
Lucia meringis tak bisa jawab perkataan Peter. Selalu gunakan alasan belum mood bukankah perancang baik. Pekerja handal tak mesti tenggelam dalam kesedihan sampai atk bisa kerja secara normal. Alasan sangat basi.
"Baik.. aku akan usahakan secepatnya memberikan karya kepada kalian! Doakan aku mulai bisa berkarya secepat mungkin. Oya mas Kevin! Orang tua aku mau undang kamu makan malam di rumah! Kapan mas ada sempat berkunjung ke rumah kami?"
"Kau lihat sendiri kondisi keluarga berhati busuk yang ingin menghancurkan aku! Untuk sementara aku tidak bisa kemana-mana sampai mereka berhenti merongrong hidup aku. Asal kau tahu luka di tangan Gina itu karena membela aku yang hampir dibunuh orang di parkiran."
"Oh my God... apa yang sudah terjadi pada kalian?" Lucia agak kaget setelah mendengar cerita dari Kevin. Lucia sama sekali tidak menyangka kalau keadaan Kevin sangat buruk. Lucia tidak menyangka sama sekali kalau luka di tangan Gina adalah hasil melindungi Kevin dari serangan orang. Sejahatnya Lucia pada Gina tetap ada rasa iba karena mereka masih satu darah.
"Tak ada yang perlu kau kuatirkan! Aku akan tangani semua masalah ini! Yang penting sekarang adalah kamu menghasilkan karya baru."
Lucia mengangguk tanpa kepastian. Dia harus bujuk Gina berikan karyanya kalau memang tak berhasil hubungi orang yang biasa berikan rancangan padanya. Lucia tahu bukan perkara gampang bujuk Gina berikan rancangan dia. Gina jelas-jelas tak suka padanya. Melihat Lucia seperti melihat setan di siang bolong.
"Ok..aku balik ke ruang aku cari inspirasi! Permisi.." Lucia merasa tak ada guna dia lama-lama berada di dalam ruangan Kevin. Yang ada malah Kevin akan menuntutnya untuk segera memberikan karya baru. Lebih baik dia mengundurkan diri untuk mencari solusi mendapatkan karya baru.
Satu orang lagi tinggalkan ruang kerja Kevin. Dalam ruangan tinggal Kevin dan Peter saling membisu. Peter agak segan buka mulut bicara hal lebih pribadi karena Kevin telah beri kesan tak percaya pada siapapun untuk sementara waktu. Dia telah bergerak tanpa beritahu Peter dia telah hubungi pengacara akan berikan harta benda pada yayasan bila umurnya pendek. Kevin telah tinggalkan Peter.
Lama keduanya berdiam diri sampai Peter bosan sendiri tak tahu harus mulai dari mana bahas soal harta Kevin. Dia tak boleh gegabah perlihatkan ekor rubah khianati Kevin.
"Pergilah urus produk ulang perhiasan rancangan Gina! Coba desak bagian perancang untuk buat karya baru. Lucia tak bisa kita andalkan untuk sementara waktu." kata Kevin memecahkan keheningan dalam ruangan. Tetap harus ada yang mulai bicara supaya tidak canggung. Kevin harus perlihatkan sikap tidak ada apa-apa dengan Peter agar laki itu tidak berbuat curang lebih jauh.
"Itu akan ku handel! Aku cuma mau tanya kau serius soal yayasan?"
Kevin memutar kursinya kiri kanan cari jawaban tepat untuk jawab pertanyaan Peter. Kevin tak boleh sembarangan jawab sebab ini akan bawa pengaruh sangat besar dalam hubungan mereka. Peter sudah cukup lama mendampingi Kevin meniti di hari-hari saat dia dalam kesulitan. Kevin tak boleh melupakan jasa Peter walaupun sekarang dia telah berubah.
"Kau lihat kelakuan mereka? Aku curiga ini semua ada hubungan dengan mereka. Aku tak punya pilihan lain selain menuruti kata hati. Aku hidup sebatang kara di dunia ini jadi kalau terjadi sesuatu pada aku maka lebih baik semua hartaku dinikmati oleh orang-orang yang membutuhkan. Aku tak rela jerih payah aku dirampas oleh manusia busuk."
Peter tidak bisa menyalahkan Kevin bila mengambil keputusan yang cukup besar ini. Sebagai seorang manusia yang mempunyai empati terhadap sesama manusia maka keputusan Kevin adalah keputusan yang sangat tepat. Lebih baik seluruh hartanya dinikmati oleh mereka yang kekurangan daripada jatuh ke tangan manusia yang selalu ingin mencelakai Kevin.
"Seharusnya kamu diskusi dulu dengan aku sebelum mengambil keputusan yang sangat besar ini. Kamu tidak sendirian di dunia ini karena masih ada aku dan keluarga aku. Kami tidak akan pernah mencelakai kamu karena kamu adalah saudara aku. Tetapi jika memang itu keputusan kamu maka aku akan mendukung kamu." Peter tidak bisa berbuat apa-apa selain pura-pura mendukung Kevin agar dapat mendapat kepercayaan lelaki itu lagi.
"Terima kasih...biarkan aku tenang dulu! Aku mau sendiri!" Kevin mengusir Peter secara halus. Kevin memang membutuhkan ketenangan untuk memikirkan segala yang sedang terjadi di dalam hidupnya. Mengapa ayahnya terus-terusan menyakiti dirinya. Apa belum puas menghancurkan separuh dari hidup Kevin.
"Baiklah! Kalau kamu perlu apa-apa jangan segan menelepon aku! Aku tetap ada untukmu!" Peter angkat pantat dari kursi di depan Kevin. Kevin tidak menahan langkah Peter sebab itu yang dia inginkan.
Peter meninggalkan Kevin sendirian kembali ke ruang kerjanya. Perasaan Peter Kevin telah berubah sejak adanya penyerangan pada dirinya. Kevin telah pasang perisai dalam dirinya agar tidak terluka makin dalam. Peter melewati Gina yang tekun mengerjakan semua tugas yang diemban pada Gina.
Sepeninggalan Peter, Gina beri kode kepada Jay dan Hadi untuk mendekat ke meja kerjanya. Kedua lelaki itu segera mendekat setelah kode dari Gina. Keduanya segera tahu kalau Gina sedang akan memberi pekerjaan kepada mereka. Tak mungkin juga mereka duduk berdiam diri tanpa melakukan apapun.
__ADS_1
"Ada apa Gin?" tanya Hadi.
"Kalian lihat orang yang baru lewat tadi? Minta kawan lain pantau setiap gerakan dia. Rekam semua kegiatan dia! Hati-hati jangan sampai ketahuan! Aku akan transfer biaya operasional teman kita."
"Orang itu bermasalah?"
"Belum jelas...maka itu aku minta kalian pantau dia! Tugas mulai hari ini! Nanti malam aku akan beri biaya operasional! Cepat hubungi teman lain!"
"Jangan pelit ya! Kau kan tahu biaya bahan bakar sekarang!"
"Kugaji kalian sebulan tiga puluh hari!" ujar Gina relax tak peduli delikan mata kedua cowok muda itu.
"Cuma segitu? Lalu bunyi fulusnya gimana? Masak cuma makan angin!"
"Angin juga bisa mengenyangkan! Sehari lima ratus..."
"Gitu dong! Lima ratus ribu kan?" olok Jay senang Gina beri pekerjaan pada teman di kampung yang nganggur.
"Enak saja! Lima ratus perak gambar monyet itu!"
Hadi dan Gina tertawa lihat Jay sewot. Perkataan Gina dianggap serius bisa balik ikan asin jadi ikan hidup. Tak bisa dianggap serius. Salah Jay juga mau percaya padahal dia sudah lama berteman dengan Gina masih belum kenal sifat iseng Gina.
"Duh yang lagi datang bulan! Sensi amat!" olok Gina berhasil juga buat Jay tersenyum. Jay tak mau tahu dari mana Gina dapat uang. Setiap mereka bergerak tetaplah butuh biaya operasional. Ini untuk menyambung hidup rekan lain yang bekerja secara profesional.
"Aku akan segera perintahkan ninja-ninja kita untuk bergerak. Kau tak perlu beri segitu banyak uang pada ninja kita. Kita lihat mereka minta berapa! Aku tak tega rampok monster miskin!"
Gina tersenyum senang ternyata kawan satu geng masih ada toleransi soal biaya. Gina tak salahkan mereka bila minta lebih karena mereka bekerja pertaruhkan keselamatan mereka. Andai ketahuan sedang intai orang bisa jadi mereka akan dikejar oleh hukum. Jay dan Hadi sibuk hubungi orang untuk jalankan misi yang diberikan oleh Gina.
Gina tak mau merepotkan Kevin maka dia melangkah sendirian meminta teman-temannya untuk mengintai Peter. Gina dengan hati ikhlas menggunakan biaya sendiri karena dia mempunyai simpanan yang direncanakan membeli ruko untuk ibunya. Kini ibunya telah ada yang bertanggung jawab maka Gina bisa sedikit lega. Om Sabri pasti tidak akan menelantarkan ibunya seperti ayahnya di masa lalu.
Gina dengan tulus bantu Kevin karena di dunia ini hanya dia yang bisa dipercaya oleh Kevin. Peter yang sangat Kevin percayai ternyata juga ular berbisa siap mematuk Kevin di saat laki itu lengah.
Selepas jam kerja Gina tidak segera ajak Kevin pulang ke rumah melainkan ke tempat dia latihan karate. Gina ajak Kevin ke tempat penuh kekerasan itu dengan tujuan katakan pada Kevin kalau tidak selamanya kekerasan itu berdampak negatif. Kevin harus bisa mengatasi rasa trauma terhadap kekerasan yang dialaminya di masa lalu. Jay, Hadi dan Gina kawal Kevin ke tempat yang tak pernah dikunjungi oleh Kevin itu.
Suasana di klub karate cukup ramai oleh karateka muda yang sedang latihan. Sebelumnya Gina selalu meluangkan waktu mengajari para pemula untuk menjadi seorang karateka yang baik. Untuk sementara Gina terpaksa menghentikan kegiatan ini karena hampir seluruh waktunya tersita oleh Kevin.
Gina mengiringi Kevin masuk ke dalam ruang latihan yang sangat luas. Suara hentakan dan teriakan para murid karate bergambar bersahutan. Gina sengaja mengajak Kevin ke tempat ini untuk menyaksikan bahwa kekerasan itu bukanlah hal menakutkan. Kevin harus bisa menghapus kenangan buruk tentang kekerasan yang dilakukan oleh papanya terhadap dirinya.
__ADS_1
Kevin dan Gina melewati para karateka yang sedang latihan bersendiri maupun berkelompok. Jay dan Hadi langsung menghilang karena tempat ini juga merupakan tempat nongkrong mereka. Kedua anak muda itu juga merupakan anggota daripada klub ini. Sebelumnya klub ini adalah milik Om Sabri yang telah mengundurkan diri memilih menjadi seorang pemilik bengkel. kini club dikelola oleh anak-anak muda yang berbakat di bidang ilmu beladiri.
Gina mengajak Kevin duduk di salah satu tempat untuk menyaksikan para karateka sedang latihan. Mata Kevin nanar melihat para pemuda pemudi semangat latihan dengan serius.
"Dulu aku juga seperti ini! Tiap hari latihan bersama para pemula." cerita Gina membuka mata Kevin.
"Gin...aku salut padamu! Aku tak tahu bagaimana caranya ibumu membesarkan kamu. Kamu adalah anak muda yang multifungsi multiguna dan multitalenta. Aku tak heran bila Pak Julio sangat menghargai kamu."
Gina tak mau mengungkapkan kalau Pak Julio itu adalah adik dari ibunya. Gina tak mau menumpang nama besar Pak Julio untuk meniti masa depan. Gina harus sukses tanpa gunakan backingan siapapun. Kalaupun kelak dia sukses sebagai seorang desainer top itu adalah hasil kerja keras dia. Tanpa mencatut nama besar siapapun.
"Bapak belum pasang kacamata Ray-Ban tebus pandang. Kalau bapak kenal sifat asli aku pasti akan lari maraton sejauh mungkin dari aku! Aku akan latihan sebentar ya!" Gina bermaksud bangkit untuk gabung dengan para karateka muda.
Kevin langsung menarik tangan Gina tak izinkan gadis itu terjun ke lapangan karena luka di tangan belum sembuh. Apa mau tambah jahitan biar genap dua puluh jahitan. Delapan jahitan masih kurang.
"Duduk di sini saja! Kau mau tanganmu patah lima?"
Gina baru sadar kalau tangannya masih terbalut perban. Saking rindu pada lapangan karate dia lupa kalau tangan terluka. Luka segitu tak akan halangi gerakan Gina. Dia pernah terluka lebih parah namun tak sampai merenggut nyawanya.
"Bapak mau coba latihan? Jay akan pandu bapak lakukan gerakan untuk melindungi diri dari serangan musuh! Tak perlu mahir cukup sekedar lindungi badan!"
"Untuk hari ini mungkin tidak. Kita lihat orang ini latihan saja!"
Gina tidak memaksa Kevin untuk turun ke lapangan ikutan latihan. Yang penting Gina mau tanamkan kalau tak selamanya kekerasan itu akan bawa dampak negatif. Kevin harus pandai menata mental sendiri untuk keluar dari trauma kepanjangan. Sudah cukup lima belas tahun hidup dalam ketakutan.
Jay dan Hadi turun lapangan lakukan pemanasan. Keduanya saling menyerang dengan gaya masing-masing. Jay lebih lincah dari Hadi sehingga lebih kuasai lapangan. Gina biarkan Kevin tekuni semua gerakan kedua laki itu. Pertandingan cukup seru sebab keduanya adalah master. Saling menyerang dan memukul. Kevin merasa ngeri takut salah satu dari mereka terluka. Tapi semua itu tak terjadi. Pertandingan berakhir Jay dan Hadi saling beri hormat lalu pelukan.
Satu pemandangan baik untuk Kevin. Alam bawah sadar Kevin mencatat kalau tak semua kekerasan bawa sengsara. Masih ada sisi positif dari pertandingan ini. Ini lah yang diharapkan oleh Gina biar Kevin bisa menerima kalau kekerasan yang dia alami dulu tak akan terjadi lagi. Masih ada kasih sayang di antara kekerasan.
"Pak...besok ikut latihan ya! Aku akan latih bapak!" Gina menepuk bahu Kevin menyadarkan laki itu dari lamunan.
"Wah...asyik juga lihat mereka latihan! Kau juga begitu kalau lagi latihan?"
"Kurang lebih begitu! Bapak akan mulai dari tingkat paling dasar yakni belajar kuda-kuda dulu! Ini untuk menjaga stamina biar tubuh tidak letoy asyik duduk tanpa olahraga. Ini sudah mau magrib! Kita pulang ya! Besok kita bawa Hadi ke rumah bapak untuk kawal rumah sana!"
Kevin tak punya ide selain ikuti semua saran Gina. Kevin yakin Gina tak berniat jelek padanya. Gina berkali selamatkan hidupnya. Bahkan gadis ini berhasil bongkar kebusukan Peter.
Gina beri kode pada Jay dan Hadi untuk cabut dari klub karate. Mereka harus bawa Kevin ke tempat lebih aman hindari orang-orang licik. Hari ini berlalu aman walau diwarnai insiden kehadiran papa Kevin. Kehadiran keluarga licik itu tak pengaruhi mood Kevin membuktikan Kevin banyak kemajuan.
__ADS_1