JALAN MENUJU CINTA

JALAN MENUJU CINTA
Gina Monster


__ADS_3

Gina menunggu kehadiran pejabat penting dalam kantor ini. Gina tak tahu bagaimana Kevin pimpin kantor yang penuh orang stress. Gunakan kekuasaan bertindak semena-mena pada bawahan. Gani yang sudah lama kerja saja masih takut pada mereka yang pangkatnya lebih tinggi. Bela kebenaran saja tak becus gimana mau pimpin divisi sendiri.


Untunglah sekarang muncul asisten killer yang tidak memandang jabatan melainkan melihat hasil kerja masing-masing. Gina yakin Kevin tidak akan keberatan bila dia bantu Kevin bersih-bersih oknum sok punya kuku padahal itu kuku palsu yang bisa dicopot setiap saat.


Seorang lelaki berpakaian rapi datang bergabung di meja Jay dan Gina. Orang itu tampak gusar dipanggil saat jam kerja. Jay gunakan nama Kevin memanggil salah satu manager divisi keuangan. Bagian keuangan cukup disegani karena tempat itu memiliki wewenang kelola dana yang keluar masuk di kantor Kevin.


Orang itu menatap semua yang hadir di situ terakhir menatap Safira sang adik yang tampak agak tegang. Laki itu mengerut kening mendapatkan adiknya kurang senang berada di tempat ini. Kepala bagian keuangan itu kontan marah merasa waktunya terbuang untuk hal tak penting. Kevin juga tak ada di situ.


"Ada apa ini? Kalian kurang kerjaan?" bentak laki itu membuat Andara mundur ke belakang. Gadis ini sudah jumpa laki Aini sebelum kena pecat gara-gara berseteru dengan Safira. Tanpa cari fakta langsung keluarkan Andara hanya berdasarkan keterangan Safira.


"Maaf pak! Mengapa bapak memecat Andara tanpa tahu kebenaran cerita sesungguhnya. Sebagai seorang atasan harusnya bapak adil pada semua bawahan. Cek CCTV barulah boleh ambil keputusan." Gina berjalan maju hadang laki itu. Tak ada kata gentar dalam kamus Gina bela yang benar.


Laki itu menatap Gina dengan gusar. Bagaimana dia tak kesal. Seorang asisten berani menegur kepala bagian yang sudah lama bekerja di kantor ini. Gina termasuk orang baru namun nyalinya melebihi luas langit.


"Aku malas ikut masalah sepele ini. Apa arti seorang cs bila dibanding adikku? Sudah...tak ada yang perlu didebatkan. Bubar...kembali bertugas ke tempat masing-masing. Tapi kau cs tetap dipecat. Kau telah bikin malu adikku."


Gina mengepal tinju namun tidak dilayangkan ke wajah laki itu. Gina tidak akan biarkan orang sombong itu berbuat arogan lebih lama. Gina akan pecat Safira bila ketahuan rekayasa kesalahan Andara.


"Pak...cs itu juga manusia butuh penghasilan untuk lanjut hidup. Sebagai seorang pimpinan apa bapak ada pikir nasib bawahan yang selalu jadi bahan pelampiasan oknum tak bertanggung jawab? Tak ada yang boleh pergi sebelum ke benaran terungkap. Aku takkan segan minta pak Kevin pecat orang yang salah gunakan jabatan. Ingat itu! Gani...minta pihak keamanan bawa rekaman CCTV di tempat kejadian." Gina tinggikan nada suara saingi keangkuhan laki itu.


Laki itu cukup kaget ada orang berani melawan dia. Dia sudah bertahun dampingi Kevin di kantor ini. Tak ada yang berani menegurnya bahkan Kevin sendiri. Kini muncul gadis muda sok kuat hendak patahkan kekuasaan dia.


"Aku tak ada waktu layani kalian. Kerja aku masih banyak." Laki itu berniat pergi namun dihadang Gina. Gina berdiri persis di depan laki itu dengan gagah.


Safira menekan air ludah tak sangka kejadian yang dia anggap kecil merebak jadi sampai membawa abangnya. Kalau saja dia tidak sombong mau mengalah mungkin kejadian takkan melebar ke mana-mana. Tapi semua sudah terlanjur terjadi. Asisten Kevin yang garang tak mau mundur selangkah pun membela yang bisa benar.


"Minggir...kalau tidak kau akan rasakan akibatnya!" bentak laki itu makin gusar Gina tak takut sedikitpun padanya. Apa kata orang bila lihat dia dikerjain anak gadis orang baru pula.


"Akibat apa? Mau pecat aku? Lagi musim pecatan ya? Kupikir lagi musim durian bikin orang mabuk kelewatan banyak konsumsi durian. Naik tensi darah juga kolesterol melonjak naik. Tak baik umbar amarah pak! Kena stroke kasihan bini di rumah. Ntar kabur pula sama yang sehat."


Jay mau ketawa tapi segan. Beginilah mulut Gina kalau terpancing emosi. Ngoceh sesuka hati bikin hati gemes. Kelihatannya laki itu bakal ketiban buah busuk akibat bela adiknya yang salah.


"Mana pak Kevin? Kenapa bisa pekerjakan orang gila?

__ADS_1


Suasana makin panas karena tak ada yang mau ngalah. Di Saat ini justru Safira tak berani beri komentar. Gina sudah berani hadang abangnya sudah jamin ada sesuatu di balik sifat keras Gina.


"Bukan cuma gila pak! Kalau kumat suka hajar orang sampai pesan kasur di rumah sakit. Bapak boleh coba tangan orang gila ini." Gina perlihatkan tangannya yang mungil. Sekilas hanyalah tangan anak gadis cuma yang ini tidak lentik menarik perhatian mata cowok. Tangan itu kasar seperti tangan kuli bangunan ukuran mini.


Laki itu menarik nafas agar jangan ikutan gila seperti Gina. Dia seorang pejabat penting mana boleh sembarangan memaki di depan anak buah lain. Dasinya akan luntur bahkan jatuh bila berbuat seperti preman pasaran di kantor.


Kevin yang dari tadi dalam kantor Peter agak terusik oleh keributan di ruang kerja lamanya. Mau tak mau Kevin harus keluar lihat apa yang terjadi. Kevin mengerut kening melihat anak buahnya berkumpul seperti hendak tawuran di lantai tempat dia kerja.


"Ada apa ini?" Kevin mendekati kelompok yang sedang dilanda emosi setinggi gunung Himalaya.


"Ach pak Kevin...ini hanya masalah kecil. Maaf sudah mengusik bapak. Ini hanya salah paham." Laki itu menjadi sungkan karena Kevin telah hadir di antara mereka. Andaikata rekaman CCTV merujuk pada kesalahan adiknya maka tamatlah riwayat Safira di kantor ini.


"Pak Dana...sekilas aku sudah dengar perkara ini maka kuutus Gina urus masalah ini. Kita tak boleh pilih kasih antara sesama pegawai. Tak ada yang lebih tinggi dan juga tak ada yang lebih rendah karena semua berdiri di posisi masing-masing. Kita di sini untuk bekerja bukan untuk unjuk jabatan."


Laki yang bernama Dana diam tak bisa jawab. Jelas dia sudah gunakan power dia bela adiknya yang belum tentu benar. Dana anggap seorang cs tak pantas dibela. Siapa sangka Andara dapat pertolongan dari orang dekat Kevin.


Gani telah kembali bawa apa yang diminta oleh Gina. Lonceng kematian akan segera berdentang lihat nasib siapa apes jadi sasaran hakim keadilan monster tanpa gelar sarjana hukum.


Gina menyambar benda kecil dari tangan langsung bawa ke meja kerja dia untuk lihat siapa yang duluan buat ulah. Gina sudah bilang takkan segan pecat siapa yang salah. Gina sudah minta Safira mengaku secara baik-baik namun wanita itu menolak sehingga kasus diperpanjang lihat siapa yang salah dan benar.


Yang lain menunggu Gina memeriksa hasil rekaman CCTV untuk beri keadilan baik buat Safira maupun Andara. Dana mulai gelisah menunggu Gina akhiri pemantauan. Dana tak bisa mengelak karena Kevin ikut dukung gerakan Gina buktikan kebenaran di sini.


Terakhir Gina hentikan gerakan tangan main di atas keyboard komputer lalu menatap Safira dengan tatapan ingin membunuh wanita itu. Jelas-jelas Safira menendang ember berisi air sehingga tumpah dan tergelincir sendiri. Bahkan Safira menampar Andara sebagai akibat jatuhnya dia. Andara samasekali tidak berkutik ditampar oleh adik kepala keuangan. Buntutnya dia dipecat karena kekuasaan Dana.


"Maaf Safira...game over! Kamu dipecat!" tegas Gina mengundang delikan mata Dana. Beraninya seorang asisten memecat adik pejabat di depan bos perusahaan. Dana tidak terima adiknya dipecat oleh Gina langsung protes.


"Dasar apa kau bilang pecat adikku? Apa artinya seorang cs di kantor ini? Aku akan rekrut sepuluh cs lagi kalau kau suka cs." ujar Dana sambil menahan amarah tapi tak berani umbar karena adanya Kevin.


"Bukan masalah cs atau ob...ataupun satpam. Ini menyangkut moral pegawai sini. Mentang-mentang punya kedudukan lebih tinggi boleh berbuat semena-mena pada pegawai lain. Dan anda gunakan jabatan pecat orang kecil? Cs juga manusia dan adikmu juga manusia. Sama-sama makan nasi dan hirup oksigen. Atau mungkin adikmu besar makan dedak padi dan hirup karbondioksida untuk hidup biar dibilang istimewa?" semprot Gina bikin Dana mati kutu.


Safira merasa seluruh badannya mau rontok jumpa asisten berkuasa di kantor Kevin. Herannya Kevin tidak komentar sedikitpun beri kesan Gina punya kuasa di kantor ini. Banyak yang tak tahu kalau sekarang bosnya adalah Gina. Kevin sudah serahkan semua kuasa kepada Gina maka gadis itu berhak tentukan apa yang harus dilakukan.


"Aku minta maaf..." lirih Safira tak berdaya lawan asisten multi talenta Kevin.

__ADS_1


"Terlambat... aku sudah tawarkan kalau kau mesti jujur. Namun kamu terlalu yakin kalau power abangmu bisa selamatkan kamu. Aku takkan beri pesangon dan kau boleh lapor polisi biar kita mainkan drama ini lebih panjang. Dan kau Andara kembali kerja seperti biasa."


Dana melongo kok Gina yang beri perintah sementara Kevin hanya diam izinkan gadis itu bertindak sesuka hati seolah dia bosnya. Kevin dianggap angin lalu tak ada bayangan walau terasa ada.


"Kamu ini hanya asisten pangkatnya tak lebih tinggi dari aku. Apa kau punya hak bicara di depan aku dan pak Kevin?" tegur Dana.


"Kurasa pak Kevin takkan keberatan aku tegakkan keadilan di kantor ini. Ya kan pak Kevin?"


Kevin menghela nafas tak bisa membantu Safira. Kevin yakin Gina takkan sembarangan memecat orang bila orangnya tak bersalah. Kevin sudah pesan dari awal boleh ambil tindakan bila ada yang salah. Kevin tak bisa jilat ludah sendiri toh.


"Pak Dana...aku percaya Gina tidak sembarangan beri hukuman pada orang. Dari awal aku sudah ingatkan kalian untuk kerjasama bangun perusahaan kita bukan unjuk kekuatan. Dan kau pak Dana juga salah pecat orang tanpa tanya kebenaran. Kita sebagai pemimpin harus bijak tak boleh berpihak pada yang salah walau itu saudara kita. Di sini kita rekan kerja, di rumah barulah saudara. Bisa jadi suami isteri." ujar Kevin melirik Gina ingatkan gadis itu dia sudah jadi istri Kevin.


"Tapi tak mungkin Safira keluar hanya karena seorang cs. Ya sudah aku tarik surat pemecatan dan kamu bisa kerja lagi. Anggap ini semua hanya salah paham dan saling minta maaf."


Gina ingin ketok kepala Dana agar sadar kalau bukan gitu cara menyelesaikan masalah. Selalu anggap remeh orang bila sudah di atas. Safira akan besar kepala bila dimaafkan. Ini tak boleh jadi contoh buat yang lain. Gina tetap harus turun tangan kejam tak beri toleransi pada orang angkuh.


"Pak Dana....anda bisa ikut terlibat bila lindungi orang bersalah. Anda gunakan wewenang pecat orang demi menyenangkan adikmu. Aku juga bisa pecat orang demi bela keadilan. Kalau dilanjutkan maka pak Dana bisa ikut jejak Safira terima surat pemecatan."


Kevin puji ketegasan Gina tak bisa dikutak-katik bila sudah ada keputusan. Kevin bisa bayangkan kalau dia coba-coba berpaling dari janji setia mereka. Lebih tak ada kata maaf tersimpan dalam kamus Gina.


Dana meringis meminta Kevin mengeluarkan kebijakan selamatkan Safira. Keangkuhan Dana mulai memudar tatkala Kevin angkat tangan tinggi-tinggi tanda tak bisa bantu. Dana dihampiri rasa putus asa. Adiknya akan segera ditendang dari perusahaan padahal di situ kerjanya enak dan nyaman. Bosnya baik tak pernah kasar pada bawahan. Giliran anak buah yang kasar pada pegawai tingkat rendah.


"Aku minta maaf Andara...Aku janji takkan bully kamu lagi. Bantu aku bicara sama nona Gina dong!" Safira tak malu menggenggam tangan Andara mohon gadis cs itu mau bantu dia luluhkan hati Gina.


Kevin sudah serahkan persoalan ini pada Gina maka Gina yang harus dibujuk agar memberi ampunan kepada dia. Andara bingung tak tahu harus omong apa pada Gina. Gadis muda itu sebenarnya tak tega lihat Safira dipecat namun siapa yang iba padanya sewaktu dia dipecat. Hanya ada Gani yang bela dia saat itu.


"Aku... aku..." Andara mulai gagap saking bingung diminta bujuk Gina.


"Tak usah panik Andara. Kita di sini sama saja walau beda tugas. Kamu jangan merasa rendah walaupun tugasmu hanya cs. Kamu tak bisa kerjakan bagian aku dan aku juga tak bisa kerjakan bagian kamu. Kita punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Besok kamu kembali bertugas." Gina hampiri Andara serta menepuk bahu gadis itu agar kuat mental.


Dana dan Safira menunduk malu mendengar perkataan bijak Gina. Gina masih muda namun bicaranya persis nenek umur seratus tahun. Ntah bijak atau pikun saking tuanya.


"Aku gimana? Aku minta maaf dan berjanji akan berubah sikapku. Beri aku kesempatan sekali lagi. Kalau aku masih mengulang siap dipecat. Kumohon nona Gina!" Safira merangkap tangan di dada mohon ampunan Gina.

__ADS_1


Kalau harap Gina yang beri maaf sampai matahari terbit dari Barat dan tenggelam di timur takkan muncul sepatah kata itu. Gina terlalu keras bila menyangkut hak orang kecil. Gina pernah rasakan jadi orang teraniaya maka tak izinkan ada kejadian ini di depan mata.


__ADS_2