
Gina dilanda kegalauan tingkat wahid. Kiri kanan juga salah. Gina bukannya tak ingin mengenal kata cinta namun Gina tak tahu pasti berapa terjal jalan harus dia jalani untuk antar Subrata ke jurang.
Gina juga punya rasa serta hati. Kevin merupakan sosok idaman setiap wanita. Baik dan tanggung jawab. Tak ada nota buruk Kevin cuma terlalu lemah sebagai lelaki. Gina harus jadi pelindung Kevin sampai dia bisa keluar dari trauma panjang.
Kepala Gina berdenyut sakit mikirin tingkah Kevin main serobot tak peduli Gina belum ambil keputusan. Gina masih harus memikirkan tanggapan om Sabri bila dia jadian sama Kevin. Gina hanya butuh pengakuan om Sabri. Siapapun tak bisa pengaruhi Gina selain om Sabri.
Daripada bingung terusan sendirian di ruang tamu mending masuk kamar kerjakan apa bisa dia kerjakan. Masih ada tugas Gina sebelum tuntaskan masalah dengan Lucia. Gina harus menolak uang Lucia minta rekening wanita itu untuk transfer balik uang Lucia. Dengan demikian secara resmi Gina menolak uang Lucia serta melarang wanita itu gunakan gambarnya. Gina sudah siapkan semuanya supaya Lucia malu atas perbuatannya sendiri.
Pagi sekali di saat beberapa orang masih terbalut di dalam mimpi indah Gina segera bangun untuk menyiapkan sarapan pagi buat dia dan Kevin serta Gani. Gina harus bekerja sendirian karena Bu Sarah tidak berada di rumah. Gina sudah dapat membayangkan betapa sepinya rumah ini bila tanpa kehadiran Om Sabri dan Bu Sarah. Mereka sudah terbiasa hidup bersama dan mendadak harus berpisah merupakan suatu kesedihan sangat mendalam.
Di luar langit masih gelap belum banyak aktifitas manusia sekeliling. Hanya beberapa yang bangun untuk lakukan kegiatan seputar masalah dapur serta kegiatan yang haruskan mereka bangun pagi. Yang jualan sayuran di pekan serta jual makanan seperti Bu Sarah dulu. Kini Bu Sarah sudah pensiun karena om Sabri tak izinkan dia jualan lagi.
Kembali pada Gina yang masak sarapan ala kadar karena tak banyak bahan makanan di rumah. Mereka benaran lumpuh bila tak ada Bu Sarah. Biasanya semua diatur oleh Bu Sarah sampai sebetulnya. Sekarang giliran Gina yang melakukannya karena Bu Sarah segera akan meninggalkan Tanah air menuju ke tempat baru di mana dia akan bersatu dengan suaminya.
Gina hanya bisa menyiapkan mie goreng yang dimasak sesuai dengan kemampuannya. Tentu saja rasanya sangat beda dengan masakan Bu Sarah yang memang pakar memasak.
Sederhana namun bau mie goreng godokan Gina mampu memaksa Gani dan Kevin untuk merasakan makanan sarapan lebih dekat. Hanya mencium baunya belumlah memenuhi ego mereka para cowok.
Gina segera mandi setelah hidangkan sarapan di meja. Gina harus segera ke kantor karena hari ini tikus-tikus perusahaan janji akan kembalikan uang perusahaan. Gina mau lihat seberapa banyak yang akan dikembalikan ketiga koruptor kantor itu. Besok giliran Subrata pula harus tanggung jawab bayar hutang. Gina bersumpah akan tuntaskan korupsi di kantor opanya.
Kevin dan Gani telah menunggu untuk mendapat giliran gunakan kamar mandi. Kevin harus hidup merakyat karena di tempat Gina tidak ada kamar mandi sana-sini seperti di rumah Kevin. Di tempat Kevin setiap kamar ada jatah kamar mandinya. Di sini kamar mandi cuma ada satu-satunya yang harus dipakai secara bergantian. Lama tinggal di situ Kevin tidak keberatan menjalani hidup sederhana selama adanya Gina di situ.
Kevin menghirup bau sabun di tubuh Gina tatkala gadis itu melewati dia dan Gani. Harum bunga sangat segar di hidung.
"Hhmmm... harum..." ujar Kevin norak memejamkan mata seolah sedang berada di alam terbuka hirup udara segar.
Gina hentikan langkah di lorong kamar mandi menuju ke ruang depan. Gina mencibir gaya norak Kevin menjadi seorang laki genit. Pagi-pagi sudah goda Gina cari perhatian gadis itu. Dasar Gina bukan gadis baperan maka tidak open kekonyolan Kevin pagi ini. Dia punya tugas lebih penting dari sekedar bercanda.
"Hidung bapak kena tai ayam itu. Semalam mimpi jadi peternak ayam ya?" sindir Gina sambil lalu.
"Dari mana tai ayam harum? Hidungmu yang mampet kena bau emosi. Anak gadis pagi-pagi tak baik pasang muka serem. Kalau orang lain aku akan bilang jauh jodoh tapi berhubung kamu sudah ada pemiliknya maka itu tak berlaku bagimu." ujar Kevin cengar-cengir senang karena tak lama lagi Gina akan menjadi miliknya.
Kata orang diam berarti iya. Gina tak menolak ajakan menikah artinya gadis itu setuju menikah dengan Kevin setelah Kevin jumpai kedua orang tua Gina. Kevin ahrus tuntaskan masalah ini sebelum kedua orang tua Gina kabur ke Jerman.
"Jodoh apa? Menjadi pacar pangeran terkaya negeri Arab?"
"Hei...kamu ini gimana sih? Semalam kita sudah diskusi akan menikah hari ini. Aku sudah hubungi ketua RT kita semalam. Beliau setuju kita segera menikah."
__ADS_1
Gina membesarkan mata kaget mendengar perkataan Kevin yang serius. Gina tak menyangka kalau Kevin sudah persiapkan rencana konyolnya dari semalam. Dina belum memberi jawaban apa-apa tapi Kevin sudah dulu melangkah jauh.
Gina jengkel bukan main melihat kekonyolan Kevin berani bertindak tanpa mendapat izin darinya. Seharusnya Kevin memastikan dulu Gina akan menerimanya atau menolak. Namun Kevin duluan siapkan senjata perang bersiap terjun ke kancah perang.
"Gila.." rutuk Gina melengos pergi. Gani yang jadi penonton setia mengedik bahu tak paham hubungan dua orang ini. Hanya mereka berdua yang tak tahu isi hati mereka.
Gani melengos tapi masuk kamar mandi dinginkan kepala. Lajang ini pusing lihat kedua pasangan ini selalu tak akur padahal setiap hari bersama. Pasangan aneh.
Tak lama kemudian ketiganya sudah bersiap di meja makan untuk isi perut biar ada tenaga untuk bertempur lawan masalah masing-masing. Pagi ini Gani akan selesaikan masalah gadis cs yang selalu kena bully sedangkan Kevin harus jumpai orang tua Gina di hotel untuk tunjukkan kesungguhan sebagai lelaki ingin meminang anak gadis orang. Gani juga punya sejuta masalah tak kalah penting. Ini menyangkut kelangsungan perusahaan yang diambang kehancuran gara ulah tikus pengerat.
Gani masih ragu untuk bertindak pada orang sombong di kantor Kevin. Apa dia tidak berlebihan membela karyawan rendah macam gadis cs itu. Mie goreng hasil olahan Gina menjadi hambar walaupun sebenarnya enak.
"Kak Kevin...apa aku harus bertindak pada rekanan yang bully gadis cs itu?" tanya Gani di sela sarapan. Gani aduk-aduk mie tanpa berniat masukan makanan berserat itu ke dalam perut.
Gina sangat terganggu oleh kelakuan Gani tak hargai jerih payah dia masak sarapan untuk mereka.
"Apa hubungan mie dengan cs itu? Mie tanpa dosa jadi korban mutilasi kamu." semprot Gina tak senang lihat Gani masih aduk mie hingga hancur.
Gani tersentak lalu arahkan mata ke piring lihat mienya memang berantakan mengenaskan. Tadi tampak menarik tertata rapi di piring kini tak ubah makanan sampah tak undang selera.
"Sori..aku kepikiran sama cs itu. Aku juga takut dibilang arogan bila ahrus hukum rekan sendiri." Gani memelas minta pengertian Gina.
Gani agak tenang setelah mendapat dukungan Kevin. Kalau Kevin sudah buka suara siapa berani melawan lagi. Gani merasa pundaknya lapang mendapat restu dari pemilik perusahaan.
Lajang ini segera habiskan mie yang sudah terlanjur berantakan. Rasanya tetap enak walau kondisinya memprihatinkan. Gina tak perpanjang rasa kesal karena ngerti abangnya itu bukan tak suka pada mienya melainkan teringat pada beban harus marahi rekan kerja sendiri.
Waktu dihabiskan di meja sarapan. Gina duluan selesai tinggalkan meja makan mau lihat apa kedua cowok ini punya inisiatif bantu dia cuci piring. Gina tak pernah tinggalkan pekerjaan untuk dikerjakan esok hari. Tugas hari ini harus selesai karena tugas baru sudah menanti.
Gina bersiap-siap untuk berangkat ke kantor opanya untuk melihat niat baik para tikus pengerat mengembalikan uang perusahaan. Pagi ini Gina harus kuatkan hati tidak boleh lemah menghadapi orang-orang licik itu. Gina harus bertekad tidak memberi peluang pada mereka untuk mengulangi hal yang sama.
Sementara itu di meja makan Gani dan Kevin saling berpandangan menimbang apa yang harus mereka lakukan selanjutnya. Keduanya tahu kalau Gina telah memberi signal mereka harus bekerja membersihkan meja makan. Gina sudah bela bangun pagi untuk menyiapkan sarapan maka selanjutnya adalah tugas keduanya membereskan bekas makan.
Gani merasa tak enak hati bila harus mengajak Kevin berkutat di dapur bersihkan sisa makan mereka. Kevin itu bos besar tak mungkin juga kerjakan pekerjaan khusus untuk orang tingkatan lebih rendah.
Kevin bisa membaca pikiran Gani dari raut wajah penuh keraguan. Di sini Kevin tak perlu memikirkan pangkat dan tingkatan. Dia tinggal di sini sudah cukup merepotkan keluarga Om Sabri namun tak ada sekata keluhan keluar dari mulut keluarga ini. Hanya Gina yang suka berlebihan memasalahkan kehadiran Kevin padahal Gina duluan yang mengajak Kevin tinggal di situ.
"Ayo kita bersihkan meja sebelum jenderal kita hunuskan senjata tembak kepala kita!" Kevin mengambil langkah pendek ajak Gani bekerja sama bersihkan meja.
__ADS_1
Gani tertawa senang Kevin punya rasa empati kepadanya. Gani makin yakin Kevin cocok untuk adiknya. Laki ini tak sombong walau punya segudang uang. Ini contoh adik ipar sempurna.
"Ayok!"
Keduanya bergerak sebisanya agar pekerjaan cepat kelar. Masih ada pekerjaan menunggu mereka di kantor.
Di luar terdengar gedoran pintu sangat kasar memecahkan ketenangan rumah Gina. Gina yang sedang bersiap ke kantor segera buka pintu melihat siapa demikian kasar ganggu pagi tenang mereka.
Tanpa ragu Gina memutar kunci pintu untuk menyambut tamu tak sopan itu. Dalam hati Gina ngomel kesal pagi-pagi sudah ada orang merusak mood dia. Namun tamu tetap harus disambut walaupun tamu tak diundang.
Pintu terkuak membuat mata Gina membesar takjub heran ada orang kurang kerjaan gedor rumah orang tak pakai perasaan.
Di luar sana telah berdiri seorang ibu-ibu berikut dua lelaki bertubuh tegap berpakaian hitam-hitam. Raut wajah sang ibu itu kurang sedap dipandang seperti hendak menelan Gina yang kebetulan bukakan pintu sambut tamu usil.
"Pas kamu yang keluar! Hei anak haram...aku minta kamu tinggalkan Kevin karena dia itu pacar anak aku Lucia!" seru Angela di depan pintu sok garang.
Gina memutar kepala ke atas mengatur nafas agar tak terpancing emosi gampar orang di pagi ini. Seenaknya menyebut Gina anak haram padahal yang haram itu Lucia. Lucia terlahir tanpa ikatan pernikahan dengan Subrata. Angela mungkin pernah kena amnesia lupa apa status anaknya. Beraninya sebut Gina anak haram.
"Maaf ya nyonya! Aku bukan anak haram...ingat itu! Yang anak haram jadah itu anak kamu. Kamu ini mungkin lupa kalau anakmu itu lahir hasil perselingkuhan. Dan lagi anak itu belum tentu anak Subrata karena pekerjaan kotormu sebagai Psk." ujar Gina masih menahan diri.
"Jangan sembarangan omong! Enak saja hina aku. Ibumu yang tak tahu malu menikah dengan laki orang."
Gina terkekeh tak terpancing ocehan Angela. Sudah jelas dia berada di pihak kalah namun masih ngotot mau kuliahi orang lain.
"Ibuku menikah secara resmi dengan Subrata. Semua orang tahu kalau Sarah itu istri resmi laki setan itu dan kau setan neraka ganggu rumah tangga orang. Sok terzolimi? Ingat.. anakmu sendiri akui ibunya mantan psk! Untuk apa aku berdebat untuk pengakuan anakmu."
"Kau..."Angela menunjuk muka Gina dengan sorot mata nyalang.
"Ok...apa maumu ke sini? Mau jemput Kevin? Ada tuh dia di dapur sedang cuci piring! Mau kupanggil?" Gina iseng membalikkan badan ke arah dapur bikin Angela makin marah.
Wajah wanita itu merah padam menahan emosi. Gina taksir tensi darah wanita ini pasti melonjak naik ke jarum lumayan tinggi. Gina bukannya tidak takut tiba-tiba Angela mengalami stroke gara-gara tensi darah naik. Namun bukan salah Gina kalau terjadi sesuatu pada Angela karena dia yang datang menyerang Gina.
"Pak Kevin...ayo keluar ada tamu!" Gina sengaja meninggikan intonasi suara biar Kevin dan Gani mendengar jelas suaranya.
Angela mengira Gina sedang memancing amarahnya bilang Kevin ada di situ. Dalam pemikiran Angela mana mungkin Kevin mau tinggal di rumah yang sangat sederhana. Lebih parah Gian bilang Kevin sedang cuci piring di dapur. Cerita apa sedang dikarang oleh Gina untuk bikin dia marah.
Mulut Angela terbuka lebar tatkala satu sosok tegap keluar dari belakang dengan tangan basah membuktikan perkataan Gina bukan isapan jempol. Angela tak menyangka kalau Kevin memang tinggal bersama Gina. Artinya hubungan mereka sudah cukup intim. Sudah satu rumah bertanda apa.
__ADS_1
"Nak Kevin??? Kau di sini?" Angela masih kurang yakin penglihatan sendiri saksikan Kevin kelar dari dalam.
"Iya Tante...tumben datang pagi sekali?" sahut Kevin ramah.