JALAN MENUJU CINTA

JALAN MENUJU CINTA
Fakta Pelakor


__ADS_3

Kini Kevin tidur bertumpu kepala di atas paha Gina. Kevin nyaman sekali dalam posisi begini. Serasa ibunda telah kembali untuk memanjakan dia. Hati Kevin damai sekali menghilangkan semua trauma yang barusan mengganjal di hati. Rasanya Kevin tidak ingin bangun lagi dari pangkuan Gina. Inilah tempat yang paling nyaman dalam hidupnya.


Gina biarkan Kevin tidur di atas pangkuannya sampai mengelus kepala lelaki itu biar cepat terlelap. Gina sengaja tidak memberi Kevin obat-obatan agar lelaki itu tidak tergantung kepada obat-obatan dan sembuh secara alami.


Tidak butuh waktu lama Kevin tertidur lelap mengeluarkan dengkuran halus menandakan lelaki ini telah terbuai oleh kelembutan Gina. Gina tersenyum sendiri membayangkan betapa manjanya lelaki yang biasa berpenampilan macho dan gagah. Kini tak ubah seperti seekor anak ayam bersembunyi di balik pelukan sang induk.


Gina memindahkan kepala Kevin secara perlahan di atas bantal biar lelaki ini tidur lebih nyenyak. Bagaimana pun posisi kepala akan lebih nyaman berada di atas bantal. Gina perlahan turun dari ranjang setelah Kevin aman di atas tempat tidur. Gina harus menghubungi Gani untuk mengabarkan apa yang telah terjadi. Walaupun Subrata telah mengukir sejarah buruk di dalam hidup keduanya tetapi Gina tetap ingin Gani tahu kalau ayah biologis mereka baru saja terkena serangan jantung.


Gina keluar dari kamar agar tidak mengganggu Kevin dengan suaranya. Wanita ini berjalan ke ruang tamu untuk menghindari kebisingan bagi Kevin.


Dalam perjalanan ke ruang tamu Gina melihat satu sosok bayangan bertubuh gempal berjalan melenggak-lenggok menuju ke belakang dari ruang tamu. Gina pertajam mata lihat siapa orang itu karena merasa sangat asing dengan kehadiran sosok baru itu.


"Tunggu...siapa kamu?" ujar Gina dengan suara agak keras. Gina keras bukan tanpa alasan. Kehadiran orang baru tentu saja mendatangkan kecurigaan Gina di saat begini. Gina takut berhubungan dengan papa Kevin juga orang suruhan Angela.


Sosok itu menunda langkah berbalik badan cepat ke arah Gina. Wajah asing itu bukannya perlihatkan rasa segan malah berkesan menantang seolah dialah pemilik rumah. Dengan langkah panjang dia hampiri Gina lalu meneliti Gina dari atas ke bawah.


Gina terkesima lihat betapa beraninya orang ini menantang tuan rumah. Pendatang bukannya segan pada tuan rumah tapi beri kesan dialah orang yang berkuasa dalam rumah. Gina mau lihat apa yang diinginkan oleh orang itu maka tunggu orang itu yang bereaksi duluan.


"Siapa kamu berani masuk rumah ini tanpa ijin?" tegur sosok bertubuh montok itu.


Giliran Gina melongo. Makan nyali apa orang ini berani sok tuan rumah. Siapa beri dia Kekuasaan berbuat sesuka hati di rumah orang.


"Ini rumahmu?" Gina balik tanya. Gina merasa geram juga gemas lihat cara orang itu menatap Gina seperti seorang pencuri ketahuan sedang beraksi.


"Iya... sebentar lagi ini jadi rumahku!" sahut sosok itu angkuh.


"Oh...jadi sekarang belum jadi pemilik rumah ya? Kapan kamu akan jadi majikan rumah ini?"


Sosok itu tersenyum licik sedang bayangkan sesuatu yang indah. Kalau punya pisau operasi ingin rasanya Gina belah otak orang ini untuk lihat apa isinya. Dari mana muncul orang gila ini ngaku calon pemilik rumah. Takutnya orang stress baru keluar dari RSJ.


"Sebentar lagi setelah pak Kevin nikahi aku!" jawabnya full senyum penuh harapan.


"Oh...apa kau tak tahu pak Kevin sudah punya istri?"


"Ngak...kata Mai pak Kevin itu jomblo tak pernah dekat wanita. Kau lihat betapa sintal tubuhku! Pak Kevin pasti terangsang padaku! Aku datang dari kampung untuk menjadi istri pak Kevin." Sosok itu pamer tubuhnya yang gempal sintal.


Gina harus akui kalau tubuh itu memang sangat sintal bisa merontokkan iman laki yang mata keranjang. Namun sayang kalau sosok itu tidak mengetahui kalau Kevin tidak pernah tertarik pada wanita manapun.


"Aku ngerti... kau ini keponakan bibik yang datang kampung untuk bekerja jadi art di sekitar rumah sini. Jadi kamu tidak ingin menjadi art lagi? Berubah pikiran ingin menjadi nyonya rumah ini?" banyak Gina sudah mulai memahami arah pembicaraan wanita gempal ini.


"Pas dugaan kamu...sekarang kamu ngapain di sini? Mau maling ya?"


"Aku di sini temani suami aku yang sedang kurang sehat. Apa kau mau ganti posisi aku sebagai istri Pak Kevin?" tanya Gina kalem tanpa emosi.

__ADS_1


"Iya dong! Tapi kamu bilang apa? Istri pak Kevin? Kamu istri pak Kevin?" tanya orang itu kaget campur takut.


Gina mengangguk santai membuat orang itu mundur beberapa langkah. Siang begini ketemu hantu seram. Lebih seram dari kuntilanak bertaring runcing. Wajah Gina cantik tapi menjadi mengerikan buat sosok gempal itu. Kepedean membuatnya yakin bisa taklukkan Kevin yang konon katanya tak pernah pacaran.


"Bik..bibik..." teriak Gina panggil bibik hadir untuk jernihkan masalah ini. Datang-datang ngaku calon istri Kevin. Gina tak tahu berapa besar masalah yang akan diciptakan oleh sosok ini bila terusan berada di tempatnya. Sudah ada niat buruk tak boleh dibiarkan tinggal lebih lama. Sudah tahu bibit penyakit Di tampung pasti akan bikin seisi rumah sakit.


Bibik muncul membawa kain lap di tangan sambil mengerling tajam ke arah sosok gempal ini. Bibik menangkap ada yang tak beres di sini soalnya Gina tak pernah teriak memanggilnya. Biasanya Gina akan sopan dan lembut terhadap dia orang tua.


"Iya nak Gina..."


"Bik...ini siapa?" Gina menunjuk sosok gempal yang baru saja pancing adrenalin dia naik satu inchi.


"Oh itu saudara Mai...itu yang bibik cerita mau kerja di sekitar sini. Besok dia akan masuk kerja. Ada apa nak Gina?"


"Bik...sebaiknya bibik tanya apa tujuan dia datang ke sini?" Gina tak mau bongkar kenakalan keponakan bibik di depan. Biarlah bibik sendiri tanya agar dengar langsung keinginan sang keponakan.


"Ada apa Sum?" tanya bibik menaruh pandangan curiga pada keponakannya itu.


"Tak ada bik..aku cuma bilang betah di rumah ini. Kalau boleh aku mau kerja sini saja gantiin Mai. Biarlah Mai yang kerja di tetangga ." sahut anak itu mulus tanpa merasa bersalah.


"Aku tak setuju...bukankah kau mau jadi istri pak Kevin? Cita-cita kamu ke sini hanya mau goda pak Kevin bukan?" Gina langsung tancap gas tekan anak itu karena telah putar fakta. Gina paling benci pembohong ada disekitar dia. Baru datang sehari sudah pancing amarah Gina. Gina mana mau simpan orang model gitu dalam rumah.


"Astaghfirullah...Sum...kau gila ya? Nona ini istri pak Kevin.. Kau mau apa?" bentak bibik ikutan marah. Sosok yang dipanggil Sum meringis malu.


Gina menggigit bibir menahan tawa. Rasa marah berubah jadi geli membayangkan Kevin berada dalam pelukan wanita itu. Bisa sesak nafas Kevin berada dalam rengkuhan wanita itu. Buah dadanya super gede mirip buah kelapa, belum lagi leher penuh lemak agak kehitaman. Apa selera Kevin akan berubah?


"Dasar anak gila...pak Kevin jijik sama kamu! Pak Kevin punya istri cantik jelita mana tertarik pada gentong beras macam kamu. Ayok cepat minta maaf pada nona Gina!" Bibik memukul kepala Sum dengan kain lap setengah basah. Sum kembali meringis kena sambaran kain lap.


"Tapi kan usaha bik!! Maaf ya nona! Aku tak tahu kalau pak Kevin sudah punya bini. Mai yang salah ngasih informasi. Tapi aku mau kok jadi istri kedua."


Gina dan Bibik kehabisan kata hadapi orang super songong. Nyali Sum pantas dapat acung jempol. Tidak putus asa perjuangkan cita-cita sesatnya. Dia tak salah mengharap dapat yang lebih baik.


"Bik... kurasa Sum belum bisa dilepaskan kerja di kota. Takutnya bawa masalah buat bibik dan Mai. Hasrat Sum terlalu muluk akan membuatnya jatuh nanti." Gina langsung utarakan isi hati takut Sum menggoda majikan tempat dia bekerja nanti. Tidak semua orang seperti Gina dan Kevin gampang memaafkan orang. Takutnya nanti majikan barusan akan mencari masalah dengan wanita ini bilang menggoda keluarganya.


"Kau benar nak Gina! Sum belum bisa dilepaskan seperti Mai." Bibik mengerling marah pada Sum.


"Bukan aku ingin menghakimi Sum tapi Sum sudah menyimpan niat tidak bagus terhadap majikan. Bibik kan tahu banyak kejadian orang kerja menggoda majikan sehingga terjadi hal-hal tak diinginkan. Yang menjadi korban tetap kita yang berada di bawah. Semoga hal ini tidak terjadi pada kamu Sum. Buang jauh keinginan mengganggu rumah tangga orang. Apa kamu bangga menjadi seorang pelakor?"


Sum menunduk kena nasehat jitu dari Gina. Sebelum semua terlanjur menjadi kacau maka Gina langsung memberi nasehat agar Sum belajar daripada kejadian-kejadian yang sering terjadi di masyarakat.


"Kurasa lebih baik Sum pulang ke kampung saja. Untunglah hari ini yang kamu jumpai adalah nak Gina! Coba kalau orang lain kamu pasti sudah di rujak sampai babak belur."


"Tapi aku ingin kerja bik!" Sum memelas.

__ADS_1


"Kamu bukan datang kerja melainkan cari kesempatan. Apa kamu sudah kenal pak Kevin? Belum apa-apa kamu sudah berani mempunyai keinginan untuk menjadi istri dari pak Kevin. Pak Kevin itu bukan orang yang gampang didekati. Orangnya judes tidak pernah ramah kepada wanita. Tanpa mengenalnya kamu sudah berani mempunyai keinginan buruk jadi bagaimana orang bisa memperkerjakan kamu!" kata Gina dengan perlahan tanpa menghujat Sum biar tidak kehilangan harga diri sampai habis.


"Aku janji akan berubah nona! Aku janji akan bekerja dengan baik dan membuang jauh pikiran untuk menjadi istri pak Kevin. Aku akan bekerja sepenuh hati mengabdi kepada nona Gina dan Pak Kevin."


"Maaf ya Sum! Aku tak bisa terima kamu di sini. Kalau kamu memang bertekad ingin berubah bekerja di mana saja sama. Yang penting jangan di sini!" tegas Gina tak beri peluang buat Sum untuk bangun angan buruk di kemudian hari.


"Bukankah Mai bisa ke sana?" lirih Sum pelan.


"Tidak...aku suka pada Mai! Bibik urus masalah ini ya! Maaf bik! Aku tidak bisa terima Sum di sini. Dia mau coba dimana itu terserah bibik. Cuma kuingatkan jangan sampai timbul masalah di kemudian hari."


Bibik mengganggu memahami ke mana arah tujuan kalimat Gina.


"Iya nak...Sum akan kerja di rumah Bu Sukoco... di rumah itu hanya ada buk Sukoco dan menantunya. Sementara anaknya bekerja di luar negeri sebagai diploma. Mungkin kita bisa memberi kesempatan kepada Sum untuk menunjukkan ketulusannya."


"Bagus di bibik saja! Semoga Sum bisa belajar dari pelajaran hari ini tidak sembarangan mengumbar keyakinan bahwa diri kita adalah pelakor yang bisa mengambil bukan hak kita. Pergilah ke belakang sebelum pak Kevin bangun!"


Bibik cepat-cepat menyeret Sum meninggalkan ruang tamu yang sepi. Dalam sekejap mata keduanya telah hilang di telan lorong menuju ke belakang. Tinggallah Gina menarik nafas dalam-dalam tak menyangka kalau gadis muda dari kampung mempunyai keinginan sangat buruk. Banyak gadis muda datang bekerja ke kota hanya mengharap untuk menjadi kaya dengan jalan pintas. Pembantu menggoda majikan bukanlah menjadi rahasia lagi. Kalau selama ini Gina hanya mendengar dari mulut ke mulut namun hari ini Gina telah menyaksikan dengan mata kepala sendiri.


Gina tak habis pikir apa yang diinginkan oleh wanita muda mengambil jalan pintas mencari kekayaan. Menghalalkan segala cara untuk menikmati hidup gelimang harta. Gina menempatkan pantat di atas sofa teringat harus menghubungi Gani untuk menggambarkan kondisi Subrata. Gara-gara seorang wanita nakal Gina nyaris lupa tujuan utama dia keluar dari kamar.


Gina segera mengeluarkan benda pipih dari satu celana untuk menghubungi Gani yang masih bekerja di kantor. Gina mencari kontak yang tertera di layar dengan sebutan bebek. Panggilan sayang untuk Gani.


"Assalamualaikum...masih di kantor?"


"Waalaikumsalam...di Korea say...eh mana adik ipar aku? Masa kau culik tak masuk kantor jam segini."


"Kevin lagi kumat gara dipeluk kakak kesayangan kamu."


"Kakak dari mana? Dari Ukraina? Bicara yang jelas...jangan plintat plintut!"


"Subrata kena serangan jantung di kantor aku. Sekarang sudah agak mendingan. Dia ada di rumah sakit."


"Lalu? Aku harus menjenguk dan bilang kasihan gitu?"


"Kurasa dia kena serangan jantung karena tak bisa terima perusahaan di ambil alih oleh aku. Apa aku harus kembalikan perusahaannya?"


"Gin...bukankah dia wajib bayar hutang pada opa? Cepat atau lambat dia akan hadapi kejadian ini. Kurasa lebih cepat lebih baik karena makin hari hutangnya makin menumpuk. Nanti bukan cuma kena serangan jantung melainkan pergi piknik dengan malaikat maut. Yang pasti bukan ke surga. Dosanya menelantarkan anak istri sudah tercatat di buku besar malaikat."


"Kau tak kasihan?"


"Ya sebagai manusia punya hati aku sih simpatik namun untuk turut larut di dalam luka mungkin aku belum tertarik untuk melakukannya. Mungkin aku belum lupa bagaimana kita membantu mami mengambil cucian orang untuk membeli beras. Anggap saja ini sebagai panjar dari penderitaan kita. Dia akan bayar secara perlahan sampai lunas."


Gina tak menyangka kalau akan mendengar jawaban Gani yang demikian sinis. Gina menyangka Gani akan iba hati pada Subrata namun sangkaan itu salah.

__ADS_1


__ADS_2