JALAN MENUJU CINTA

JALAN MENUJU CINTA
Skill Gina


__ADS_3

Gina menghembus nafas lega karena tak perlu berjibaku dengan seabrek pekerjaan demi mengais rezeki lebih. Kadang Gina merasa sangat lelah ke sana kemari demi menyenangkan ibunya. Semoga Gani bisa membantu berhubung dia sudah naik pangkat. Gajinya sudah cukup banyak. Kalau Gani mau berbagi berarti dia tak perlu susah payah menambah jadwal kerja.


Gani itu sangat boros gunakan uang untuk perawatan tubuh sehari-hari. Alat kecantikan bujang itu melebihi cewek. Harganya juga mahal-mahal.


Gina memandang jauh ke depan lihat betapa terjal jalan yang harus dia lalui. Sebenarnya Gina ingin melepaskan semua dendam di dalam hati namun entah kenapa Gina tidak rela membiarkan Subrata sekeluarga merajalela. Apa yang dirasakan oleh ibunya akan dirasakan oleh Lucia dan Angela. Gina berjanji akan menghancurkan kedua wanita itu sampai remuk tidak berbentuk.


Malam ini Gina telah membuat satu keputusan besar menyerahkan ibunya kepada lelaki yang tepat. Selanjutnya Gina akan melangkah dengan pasti menggali lubang untuk menimbun keluarga Subrata.


Om Sabri dan Bu Sarah pergi juga ke hotel yang disediakan oleh Gani dkk sebagai kado pernikahan. Sayang harga kamar yang mahal tidak dimanfaatkan dengan baik. Mubazir jadinya.


Biarlah pasangan tua itu nikmati malam pengantin di tempat mewah tinggalkan keruwetan tugas sehari-hari.


Sudah dipastikan Bu Sarah akan libur jualan lagi. Mereka berdua tetap pengantin baru walau pun pengantin kadaluarsa.


Gina dan Gina kembali kerja seperti biasa sedangkan ibu mereka masih bersama Om Sabri yang kini jadi ayah mereka. Untuk Bu Sarah tak ada yang perlu dikhawatirkan. Beliau sudah mendapat perlindungan dari orang yang kompeten.


Pagi ini Gani agak manja minta diantar Gina dengan sepeda motor Gina. Pagi ini Gani bawa motor karena merasa perlu ajudan. Dikasih mobil dari kantor pun tak ada guna. Gani tak pandai nyetir seperti Gina.


Gina bonceng Gani manager merakyat tanpa tunggangan mahal layak manager lain. Kedua saudara kembar tiba di kantor dahului Kevin. Mereka adalah anak buah yang sudah sepantasnya menanti kehadiran majikan.


Gani tidak masuk ke ruang Kevin telah diganti oleh Gina. Kini Gina yang harus membungkuk badan setiap Kevin datang. Pekerjaan membosankan tetapi tetap harus dilakukan.


Kevin dan Peter bunyikan suara sepatu tak ubah seperti suara sebelumnya. Gina mulai hafal dengan suara sepatu Kevin yang tidak pernah berubah. Langkahnya tetap konsisten dengan derap yang sama.


Kevin berhenti di depan Gina melirik gadis itu dengan ekor mata. Gina menunduk kepala memberi anggukkan sopan.


"Selamat pagi pak." sapa Gina dengan suara datar tanpa kehangatan. Sangat beda dengan suara Gani yang selalu hangat. Lama-lama Kevin mulai terbiasa dengan sikap datarnya Gina. Gadis ini berusaha tidak menonjolkan diri di antara pegawai yang lain. Padahal tanpa Gina sadari dia telah menonjolkan diri karena mendapat fasilitas yang tak dimiliki oleh pegawai lain. Gina boleh pulang begitu adzan Dzuhur berkumandang. Pegawai lain mana dapat fasilitas seperti itu.


"Kau ikutlah ke dalam!" kata Kevin masih belum pindah dari wajah Gina. Entah apa yang menarik dari wajah Gina sehingga membuat Kevin tidak bisa berpaling dari gadis itu.


"Ya pak! Mau kopi? Pak Peter sekalian?"


"Iya dengan sedikit gula."


"Iya pak! Pak Peter dengan banyak gula?"


Peter ketawa mendapat tawaran lain dari Kevin. Peter tahu Gina sedang menyindir Kevin dengan menawarkan kopi dengan pesanan sebaliknya.


"Tak perlu banyak gula. Kopi itu akan manis sendiri karena yang mengantar sudah cukup manis." Pagi-pagi ke Peter mencoba menggombal Gina. Siapa tahu mendapat respon positif dari gadis itu.


"Baik pak! Aku akan minta ob antar biar ob nya beneran jadi manis." kilah Gina membuat Peter makin tertawa lebar.


"Maksud aku kamu nona Gina! Cepat ke pantry biar kita bisa membahas masalah perhiasan yang akan segera diluncurkan!"

__ADS_1


Gina tak bersuara lagi. Gadis ini meninggal meja tugasnya menuju ke pantry khusus untuk bos. Pantry umum ada di lantai bawah. Semua pegawai boleh membuat teh atau kopi di pantry umum tetapi dilarang keras melakukannya di pantry khusus untuk Bos.


Peter dan Kevin sudah berada dalam ruangan. Kevin membuka jasnya lantas sandarkan di belakang tempat duduk barulah menempatkan pantatnya di atas kursi mahal. Lain dengan Peter memilih duduk di sofa sambil menanti kehadiran Gina membawa pesanan minuman mereka.


Ini waktunya untuk bekerja bukan waktunya bergosip di dalam ruangan kantor. Kevin mengeluarkan satu kotak berudu dan meletakkannya di atas meja. Kotak itu kelihatannya sangat berharga bagi Kevin karena bentuknya saja terlihat mewah.


"Anak itu berbakat tapi cueknya minta ampun. Apa aku harus merekrutnya sebagai desainer?" Kevin bertanya kepada Peter minta pendapat mengenai keahlian Gina.


"Dia kan hanya menambah sedikit wawasan. Belum tentu dia mampu memberi satu desain utuh atas Ilham dia sendiri. Kita coba memberinya tugas memberi satu sketsa perhiasan gelang tangan dulu. Untuk kalung mungkin masih berat untuk pemula model dia." Peter masih meragukan kemampuan Gina karena wanita itu jauh dari gambaran sosok seorang desainer.


Kevin manggut-manggut menyetujui kalimat Peter. Dia memang belum melihat secara langsung Gina menggambar satu sketsa baru atas inspirasi sendiri. Kevin harus mencoba kemampuan Gina sebelum merekrutnya mengganti Lucia.


Orang yang baru saja dibicarakan muncul membawa nampan berisi dua kelas kopi dengan asap mengepul. Bau harum kopi asli memenuhi ruangan Kevin. Harumnya menenangkan pikiran.


"Silahkan pak!" Gina mempersilakan kedua majikannya mencicipi kopi yang telah dia bawa.


"Terimakasih nona cantik! Melihat wajahmu saja hatiku telah hangat apalagi kalau sudut bibirmu siap dinaikkan sedikit." gombal Peter pikir Gina akan klepek seperti gadis lain kena rayuan bos.


Gina tetap datar tidak beri respon walau yang rayu bos kedua di perusahaan. Kuping Gina seolah kebal terhadap gombalan seharga lima sen itu. Tak ada harganya buat Gina.


"Ada perintah lain?" Gina tak peduli omongan Peter.


"Kau dipanggil di sini untuk lihat perhiasan hasil revisi kamu. Kami telah buat satu contoh untuk kamu kritik." Kevin menyodorkan kotak berudu ke depan meja. Kevin beri kode pada Gina untuk buka kotak itu.


Dengan tangan gemetar Gina mengambil kotak itu. Perlahan tangan mungil Gina membuka kotak itu dibawah tatapan mata dua pria.


Mata Gina terbelalak melihat seuntai kalung berwarna orange berpadu batu kuning. Batu akik itu diasah dengan bagus sampai keluar giwang. Sungguh paduan sangat serasi.


"Batu akik Rafflesia Bengkulu. Ada mata kucingnya." gumam Gina membuat Peter dan Kevin saling berpandangan. Tebakan Gina sungguh tepat karena Batu akik yang digunakan memang batu akik dari Bengkulu.


Gina sedang menunjukkan mempunyai pengetahuan tentang perhiasan sampai hafal batu perhiasan itu.


"Dari mana kau tahu itu Bayu akik Rafflesia Bengkulu?" tanya Peter takjub pada bakat Gina. Peter tak tahu bakat apa lagi akan ditunjukkan oleh anak gadis ini.


"Setiap daerah mempunyai ciri khas batu akiknya. Batu Bacan dari Halmahera yang sering disebut batu hidup. Daerah Aceh juga mempunyai batu akik yang terkenal dengan nama Idocrase lumut Aceh. Selain itu ada Cempaka merah dan kecubung serta black Jade. Daerah Garut juga terkenal dengan batu hijau dan pancawarna. Negeri kita kaya dengan batu akik untuk jadi primadona perhiasan. Jadi kusarankan gunakan batu akik dalam negeri biar harga perhiasan terjangkau oleh berbagai kalangan."


Peter dan Kevin melongo tak sangka Gina mempunyai pengetahuan luas terhadap batu akik sebagai bahan utama satu perhiasan.


"Dari mana kau pelajari tentang batu akik?" tanya Peter tak bisa sembunyikan rasa kagum. Usia Gina masih relatif muda namun jam terbang di bidang perhiasan melebihi mereka. seharusnya Peter dan Kevin malu karena mereka adalah produsen namun tidak mengetahui persis pengetahuan tentang batu-batu untuk perhiasan.


"Kalau kita mau belajar apa yang tak bisa? Perhiasan ini sangat indah. Ini bisa dipakai berbagai kalangan. Kurasa akan jadi primadona."


"Gimanapun kami berterima kasih karena kau telah beri saran. Aku ingat kau pernah bilang perhiasan Lautan Hati Teduh! Hiasan apa pula itu?"

__ADS_1


Gina menarik ujung bibirnya sedikit karena Kevin mengingat apa nih yang dia katakan. Gina tak menyangka kalau Kevin akan menyimak apa yang keluar dari mulutnya. Padahal waktu itu Gina asal ngomong karena merasa batu yang digunakan oleh Lucia tidak sepadan dengan sketsa gambarnya.


"Mana ada perhiasan gitu! Waktu itu aku hanya asal omong karena dasar batu hiasan bapak warna biru. Kemilau Mentari warnanya kok biru? Ini sangat berlawanan dengan judulnya."


"Coba kau buat satu gambar menurut imajinasi kamu tentang Lautan Hati Teduh! Aku mau lihat bagaimana indahnya perhiasan bila diletakkan batu warna biru. Kau bisa?"


Gina ragu untuk beri jawaban langsung. gini Memang memiliki satu perhiasan yang telah dirancang dengan waktu warna biru. Cuma perhiasan itu sangat sederhana karena tidak memiliki pernak-pernik di sampingnya. Perhiasan itu hanya cocok digunakan oleh kaula muda karena warnanya yang sangat teduh.


"Nona cantik..kau coba saja! Kami akan memberi kamu bonus bila kamu berhasil mengeluarkan satu gambar."


"Bapak bersedia bayar gambar yang bakal kubuat?" tanya Gina mulai ada nada semangat. Uang halal memang memiliki daya tarik tersendiri. Gina tidak akan keberatan bila dibayar untuk gambarnya selain gaji.


"Tentu saja asal memenuhi standar perusahaan." sahut Kevin ikut beri dukungan moral pada Gina untuk berani tampil ke depan.


"Ok...beri aku waktu dua jam!" jawab Gina yakin.


"Dua jam? Cukup waktu dua jam?" Kevin tak percaya Gina mampu menghasilkan satu gambar dalam tempo 2 jam.


Lucia saja membutuhkan waktu sampai berminggu-minggu untuk menelurkan ke satu rancangan perhiasan. Yang ini dengan gampangnya hanya meminta waktu 2 jam. Gina sedang membuat mencari perhatian atau memang mempunyai keahlian itu. 2 jam lagi Kevin akan mendapat jawabannya.


"Baik dua jam. Sekarang kau pergilah rancang! Ingat waktumu cuma dua jam." kata Kevin ingatkan janji yang dibuat oleh Gina.


"Kalau aku selesai lebih cepat apa akan dapat bonus lebih banyak?" Gina menantang Kevin lewat tatapan mata beningnya. Kepala Kevin mengangguk tanpa dia sadari. Pertanyaan Gina seperti satu tantangan buat Kevin untuk jadi bos diandalkan. Setia tak ingkar janji.


"Ok...setengah jam! Bonusnya tiga kali lipat." kata Gina tanpa beri waktu buat Kevin menyahut. Di sini yang buat peraturan adalah Gina bukan Kevin. Kalau Gina sanggup jawab tugas dari Kevin maka dia berhak hadiah besar.


Bagi Gina itu hal gampang karena dia punya cukup banyak stok sketsa perhiasan. Tinggal pasang USB ke komputer kantor maka semua hasil designnya akan tampil termasuk design yang sudah dijual pada Lucia. Gina simpan file semua rancangannya.


Gina keluarkan USB dari saku baju lalu masukkan ke komputer kantor. Dengan sedikit gaya sedang menggambar Gina print salah satu gambar yang dia sukai yaitu perhiasan dibuat dari batu warna biru. Di sini Gina masih gunakan batu akik lokal batu spirtus biru langit asal Baturaja.


Dari dalam ruangan Kevin memantau gerakan Gina menggambar apa yang dia inginkan. Apa betul Gina sanggup selesaikan satu rancangan dalam tempo singkat. Kalau dia mampu Kevin takkan segan kucurkan bonus lipat ganda.


Kevin berharap Gina beti kejutan pada rancangan perhiasan. Lucia memang sangat berbakat merancang sketsa perhiasan namun Gadis itu bekerja dengan sangat lambat. Satu sketsa bisa berminggu bahkan berbulan.


Kevin mana tahu kalau Lucia mengandalkan Gina untuk menggambar. Lucia sangat tergantung kepada Gina yang pekerjaannya seabrek. Tanpa sokongan Gina dalam rancangan gambar Lucia bukan apa-apa.


Tepat setengah jam Gina sudah print keluar sketsa yang diinginkan oleh Kevin. Sebelum diserahkan kepada Kevin Gina memeriksa sekali lagi gambarnya. Gina mau melihat di mana kekurangan dari gambarnya. Bagi Gina itu sudah sangat sempurna tetapi belum tentu cocok di mata Kevin. Biarlah Kevinnya menentukan hasil karya Gina!


Gina membawa sketsa gambar masuk ruang Kevin. Gadis ini sangat tenang tidak grogi sedikitpun. Gina pernah ikuti kejuaraan design perhiasan tingkat Internasional kendatipun bukan juara pertama. Gina muncul sebagai perancang muda diperhitungkan. Gina menyabet juara dua serta sejumlah penghargaan.


Punya talenta belum tentu bisa sukses tanpa dukungan. Beda dengan mereka yang kaya raya. contohnya seperti Lucia yang tidak mengetahui soal desain perhiasan tetapi dihargai karena memiliki dana untuk membeli hasil karya orang.


Kembali Gina yang telah menyerahkan gambar kepada Kevin. Gadis ini meletakkan gambar di atas meja Kevin dengan besar hati. Gina selalu bangga dengan karyanya walaupun belum tentu dihargai.

__ADS_1


Peter penasaran dengan karya Gina ikutan perhatikan hasil design Gina. Kevin dan Peter harus angkat topi salut pada ketangkasan gadis ini. Rancangannya simpel namun elegan. Kalung itu hanya memiliki satu batu di tengah ganti liontin. Yang menarik adalah rantai-rantai penyambung kalung. Gina design seperti anak tangga kerucut di ujung kalung.


__ADS_2