
Gina hanya ingin meninggalkan tempat yang membawa pikirannya menjadi kacau. Makin lama berada di sini pikiran Gina semakin kacau dan perutnya semakin mual.
Kevin tidak memaksa Gina harus mematuhinya. Lelaki ini memapah Gina meninggalkan lokasi menuju ke mobil cateran mereka. Rencana ingin bercanda malah membawa malapetaka buat Gina. Sedikitpun Kevin tidak menyangka kalau kita memberi reaksi luar biasa diajak ke tempat wisata ini.
Tanpa banyak cerita keduanya kembali ke hotel di mana mereka menginap. Kondisi Gina betul-betul jauh dari setelah rekreasi di tempat yang tidak sesuai dengan pilihan hati. Kevin menyesal setengah mati mengajak Gina bercanda.
Sesampai di hotel Gina langsung istirahat memulihkan staminanya. Kevin tidak bisa berbuat banyak selain mengikuti kemauan istri yang dia cintai itu. Rencana berbulan madu yang indah justru berakhir dengan kegalauan buat Kevin.
Kevin membiarkan Gina istirahat dan langsung menghubungi pak Julio mengenai kondisi Gina yang kurang fit. Pak Julio sudah berpesan apapun yang terjadi pada Gina harus melapor kepadanya. Dia adalah penanggung jawab kehidupan Gani dan Gina sampai ibu mereka kembali ke tanah air.
Kevin sengaja menjauhi kamar agar Gina tidak mengetahui dia menghubungi seseorang.
"Assalamualaikum pak..ini Kevin."
"Waalaikumsalam... gimana liburan kalian?"
"Tadi kuajak Gina melihat jembatan kaca namun reaksinya jauh dari harapan. Sekarang dia tampak kurang sehat. Aku menyesal telah mengajaknya ke tempat yang tidak dia sukai." lapor Kevin dirundung segudang penyesalan.
"Sekarang dia di mana?"
"Tidur...wajahnya pucat sekali seperti dia kena tusuk dulu. Aku sangat takut pak!" cerita Kevin hampir menangis. Mau dibilang cengeng oleh Pak Julio tak jadi masalah karena ini semua berawal dari kecerobohan dia mengajak Gina ke tempat trauma bangkitkan trauma gadis itu.
"Bawa dia pulang ke kota. Bapak akan kirim pesawat jemput kalian. Mungkin lukanya kumat."
Kevin makin tak tenang mendengar analisa Pak Julio. Kevin belum siap menerima berita terburuk mengenai istrinya. Mereka baru saja mereguk kebahagiaan karena satu persatu persoalan mereka menemukan titik terang. Kevin tidak rela kalau Gina harus kembali jatuh sakit.
"Baiklah pak! Begitu dia bangun kami akan kembali ke kota." kepala Kevin benar-benar tidak bisa diajak tukar pikiran. Kosong melompong. Sekarang dia hanya bisa mengikuti saran Pak Julio yang lebih senior dari dirinya.
Pak Julio pasti tidak akan memaafkannya bila terjadi sesuatu kepada Gina. Lebih baik mengikuti semua arahan Pak Julio yang memang menyayangi Gina.
"Ok..sekarang juga bapak atur pesawat. Kalian langsung ke bandara ya!"
"Siap pak! Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam.."
Kevin segera berkemas untuk kembali ke kota yang akan ditempuh dalam waktu 2 jam. Semoga saja Gina bisa bertahan sampai ke kota dan langsung terbang kembali ke rumah.
Gina merasa lebih segar setelah merem lebih kurang satu jam. Rasa mual perlahan menghilang tanpa perlu minum obat. Gina yakin dia bukan sakit hanya tak bisa berada di tempat tinggi. Tempat tinggi terbuka menciut nyali Gina yang tak kenal rasa takut. Manusia tidak ada yang sempurna begitulah adanya.
Kevin yang duduk termenung sangat bersyukur melihat istrinya telah bangun dalam kondisi jauh lebih baik. Kevin segera berlari kecil menghampiri istrinya yang masih berada di atas tempat tidur. Serta merta happy menggenggam tangan Gina mencari tahu kondisi istrinya itu.
"Kau sudah sehat sayang?" tanya Kevin masih kuatir.
Gina tersenyum tipis membalas genggaman tangan Kevin. Gina menyesal tak bisa menemani Kevin menikmati keindahan alam tanah Karo.
"Maaf bang! Aku telah mengganggu kegembiraan Abang."
Kevin menggeleng menolak Gina menyalahkan dirinya. Kevin yang kurang peka tidak mengetahui kalau Gina memiliki kekurangan terhadap ketinggian. Herannya tempat kerja Gina berada di lantai paling tinggi tetapi wanita itu tenang-tenang saja bekerja di tempat jauh melambung ke atas.
"Pak Julio minta kita segera balik ke rumah. Beliau sudah kirim pesawat pribadi untuk kita. Kita bersiap pulang ya. Bapakmu itu khawatir kesehatan kamu."
"Ya Tuhan... mengapa Abang melapor kepada Pak Julio? Kita kan belum puas mengitari kota M. Masak baru datang harus sudah kembali."
__ADS_1
"Sayang..abang panik maka minta pendapat beliau. Lain kali kita datang lagi. Abang lihat rona wajahmu juga kurang cerah. Kita cek up ke dokter dulu."
Gina tidak tega menyaksikan betapa kuatir Kevin terhadap dirinya. Gina tahu kalau Kevin sangat mencintainya sampai tak rela melihat dia menderita sedikitpun.
"Baiklah..." Gina mengalah tak ingin berbantahan apa lagi pak Julio ikut campur. Adik ibunya itu terlalu berlebihan mengawal mereka. Mereka selalu dianggap masih kecil tidak bisa mandiri.
Gina berusaha bangun untuk membereskan koper mereka. Namun masih tersisa rasa pening di kepala walaupun tidak sehebat tadi. Gina juga merasa ada yang tidak beres dengan kesehatannya. Semoga saja ini bukan efek dari penusukan yang dilakukan oleh Angela.
Namun Gina cepat-cepat menepis rasa pusing itu supaya Kevin tidak bertambah kuatir. Dia harus berlagak tidak terjadi apa-apa pada tubuhnya.
Nanti bukan hanya Kevin saja yang kuatir melainkan Pak Julio dan Gani akan latah khawatirkan kesehatan dia. Gina harus kuat menahan rasa pusing untuk dihindari rasa curiga Kevin.
Akhirnya keduanya ca dari hotel menuju kembali ke kota M langsung menuju ke bandara KN yang bertaraf internasional. Pesawat pribadi Pak Julio pasti sudah menunggu mereka untuk angkut mereka kembali ke rumah.
Gina tidak bisa membayangkan betapa kaya pamannya itu. Sanggup beli pesawat tentu saja bukan orang kaya abal-abal. Kalau untuk Kevin dan Gina tidak berani membayangkan beli pesawat karena tingkatan mereka belum mencapai ke taraf itu.
Walaupun sekaya itu Pak Julio tidak pernah membanggakan kekayaannya malahan memberi kesan low profile. Satu lagi kebanggaan Gina menjadi keponakan dari Pak Julio.
Sebelum bertolak kembali ke kota Kevin memberi kabar kepada Hadi dan Naruto. Sudah cukup lama kedua pemuda itu tak pernah pulang kampung. Mereka betul-betul mencurahkan seluruh perhatian pada proyek yang sedang dia garap. Kedua pemuda itu 100 kali jauh lebih baik daripada Peter.
Mereka tahu balas budi pada Kevin yang telah angkat mereka menjadi manusia lebih bermanfaat. Keduanya tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan oleh Kevin. Semoga setelah selesai proyek ini mereka akan melanjutkan di proyek-proyek lain di bawah naungan perusahaan Kevin.
Kevin dan Gina agak kaget melihat adanya tiga makhluk ajaib muncul dari dalam pesawat menyambut mereka. Gina tidak percaya melihat kehadiran ketiga anak buahnya menyambut dia pulang ke kota.
Rencananya segera take off tetapi berhubung kehadiran ketiga pemuda konyol itu menunda waktu take off. Gani, Jay dan Kupret mints waktu untuk melihat keindahan bandara internasional KN. Kalau saja mereka diizinkan untuk keluar kota tentu lebih menyenangkan lagi. Dari bandara menuju ke kota membutuhkan waktu hampir satu jam lagi. Itu tidak bisa dilakukan karena pesawat telah dijawabkan harus berangkat hari ini.
Kalau sekedar kelilingi bandara mungkin bisa ditunda jadwal take off. Gani menggunakan kesempatan ini jepret sana-sini untuk pamer dia telah terbang ke pulau Sumatera.
Kevin dan Gina memberi kesempatan kepada ketiga pemuda itu jalan-jalan di sekeliling bandara sambil menunggu pesawat take off. Keduanya beristirahat di salah satu cafe menikmati kudapan kota M.
Gina agak risih ditatap terus oleh suaminya. Gina merasa di wajahnya tergantung 1000 bentol hitam yang mengganggu pandangan mata Kevin.
"Ada apa dengan wajahku bang?"
Kevin menggeleng tak perlihatkan rasa kuatirnya. Keduanya saling menjaga perasaan masing-masing dengan pura-pura tak ada apa-apa. Gina menahan rasa pusing sedangkan Kevin menahan diri untuk tidak tampak kuatir.
"Tak ada sayang...abang tak bosan lihat kamu. Betapa beruntung abang memiliki kamu." Kevin meraih tangan Gina. Tangan itu sangat dingin menambah rasa kuatir Kevin.
"Isshhh gombalan zaman ayah dan ibu. Mau gombal istri yang kreatif dikit." Gina memajukan bibir mengejek Kevin.
"Misalkan? Kau kan tahu abangmu ini bukan pakar tukang gombal. Kamu satu-satunya wanita di dalam hidup Abang."
"Gombal atau fakta?"
"Fakta..."
Gina tersenyum senang. Gombalan Kevin berkesan jadul tapi kena di hati. Gina mengenal Kevin memang kurang bergaul dengan wanita. Pantas saja cara gombal dia juga tidak update.
"Ke mana anggota kamu? Ini sudah jam berapa. Apa pilot tak marah menunggu kita lama sekali?" Kevin mencari bayangan ketiga pemuda yang katanya hanya sebentar. Nyatanya sudah 1 jam lebih mereka keliaran tanpa terlihat bayangan.
"Abang telepon saja mereka. Ke mana mau cari mereka?"
Kevin setuju usul Gina. Bandara sedemikian luas di mana mau mencari mereka. Kevin takut ketika pemuda konyol itu menyelinap keluar ke kota mencari hiburan.
__ADS_1
Kevin mengeluarkan ponsel mencoba menghubungi salah satu diantara ketiga pemuda itu. Sasaran Kevin tentu saja Gani saudara kembar Gina. Kalau Gani berulah Kevin masih bisa menegurnya.
Panggilan terhubung terdengar suara cukup ramai di sekeliling Gani.
"Halo assalamualaikum.. di mana kalian? Pesawat sudah mau take off. Kalian mau nginap di sini?"
"Waalaikumsalam... kami sedang membeli kue untuk dibawa pulang ke kota. Penjaga toko kue sangat manis maka kami ingin mencicipi gimana manisnya cewek di pulau Sumatera."
"Apanya mau cicipi? Jangan macam-macam kalian!"
"Kami cuma ngendus aura manisnya kok! Emang bisa apa? Baru kenalan. Cewek sini cakep juga ya! Kirain cewek pulau Sumatera sangar kayak monster. Nyatanya lembut kayak tahu sutra." jawab Gani diakhiri tawa garing.
Kelihatannya Gani sangat menikmati perjalanan singkat ini. Mungkin ini adalah hiburan tak terduga karena selama ini Gani betul-betul disibukkan oleh pekerjaan yang setumpuk. Kevin menjadi tidak tega memaksa Gani harus segera kembali untuk berangkat. Laki itu baru saja menikmati suasana baru bersama cewek baru.
"Ya sudah...cepat balik begitu selesai belanja! Kita tak enak sama pilot yang sedang menunggu kita."
"Iya kak.. kami tukar nomor kontak dulu ya! Mumpung lagi naik daun numpang pesawat pribadi maka harus dipamer. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam.."
Gina menunggu dengan berharap menanti penjelasan dari Kevin apa yang sedang dilakukan oleh saudara kembarnya. Kevin meletakkan ponsel di atas meja dengan hati-hati lantas menyeruput kopi di atas meja. Kerongkongan Kevin terasa lebih nyaman dilewati oleh cairan warna hitam.
"Ke mana mereka bang?"
"Gombalin cewek penjaga toko kue! Katanya licin." kata Kevin mengandung kekesalan.
Gina sama sekali tidak marah mendengar saudaranya mulai ada rasa terhadap cewek. Ini akan membantu Gani melepaskan image sebagai bebek pulang petang. Jalan tidak senggol kiri kanan lagi.
"Biarkan saja bang! Gani jarang sekali liburan setelah dia pulang dari Korea. Setiap hari dia bekerja dengan serius membantu Abang di perusahaan. Kapan-kapan kita harus memberinya waktu untuk berlibur lagi. Kalau dia ingin menjumpai ibu di Jerman maka kita harus memberinya liburan."
"Terserah kamu saja. Abang ikut saja. Apa ku tak ingin liburan ke tempat ibu?"
Gina bukannya tidak mau berlibur melainkan memikirkan pekerjaan yang setumpuk. Setiap hari dia harus memeras otak menangani beberapa perusahaan. Subrata mulai perlahan mengurangi waktu ke kantor maka Gina harus bertanggung jawab melanjutkan kelangsungan perusahaan Mahabarata.
Tangan Gina memang mungil tetapi dia sanggup memegang semua beban yang diembankan ke pundaknya. Perusahaan yang dipegang oleh Gina perlahan makin maju dan menguntungkan. Orang-orang yang tidak memiliki jiwa jujur satu persatu di sepak Gina dari perusahaan.
"Kamu tak apa sayang?" Kevin belum bisa hilangkan rasa kuatir. Berkali bertanya tetap saja pertanyaan sama. Jawaban Gina juga sama yakni semua ok.
Kudapan dan kopi Kevin sudah habis tetapi ketika pemuda itu belum juga kembali. Kevin mulai kehilangan kesabaran menanti ketika pemuda itu namun Gina santai saja seolah itu bukan jadi masalah. Gina senang saja selama anak buahnya tidak membuat ulah yang merugikan.
"Ke mana anak-anak itu?" Kevin bernyanyi pertanyaan sama. Tangan meraih ponsel yang duduk santai di atas meja. Apalagi kalau bukan coba hubungi ketiga laki tak bertanggung jawab itu. Yang mereka tumpangi adalah pesawat bukan mobil yang bisa ditunda sesuka hati.
"Halo...di mana kalian? Pesawat sudah pegel tunggu kalian." bentak Kevin tak pakai salam lagi. Rasa kesal Kevin capai puncak.
Gina tertawa balik mendengar Kelvin mengatakan pesawatnya bisa pegel. Bisa bercanda juga lakinya ini.
"Coming kak...tuh kami sudah dekat!"
Benar saja perkataan Gani. Mereka bertiga sudah terlihat datang membawa beberapa kotak yang ntah apa isinya. Mereka tampak sangat senang pelesiran di sekitar bandara.
Kevin pasang wajah monster gantiin posisi Gina sebagai makhluk ditakuti.
"Sudahlah bang! Kan sekali-kali liburan. Malahan waktunya sangat sempit buat mereka. Kalau ada waktu hari Sabtu atau Minggu aku ingin mengajak mereka datang kembali ke sini dengan pesawat Pak Julio.
__ADS_1
Kevin menghela nafas sedih karena Gina tidak tahu betapa besarnya biaya membawa pesawat pribadi. Pak Julio mengeluarkan biaya yang tidak sedikit untuk menjemput kepulangan keponakannya. Gina mana ngerti kesusahan orang karena tak pernah berkecimpung di dunia penerbangan. Kevin memang tidak mempunyai pesawat tapi mengetahui kalau menggunakan pesawat pribadi menelan biaya tidak sedikit.