan pikiran Kevin agar tak bisa tampil sempurna. Satu cara licik.
Belum sempat Ferdinand jawab telah hadir rombongan pak Julio lengkap sekretaris serta orang yang tangani proyek pak Julio. Gina berada dalam rombongan Pak Julio. Gadis itu tidak perlihatkan sikap sombong kendatipun telah diajak oleh Pak Julio.
Gina segera bergabung dengan Kevin berdiri di belakang laki itu. Apapun cerita dia masih pegawai Kevin yang harus bela bos saudaranya. Sikap Gina santun layak seorang bawahan.
Pak Julio ambil tempat paling depan untuk mulai persaingan para kontraktor. Pak Julio mau beri kesempatan pada para kontraktor muda untuk perlihatkan skill mereka.
"Selamat datang anak muda! Kalian semua muda dan bersemangat. Aku hargai semua usaha kalian untuk jadi partner kerja dengan perusahaan aku. Silahkan kalian berikan konsep masing-masing untuk kami pelajari. Dan aku akan dengar semua hasil rancangan kalian. Satu lagi aku tekankan kalau kita di sini bukan cari musuh melainkan membangun fasilitas umum untuk dipakai anak cucu kita. Jadi siapapun yang terpilih nanti kuharap jangan ada rasa tak suka dalam hati. Kita masih ada kesempatan lain untuk kerja sama." Pak Julio pidato beberkan fakta di lapangan. Dalam ajang ini pasti akan ada yang kalah dan menang. Pak Julio tak harap ada perpecahan sesama rekan bisnis.
__ADS_1
Pak Julio beri pidato sekaligus beri nasehat agar yang kalah menang berbesar hati. Kesempatan selalu ada bila ada keyakinan.
Keempat peserta tender mangut-manggut sok paham. Dalam hati siapa yang bisa tebak. Presentasi dimulai dari wanita yang dianggap satu terobosan buat wanita lain berani ambil resiko terjun ke bidang yang kebanyakan digeluti lelaki. Semua menyimak konsep dan skema dari wanita itu. Cukup bagus tetapi yang menilai tetap pihak Pak Julio.
Giliran Kevin unjuk konsep, Gina segera persiapkan laptop berisi semua data yang akan di bacakan oleh Kevin. Kevin tampak sangat tenang karena tak ingin jadi beban. Dia hanya ingin mulai debut pertama ikut tender menantang ini.
"Pak...aku telah buat sedikit perubahan pada gambar. Kalau bisa dipakai bapak gunakan kalau tidak bapak tinggalkan saja." bisik Gina sebelum Kevin berdiri untuk menjelaskan semua konsep.
Kevin terkesima mendengar betapa berani Gina ambil resiko buat konsep tanpa sepengetahuan dia. Kevin menjadi ragu karena tak tahu apa yang dirombak Gina. Dia sudah bayar seorang arsitek untuk buat gambar proyek ini, datang anak kemarin seenak dengkul bikin konsep baru.
"Kau paham semua konsep ini?"
"Ngerti...bukankah bapak suruh aku pelajari? Memangnya otakku karatan?" dengus Gina kurang senang dianggap asisten jual tampang.
Kevin angguk-angguk coba maklum. Sejujurnya Kevin masih ragu apa yang dilakukan Gina akan bantu dia. Dia sendiri tak tahu apa yang dirombak Gina. Salah-salah malah antar dia ke jurang.
"Kenapa tak bilang dari kemarin?"
"Bapak tak tanya. Bapak tak perlu kuatir. Aku telah buat dua konsep. Satu yang original dan satu telah direvisi. Silahkan bapak pilih pakai yang mana!"
Kevin jadi dilema untuk maju gunakan konsep siapa. Semua masih menunggu keputusan Kevin tampil pakai konsep mana.
"Pak Kevin...silahkan guna waktu anda!" kata Pak Julio menyadarkan Kevin dia harus segera tampil.
Kevin bangkit dengan sedikit ragu. Kevin coba percaya pada asistennya. Kevin klik konsep Gina di laptop untuk maju. Kevin tersenyum tipis Gina hanya menambah halte beratap untuk jadi rest area setiap lima kilometer. Penambahan sederhana namun akan jadi titik tolak pertimbangan Pak Julio. Konsepnya tak jauh beda dengan yang lain karena dasarnya hanya jalan dan kekuatan landasan. Gina menggambar lebih indah sesuai kepintarannya sebagai design grafis. Perpaduan warna dan design gambar jauh lebih baik dari gambar yang lain.
Pak Julio tepuk tangan suka pada rancangan Kevin yang dia anggap lebih hidup. Yang lain kontak loyo karena dari tadi Pak Julio tidak tepuk tangan cuma pada konsep Kevin dia begitu antusias.
Walaupun belum pasti sudah sedikit gambaran tentang hasil. Kini pengharapan mereka hanya di pembiayaan. Siapa bisa capai harga lebih rendah itulah pemenang. Keempat peserta serahkan daftar biaya pada sekretaris Pak Julio. Tinggal tunggu Pak Julio ambil keputusan mau kerja sama dengan siapa.
Acara presentasi dibubar. Pak Julio harus segera bertolak balik ke kantor pusat karena masih ada pekerjaan menunggu di sana.
"Nak Gino...jangan lupa janji kita ya! Aku menunggumu di rumah." pesan Pak Julio sebelum mereka berpisah.
"Iya pak! Saya akan usahakan datang secepatnya. Bapak harus hati-hati di jalan. Jangan lupa pancake bapak!" Gina ingatkan pancake yang sudah dipesan pak Julio. Orang kaya kan sering lupa hal kecil padahal itu sangat berarti buat orang di rumah. Perhatian kecil tapi dampaknya sangat besar.
"Iya...iya ..bapak hampir lupa! Ayo kita pergi ambil bareng! Kau ikut aku balik ke kota J saja!" ajak Pak Julio bikin mata Kevin membesar. Kok Pak Julio seenak perut bawa lari asisten orang.
Yang lain hanya bisa menghela nafas makin jauh tertinggal. Kevin telah sukses merebut hati Pak Julio dari asistennya. Gina memang menarik mampu menyedot Sukma laki wanita.
"Kita boleh pergi ambil pancake tapi saya tetap harus berada di samping pak Kevin. Saya akan temani bapak tapi balik ke kota tetap bersama bos aku." tegas Gina bikin hati Kevin lega. Tidak sia-sia dia percaya pada Gina karena memang bisa diandalkan.
__ADS_1
Pak Julio tidak tersinggung melainkan tertawa lebar. Pak Julio puji kesetiaan Gina pada majikan. Sebagai seorang pekerja memang harus setia pada tempat di mana dia mengabdi.
"Ok...ayo kita pergi! Oya pak Kevin! Kuharap kau tidak keberatan kupinjam anak buahmu. Kita pergi bareng."
"Ayok!" Kevin tak punya pilihan selain ikut. Dia butuh pengakuan Pak Julio untuk proyek ini. Rasa kesal segede apapun harus dia telan ke dalam perut.
Gina dibajak pak Julio ke dalam mobilnya. Anak itu pergi bersama Pak Julio sedangkan Kevin ikut dari belakang bersama Lucia. Lucia tak habis pikir di mana istimewa Gina. Penampilan sombong pandang rendah orang lain. Anggap diri adalah orang paling hebat padahal orang tak punya apa-apa.
Lucia melempar pandangan ke arah Kevin mau tahu reaksi laki itu lihat Gina pergi bersama Pak Julio. Lucia sangat berharap Kevin ilfil pada Gina dan usir anak itu pergi dari kantornya. Gina di pembawa masalah.
"Apa rencanamu mas? Tinggalkan dia bersama pak Julio?"
Kevin tak menatap Lucia bahkan sekilas pun tak dilakukan. Kevin bukannya tak tahu kalau Lucia ingin jatuhkan Gina. Gina memang tak ramah tapi tak jatuhkan orang dengan tak terpuji.
"Jangan pikir yang bukan-bukan! Gino pergi juga karena permintaan pak Julio. Apa kau tak dengar dia menolak ikut dengan Pak Julio balik ke kota J?"
"Mas...kau harus hati-hati pada anak itu! Kulihat matanya penuh dengan hawa setan. Menggoda orang dengan wajah anehnya. Laki bukan cewek juga bukan. Pokoknya aku tak suka padanya." Lucia ungkap isi hati ilfil pada Gina. Kevin tidak terlalu peduli pada isi hati Lucia. Hari ini Gina telah berikan sedikit sumbangan buat Kevin untuk lebih maju. Tangan Gina sangat ahli melukis sampai gambar jadi hidup seperti tiga dimensi.
Kevin tak tahu kapan Gina merombak semua rancangan yang dia percayakan pada Gani. Gina punya talenta cukup tinggi. Hari ini Gina telah tunjukkan prestasi nyata pada Kevin. Gani tak mungkin sembarangan tunjuk orang gantiin dia bila tak punya kemampuan. Gani tidak salah nilai orang.
Pak Julio dan Gina masuk ke dalam toko. Mereka tentu saja mengambil pesanan kemarin. Kevin tidak ikut masuk karena memang tak ada kepentingan di situ. Dia tidak mau beli sesuatu karena tak ada orang harus dia berikan oleh-oleh.
Pak Julio dan Gina keluar bawa berkotak-kotak kue dari bahan dasar durian. Kevin hanya lihat dari jauh setiap gerakan Gina. Di sini Gina berlaku sangat sopan hormati Pak Julio. Tak ada yang perlu Kevin kuatirkan.
Pak Julio pergi dengan mobilnya tinggalkan Gina sendirian di depan pintu toko serba durian. Anak itu juga dapat oleh-oleh beberapa kotak kue. Gina tampak sangat senang dapat hadiah dari Pak Julio. Kevin yakin Gina tak mungkin buang uang hanya untuk beberapa potong kue.
"Panggil Gino cepat kembali. Kita harus kejar pesawat." Kevin perintahkan Ucok panggil Gina yang masih bengong di depan toko. Kalau tak dipanggil bisa sampai sore anak itu melamun bahagia dapat durian runtuh. Ini asli durian runtuh.
Ucok turun dari mobil memanggil Gina untuk segera balik ke hotel. Mereka harus kejar ke bandara untuk kembali ke kota J.
Kevin lihat Ucok bicara dengan Gina lantas keduanya balik ke arah mobil. Kali ini Gina langsung ambil tempat di samping Ucok. Lucia sudah terlanjur duduk di samping Kevin jadi untuk apa Gina masuk di antara mereka lagi. Biarlah posisi ini bertahan sampai mereka tiba di hotel. Lucia tentu saja sumringah bisa berdekatan dengan Kevin sampai ke hotel.
Perlahan Lucia bergeser dekat Kevin. Sedikit demi sedikit gadis itu sudah duduk lengket dengan Kevin. Laki itu berusaha geser tempat duduk sampai menyatu dengan daun pintu mobil. Kevin tampak gelisah Lucia makin agresif dekatkan diri pada Kevin.
Kevin sengsara sedangkan Lucia berbunga-bunga bisa menyentuh lelaki pujaan hati. Tak ada yang tahu derita Kevin saat ini. Masing-masing tenggelam dalam pikiran sendiri.
Tak ada yang sadar kalau Kevin keluar keringat dingin menahan rasa mual. Kevin ingin muntah namun gengsi lakukan hal memalukan di depan cewek dan anak buah.
Keringat dingin sebesar jagung basahi tubuh Kevin yang terbalut jas warna biru tua. Lucia makin berani gesekan tubuhnya pada Kevin rasakan bau macho laki itu. Lucia pikir dengan demikian Kevin akan ingat kemesraan singkat darinya. Lucia tak tahu Kevin sangat menderita akibat ulah Lucia.
Penderitaan Kevin belum berakhir tatkala seenak dengkul Lucia rangkul lengan Kevin turun dari mobil. Lucia begitu bangga bisa lebih dekat Kevin. Perjalanan kali ini tidak sia-sia karena selangkah lebih dekat Kevin.
__ADS_1
Gina samasekali tak tahu apa yang terjadi. Gina merasa tak ada hubungan dengan Kevin dan Lucia maka cuek saja.