
Gina ikut tertawa bisa hibur rekan satu majikan. Gina sudah malas dengar kisah miris menguras air mata. Kisah itu berulang-ulang terjadi di sekitar Gina. Sudah cukup kisah tragis itu berakhir hingga di sini. Gina tak ingin ada kesedihan di sekitarnya lagi.
"Aku masuk dulu ya pak!"
"Tadi bilang aku masih muda sekarang panggil bapak. Belum waktunya tumbuh uban pasti akan nongol sendiri. Panggil saja Abang Mitro! Aku merasa sangat muda seperti anak remaja seusia kamu."
"Ok bang Mitro...aku masuk dalam dulu ya! Lihat bos kita gimana kondisinya? Takutnya melahirkan nanti!" canda Gina buat Mitro terbelalak kaget. Mungkin hanya Gina berani meledek Kevin. Semua pada segan pada majikan mereka itu.
Gina mana open rasa kaget Mitro. Sekarang Kevin membutuhkan dia maka Kevin yang harus patuh padanya. Gina akan atur semua tindak tanduk Kevin agar selamat dari incaran para maling nyawa.
Gina melihat Kevin masih bertahan dalam kamar tak ada tanda-tanda laki itu akan keluar dari kamar. Lama Gina menatap pintu kamar laki itu dengan penuh pertimbangan. Apa dia harus masuk ke dalam lihat keadaan laki itu. Jangan-jangan depresi lagi sampai kejang-kejang mau pingsan.
Namun Gina tak segera angkat langkah menuju ke dalam. Dia masuk ke kamar laki adalah hal penuh resiko. Mana ada anak gadis masuk kamar cowok tanpa izin. Bisa-bisa Kevin berpikiran negatif pada dirinya. Cari kesempatan dalam kesempitan. Lantas kalau terjadi sesuatu pada Kevin apa pula resikonya? Gina serba salah. Maju kena mundur juga kena. Yang mana harus dia jalani.
Gina kuatkan hati mengetok pintu kamar Kevin lalu putar kunci pintu berharap lihat pemandangan bagus. Perlahan pintu terkuak. Mata Gina menangkap bayangan Kevin duduk termenung menghadap jendela kamar tanpa bergerak. Mata laki itu menatap keluar jendela ntah objek apa menarik perhatian laki itu. Bidadari-bidadari sedang turun ke bumi mau numpang mandi kali sampai laki itu tak bergeming.
"Pak..." panggil Gina pelan.
Kevin menoleh ke arah Gina sekilas lalu matanya kembali fokus keluar jendela. Gina terpaksa ikutan lihat keluar jendela cari objek yang menarik perhatian bosnya itu. Tak ada yang menarik selain awan putih bergelantungan di langit. Bahkan burung saja tak kelihatan di atas langit. Yang ada hanya gumpalan mega-mega putih berkumpul lalu membias secara perlahan.
"Ada U F O pak?" Gina bertanya agar Kevin beri reaksi. Gina takut otak Kevin korslet tak berfungsi lagi akibat makin stress berat.
"Gina..maukah kau janji takkan tinggalkan aku?" tanya Kevin lirih. Rasa percaya diri Kevin tenggelam ntah ke dasar lautan mana. Mungkin jatuh ke paling laut terdalam dunia yakni Palung Mariana.
Gina mengangguk tanpa pikir panjang. Kalau dia ragu-ragu Kevin takkan rasakan ketulusan hatinya maka Gina kontan angguk secepat gerakan super jet.
"Aku kerja sama bapak mau lari ke mana? Kita keluar jalan-jalan?"
"Tak usah..sekarang aku cuma punya kamu. Tak ada orang bisa aku percaya lagi. Kalau aku juga seperti mereka maka tamatlah hidupku!"
Gina menarik bangku tunggal tak jauh dari Kevin agar bisa duduk dekat dengan cowok ini. Gina sengaja berbuat lebih mesra agar laki ini tak merasa ditinggalkan di saat dia butuh.
"Aku ini orangnya setia. Tidak plin plan kayak cewek lain. Aku mau ajak bapak tinggal bersama di rumahku!"
Kevin besarkan mata mendapat ajakan luar biasa. Gina sungguh cewek bermental metal, berani ajak cowok tinggal di rumahnya tanpa ikatan. Ajakan yang sudah ditunggu-tunggu oleh Kevin.
"Kita tinggal bersama tanpa ikatan? Kumpul kebo dong! Lebih baik kita resmikan hubungan kita dengan ikatan sah."
Giliran Gina besarkan mata jengkel pikiran Kevin melalang buana ke mana-mana bikin asumsi sendiri. Laki itu pikir Gina sudah siap hidup bersama dia untuk jadi pasangan tanpa prosedur resmi.
"Pikiran bapak ke mana? Di rumah ada ayah dan ibu serta Gani. Aku ajak bapak karena takut ada yang nakal mau usik bapak. Di sana kami akan lindungi bapak. Enak aja anggap aku ini kebo betina siap dipacari!"
Kevin menepuk jidat sambil tertawa sendiri. Kevin merasa lucu terlalu semangat sampai lupa Gina bukan sembarangan cewek. Otaknya memang sedang korslet kena tekanan batin. Diberi sedikit perhatian pikiran Kevin kontan mengembara ke mana-mana.
__ADS_1
"Maaf nona! Aku lupa kamu punya saudara dan orang tua. Aku pikir semua orang di dunia ini seperti aku anak yatim piatu tanpa sanak keluarga."
"Itu dulu. Sekarang bapak punya kami! Boleh numpang akui ayah dan ibu sebagai orang tua bapak sedang aku dan Gani terserah mau dianggap apa! Pegawai nope saudara juga ok. Terserah suara hati bapak deh!" Gina mencoba menghibur Kevin untuk lupakan kesedihan. Gina tahu tak mudah hapus bayangan buruk disakiti orang karena Gina sendiri pernah rasakan hidup dalam balutan dendam.
"Di kantor kalian adalah anak buah, di rumah kalian adalah saudaraku! Aku bahagia mendapat saudara seperti kamu walau kita tak ada hubungan darah. Ayok kita ke rumahmu sekarang! Aku tak sabar ingin masuk dalam dunia kalian yang sederhana namun hangat."
"Kita packing dikit pak! Apa di sana bapak mau telanjang bulat?"
"Kamu ini ramah sedikit sama orang sakit kenapa? Tiap hari pasang wajah sadis seperti debt kolektor. Apa aku punya hutang padamu?"
"Sekarang belum..kurasa nanti bapak akan hutang padaku! Ok...kita mulai dengan pakaian bapak baru keperluan lain!" Gina angkat pantat dari kursi melemaskan kedua tangan lalu majukan kedua tangan yang sudah saling bertautan ke depan. Gina lakukan gerak kecil melemaskan otot tangan sebelum kerja bakti urus perlengkapan Kevin pindah ke rumahnya.
Gina pilih barang penting saja karena yang tak perlu hanya bikin semak kamar saja. Kamarnya kecil mungil mana bisa tampung barang Kevin bila dibawa semua. Gina pilih-pilih seperlunya saja.
Kevin bersikap pasif biarkan Gina menentukan apa yang baik untuknya. Kesangaran Kevin tak berlaku pada Gina. Justru Gina lebih galak dari Kevin untuk sementara ini karena Kevin bergantung pada gadis ini.
Mata Kevin berputar-putar ikuti setiap gerakan Gina memilih barangnya. Gadis itu cekatan dan gesit. Beda jauh dengan Gani yang agak lamban. Pantas Gina memimpin walau dia berstatus adik. Pada akhirnya satu koper sarat dengan barang Kevin. Semua keperluan sehari-hari Kevin sudah masuk dalam koper.
Gina puas pada hasil kerjanya. Dia bangga berguna untuk bosnya. Tidak sia-sia Kevin gaji mahal dia. Gina beri pelayanan sesuai harga yang dibayar Kevin.
"Beres pak! Sekarang bapak tinggal amankan aset penting bapak. Kalau pak Peter tahu di mana berkas penting bapak lebih baik kita aman dulu. Siapa tahu dia datang buka praktek jadi maling."
Kevin puji kejelian Gina terhadap tindak tanduk Peter. Gadis ini cepat menangkap adanya rencana busuk Peter. Kini Gina kembali berpikir jauh ingatkan Kevin agar hati-hati lebih dalam lagi.
"Kita ganti kodenya!"
"Kau bisa?"
"Ngak ngerti amat tapi kita coba dulu. Aku cuma bantu saja. Sebaiknya semua kata sandi bapak simpan sendiri. Jangan beritahu pada siapapun! Ini akan bantu keselamatan bapak."
"Aku tak ngerti apa yang kamu maksud!"
"Katanya CEO perusahaan besar tapi daya kerja otak cuma sejengkal. Maksud aku kalau cuma bapak yang tahu kata sandi orang akan berpikir dua kali untuk habisin nyawa bapak. Kalau bapak meninggal siapa yang bisa buka brankas lagi. Gitu saja ngak ngeh!" Gina merepeti Kevin yang dia anggap tolol.
Kevin angguk-angguk sok ngerti. Bukan sok ngerti tapi memang sudah ngerti. Gina pinter sekali siasati semua masalah. Anak itu seperti mafia kelas kakap sudah atur semua jauh hari.
"Kau benar! Ayok kita ke ruang bawah tanah di mana brankas di simpan! Semua dokumen perusahaan dan surat penting ada di sana." Kevin kembali fit setelah mendapat pencerahan dari Gina. Harusnya Kevin lebih kuat dari Gina namun dia justru tak ada apa-apa dibanding kelihayan Gina. Dia malah seperti orang bodoh disetir anak kecil.
Kevin mengajak Gina lewati kamarnya menuju ke satu pintu tertutup rapat. Sekilas dilihat bukanlah pintu melainkan lukisan abstrak dibingkai dengan bingkai besar. Kalau dalam bahasa kerennya pintu rahasia menuju ke ruang bawah tanah.
Kevin gunakan kode tertentu untuk buka pintu. Pencet sana sini barulah terdengar bunyi klik lalu pintu terbuka secara otomatis. Lumayan canggih menurut Gina. Orang tak terpikir itu pintu rahasia menuju ke tempat tersembunyi.
Tanpa ragu Kevin masuk lalu hidupkan lampu di dinding dekat pintu masuk. Seketika lorong menuju ke tangga bawah terang benderang. Deretan lampu tersusun rapi sepanjang jalan turun ke bawah.
__ADS_1
Gina was-was ikut langkah Kevin ke bawah dengan meniti tangga satu persatu. Kevin santai saja turun tanpa ada rasa takut. Itu wilayah jajahan Kevin mana ada rasa takut lagi. Dia turun terus sampai lantai terakhir.
Ruangan itu cukup luas. Suasananya seperti ruang kerja karena dipenuhi oleh buku dan map-map tebal. Udara dalam ruangan agak pengap karena lama tak berpenghuni.
Kevin hidupkan pendingin udara agak tidak sesak nafas lama di situ. Gina memilih berdiri menjauhi Kevin menjaga segala kemungkinan. Ini tempat sepi tanpa orang lain. Siapa tahu pihak ketiga menggoda iman Kevin sehingga melakukan tindakan asusila padanya. Gina terpikir jauh ke situ.
Perlahan angin sejuk mengalir walaupun hanya dari mesin pendingin. Ini sangat membantu pernafasan keduanya.
"Kau tidak sesak bukan?" tanya Kevin setelah atur sirkulasi udara.
"Tidak...di mana brankas bapak? Cepat kerjakan agar kita bisa keluar dari sini!" Gina tak melihat kotak besi yang bisa terbuat dari baja padat.
"Baik..." Kevin kembali menekan satu tombol maka pintu bergeser ke kanan barulah tampak pintu terbuat dari baja dengan putaran untuk sandi lumayan gede.
Gina mundur tak mau ikut lihat Kevin ganti kata- sandi supaya Peter tak bisa buka brankas lagi. Kevin terlalu percaya padanya sampai seluruh rahasia diungkap pada Peter. Masih untung Peter belum gila embat semua hak Kevin. Laki itu mau raup semuanya sekaligus. Dia tak sangka kejahatannya cepat terbongkar.
Kevin utak atik nomor di dinding pintu brankas. Gina tak tahu apa yang dilakukan laki itu. Tampaknya dia cukup piawai tangani kode brankasnya. Tadi dia tanya apa Gina ngerti ngak. Ternyata dia sangat lihat di bidang itu. Mau test kepintaran Gina sampai di mana.
"Sudah selesai. Aku aktifkan finger print! Jadi hanya aku yang bisa buka. Dulu aku tak aktifkan finger print karena kadang Peter harus ambil berkas di sini. Sekarang dia tak bisa ngapain lagi. Kata sandi sudah ganti tambah finger print." cerita Kevin sambil bersihkan tangan dengan tisu yang tergeletak di meja.
Gina acung jempol setuju dengan ide Kevin tutup akses Peter membuka brankas Kevin. Laki itu bodoh kelewat tamak. Sekarang kebusukannya terbongkar maka tinggal tunggu waktu ditendang ke planet mars kumpul dengan alien di sana.
"Bagus! Maunya kode pintu masuk juga diganti. Artinya dia total tak bisa ke sini lagi."
"Baik nona Gina! Kau memang lihay dan cerdik. Aku ucapkan terima kasih sudah jadi alarm aku."
"Aku bekerja sesuai bayaran bapak. Sudah digaji ya harus bekerja dengan sebaik mungkin."
Kevin tertawa kecil lihat betapa seriusnya Gina terhadap pekerjaan. Dia harus berterima kasih pada Gani telah antar adiknya kepada Kevin. Seorang gadis multi fungsi. Tidak rugi Kevin bayar mahal untuk Gina.
"Ayok kita keluar!" ajak Kevin mulai keringatan berada di ruang tertutup. Kevin paling riskan bila berada di tempat pengap. Ini ada hubungan dengan masa lalu Kevin yang penuh drama.
Gina cepat-cepat bergerak ke naik tangga menuju ke atas. Gina juga tak suka berada di tempat ini. Selain agak pengap juga bikin bulu kuduk merinding. Gina bukan takut hantu melainkan takut tiba-tiba gempa bumi mengubur mereka berdua di situ.
Gina belum boleh menghadap Yang Maha Kuasa sebelum melihat kehancuran Mahabarata. Gina berjanji akan tinggalkan kekerasan bila Mahabarata hancur. Tujuan utama dia hdup sudah tercapai.
Kevin ikuti saran Gina ganti kode pintu masuk ke ruang bawah tanah. Kini Peter tak bisa masuk lagi ke dalam ruangan itu. Aksesnya telah tertutup.
Kevin dan Gina lega telah lakukan hal besar untuk selamatkan aset Kevin. Kevin harus lebih hati-hati hadapi kelicikan Peter dan kroninya untuk hari mendatang.
Kegiatan mereka selanjutnya adalah pindah ke rumah Gina. Kevin tinggalkan puluhan pesan kepada Bibik dan suaminya agar lebih waspada jaga rumah. Tak seorangpun boleh masuk rumah selama Kevin tak ada di rumah. Tak seorangpun boleh masuk selain Gina. Gina diizinkan masuk untuk sewaktu Kevin membutuhkan tenaga Gina di rumah ini.
Gina mengendarai mobil membawa Kevin ke rumahnya. Seharusnya Kevin yang bawa mobil karena tangan Gina terluka. Ada jahitan lagi. Namun Kevin lupa kalau Gina terluka karenanya. Dia masih betah jadi bos dilayani asisten keras kepala.
__ADS_1
Gina tak mengeluh walau tangannya nyeri. Dia keraskan hati laksanakan tugas sampai tuntas