
Kevin masam-masam bersyukur akhirnya terbit juga kemurahan hati Gina. Gina memang mempunyai hak menghukum Angela seberat-beratnya namun Kevin tak ingin istrinya menjadi seorang pembunuh walaupun bukan secara langsung. Kevin setuju memberi kesempatan Angela untuk bertobat. Biarlah perempuan tua itu merasakan dinginnya lantai penjara untuk menebus semua kesalahan dia. Yang penting Gina tidak memiliki hati kejam menghukum penjelasan sampai bertamu ke rumah malaikat maut.
"Adikku memang the best. Aku tak rugi menjadi Abang kamu. Mulai sekarang aku akan mengumumkan bahwa tidak ada monster lagi, yang ada malaikat berhati suci penyelamat umat berdosa." Gani mulai lagi dengan mulut tanpa saringan. Sejak kapan Gina bisa disejajarkan dengan seorang malaikat. Itu hanyalah angan-angan Gani menganggap adiknya itu wanita terbaik.
"Nampak kali kamu bersebelah pihak pada Subrata. Tidak tega ya ibu tiri kamu dihukum mati?"
"Bukan gitu nyonya Kevin... aku hanya tak mau adikku menjadi seorang algojo. Seperti kataku tadi biarlah Tuhan yang menurunkan hukuman buat Angela. Karma itu ada dan tetap melekat pada orang yang berbuat dosa. Mana lagi aku tidak tega melihat wajah Lucia yang muram durja mengingat nasib ibunya. Sebenarnya Lucia itu anak baik tetapi dia berada di tangan yang salah sehingga sifatnya jadi buruk." Gani mengakui kalau Lucia itu tidak seburuk yang mereka bayangkan. bahkan Lucia memiliki sisi baik yang tidak terlihat.
"Ya sudah...kau mau pergi silahkan pergi susul Jay. Aku ajak kalian bicara nanti jangan pikir aku kena sogok meringankan hukuman Angela. Kalau kalian sudah setuju dengan pendapat aku maka aku akan berkata apa adanya di pengadilan. Minggu depan kasus kami sudah mulai di sidang."
Kevin dan Gani hanya bisa mengangguk-angguk berharap semua berjalan dengan baik. Setelah kasus Gina selesai kini Kevin masih harus berhadapan dengan Mince dan Luna. Hukuman Mince dan Luna tidak akan dihubungkan dengan hukuman mati tetapi hukuman penjara yang akan menguliti kedua perempuan itu. Untuk ini Kevin biarkan saja hakim jatuhkan vonis. Mau dihukum berapa tahun Kevin takkan membantah. Ikuti arus saja.
Sidang perdana Angela berjalan tertib karena mendengarkan semua dakwaan dan bukti. Gina dan Kevin hadir bersamaan dengan Lucia. Subrata sama sekali tidak menampakkan diri karena masih tidak bisa menerima perlakuan istrinya itu. Subrata telah banyak berkorban untuk Angela tapi balasannya sangat menyakitkan maka itu Subrata pilih menghindar daripada makin kesal melihat Angela.
Gina memberi pengakuan banyak meringankan hukuman Angela. Gina mengaku kalau Angela tidak bermaksud melukai dirinya karena karena terbawa emosi. Pengakuan Gina ini telah dicatat oleh panitera serta aparat hukum lainnya. Sudah jelas Angela telah mendapat banyak keringanan.
Lucia sangat berterima kasih kepada Gina yang bersedia memberi keterangan meringankan hukuman mamanya. Gina telah menepati janji membiarkan Angela menikmati sisa hidup di penjara. Berapa tahun pun dihukum tak jadi soal bagi Lucia yang penting mamanya bisa tetap bernafas melanjutkan hidup sampai berpuluh tahun ke depan.
Kevin sangat bangga kepada Gina yang terlihat keras tapi memiliki hati emas. Kevin makin yakin telah memiliki istri yang sempurna yang akan menemani dia sampai akhir hayat. Bersumpah tidak akan memiliki perempuan lain di dalam hidupnya selain istri dan anak-anaknya kelak. Siapa tahu kelak anak-anaknya perempuan semua maka dia harus memiliki perempuan lain lagi selain Gina. Perempuan lain itu adalah anak-anaknya sendiri.
Waktu bergulir sampai juga pada sidang Mince dan Luna serta Peter. Kali ini papa Kevin harus muncul untuk memberi kesaksian atas semua kejahatan Mince. Papa Kevin sudah mengambil keputusan akan menceraikan di depan para hakim walaupun hanya nikah siri. Papa Kevin mau semua orang tahu kalau dia tidak ada hubungan apa-apa lagi dengan wanita culas ini.
Sidang Mince tidak setenang sidang Angela. Kalau Angela hanya menunduk menerima semua kesalahan dia namun beda dengan Mince yang selalu berontak dikaitkan dengan semua dosanya. Mince tidak terima ditalak oleh Papa Kevin di depan hakim. Mince merasa berhak atas semua harta yang dimiliki oleh Papa Kevin termasuk harta Kevin yang sekarang telah beralih ke nama Gina. Mince merasa dia memiliki andil membesarkan Kevin sampai menjadi seorang lelaki hebat.
"Dengar ya pak Hakim...tanpa aku kehidupan Kevin tidaklah seperti sekarang. Aku yang membesarkan dia maka apa yang dia miliki harus menjadi milik aku juga. Aku sudah menawarkan Kevin untuk menikah dengan anak aku agar harta kami tidak mengalir keluar tetapi Kevin justru menikahi seorang perempuan tak memiliki status. Istrinya sekarang hanyalah seorang perempuan yang tidak memiliki orang tua." seru Mince tatkala dia mendapat kesempatan untuk menyampaikan kesaksiannya.
__ADS_1
Mince bukannya mengakui kesalahannya tetapi mengutarakan keinginan hati. Orang yang mengenal Kevin pasti tahu kalau mice sama sekali tidak memiliki andil di dalam hidup Kevin. Orang yang membesarkan Kevin adalah kakeknya sendiri setelah kematian mamanya. Waktu itu Mince malah berpesta pora dengan kekayaan Papa Kevin tanpa peduli anak piatu yang baru ditinggal oleh mamanya.
"Maaf Bu... di sidang ini kita tidak mengetahui soal pernikahan Kevin dan anak anda. Yang kita persoalkan adalah anda dan kedua terdakwa lain menganiaya orang tua bernama Pak Ibrahim serta mengalihkan semua kekayaan Pak Ibrahim ke atas nama kalian. Jangan berbelit-belit mengalihkan perkara ke cerita lain! Kita fokus pada perkara sidang kita saja." Hakim gusar dengar cerita Mince yang tak ada hubungan dengan kasus sedang Belit dia.
Mince bukannya sadar mendapat teguran dari hakim tetapi hatinya makin membara mengira hakim membela Kevin dan papanya. Maunya Mince, Kevin dan papanya tunduk kepadanya lantas mereka menikmati semua kekayaan bersama-sama. Sepertinya pikiran Mince sedang terganggu akibat terpaku pada materi. Akal sehatnya telah menghilang gara-gara Pak Ibrahim alias papanya Kevin menceraikan dia di depan umum.
Luna dan Peter yang hadir di sidang perdana ini hanya bisa menunduk malu. Mereka didatangkan untuk menjadi saksi atas perbuatan Mince. Sidang selanjutnya Mince juga akan dihadirkan untuk menjadi saksi Luna maupun Peter. Mereka akan disidang satu persatu menurut waktu yang telah dijadwal.
Kini Peter makin sadar kalau dia telah berpihak pada orang yang salah. Pesona Luna telah mengantarnya menjadi seorang bandit dan musuh bagi saudara sendiri. Peter sendiri tidak tahu apa yang dia cari dari diri Luna yang lebih tua darinya. 1000 kali menyesal juga tidak ada gunanya karena semua telah terjadi. Penjara tetap terbuka menerimanya dengan senang hati.
Peter berjanji kepada diri sendiri tidak akan berbelit-belit membongkar semua konspirasi mereka agar sidang cepat selesai. Peter tidak mengharap apa-apa lagi selain mendapat maaf dari Kevin yang telah menjaganya selama bertahun-tahun. Orang tua Peter sendiri tidak suka dengan perbuatan anaknya maka tak pernah muncul di penjara maupun disidang. Perbuatan Peter telah mencoreng nama baik keluarganya.
Sidang Mince ditunda Karena wanita itu memberi keterangan berbelit-belit tidak sesuai dengan kasus yang sedang dituduhkan kepadanya. Sidang akan dilanjutkan di lain waktu sampai mendapat ketok palu dari hakim berdasarkan fakta dan keterangan dari saksi lain. Peter sudah berjanji pada diri sendiri akan membuka semua kesalahan yang telah mereka perbuat agar sidang jangan berlarut-larut.
Gina tidak terlalu fokus pada sidang-sidang Angela. Gina serahkan kembali keputusan kepada hakim. Yang penting Angela tidak mendapat hukuman maksimal penjara seumur hidup maupun hukuman mati. Gina telah membayar janji kepada Lucia membebaskan ibunya dari hukuman berat. Gina malah sibuk dengan perusahaannya yang kian maju setelah mendapat pengarahan dari Pak Julio dan Kevin.
Semua derita Bu Sarah telah terbayarkan karena kedua anaknya telah menjadi orang sukses dan berhasil. Orang yang telah aniaya selama bertahun-tahun justru berdiri di atas puncak sedangkan mereka yang menganiaya sekarang malahan berjongkok di bawah. Beginilah perjalanan hidup manusia yang mengagungkan dosa sebagai landasan jalan. Sadar tidak kalau Tuhan tak suka orang zholim. Subrata yang angkuh dengan harta kini harus tunduk pada anak yang pernah dia sakiti. Hukum alam itu berlaku.
Kevin mengajak Gina liburan ke Pulau Sumatera sekaligus melihat proyek mereka di sana. Habislah masa gelap terbitlah terang. Semua badai perlahan berlalu membuat Kevin dan Gina lebih rilex menapak hari depan. Kini mereka bergandengan menyelusuri jalan mereka yang telah terang.
Kevin mengajak Gina rekreasi ke Brastagi di daerah Karo. Daerah ber udara sejuk seperti daerah kawasan puncak di pulau Jawa. Pemandangan alam daerah ini sangat indah dipenuhi oleh bukit-bukit tak seberapa tinggi. Daerah ini terkenal hasil bumi berupa sayuran segar yang dikirim ke seluruh pelosok daerah termasuk ke daerah Aceh melalui daerah Sidikalang. Kawasan ini terkenal dengan udara dingin terutama di malam hari. penduduk setempat tak perlu beli AC untuk menyejukkan rumah maupun kamar. Tuhan telah beri ac alam kepada mereka.
Mayoritas penduduk sini memeluk agama Kristen. Sepanjang jalan didominasi oleh gereja gereja yang berdiri tegak tempat ibadah penduduk lokal. Namun ada juga berdiri kelenteng dan masjid walaupun sangat minim. Toleransi beragama di daerah ini cukup bagus karena tidak pernah terjadi konflik antara sesama penganut agama.
Tempat yang damai cocok untuk dijadikan daerah pariwisata menyegarkan kembali pikiran yang sumpah gara-gara tiap hari berkutat dengan sejumlah pekerjaan. Setiap Sabtu dan Minggu daerah kawasan ini dipenuhi oleh berbagai kendaraan dari arah kota ke tempat wisata ini. Hotel-hotel berjamuran di daerah ini dari yang kelas atas sampai yang kelas bawah. Bagi mereka yang memiliki kocak tebal akan tinggal di hotel-hotel mewah sedangkan yang memiliki kantong papasan alias sakurata pasti akan memilih hotel sederhana.
__ADS_1
Hari itu udara cukup cerah Kevin mengajak Gina pergi melihat Gundaling sky hill merupakan jembatan kaca yang bisa melihat keindahan gunung Sibayak dan keindahan gunung Sinabung. Di sini Kita juga bisa menikmati sunset sambil menikmati udara senja yang sejuk.
Kevin memeluk erat istrinya yang agak takut-takut berjalan di atas jembatan kaca. Gina merasa gamang berjalan di ketinggian melihat ke bawah. Lututnya terasa membeku tak bisa digerakkan padahal keamanan sudah terjamin. Ada juga yang ditakuti oleh monster garang. Kevin pikir di dalam hidup Gina tidak ada kata takut. Ternyata ada juga kelemahan istrinya.
"Bang..." rengek Gina manja tak berani lanjut melangkah lebih jauh. Baru di bibir jembatan dia sudah ketakutan. Gimana mau berjalan jauh sampai ke ujung.
Kevin tertawa kecil menikmati derita istrinya. Selama ini penting selalu takut kepada Gina saking bucin dia pada istrinya. Kevin senang juga Gina akan bersandar padanya mencari keselamatan.
"Gitu saja takut...lihat tuh anak kecil malah meloncat-loncat di ujung sana." Kevin menunjuk jauh ke ujung melihat seorang anak kecil berlarian sepanjang jembatan tanpa ada rasa takut.
Anak itu yang meloncat malah Gina yang merasa lututnya ngilu. Gimana kalau tiba-tiba jembatan ini pecah dan runtuh ke bawah. Apa tubuh mereka akan berkeping-keping terhempas ke bawah? Gina sama sekali tidak bisa menikmati pemandangan yang harus diakui sangat indah. Dari jauh terlihat pepohonan nan hijau dan asap gunung Sinabung mengepul seperti ular terbang ke langit. Kalau dinikmati dari tempat lain mungkin kita akan merasa senang. Tetapi ini harus bercanda dengan mau membuat perut bila terasa kram.
"Kita balik saja bang! Perutku terasa mual." Gina memeluk perut menahan rasa mual yang tiba-tiba menyerang babi buta.
Semula Kevin mengira Gina sedang bersandiwara untuk menghindari jembatan ini. Namun raut wajah Gina yang mendadak pucat tidak bisa membohongi Kevin lagi. Secara reflek Kevin merangkul bahu istrinya meninggalkan jembatan kaca turun ke tempat lebih aman. Sumpah mati Kevin tidak menyangka kalau demikian ekstrem reaksi Gina terhadap jembatan kaca. Padahal Kevin hanya ini bercanda dengan Gina yang tak pernah kenal kata takut itu.
Kevin mencari tempat yang teduh untuk membawa Gina beristirahat. Gina sedang tidak bercanda dengan Kevin karena mukanya memang puncak pasi. Kevin makin menyesal telah mempermainkan Gina walaupun hanya untuk candaan.
"Sayang...kau tak apa?" Kevin berlutut di depan Gina memegangi kedua lutut istrinya itu. Peluh segede biji jagung meleleh di dahi Gina yang bersih. Begini apa mesti ditanya lagi gimana kondisi Gina.
Mungkin Kevin tak peka tak sadar kalau Gina sedang tak enak badan. Candaan kecil menyebabkan Gina drop stamina. Hanya ada satu kata bergelut di dada Kevin yakni menyesal.
"Kita ke rumah sakit ya!" Kevin lap peluh Gina dengan lengan baju panjang tangan.
"Kita balik ke hotel ya bang!" pinta Gina makin lemah.
__ADS_1
"Tentu saja sayang. Abang minta maaf tak tahu kamu ada phobia terhadap ketinggian. Yok abang gendong!" Kevin ulurkan mau gendong Gina namun Gina menepis tangan Kevin. Sungguh memalukan digendong di depan umum.