JALAN MENUJU CINTA

JALAN MENUJU CINTA
Cerita Di atas Ranjang


__ADS_3

"Semoga saja kita tak alami hari seperti yang terjadi pada orang tua kita. Aku belum siap jalani hari di dalam neraka." kata Gina langsung utarakan isi hati biar Kevin tahu dia sangat anti poligami.


"Aku juga berharap kita bisa gandengan lalui hari demi hari sampai tua. Aku takut kehilangan kamu." Kevin tak malu katakan apa yang terlintas di benak. Kevin tak peduli kalau Gina akan gede rasa dijadikan maskot kehidupan Kevin. Kevin memang butuh Gina untuk temani dia harungi liku-liku hidup ini.


Gina tak mau jawab nanti dikira bangga dianggap berharga oleh Kevin. Biarlah waktu yang buktikan seberapa kokoh perasaan mereka hadapi badai kehidupan.


"Hati-hati sama Lucia ya bang! Dia itu licik..."


"Iya Abang tahu...orang yang berani menipu tentu saja nyalinya sudah cukup kuat. Abang heran berapa dia bayar orang untuk hasilkan karya sebagus gitu. Kenapa orang itu tak mau tampil sebarkan karyanya secara terbuka. Kurasa siapapun akan terima dia." ucap Kevin ingat semua karya yang diklaim Lucia hasil karyanya. Semua designnya bagus diterima dalam berbagai kalangan kaum jet set.


Gina memejamkan mata tak bisa jawab. Semua karya yang diakui Lucia adalah hasil karyanya. Gina tak punya sandaran untuk lempar hasil karyanya maka cari duit lewat tangan orang. Coba dari dulu Gina kenal Kevin, mungkin akan berikan semua karyanya untuk dijadikan acuan dunia perhiasan.


"Mungkin orangnya tak suka tampil di umum. Aku kenal kok sama orang yang designnya diakui Lucia. Dia perancang internasional."


Kevin menoleh menatap Gina dari samping. Wajah Gina tetap menarik dari sudut manapun. Sayang wajah itu jarang sekali tersenyum lebar. Kalau saja Gina mau sering tampil manis mungkin puluhan pria akan jatuh cinta padanya. Ini selalu tampil wajah kaku dan dingin. Laki mana doyan cewek kaku kayak tiang listrik.


"Kamu cantik.." desis Kevin tak sadar telah melenceng jauh dari topik utama mereka. Kata Kevin mengundang perhatian Gina sampai gadis ini menoleh melihat wajah Kevin yang tampak bodoh menatap wajahnya. Tak urung Gina tersipu malu digombalin suami di atas ranjang. Gina tetap gadis muda senang dipuji.


"Kesambet setan baru nyaho..." rengut Gina menyadarkan Kevin dia telah konyol mengagumi istri sendiri.


Kevin tertawa kecil tidak merasa bersalah. Apa yang dia lihat itu yang dia utarakan. Gina memang cantik apalagi kalau wajahnya sedikit lembut seperti saat ini. Tak ada kerutan di kening bikin gadis ini tampak tua.


"Abang omong apa adanya kok! Kamu cantik sekali..apa kamu sadar itu? Besok Abang beli kaca cermin paling besar untuk kamu pantau setiap sudut wajahmu." Kevin masih coba merayu Gina agar telah mesra padanya.


Kalau gadis lain digombal oleh cowok ganteng langsung terbang ke nirwana tingkat tujuh. Ini yang digombal monster tak punya perasaan. Mana bisa langsung diterima.


"Kalau punya banyak duit sedekah bang! Bukan beli sesuatu tak penting. Dari design perhiasan sudah lari ntah ke mana-mana. Kembali ke topik bahasan. Pokoknya aku tak mau dengar ada skandal antara Abang dan Lucia. Kalau ada rumor dikit awas."


Kevin menelan ludah pahit. Rasanya pahit mengandung racun mematikan. Sekali kena langsung mati.


"Kalau Abang mau sama dia bukan hari ini Abang main gila. Sudah dari dulu istriku yang cantik. Pokoknya kamu tak usah kuatir abangmu akan main backstreet dengan cewek lain. Sekarang katakan di mana kamu kenal perancang asli karya Lucia! Abang penasaran sama orang itu. Cewek atau cowok?"


"Cewek...dia itu perancang cari uang bukan cari nama. Semua karyanya diakui indah namun sayang dia tak punya panggung untuk berdiri tegak di umum. Paling jual hasil karya untuk sesuap nasi." Gina berkata sambil menerawang jauh nasibnya yang buruk. Untuk meringankan beban keluarga dia rela kerja apapun termasuk jadi montir.


Sekarang segalanya berubah. Dunia Gina telah terang benderang kena sinar mentari abadi. Selalu bersinar selama bumi masih berputar walau kadang ada mendungnya. Badai telah berlalu dari hidup Gina. Sekarang Gina termasuk salah satu orang terkaya di tanah air.


"Ada juga orang bernasib buruk ya! Kita harus bersyukur masih diberi kesempatan nikmati keindahan dunia ini." gumam Kevin ikut perihatin nasib perancang asli karya Lucia.


"Ada dong tapi tak selamanya mendung itu kelabu. Mendung akan cepat berlalu bila ada kekuatan matahari. Suatu saat aku akan bawa dia jumpa Abang. Untuk sementara bila Abang perlu design aku akan bantu dengan catatan harus dibayar."

__ADS_1


Kevin tertawa geli kalau Gina lupa sekarang dia yang pemiliknya perusahaan Kevin. Artinya bos adalah Gina. Gina yang gaji diri sendiri bila minta bayaran.


"Oke...minta bayar sama nyonya Kevin. Dia yang jadi CEO perusahaan sekarang."


Gina tersipu malu lupa kalau Kevin telah alihkan perusahaan atas namanya. Kalau dia minta bayaran artinya minta pada diri sendiri. Gina salah tingkah mengucek rambut sendiri perlahan menahan rasa jengah.


"Sekarang kita bisa tidur. Besok banyak yang harus kita kerjakan. Aku harus pelajari laporan Hadi dan Naruto. Dan kamu akan urusan sama Subrata bukan?"


Perut Gina menegang dengar kata tidur. Apa Kevin akan menuntut hak sebagai suami malam ini juga? Gina ketakutan sendiri ingat itu. Ini lebih seram daripada harus hadapi sepuluh lawan tangguh. Nyali Gina tak pernah menciut walaupun lawan lebih kuat namun malam ini nyali Gina mengecil hampir hilang tanpa bekas. Ke mana kegagahan preman kampung yang ditakuti?


"Aku biasa tidur dengan lampu nyala. Apa kamu bisa tidur dalam kamar terang?"


"Bisa bang. Selamat malam.." Gina meluruskan badan tanpa menyentuh Kevin sedikitpun. Gina memberi kesan jauhi Kevin memilih ke pinggir ranjang. Bahkan Gina tak mau masuk dalam selimut besar yang dibentangkan oleh Kevin.


Kevin menarik selimut tutupi badan tak paksa Gina harus masuk ke dalam selimut. Kevin tahu kalau Gina belum mau menyerah malam ini. Kevin tidak memaksa karena menyadari waktu mereka masih panjang. Kevin biarkan saja Gina melakukan apa yang dia rasakan nyaman.


"Tidurlah! Selamat malam.."


Gina balik badan memberi punggung pada suaminya. Kevin tak marah biarkan saja Gina berbuat sesuka hati. Tapi Kevin tak hilang akal untuk rasakan hangatnya punya istri. Secara diam-diam Kevin setel remote AC ke level paling dingin biar Gina menyerah bersedia masuk ke dalam pelukannya.


Satu jam berlalu Gina masih bertahan menggulung badan memeluk lutut menahan dinginnya AC yang sangat dingin. Gina yang jarang tidur dalam kamar ber-AC merasa cukup tersiksa akibat tekanan udara luar biasa dingin. Mau minta Kevin perbesar setelan AC tapi laki itu sudah tidur dengan damai. Gina tak tega mengusik lakinya yang telah berlayar dalam bahtera mimpi.


Suhu udara makin dingin memaksa Gina menyelinap dalam selimut. Kevin sudah tidur tentu tak tahu kalau dia ikut numpang cari kehangatan dalam selimut. Perlahan Gina menyibak selimut lalu tenggelamkan diri dalam kehangatan selimut tebal itu. Kehangatan kontan menjalar dalam tubuh Gina. Sekarang akan lebih tenang menyongsong fajar.


Gina tak tahu kalau laki yang dia kira sudah tidur tertawa penuh kemenangan melihat istrinya menyerah mau satu selimut dengannya. Belum bisa nikmati malam pengantin tak masalah. Yang penting sekarang mereka makin dekat.


Gina makin dekat bergulung dalam selimut Kevin. Tak sadar Gina bersandar manja pada suami menyambut esok lebih baik. Semoga besok segalanya lebih baik tanpa ada masalah baru selain bahas soal kerja. Gina tidur dengan nyenyak beda dengan Kevin yang matian menahan gejolak nafsu. Kevin lelaki normal yang punya nafsu seperti laki lain. Ada wanita cantik di samping namun tak bisa disentuh, bukankah ini satu siksaan luar biasa buat lelaki sehat macam Kevin. Namun rasa sayang pada Gina mengalahkan nafsu yang berada di atas kepala.


Jay dan Gani pulang ke rumah sudah hampir tengah malam. Suasana rumah Kevin sepi senyap. Banyak lampu telah dimatikan untuk hemat energi listrik. Tempat yang dianggap tak perlu pencahayaan lampunya dimatikan. Hanya tinggal beberapa lampu yang vital untuk terangi rumah.


Satpam Mito masih setia menjaga pintu gerbang sambil mengantuk. Malam telah merangkak jauh tinggalkan senja hendak menyongsong fajar menyingsing. Udara sekeliling juga lumayan dingin menyapa tubuh tanpa pakaian tebal.


Jay dan Gani agak malu telah merepotkan Satpam menunggu mereka pulang. Jam segini harusnya Satpam sudah bisa istirahat di pos sambil tiduran. Berhubung ada tamu belum pulang maka Mito tak bisa seenaknya cepat masuk pos jaga.


"Maaf sudah membuat bang Mito menunggu kami." ujar Gani tak enak hati.


Mito tertawa kecil tak anggap itu mengganggu jam istirahat. Seorang satpam memang harus siaga dua puluh empat jam. Itu memang tugas seorang satpam jaga.


"Masuklah! Bukankah besok kalian semua harus kerja? Cepat tidur!" Mito usir keduanya dari halaman biar dia bisa cepat pejam mata sekejap. Mito satpam. Satu-satunya maka dia harus pergunakan waktu sebaik mungkin. Asal ada kesempatan dia harus istirahat biar besok tetap fit.

__ADS_1


"Iya bang. Selamat bertugas!" Gani menepuk bahu satpam lalu menyelipkan selembar uang warna biru untuk satpam sekedar uang capek menunggu mereka.


Mito tertegun mendapat hadiah dari saudara bos barunya. Hanya untuk sesaat setelah itu Mito tertawa sambil kipas uang itu ke udara sebagai tanda syukur dapat rezeki nomplok.


"Terimakasih.."


Gani mengangguk lalu membuka pintu rumah diikuti oleh Jay. Baru selangkah masuk keheningan menyambut mereka. Tak ada suara apapun di ruang tamu Kevin. Hanya ada keremangan lampu LED Watt kecil terangi sekeliling ruangan agar orang yang berjalan tidak kesandung perabotan.


"Sudah pada tidur bro!" bisik Jay pelan takut mengusik penghuni lain yang pasti sudah tidur.


"Kau tebak monster tidur di mana?" keisengan Gani muncul kepo Gina habiskan malam di kamar yang mana. Tempat Kevin kamarnya cukup banyak. Apa Gina pilih tidur sendiri atau bersedia berbagi ranjang dengan Kevin.


"Kok kamu yang kepo? Itu urusan mereka. Sekarang kita tidur di mana? Aku sudah sangat ngantuk. Besok kita kan harus ke kantor." Jay menunjuk matanya yang tinggal lima watt. Redup habis daya.


Gani mencibir sambil berjalan ke satu lorong menuju ke kamarnya. Kamarnya sangat bagus bila dibanding kamarnya terdahulu. Dalam kamar ada kamar mandi jadi mereka tak perlu rebutan masuk kamar mandi bila waktu kepepet akibat telat bangun. Ranjangnya juga empuk dan gede. Tidur berduaan saja masih tersisa luas.


Jay bersiul kagum lihat jatah kamar mereka. Kamar mereka saja saja demikian bagus. Gimanalah kamar utama rumah ini yakni kamar majikan mereka yakni bos Kevin.


"Enak ya jadi orang tajir. Semua serba mewah. Wajar orang kaya sombong karena hidup mereka gelimang harta."


Gani menggeleng tak setuju omongan Jay terlalu anggap semua orang kaya itu lupa daratan karena harta. Masih banyak kok mereka yang kaya namun tetap sederhana. Contoh tak jauh yaitu Gina. Sekarang dia tajir tapi tetap Gina yang sederhana tak umbar harta.


"Mungkin kau lupa punya teman seorang monster yang tidak silau oleh kekayaan."


Jay menepuk jidat nyaris melupakan gadis yang sangat istimewa itu. Kini Gina punya segalanya tapi tak open penampilan mewah. Dia tetap low profil tak mau melejit ke atas langit lupa yang di bawah. Biasa komisaris turun naik mobil mewah. Dari depan rumah sampai ke belakang saja kadang gunakan kendaraan. Gina lain dari yang lain tetap setia kendarai motor matic tua.


"Sori aku lupa...monster kita memang istimewa. Mana kamar mandinya bro? Aku mau buang air kecil."


"Aku juga tak tahu...buka saja semua pintu yang ada. Salah satunya pasti pintu kamar mandi." kata Gani membuka tas mencari baju untuk jadi baju tidur. Gani orangnya rapi tidak seperti Jay bisa tidur tanpa baju sekalipun.


Jay turuti nasehat Gani membuka satu persatu pintu mencari yang dicari. Semua pintu nyaris sama seperti pintu lemari. Tak ada bedanya membuat Jay ekstra sabar sampai pintu terakhir.


Begitu di buak ternyata masih ada satu pintu kaca buram diukir hiasan bunga teratai. Pencarian Jay membuahkan hasil, itulah pintu kamar mandi. Tanpa ragu Jay membuka pintu kaca lihat gimana kamar mandinya. Kamar mandi yang indah serta bersih. Harum lagi tak seperti di rumah mereka bau pesing dan sedikit bau apak. Ada bath tub warna putih dan kloset senada. Tak ada bak mandi seperti di rumah yang telah tampung air satu bak. Tinggal gunakan gayung guyur tubuh. Tak ketinggalan wastafel warna putih juga ikutan meramaikan kamar mandi lumayan mewah itu.


"Ssstt..Gan...tak ada bak mandi. Pakai apa kita cuci muka dan badan?" kata Jay agak keras biar Gani dengar.


Gani menyusul lihat keluhan Jay. Orang udik masuk kota beginilah contohnya. Sudah ada bathtub mana mungkin ada bak mandi lagi.


"Kamu ini persis orang udik merambah kota. Jaman now mana ada pakai bak mandi lagi. Tuh pakai shower semprot badan ente dan cuci muka di wastafel! Sini kuajarin! Jangan bikin malu kampung kita kalau asisten pak Kevin orang kuno!"

__ADS_1


"Gan...gila ya kamu! Aku ini kan asisten merakyat seperti Gina. Kamu sungguh cerewet."


__ADS_2