JALAN MENUJU CINTA

JALAN MENUJU CINTA
Angkat Sum


__ADS_3

Sekitar pukul tujuh semua hadir di meja makan. Kevin tak masalahkan Jay ikut numpang makan di rumahnya. Status Jay adalah bawahan Kevin namun di rumah Kevin perlakukan mereka tak ubah saudara sendiri. Kevin punya bapak namun tak bisa diandalkan maka Kevin lebih mirip anak yatim piatu.


Wajah Kevin demikian cerah tak perlihatkan tanda dia sedang mengalami trauma. Kevin tampak makin tampak dan segar. Gani dan Jay saling melirik berusaha menduga apa yang telah diberi oleh Gina sehingga Kevin cepat pulih. Bukan cuma pulih doang malah tambah hidup.


Bibik melayani tuan rumah dengan sopan tak ungkit masalah Sum untuk sekarang. Takutnya malah merusak selera makan tuan rumah. Biarlah setelah mereka selesai sarapan barulah bibi akan mengutarakan kalau Sum akan segera pergi dari rumah ini. Bibik juga tak mau ambil resiko walaupun Sum sudah utarakan mengapa sampai dia mau berbuat tak senonoh jadi pelakor dalam rumah tangga orang lain.


"Wah...ternyata matahari pagi bisa cerahkan wajah kusut." celoteh Gani ntah apa maksudnya.


Gina menunduk tak berani menatap Gani takut ketahuan keanehan mereka pagi ini. Padahal keduanya adalah pasangan resmi tak perlu takut hujatan orang lain bila ingin mencetak generasi baru. Namun Gina sendiri perasaan seolah dia telah mencuri hal orang.


"Semalam aku tidur pulas. Hari ini semangat aku kembali berkobar. Kita akan ke kantor untuk selesaikan semua pekerjaan kantor." ujar Kevin dengan suara lantang.


Jay dan Gani makin curiga telah terjadi sesuatu luar biasa barulah Kevin demikian hidup. Auranya berubah sangat positif tak seperti semalam hilang cahaya kehidupan. Semalam Kevin tak ubah seperti anak kucing kehilangan induk. Kini berubah jadi singa penguasa hutan belantara. Gagah perkasa.


"Kena doping edisi limited ya! Aku juga mau dong!" olok Gani senyum penuh arti. Gani bukan anak bodoh tak bisa meraba apa yang telah terjadi antara Kevin dan Gina.


"Sekarang kamu belum pantas. Nanti saja...Oya Jay...kau jangan lupa hubungi Naruto dan Hadi tanya kapan kami ke sana!"


"Iya pak...menurut Hadi proyek berjalan sangat lancar berkat doa bapak."


"Amin...ayok sarapan! Kita harus segera ke kantor!" Kevin mempersilakan semua segera bismillah menyantap hidangan Bibik.


"Kalian pergi dulu. Aku harus urus Sum pulang kampung. Dia tak boleh tinggal di kota. Takut makin rusak." kata Gina teringat pada janji untuk bantu Sum membeli mesin jahit agar wanita itu tak punya hasrat bekerja jadi pelakor.


Gina memang tidak bisa melarang Sum untuk berhenti punya keinginan tak wajar. Paling tidak Gina telah berusaha mengurangi jumlah pelakor di bumi. Kurang satu berkurang juga keretakan rumah tangga orang. Gina tak mau tragedi buruk menimpa keluarga lain. Cukup dia rasakan betapa pahit keluarga berantakan akibat oknum nakal.


"Abang tunggu kamu saja. Kita pergi bareng."


"Abang tak usah jumpa Sum lagi. Aku tak apa pergi kantor sendirian. Dari dulu aku juga sendirian."


"Itu dulu sebelum kamu punya suami. Sekarang kamu kan punya abang. Abang harus tanggung jawab jaga kamu."


"Tak usah...Abang ikut Gani dan Jay saja. Ini urusan perempuan. Nanti Sum malah berubah pikiran tak mau pulang lagi. Aku akan pergi dengan taksi online saja."


Kevin tak mau berbantahan lagi. Kevin ngerti Gina tak mau libatkan dia dalam urusan ini. Kevin memang belum siap jumpa dengan Sum yang telah mengukir kenangan buruk.


"Baiklah. Nanti siang Abang jemput kita makan siang bersama."


Gina mengangguk. Dalam hati Gina tak mengharap Kevin berbuat berlebihan mengundang perhatian orang lain. Gina mau semua berjalan seperti biasa tanpa ekspos kemesraan mereka. Gina akui dia juga sedang bahagia telah utuh menjadi istri Kevin. Tidak dikejar rasa bersalah jauhi surga.


Kevin mengajak kedua pegawainya untuk duluan berangkat ke kantor sebelum terjebak kemacetan kota yang tak pernah berkurang. Dari hari ke hari makin macet membuat jalan raya kadang lumpuh total. Maka itu kadang Gina lebih suka bawa motor bisa lebih leluasa menyelip mencari peluang keluar dari kemacetan.


Bibik seakan tahu signal dari Gina setelah Kevin berangkat kerja. Yakin Kevin sudah berangkat maka bibik mengajak Sum dan Mai jumpai Gina di ruang keluarga. Ruang keluarga jarang dijadikan tempat berkumpul karena suasana lebih suram. Pencahayaan di sana lebih minim karena jauh dari jendela.


Gina sengaja pilih tempat itu jauh dari jalan. Gina berjaga-jaga kalau nanti Sum berseru kencang bikin malu terdengar sampai keluar rumah. Sum bukan orang punya akal sehat. Kalau otak terpakai secara keseluruhan maka tak muncul hasrat lain dari yang lain. Mana ada orang bangga jadi pelakor. Mungkin Sum satu-satunya orang model gitu.

__ADS_1


Ketiga orang art berdiri sejajar membuat Gina teringat pada masa sekolah di mana kena hukum beramai. Mereka disuruh berbaris menerima hukuman barengan. Bibik paling kasihan kena getah dari perbuatan Sum. Pengabdian bibik puluhan tahun tercoreng karena kenakalan Sum.


Gina duduk menatap ke arah Sum masih berpikir apa isi otak wanita ini. Umurnya juga tak muda lagi. Kalau dibilang kekanakan mungkin sudah lewat masanya.


"Sudah siap pulang kampung Sum?" tanya Gina kalem tidak mau menyimpan dendam.


Sum mengangkat kepala menantang Gina tanpa menyadari kebaikan orang. Gina tidak beri hukuman pada Sum itu sudah merupakan anugerah. Kalau jumpa wanita lain mungkin Sum dihajar sampai bonyok. Masih untung Gina tak mau mengulang kejadian sama menaruh dendam secara babi buta.


"Jujur aku pingin kerja nona."


"Kerja apa mau ganggu suami orang." tanya Gina masih kalem.


"Aku janji takkan ganggu suami orang lagi. Aku akan bekerja baik. Kalau boleh aku mau di sini."


"No....di sini tak ada tempat buat kamu. Kamu pulang kampung dan lanjut menjahit saja. Di sana kamu akan aman. Keluarga orang juga aman."


Sum meringis tapi tetap tak merasa bersalah. Tekat Sum sudah bulat ingin mendulang rezeki secara instan. Menjahit butuh waktu berhari-hari dan penghasilan juga tak seberapa. Menjadi pembantu sekaligus partner majikan akan mendulang pundi emas lebih cepat. Mangsa ganteng di depan mata membuat Sum berusaha bujuk Gina mau menerima dirinya.


"Bik...sewa mobil sampai ke kampung. Tak usah gunakan kenderaan umum. Langsung sampai ke rumah saja. Orang ini sudah tak ada obat kecuali kita kasih racun. Niatnya sangat bulat menempuh hidup di jalan kiri. Aku tak mau melihat ada rumah tangga orang hancur karena keponakan bibik." Gina bicara pada bibik sudah malas mengajar Sum. Lama-lama emosi Gina bisa naik capai kepala. Yang ada nanti Sum hancur berkeping-keping.


"Tapi ongkosnya mahal nak. Mai akan kawal dia sampai ke rumah. Di sana beli mesin jahit nanti. Nak Gina tak perlu buang uang untuk orang tak punya moral begini. Baru saja dinasehati sudah lupa. Masih juga mau kerja di kota."


"Tak apa bik! Yang penting mereka selamat sampai kampung. Mesin jahit tetap kita beli. Aku akan atur kenderaan untuk kalian. Dan kau Mai ada rekening?"


"Ada nona.." sahut Mai takut-takut. Gara-gara Sum takut pula jadi imbas padanya. "Aku boleh balik sini nona?"


Sum mendesah jengkel mengapa hati Gina tak bisa diluluhkan. Seberapa keras hati majikan mereka ini?


"Nona Gina...jangan paksa aku pulang! Aku akan cari kerja di tempat lain. Di kampung aku juga tak tahu harus kerja apa. Sekarang semua orang lebih suka membeli pakaian jadi daripada minta dijahitkan. Kadang sebulan aku tidak mendapat orderan jadi bagaimana kami menghidupi keluarga."


Gina tersentak ketika mendengar pengaduan Sum. Perkataan Sum tidak ada salahnya Karena sekarang memang semua dibeli secara online. Pakaian siap jadi jauh lebih murah daripada dijahit pada tukang jahit. Alasan yang dikemukakan oleh Sum cukup masuk akal.


Hati Gina menjadi bimbang suara hati Sum. Namun Gina juga tidak bisa mengabaikan niat buruk Sum terhadap keluarga orang. Rencana matang Sum untuk menjadi pelakor kondang tak pernah padam.


"Sum...aku tahu apa yang jadi kendala kamu tapi kamu punya niat jahat pada orang. Jadi tak mungkin kami menempatkan kamu di rumah orang untuk menjadi duri dalam daging keluarga itu."


Bibik dan Mai sudah tak bisa berkata lagi. Gina mempunyai alasan untuk meminta Sum meninggalkan kota sedangkan Sum memiliki dalil sendiri untuk mengadu nasib di kota. Kini semuanya serba kacau.


Gina memutar otak memikirkan jalan keluar tanpa menyakiti siapapun. Yang paling penting adalah sun tidak boleh menjadi pembantu di rumah tangga orang. Rencana jadi pelakor sudah mengakar di hati Sum.


Ketiga orang itu hanya bisa menunggu keputusan Gina terhadap nasib Sum. Tetap dipulangkan atau Gina memiliki rencana lain untuk Sum agar bisa kirim uang pada keluarga di kampung. Gina memang marah kepada Sum tetapi dia tidak bisa mengabaikan kelanjutan hidup keluarga Sum.


"Begini saja...kamu kerja di kantor sebagai cleaning service. Kamu bisa kost di sekitar kantor. Kau mau?"


"Apa kerja aku?"

__ADS_1


"Kerja kamu bersihkan kantor dan jadi pesuruh bila dibutuhkan. Aku tak banyak beri nasehat. Cuma ingat kesempatan cuma ada sekali. Kerja yang rajin tak boleh ganggu siapapun. Kalau ada jodoh yang cocok silahkan asal jangan suami orang."


"Gitu ya? Apa kantor kamu itu banyak cowok?" Sum kembali perlihatkan sifat genitnya. Bibik dan Mai merutuk dalam hati benci pada kebodohan Sum yang otaknya hilang sebagian.


"Di kantor pasti ada cowok dan cewek tapi mereka datang bukan untuk pacaran tapi kerja jadi jauhkanlah dirimu dari mereka."


"Ok...aku pulang kerja tetap tinggal sini ya! Aku suka tinggal di sini."


"Tidak...sekarang juga kau akan pindah ke tempat kost. Kau akan bekerja di perusahaan paman aku."


Sum mendekap mulut tak sangka Gina tak ijinkan dia bekerja di perusahaannya. Kelihatannya Gina memang tak beri dia peluang untuk dekati Kevin. Sum memang terpanah oleh panah asmara pada Kevin. Sum harus bisa memohon agar boleh tinggal disitu maka suatu saat dia akan dapat peluang untuk mendekap Kevin lagi.


"Tapi nona...aku mau berada di sekitar kalian biar dekat dengan Mai dan Bibik." Mulut Sum kemukan sejuta alasan agar diijinkan tinggal di rumah Gina dan Kevin.


"Tetap tidak atau kau pulang kampung. Sekarang bersiap pindah ke rumah kost." Gina beri tanda agar Sum segera tinggalkan dia sendiri. Otak Gina panas bila ajak Sum berdiskusi. Wanita ini tak bisa dikasih hati. Bukan hanya minta hati dan jantung bahkan seluruh organ tubuh Gina diincar oleh Sum.


Bibik menarik tangan Sum tinggalkan Gina yang sedang bingung. Sekarang di mana di cari kost yang tak jauh dari kantor pak Julio. Gina tak mungkin satu tempat kerja dengan Sum walau posisinya paling atas. Gina masih kesal lihat tampang calon pelakor rumah tangga dia.


Gina angkat telepon hubungi Pak Julio minta tolong beri pekerjaan pada Sum. Sum tak bisa ditempatkan sebagai pembantu karena pasti akan menggoda majikan. Kalau ditempatkan di kantor maka kesempatan Sum untuk melakukan hal-hal memalukan bisa ditekan drastis. Orang kantoran mana mungkin melakukan hal tak pantas di dalam kantor. Dan lagi mana ada yang mau sama cs mengingat status mereka sangat jauh beda.


Panggilan telepon Gina segera mendapatkan sambutan dari Pak Julio. Pak Julio selalu anggap Gina adalah anak ajaib mampu berkiprah di dunia bisnis dalam usia relatif muda. Baru diajar sedikit langsung paham bahkan melebihi ekspektasi pak Julio.


"Assalamualaikum pak.." sapa Gina awali perkataan.


"Waalaikumsalam...tumben pagi telepon. Mau sarapan di rumah bapak?"


"Sudah siap pak...sudah mau berangkat ke kantor?"


"Lagi sarapan...sebentar lagi juga pergi. Ada apa nak? Ada kendala dengan kantor?"


"Oh tidak pak...cuma Gina mau minta tolong titip seorang wanita di kantor Bapak."


"Siapa nak?"


Gina menarik nafas sudah tahu harus mengulang kisah tak manis kepada pamannya itu. Tak perlu main rahasia pada pak Julio karena Gina sangat tergantung pada adik ibunya itu. Gina ceritakan semua kejadian yang menimpa Kevin tanpa menyembunyikan sesuatu termasuk kekurangan Kevin. Pak Julio bijak tidak memotong cerita Gina sampai Gina selesai berdongeng kisah hidup Kevin. Sekilas Pak Julio sudah tahu dari mulut Gina sendiri namun tak sangka penyakit Kevin kumat lagi.


"Lalu bapak harus bagaimana bantu kamu?" kata Pak Julio seusai Gina bercerita.


"Bapak pekerjakan Sum...dia punya tanggung jawab terhadap ibu dan adiknya. Gina memang marah padanya menggoda Kevin namun kita tak bisa tutup mata merusak piring nasi orang. Sum agak genit maka harus jauhkan dia dari tempat banyak lelaki."


"Oh gitu...kau cemburu ada orang suka laki kamu?"


"Ach bapak...sudah out dari topik."


"Iya..iya...gitu saja sewot! Kamu tidak perlu merasa malu cemburu pada wanita lain karena itu tanda kamu menyayangi suami kamu. Hal wajar seorang istri marah bila ada yang goda suami. Bapak malah senang kamu punya perasaan."

__ADS_1


"Ishhh bapak ini...emang Gin ini manekin tak punya perasaan?"


__ADS_2